
"Ya, saya mendengar ceritanya saat Kak Nana kehilangan ingatan. Dan karena ikatan cinta Kakak juga Kak Nana akhirnya ingatannya kembali dan menjadikan pelajaran untuk Kakak, juga kami yang hanya mendengarnya agar kejadian di masa lalu tidak terulang lagi," ucap Vannya dengan dewasa.
"Makanya aku bilang padamu, boleh cemburu. Tapi jangan cemburu buta, sebelum kecemburuanmu membawa bencana untuk kalian," ujar Pak Chandra.
"Hmm, akan selalu saya ingat apa yang Kakak ucapkan padaku. Terimakasih untuk nasihat yang berharga ini Kak," ucap Vannya dengan menyunggingkan senyum simpul di sudut bibir mungilnya yang membentuk bulan sabit kecil.
_______________
Selesai makan siang, Vannya dan Pak Chandra segera kembali ke Perusahaan. Vannya lupa belum mengabari Mbak Eni jika berkas sudah selesai sejak tadi sebelum jam makan siang tiba. Ia duduk di kursi dan mengambil ponsel yang sejak tadi ia biarkan bersarang di kantong blezer.
• *Mbak En, berkas sudah selesai. Apa perlu aku antr kesana?
2 menit kemudian balasan masuk*,
• Nanti aku ambil saja Van, tapi aku selesaikan dulu pekerjaanku. Tinggal sedikit,
Tanpa berpikir panjang, Vannya segera meraih dua tumpuk berkas di atas mejanya dan membawa ke ruang kerja Mbak Eni dengan kedua tangannya sendiri. Sesampainya di sana, dengan spontan Mbak Eni segera membantunya.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan Van? kan tadi aku sudah bilang, aku yang akan ambil. Ini malah tau-tau datang sendiri," celetuk Mbak Eni menata kembali berkas di meja sudut ruangan.
"Tidak apa Mbak, aku sedang tidak ada pekerjaan. Sekarang Pak Chandra lagi keluar lagi katanya ada kawan jauh yang mengundangnya," ujar Vannya menyandarkan badanna di sofa.
"Oh gitu, kamu mau minum apa?" tanya Mbak Eni menawarkan.
"Emang ada apa aja Mbak?" tanya Vannya merapikan posisi duduknya.
"Gak tau, nanti aku tanya bagian pantry ... ." celetuknya menyeringai lebar
"Haiss! Aku pikir sudah ada, kopi aja kayaknya enak Mbak. Di luar sedikit mendung, sepertinya mau hujan," ujar Vannya melihat keadaan di luar.
"Dasar pawang hujan. Ya udah Mbak telepon ke pantry dulu deh," ucapnya kembali ke meja kerjanya meraih gagang telepon.
__ADS_1
*Obrolan di telepon
" Pak, buatkan dua kopi ya. Jangan terlalu manis," ucap Mbak Eni setelah ada feedback dari bagian pantry.
"Baik Bu. 5 menit lagi akan saya antar," ucapnya.
"Okey Pak! Makasih ya,"
"Van aku lanjutkan pekerjaanku dulu ya," ucapnya.
"Iya Mbak, lanjutkan saja ... ."
Dan benar saja, tak lama kemudian hujan mulai turun dengan deras. Ruangan semakin terasa dingin karena tekanan udara dari AC yang menyala. Untung saja Kopi segera datang, mungkin kalau masih lama Vannya akan menarik selimut yang tersedia di laci kecil sudut ruangan.
...VANYA POV...
Aku sedang tidak ada pekerjaan, Kak Chandra membebaskanku setelah makan siang tadi. Jadi qku memutuskan untuk menyambangin Mbak Eni di ruang kerjanya.
6 bulan magang, dan 2 bulan bekerja sebagai pegawai tetap membuatku semakin dekat dengannya. Dia sudah seperti Kakakku sendiri, bahkan setiap makan siang kami selalu bersama tanpa terkecuali.
Dia bekerja di Wijaya Group sudah hampir 5 tahun. Dia salah satu orang kepercayaan Kak Chandra. Harusnya dia yang menjabat sebagai sekretaris karena wawasan dan pengalaman jauh lebih banyak dariku yang anak baru.
