
Randy bangun tepat pukul 6 pagi, dia langsung melihat ke arah bed dimana Kinan berada. Namun tidak ada Kinan di sana, bed telah kosong. Randy langsung berdiri dan mencari dimana Kinan, Randy masuk ke dalam kamar aandi untuk mencari Kinan namun tidak ada, kemudian dia mencari ke balkon RS tapi juga tidak ada.
Randy memaki dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga Kinan dengan baik. Randy takut jika saat dia tidur, ada seseorang yang diam-diam masuk lalu menculik Kinan. Randy keluar memanggil perawat untuk menanyakan keberadaan Kinan.
"Sus. . suster. . "Panggil Randy
"Selamat pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?"Tanya perawat.
"Kau melihat calon isteriku?"Tanya Randy.
"Maksud Bapak Nona Kinan?"Tanya perawat.
"Iya lah, calon isteriku kan cuma dia, tidak ada yang lain."Ujar Randy dengan kesal.
"Ma..maaf Pak. . .Nona Kinan sudah sadar 30 menit yang lalu, saat ini dia sedang diantar untuk melihat sahabatnya di ruang ICU. Kami tidak memberinya ijin tapi dia terus memaksa."Ujarnya.
"Kenapa tidak membangunkan aku?"Tanya Randy.
"Maaf Pak, Nona Kinan tidak mau mengganggu tidur Bapak."Ujarnya.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menyusulnya."Uaar Randy kemudian berlalu pergi.
Sebelumnya.....
Aku dimana? ini bukan kamarku. . Kepalaku sakit sekali. awh. . . oh iya aku baru ingat, dimana Lia? Bagaiaman kondisinya saat ini. aku harus mencarinya. . .- Batin Kinan yang baru membuka matanya.
Kinan segera memencet bel yang ada di tembok. Tak menunggu lama dua orang perawat masuk dan salah satu dari mereka kembali ke nurse station untuk menghubungi dokter dan memberitahukam kalau Kinan telah sadar.
"Nona Kinan sudah sadar? Syukurlah. Kalau begitu saya periksa dulu ya."Ucap dokter Lani.
"Dok, bagaiamana keadaan teman saya? Dia tidak apa-apa kan dok?"Tanya Kinan.
"Teman anda saat ini di rawat di ICU, semalam dia menjalani operasi karena ada pembekuan darah di otaknya. Dia masih koma karena benturan di kepalanya cuku keras."Uhar Dokter Lani.
"Bolehkah saya melihatnya?"Tanya Kinan.
__ADS_1
"Sebaiknya Nona Kinan jangan kemana-mana dulu karena Nona Kinan baru sadar."Ujar Dokter lagi.
"Tolong dok, ijinkan saya melihat dia. Saya tida akan bisa tenang sebelum melihatnya."Ujar Kinan memohon.
"Baiklah. . kalau begitu Nona Kinan biar suster antar dengan kursi roda."Ujar Dokter.
"Terimakasih dok. "Ucap Kinan.
"Kalau begitu saya permisi dulu. "Ujar dokter.
Perawat juga keluar untuk mengambil kursi roda yang akan di gunakan untuk mengantar Kinan ke ruang ICU. Kinan menyusuri setiap sudut ruang rawat, dia melihat seorang pria tampan yang sedang tertidur pulas di atas Sofa.
Mas.. .. kamu yang manjagaku semalam? Maafkan aku sudah membuatmu khawatir.. .. kau pasti kelelahan, terimakasih sudah menjagaku semalam. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku semalam, yang aku tahu sekarang aku senang bisa melihatmu disini. Aku mencintaimu Mas.-Batin Kinan terisak.
"Nona. . apakah sudah siap?"Tanya perawat.
"Iya siap sus. Bantu aku untuk bangun ya."Ujar Kinan.
"Baik akan saya bantu. Pelan-pelan saja"Ujar Perawat.
"Apa saya harus membangunkannya Nona?"Tanya perawat.
"Tidak perlu. Biarkan saja dia tidur, dia pasti kelelahan."Ujar Kinan.
"Baik Nona."Ujar perawat mendorong kursi roda.
Di sepanjang lorong Kinan terus terbayang dengan wajah Lia, karena Lia dia bisa selamat dan tida separah dia sekarang ini. Kinan juga teringat dengan putri Lia yang masih kecil. Meski bekum pernah melihatnya, Kinan bisa membayangkan bagaimana cantik dan lucunya putri Lia.
