
Sesampainya di RS Sumber Waras disana sudah ada beberapa orang berbadan tegap berdiri di pintu masuk. Sofi sudah ketakutan, namun tidak dengan Randy yang lebih santai dan terus melangkah seperti tidak ada penjaga disana.
"Selamat pagi Pak." Ucap keduanya secara kompak.
"Selamat pagi. . .Terimakasih sudah berjaga disini. pastikan keduanya tidak keluar dari Rumah Sakit ini kecuali sudah di perbolahkan pulang." Ujar Randy
"Siap Pak, beberapa anggota sudah kami tempatkan di semua pintu masuk dan pintu keluar." Ujarnya lagi.
"Bagus. . . sebelum mereka di bawa aku ingin memberikan beberapa pelajaran untuk mereka karena perbuatannya." Ujar Randy lagi.
"Baik Pak. Silakan." Ujarnya mempersilakan Randy dan Sofi masuk.
Sofi merasa sedikit lega, setidaknya mereka bukan orang suruhan yang sudah membuat Kinan dan Lia masuk Rumah Sakit. Namun rasa penasaran Sofi belum menemui titik terang siapa sebenarnya pelaku yang Randy maksud karena Randy hanya menganggukan kepalanya saat melihat foto mobil dan juga plat.
Dan disetiap lorong sudah ada beberapa orang berbadan tegap entah itu polisi atau pengawal yang Randy kerahkan untuk berjaga agar pelaku tidak bisa kabur. Sofi berjalan dengan cepat menyeimbangi langkah Randy yang santai tapi tetap saja membuat Sofi kewalahan.
"Selamat pagi Pak Randy."Ujarnya menyapa.
"Pagi, bagaimana kondisi mereka sekarang?"Tanya Randy pada pria separuh baya yang mungkin salah satu bagian dari orang berbadan tegap tadi.
"Hanya patah tulang dan memar Pak. Mungkin besok sudah bisa keluar dari RS."Ujarnya.
"Pastikan dia tidak pulang ke rumah."Ujar Randy.
"Siap Pak."Ujarnya dengan tegas dan lantang membuat Sofi terkejut.
Astaga, , apa dia tidak bisa memberitahuku dulu kalau mau mengeraskan suaranya?Untung jantungku masih betah disini. -Batin Sofi.
Saat pintu terbuka, Sofi belum melihat siapa yang berada diatas bed, karena lagi-lagi ada seseorang yang menemuinya sebelum Randy mendekati pelakunya. Namun Randy begitu sopan saat berhadapan dengan pria yang di hadapannya sekarang.
"Randy maafkan saya."Ujarnya menangis..
"Om tidak perlu meminta maaf, bukan Om yang salah. Om sudah berusaha untuk mendidiknya tapi dia tidak memperdulikan. Maaf jika Randy tidak bisa melindunginya saat ini. Karena dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ujar Randy menepuk pundak pria itu dengan lembut.
"Lakukan saja apa yang kamu mau, Om tidak akan menghalanginya. Tapi satu permintaan Om. . ." Ucapnya terhenti.
"Apa itu? Katakan saja."Ujar Randy.
"Jangan membenciku Randy. . ."Ujar pria itu lagi.
"Mana bisa aku membenci Om, aku tidak akan membenci orang yang tidak bersalah Om."Ujar Randy.
"Terimakasih Nak, kamu memang anak yang baik. Om malu sekali tidak bisa mendidik keluarga Om dengan baik."Ujar Om menangis.
"Om susah melakukananya, hanya saja mereka sudah buta mata dan hati."Ujar Randy memeluk pria itu yang menangis.
Pak Pram. . . ada hubungan apa Pak Pram dengan kedua pelaku? -Batin Sofi semakin bingung.
Saat Sofi dan Randy masuk lebih dalam menuju ruang rawat, Sofi benar-benar terkejut saat melihat siapa pelakunya. Namun kedua tangannya telah mengepal bersiap-siap untuk memukul wajahnya agar dia merasakan sedikit rasa sakit yang ia rasakan ketika melihat kedua sahabatnya tak berdaya dan tak tak sadarkan diri sampai sekarang.
Plakk. . . .Plak. . . .
"Ini belum seberapa dari yang kedua sahabatku rasakan. Aku tidak peduli anda masih keluarga Pak Randy atau bukan. Aku tidak peduli. . . Kalian telah membuat kedua sahabatku tak berdaya. . . Apa salah mereka? Apa mereka pernah melukai anda?" Ujar Sofi menampar Tante Dona tanpa ampun dan menjambak rambutnya sampai akhirnya Randy maju menenangkan Sofi.
"Sofi tenanglah. . ini Rumah Sakit. Aku tahu apa yang kau rasakan. Kita dengarkan dulu karena sepertinya mereka ingin menyampaikan pembelaan yang tidak masuk akal."Ujar Randy menatap Tante Dona dan Devon.