Tapi, entah kenapa Pak Chandra malah memintaku yang menggantikan Kak Vallent. Apa karena aku adalah isteri dari adik iparnya? Aku berharap bukan itu alasannya, aku tidak ingin orang memandangku sebagai isteri pewaris Ardhana Group, aku juga ingin berdiri dengan apa yang aku miliki.
Itulah, kenapa aku memilih untuk magang di Perusahaan ini dulunya. Ardhana Group dan Wijaya Group adalah dua Perusahaan besar dan cukup terkenal di kotaku. Tidak ada orang yang tidak tau dua Perusahaan ini.
Aku teringat dengan kejadian siang tadi, aku segera mengecek ponselku untuk memastikan keberadaan suamiku saat ini. Ternyata dia sedang di ruang kerjanya, aku kembali menutupnya dan meneguk kopi yang masih sedikit panas untuk menghangatkan tubuhku.
"Masih banyak Mbak? mau apa bantu?" tanyaku pada Mbak Eni.
"Hah! udah selesai. Istirahat dulu lah, sambil nunggu laporan dari yang lain. Maaf ya, kamu kesini malah aku mengabaikanmu," celetuknya ikut duduk di sofa membawa secangkir kopi dalam genggamannya.
__ADS_1
"Dih, Mbak En kayak sama siapa aja. Lagian kan emang jam kerja, akunya aja yang keluyuran. Habisnya aku gak ada tugas dari Pak Chandra," sahutku.
"Ya, tugasmu kebanyakan dariku Van. Tapi udah kamu selesaikan semua," ujarnya.
"Tadi Mbak En makan siang dengan siapa?" tanyaku.
"Sama anak lantai bawah Van, habisnya kamu sama Pak Chandra sih. Tadi kemana?" tanyanya kepo.
"Ke Cafe dekat taman sana itu loh Mbak. Aku sering lewat, tapi gak pernah mampir. Jadi Pak Chanda membawaku kesana," ujarku menjelaskan.
_____
Hujan masih turun dengan derasnya, awan mendung masih terlihat menyelimuti langit kota di siang hari. Sepertinya hujan kali ini akan awet, semoga saja tidak menimbulkan banjir.
Vannya dan Mbak Eni terus berbincang mengenai pekerjaan sampai rumah tangga. Vannya banyak belajar dari Mbak Eni yang sudah berumah tangga selama 6 tahun lamanya dan di karuniai dua orang anak yang menggemaskan.
Gelak tawa tak dapat di hindari, terlihat jelas keakraban mereka yang seperti saudara. Mbak Eni yang lebih dewasa dalam segala hal mampu menempatkan dirinya pada Vannya yang usianya terbilang masih muda.
Sementara itu,
Setelah menemui kawan lamanya yang kebetulan sedang menyambangi Ibukota. Chandra berniat untuk melihat kondisi Erlina, buar bagaimanapun dia harus tau perkembangannya meski baru beberapa jam masuk rehabilitasi.
Chandra tidak menemuinya secara langsung, melainkan hanya bertanya pada petugas yang bertanggung jawab disana. Dan juga merawat Erlina selama di sana nantinya.
"Bagaimana kondisinya saat ini Pak?" tanya Chandra setelah terdiam beberapa saat duduk di dalam ruangan.
"Kondisinya masih sama seperti pasien baru pada umumnya. Tapi sedikit demi sedikit sudah bisa kami kendalikan meski kadang masih berontak dan berusaha kabur," jawabnya dengan jelas.
"Kira-kira berapa lama dia harus berada disini?"
"Tidak bisa di tentukan Pak, saat ini pasien masuk dalam diagnosa pasien dengan gangguan resiko perilaku kekerasan. Teelihat dari raut wajahnya, sorot mata, perkataan dan juga tingkah lakunya. Apalagi dia memiliki riwayat menghabisi kedua orangtuanya dengan cara yang sadis," ujarnya menjelaskan pada Chandra.
__ADS_1
"Ya, makanya saya takut dia akan mencelekai orang-orang di sekitar saya Pak. Berarti setelah dia keluar dari sini, langsung menjalani proses hukumkah atau bagaimana?" tanya Chandra lagi.