
"Iya kah? Kenapa Mami tidak kabari aku? Tau gitu kan aku kesana," celetuk Alina.
"Sayang, ajak masuk dulu. Ataunkita mau semalaman berbincang disini?" tegur Chandra.
"Eh iya, maaf lupa. Tante ayo masuk," ajak Alina.
Tante Maya segera diantar Mamah ke kamar untuk membersihkan badannya dan siap-siap makan malam. Sementara itu, Alina membantu Mbok Jum menyiapkan makam malam karena tidak tau lagi mau ngapain.
Setelah makan malam siap, Alina segera memanggil yang lain dan mengajaknya makan malam.
"*Ahh ...! Rumahku tambah ramai, andai saja Papi, Vannya, Vin dan yang lain juga ada disini. Pasti suasana akan lebih hangat,"
"Pih, cepat sadar ya ...! Nana kangen Papi* ...!"
_________
Malam sudah berlalu, terdengar suara sepatu semakin mendekat ke arahnya. Perlahan Vannya membuka kedua matanya, melihat siapa yang datang. Seorang perawat dengan senyum ramahnya datang mendekat membawakan sarapan untuknya.
"Selamat pagi, Nyonya Vannya ...! Bagaimana kabarnya hari ini?" sapanya dengan sangat ramah.
"Pagi Suster ...! Sudah membaik, apa aku sudah boleh pulang?" tanya Vannya.
"Tentu saja boleh, tapi Tuan Vin meminta untuk stay beberapa hati ke depan sampai kondisi Nyonya benar-benar pulih. Benar-benar suami yang perhatian," pujinya.
"Ah, iyakah? Padahal aku ingin cepat-cepat pulang," sahutnya.
"Pasti pulang Nyonya," jawabnya.
"Makasih ya Sus," ujar Vannya.
"Sama-sama Nyonya ...! Kalau begitu saya permisi, selamat menikmati sarapannya Nyonya," ucapnya dengan hangat.
"Iya Sus," jawab Vannya.
Setelah perawat kelyar dan kembali menutup pintunya, Vin keluar dari kamar mandi dengan rambut yang amsih setengah basah dan sudah menggunakan pakaian jas lengkap.
"Sarapan sudah datang? Makanlah," ucapnya.
"Makan berdua ya," rengek Vannya.
"Ini kan jatah makanan kamu Sayang, aku nanti saja makannya. Ayo makan ... atau mau aku suapin?" ucapnya menawarkan diri.
"Aku tidak akan habis Sayang, ayolah temani aku ...!" ujarnya setengah merengek dengan manjanya.
"Baiklah, ayo aku temani ...!" jawab Vin mengalah.
"Hmm ...!" gumamnya seraya bertepuk tangan kecil tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Kalau kamu tidak bisa tidur tanpa aku, mana mungkin aku akan makan dengan lahap tanpa kamu Sayang," batin Vannya.
Sementara itu ....
"Sayang, aku ikut ke Rumah Sakit. Aku mau lihat Vannya. Biar Mamah aja dirumah, istirahat ...!" ujar Alina pada Chandra yang masih berdiri di depan cermin seraya mengancingkan kemejanya.
"Hmm, terserah kamu aja Sayang. Tapi ingat ... kamu jangan jalan-jalan terus, aku gak mau kamu mengalami kejadian yang sama seperti Vannya," ucapnya.
"Hmm. Emang kejadian yang sebenarnya gimana sih? Aku gak sempat nanya ke Vin semalam," tanya Alina seraya berjalan mendekat, memasangkan dasi di leher Chandra.
"Ada pria yang menyukai Vannya, tapi di tolak. Terus dia melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan apa yang dia mau. Dan pria itu menyamar sebagai seorang kurir dan melancarkan aksi di Perusahaan kita," jawabnya.
"Astaga ...! Pria macam apa kayak gitu," sahutnya.
"Hmm, makanya aku gak bolehin kamu pergi sendirian karena aku takut ada pria yang mengganggumu," ujar Chandra.
"Iya Sayang, lagian kalau aku pergi pun ada Pak Parjo yang selalu mengikutiku kan," ucap Alina.
"Hmm, tapi tetap saja aku takut. Kalau kamu mau pergi ke suatu tempat ... bilang aja ke aku,"
"Iya, aku gak mau kemana-kemana. Aku cuma mau kamu jaga kesehatan, jaga hati kamu, jangan main mata sama cewek lain ...!" ujar Alina.
"Hanya itu? Gak mau tas atau apa?" ucapnya.
"Buat sekarang aku belum mau yang macam-macam. Tapi siap-siap aja, siapa tau aku gak sengaja buka App Store dan khilaf," ujar Alina.
Setelah sarapan, mereka segera pergi meninggalkan rumah. Mamah Irene tak mau di tinggal, ia ingin ikut ke Rumah Sakit katanya bingung mau apa di rumah. Akhirnya Chandra dan Alina mau tak mau mengiyakan, karena kasihan juga kalau Mamah Irene sendirian meski ada Mbok Jum di Rumah.
Chandra tidak ikut masuk, ia hanya mengantar mereka sampai halaman Rumah Sakit dan langsung pergi. Alina dan yang lain pun segera bergegas masuk menuju ruang perawatan Vannya.