"Ma...maaf Pak. Saya tidak bisa mengendalikan emosi saya.."Ujar Sofi masih mengatur nafasnya.
"Sekarang, kau dulu anak kecil. Ada yang ingin kau sampaikan padaku sebelum kau pindah ke jeruji bisa untuk beberapa tahun atau mungkin selamanya." Ujar Randy membuang wajahnya.
__ADS_1
"Ma. . . . Maaf kak. Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya menemani Mamah saat Mamah ingin bertemu dengan. . . " Ujar Devon menjelaskan kemudian di bentak Tante Dona.
"Diam Devon. . . . . Tutup mulutmu." Teriak Tante Dona.
"Lanjutkan saja, jangan hiraukan wanita itu."Ujar Randy.
"Mamah memintaku untuk mengantar ke cafe bertemu dengan Erika. Tapi aku tidak tahu mereka membahas apa, karena aku hanya menunggu di parkiran saja. Kemudian Mamah mengajakku untuk pulang, saat di tengah jalan Mamah tiba-tiba memintaku untuk bertukar posisi, aku menolaknya tapi Mamah membentakku. Kemudian aku berpindah ke kursi belakang. Aku pikir Mamah hanya ingin pergi ke suatu tempat tanpa memberitahukan alamat padaku." Ujar Devon terhenti.
"Apa kau ingin kau menjahit mulutmu agar kau tidak bisa berbicara selamanya?" Teriak Tante Dona.
"Lanjutkan lagi Nak. Ada Papah disini. . . " Ujar Om Pram mendekati anak sulungnya.
"Awas kamu Pah, jangan menghalangiku untuk memukul anak bod*h ini. . . Awas. . ." Ujar Tante Dona.
"Maaf Pak, sepertinya saya harus ikut andil, agar wanita ini diam." Ujar Sofi yang sudah mendekap kepala Tante Dona agar susah untuk mengeluarkan suara.
"Hmm... Lanjutkan Dev." Ujar Randy.
"Lalu aku main ponsel saja, tapi tiba-tiba Mamah melajukan mobil dengan sangat cepat dan tidak perduli ada mobil dari lawan arah yang sedang melaju dari jauh. Devon sudah memperingatkan Mamah, tapi Mamah hanya tertawa dan mengumpat. Setelah itu aku sudah tidak ingat lagi Kak. Aku tidak bohong. Kalau aku harus dipenjara tidak apa-apa kak." Ujar Devon lagi
Sebelum kejadian ......
"Kakak, ayo antar Mamah sekarang."Ujar Dona.
"Kemana Mah? Tapi aku baru pulang. Aku capek Mah." Ujar Drvon.
"Antar Mamah atau kau tidak Mamah berikan ponsel keluaran terbaru?" Ancam Dona pada Devon.
"Ya sudah tidak apa." Ujar Devon melangkahkan kakinya ke dalam rumah.
"Devoon.... Apa kau tidak mendengarku?" Ujar Mamah dengan marah.
"Cepat ke Cafe X. Erika sudah menunggu disana." Ujar Dona.
Astaga. . Apa Erika saja yang ada di pikiran Mamah? Bukankah dia sudah memiliki orangtua sendiri, kenapa Mamah begitu peduli padanya. . -Batin Devon.
"Hallo sayang, iya. . tante sudah di jalan. Sebentar lagi sampai. . .sabar ya sayang "Ujar Dona dengan lembutnya.
Ke anaknya saja sudah teriak-teriak seperti di hutan. . -Batin Devon dengan kesal.
"Cepat. . Erika sudah menunggu disana."Ujar Dona membentak Devon.
"Iya Mah. . "Jawab Devon.
Sesampainya di Cafe, Mamah segera turun dari mobil dan melarang Devon untuk ikut karena Mamah dan Erika akan membahas sesuatu yang tidak boleh orang lain tahu termasuk Devon.
"Sayang. . .Maafkan Tante ya. . ."Ujar Dona mencium pucuk kepala Erika.
"Tante .... Gadis itu sudah tahu semua rencana kita Tan. Dan dia sudah kurangajar padaku mempermalukan aku di depan teman-temanku. Tante harus memberikan pelajaran untuk gadis itu. . " Rengek Erika dengan manjanya.
"Iya sayang iya, tante akan memberikan pelajaran padanya. Kamu tenang saja ya "Ujar Dona.
"Benar ya tante."Ujar Erika .
"Iya keponakan tante yang cantik. Tapi bagaimana caranya tante memberikan pelajaran pada gadis itu?"Dona bingung.