"Kinan. . "Panggil Sofi yang melihat Kinan duduk di kursi roda.
"Fi . . kau ada disini? Terimakasih sudah menjaga Lia semalaman."Ujar Kinan.
"Sudah kewajibanku sebagai sahabat Kin. Kau sudah sadar? Seharusnya kau di kamar saja. . ."Ujar Sofi.
"Aku tidak apa-apa Fi . . .aku ingin melihat Lia."Ujar Kinan.
__ADS_1
"Baiklah. Suster bolehkan saya juga ikut melihat sahabat saya? Sejak semalam saya belum melihatnya."Ujar Sofi.
"Saya tanyakan pada perawat yang berjaga ya Bu."Ujar perawat yang mendorong kursi roda Kinan.
"Baiklah."Sofi masih berdiam melihat punggung perawat yang masuk ke ruang ICU.
"Apakah dari semalam Lia belum sadar?"Tanya Kinan.
"Belum, dia kehilangan banyak darah, dan stok darah yang sama dwngan Lia di RS hanya sedikit. Untunglah Pak Randy, Revan dan Devi mendonorkan darahnya untuk Lia. Ujar Sofi menjelaskan.
"Syukurlah. . .Semoga dia cepat sadar, karena putrinya masih sangat kecil."Ujar Kinan.
"Ibu boleh ikut masuk ke dalam. Silakan."Ujar perawat.
"Terimakasih sus." Sofi mendorong kursi roda Kinan.
Kinan dan Sofi mendekati Bed dimana Lia berada. Keduanya tak bisa menahan tangisnya melihat Lia yang tak berdaya dengan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya. Sofi memeluk Kinan untuk menguatkannya meski dia sendiri tak sekuat itu.
"Lia bangun. . . kenapa kau belum bangun? Ayonbuka matamu Lia. . "Ujar Kinan.
"Lia. . aku dan Kinan disini. . Kau dengar suara kami kan? Kau harus bertahan untuk putri kecilmu, dia masih membutuhkanmu Lia. Kami juga butuh kamu. Bangunlah. . "Ujar Sofi memegang tangan Lia.
"Lia. . kau janji kan akan mengajakku bertemu dengan Alina? Ayo bangun, setelah ini aku ikut denganmu untuk bertemu dengan Alina. Pasti dia cantik sekali sepertimu. ." Ucap Kinan lagi.
Wajah Lia hampir saja tak bisa mereka kenali karena lebam dan banyak luka. Kinan dan Sofi hanya bisa menangis di samping Lia dan berharap dia segera membuka matanya dan mereka bisa kembali bersama.
"Lia. . . Bukankah kamu wanita yang kua?Kenapa kamu belum bangun juga Lia. Jangan buat aku khawatir, Kau selalu menemaniku kemanapun aku pergi, harusnya kemarin kau saja yang memakai bantal untuk menutupi wajahmu karena kau harus bertahan hidup untuk Alina. Maafkan aku yang tidak berpikir sejauh itu Lia, maafkan aku.. Bangunlah. . ."Ujar Kinan.
"Sudah Kin, sebaikanya kau kembali dulu ke ruanganmu, Pak Randy pasti sedang mencarimu."Ujar Sofi.
"Tidak Fi... aku ingin menjaga Lia. Aku ingin menunggungya sampai dia membuka matanya."Ujar Kinan.
"Lia pasti akan sedih kalau kau seperti ini, bukankah tugas Lia memastikanmu baik-baik saja. Dia akan sedih jika kau tak kunjung sembuh. Aku dan yang akan menjaga Lia. Aku akan mengantarmu ke ruang rawat ya."Ujar Sofi.
Saat keduanya keluar dari ruang ICU, Kinan melihat seseorang yang ia kenal berjalan tak beraturan dengan wajah penuh kepanikan. Kinan tersenyum melihat Randy yang sedang mencarinya.
__ADS_1
Sayang maafkan aku membuatmu panik untuk kesekian kalinya. Aku hanya tidak ingin mengganggu tidurmu. Apalagi semalam kau memberikan darahmu untuk Lia. . Mamah benar, hatimu sangat baik meski dari kuar kau singin dan menyebalkan. Tapi aku mencintaimu Randy Ardhana. -Batin Kinan yang tanpa disadari air matanya keluar membasahi pipinya.