"Pagi Van, bagaimana kabarmu?" tanya Alina seraya memeluk adik iparnya dengan erat.
"Pagi Kak ...! Wah Kakak kesini juga? Aku udah jauh lebih baik, tapi Kak Vin belum membolehkan aku pulang," ujarnya dengan raut wajah yang cemberut.
"Hahah ...! Gak apa-apa Van, berarti suamimu perhatian. Iya kan Tante?" ujar Alina pada Mamah Maya.
"Iya Sayang, Nana benar. Gunakan waktumu selama di Rumah Sakit buat istirahat," imbuh Mamah Maya.
"Hmm, iya Mah ...!" jawabnya.
Suasana di ruang rawat Vannya terasa hangat, setelah beberapa menit merasa kesepian setelah Vin bernagkat ke Perusahaan. Untunglah belum lama setelah Vin pegi, mereka datang.
Vannya dan Alina menghabiskan banyak waktu untuk berbincang-bincang. Sementara Mami, Mamah Irene dan Mamah Maya hanya bisa memandangnya dari sofa di sudut ruangan sambil sesekali tersebut saat keduanya tertawa entah apa yang mereka tertawakan.
Setelah beberapa saat mereka berada di sana, Mami Kinan ingin melihat Papi di Ruang ICU. Alina yang ikut, sementara Mamah Maya dan Mamah Irene tetap disana bersama Vannya.
Alina menggandeng tangan Mami berjalan di seoanjang koridor Rumah Sakit. Beberapa petugas Rumah Skait tampak menganggukan kepalanya saat bertemu berpapasan dengan Alina.
__ADS_1
"Semoga saat aku masuk nanti, Papi sudah membuka kedua matanya. Memasang senyum di wajahnya, menyambutku dengan begitu hangat. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat senyum itu," batin Alina di sepanjang perjalanan menuju Ruang ICU.
"Nana, Kinan ...!" panggil seseorang dari belakang.
Perlahan Alina dan Mami membalikkan badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata Tante Sofi, ia datang bersama Om Keanu yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kak Sofi," ucap Mami dengan tatapan yang penuh haru.
"Kinan ...! Sabar ya," bisik Tante Sofi di telinga Mami dengan lembut.
Alina merasa terharu melihat Mami dan Tante Sofi berpelukan. Entah kenapa, ia melihat sisi kelemahan Mami saat ini. Ia baru menyadari, selama Mami pura-pura tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya dari yang lain.
"Iya Kak," jawab Mami.
"Kamu mau lihat Randy? Ayo, aku ikut ...!" ucap Tante Sofi.
"Mas, aku sama Kinan dan Alina ya. Mas lanjut aja ke ruangan gih," ucap Tante Sofi.
"Hmm, kalau ada apa-apa hubungi aku, titip adikku ...!" ucapnya.
"Iya Mas, dia kan adikku juga ...!" sahut Tante Sofi merangkul pundak Mami.
"Ayo Na," ajak Tante menggandeng tangan Alina, sedangkan satunya merangkul pundak Mami.
...**ARDHANA GROUP...
...PUKUL 08.00 WIB**...
Sesampainya di Perusahaan, Vin segera meminta Dewi untuk menemuinya. Menanyakan perihal kemarin saat dia menjenguk Aura di Rumah Sakit dan menanyakan kondisinya.
Tokk ... tokk ...!
"Permisi Pak," ucap Dewi.
"Masuk Wi, silakan duduk ...!"
"Hmm, terimakasih Pak ...!" sahut Dewi seraya berjalan mendekati kursi di seberang Vin.
"Bagaimana kemana? Bagaiaman kondisi Aura?" tanya Vin seraya meletakkan kedua tanggan diatas meja mengisyaratkan dia benar-benar ingin tau dan menyimaknya dengan seksama.
"Kemarin saya dan Rico sudah ke Rumah Sakit, Pak ...! Kondisinya sudah jauh lebih membaik. Hanya saja, Aura tidak ingin kami masuk. Mungkin dia masih belum bisa menerima keadaan atau yang lain saya tidak tau,"
"Amanah dari Bapak juga sudah saya sampaikan pada Ayah Aura, Pak Ruli. Beliau mengucapkan terimakasih, dan menyampaikan salam hormat pada Bapak. Sekaligus meminta maaf atas kesalahan yang sudah terjadi beberapa hari kemarin," ucapnya menjelaskan apa yang Dewi dapatkan kemarin.
"Makasih ya Wi ... kamu sudah menyampaikannya pada Pak Ruli. Meski dapat sambutan yang kurang mengenakan dari Aura. Salamnya saya terima, tapi sepertinya tidak perlu meminta maaf ya? Karena saya sudah memaafkan sejak hari itu juga," ucap Vin.
"Iya Pak, sama-sama. Tidak apa, itu hal yang lumrah Pak. Saya bisa mengerti dengan keadaan Aura yang sekarang. Mungkin kalau saya di posisi Aura juga akan melakukan hal yang sama," jawab Dewi.
__ADS_1
"Oh ya, Pak. Maaf kalau saya lancang, bagaimana keadaan Vannya? Maaf sekali saya belum bisa menjenguknya. Karena kemarin pulang dari Rumah sakit sudah hampir malam," ucap Dewi.