"Tabrak saja mobilnya agar tidak ada yang menduga kalau itu disengaja. Dan kalau gadis itu meninggal, Kak Randy pasti akan memohon-mohon padaku untuk menjadi isterinya menggantikan gadis itu untuk duduk di kursi pelaminan."Ujar Erika dengan licik.
"Kamu memang keponakan tante yang sangat cerdas."Ujar Dona.
__ADS_1
"Hmm tante dnegan siapa kesini?"Tanya Erika.
"Dengan Devon. Taoi kamu tenang saja, Tante akan menutup mulutnya dengan ponsel baru. Baikaah tante pulang dulu ya sayang. Kamu jangan sedih lagi. CUP" Dona mengecuk kening Erika sebelum pergi.
"Sudah. . ayo kita pergi."Ujar Dona.
"Kemana Mah?"Tanya Devon.
Pualng saja."Ujar Dona ketus.
"Baiklah." Devon menjalankan mobilnya.
Namun saat di tangah jalan, Dona menyuruh Devon untuk menghentikan mobilnya setelah melihat sebuah mobil berhenti di bahu jalan dari jauh. Dona teringat dengan ucapan Erika bahwa dia harus menabrak mobil Kinan dan membuatnya meninggal supya Erika bisa menikah dengan Randy dan ia bisa ikut menikmati hartanya.
"Mah kenapa berhenti?"Tanya Devon bingung.
"Pindah ke kursi belakang. Cepat."Uajr Dona tanpa menoleh.
"Tapi Mah. . ."Ujar Devon yang langsung terhenti karena Dona menatapnya dengan tajam.
"Kau mau melawan Mamah? Mau menjadi pecundang seperti Papahmu yang selalu mencari aman saja?"Ujar Dona.
"Baiklah."Devon berpindah posisi ke kursi belakang.
Melihat mobil Kinan kembali melajukan mobilnya, Dona segera menginjak Gas dan berjalan di jalur kanan tanoa memperdulikan klakson dari mobil lain berbunyi untuk mengingatkannya. Menhadari Dona melajukan mobilnya dengan ugal-ugalan Devon segera mengingatkan Dona untuk kembali ke jalurnya dan mengurangi kecepatan.
"Mamah. . .Apa yang Mamah lakukan? Ini berbahaya Mah. Kurangi kecepatan, kembali ke sebelah kiri Mah."Uajr Devon dengan panik.
"Tutup mulutmu. . . Atau kau akan aku bunuh?"Tabya Dona.
"Mah ada mobil di depan. . awas Mah.... "Teriak Devon....
Tapi mobil di depan berhasil menghindar dan membuat mobil yang Dona kendarai hilang kendali san menabrak pagar pembatas. Devon kehilangan kesadaran, sedangkan Dona mengalami patah tulang karena terjepit.
_…_…_…_…_…
"Baiklah, karena kau tidak bersalah kau akan aman Dev. Mulai sekarang jadilah anak yang baik. Harusnya kau bersyukur memiliki Papah seperti Om Pram yang mendidikmu dengan tegas daripada wanita itu yang memanjakanmu dan mengajakmu untuk ke jalan yang salah "Ujar Randy menatap Tante Devon dengan amarah.
"Te..terimakasih Kak...."Devon menangis di oekukan Om Pram.
"Terimakasih Nak, kamu sudah menceritakan semuanya. . .Papah yakin kamu anak yang baik dan tidak akan melakukan hal sekeji itu. Maafkan Papah yabg tidak mendidik Mamahmu menjadi orang baik."Uajr Om Pram.
"Dan kau anak kecil. . ."Uajr Randy pada Rista yang masih terdiam.
"i... iya Kak? Aku tidak tau apa-apa. . sungguh Ka."Uaar Rista ketakutan.
"Kau masih mau bilang saingan Kinan?"Tabya Randy dengan tenang
"Ti...tidak. Mana mungkin. . . Kak Randy kan Kakakku juga. . aku tidak mau.. . . "Ujar Rista dengan gugup dan badan gemetar karena takut.
"Kau juga. . jadilah anak yang baik. Masa depanmu akan lebih terjamin jika kau bersama Om Pram. Biarkan aku mengeksekusi wanita ini dan menjauhkan dari kalian agar hidup kalian lebih tenang."Uajr Randy.
"Ba... baik Kak."Ujar Rista.
"Nak . . kemarilah."Ujar Om Pram dengan lembut
"Pah. . .maafkan Rista selama ini tidak pernah mau mendengar Papah Rista tidka mau seperti Mamah Pah. . " Ujar Rista.
"Papah tidak perlu memaafkan kalian, karena kalian tidak ada salah dengan Papah. Mulai sekarang kita bertiga harus bisa menjalani kehidupan kita yang baru."Ujar Om Pram memeluk kedua anaknya yang selama ini tidak pernah mau berbicara dengannya karena pengaruh isterinya.
__ADS_1