
"Mah ...! Sebentar lagi Mamah sama Papah mau punya cucu," ucap Vannya.
"Ma-maksud kamu ... sekarang kamu sedang hamil?" tanya Mamah Maya.
"Iya Mah, kata Dokter usia kehamilanku sudah 7 minggu," ujar Vannya menjelaskan.
"Syukurlah ...! Makasih Sayang, kamu udah bikin Mamah bahagia sekali," ucapnya terharu.
"Maya ... apa kamu mendengarku? Kita mau punya cucu May ...!" ujar Mami Kinan yang sudah berada di dkwat Vannya.
"Hey Kinan ...! Kamu disana? Iya Kin, selamat untukmu atas kabar bahagia ini ...!" ujar Mamah Maya.
"Iya May, selamat juga buatmu ya. Oh ya besok lusa aku akan ke rumah anak kita, kamu juga datang dong ...!" pintanya.
"Oh ya?? Hmm ... nanti deh aku bilang ke Papahnya anak-anak ya Kin. Udah lama juga kita gak ketemu ya ...!" ujarnya.
"Tuh kan ... mereka seperti ABG lagi, lupa kalau tadi kita yang sedang ngobrol sama mereka," celetuk Vin pada Vannya.
"Sayang, biarin aja. Kan Mami udah lama gak ketemu sama Mamah, jadi wajar aja ...!" sahutnya dengan sabar.
"Hmm, beruntung sekali aku punya isteri penyabar sepertimu," puji Vin.
"Aaiiishhh ...!" sahutnya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Di Halaman Rumah ...
"Makasih ya, kalian mau datang kesini. Padahal baru pulang kerja," ujar Alina pada rekan sejawatnya.
"Iya Dok, sama-sama. Sekali lagi happy anniversary ya Dok ...! Semoga kebahagiaan terus mengalir, dan langgeng sampai syurga-Nya,"
"Aamiin, makasih ya ...!" jawab Alina.
"Stef, kok kamu bisa disini?" tanya Alina pada Stef.
"Iya Na,p tanyakan saja pada suamimu," celetuk Stef.
"Hmm?" Alina segera menoleh ke arah Chandra yang bersikap acuh seolah tak terjadi apa-apa beberapa waktu yang lalu.
"Apa? Aku diam Sayang, cuma sedikit ingatkan pada Stef kalau masih mau bekerja denganmu," jawabnya dengan entang.
"Ya Tuhan ...!" ujar Alina menghela nafas dengan panjang.
__ADS_1
"Maaf ya Stef, karena ulah suamiku kamu jadi harus kesini ...!" imbuhnya merasa tidak enak hati pada Stef.
"Haiish! Tenang Na ...! Justru aku senang bisa datang ke sini, jadi bisa makan enak. Ah ya lupa, Happy Anniversary ya Na pak Chandra ...!" ujarnya setelah menelan makanan yang masih ada di mulutnya.
"Thank's ya Stef ...!" jawabnya.
"Silakan di lanjut makannya ya ... semoga tidak mengecewakan kalian," ujar Chandra seraya mengaja Alina untuk duduk di kursi yang kosong di dekat air mancur yang berada di tengah-tengah halaman rumahnya.
_______
"Van, ayo kita kesana lagi. Kamu belum makan kan?" ajak Mami pada Vannya.
"Hehe ...! iya Mam ...! Ayo," sahut Vannya.
Mami menggandeng Vannya kembali ke halaman rumah untuk menikmati makanan yang terhidang disana. Aroma barbeque berhasil menggelitik hidung semua orang yang ada disana.
Perut dengan cepat merespon seakan minta asupan makanan untuk segera masuk. Mami mengambilkan beberapa daging dengan tingkat kematangan welldone, karena wanita hamil tidak di anjurkan untuk memakan masakan yang setengah matang atau bahkan mentah.
Mami dan Mamah Iren tamoak sibuk memastikan apa yang di makan Vannya dan Alina benar-benar matang. Karena mereka tidak mau calon cucunya kenapa-kenapa.
"Mami gak ikut makan?" tanya Vannya.
"Aku gak mau makan kalau Mami gak makan. Mana ada seorang anak yang bisa enak-enak makan di saat orangtuanya masih sibuk kesana kemari," ucap Vannya membuat Mami dan Mamah Iren terharu karenanya.
"Hm, baiklah Mami juga makan. Tar dulu Mami ambil kesana ...!" ujar Mami.
"Udah aku bawain Mam," celetuk Alina dan Chandra yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Astaga ...! Manis sekali anak-anakku ini. Ayo duduk sini, Mami ingin makan bersama kalian ...!" ujarnya.
Mereka duduk satu meja, terpancar aura kebahagiaan di wajah mereka. Alina dan Vannya yang duduk bersebelahan hanya bisa tersipu malu, karena sekarang mereka menjadi pusat perhatian.
Tepat pukul 11 malam, acara sudah selesai. Satu persatu mereka sudah berpamitan untuk pulang. Malam ini Vannya dan Vin menginap di rumah Alina dan Chandra.
Begitupun dengan Mamah dan Papah yang Alina tahan untuk tidak pergi lagi. Mereka segera masuk ke kamar masing-masing untuk berisitirahat. Setelah mencuci kaki, tangan dan wajah mereka segera beranjak naik ke atas kasur untuk segera membaringkan tubuhnya yang sudah kelelahan.
Di Tempat yang berbeda...
"Bu, ini ...!" ujarnya menyodorkan kertas yang ia masukkan ke dalam tasnya ketika di Perusahaan.
"Ah, akhirnya kamu mendapatkannya. Tidak sia-sia aku memberimu kesempatan untuk bisa melihat dunia dna seisinya," sahutnya dengan ketus.
__ADS_1
"Hmmm, mulai sekarang aku akan menurutiapa yang Ibu minta terhadapku. Aku tau Ibu ingin melakukan yang terbaik untukku," ujarnya.
"Baguslah kalau kamu sadar, buang keras kepalamu itu. Apa yang Ayahmu katakan tidak perlu kamu dengarkan," ucapnya.
"Kenapa? Menurutku Ayah tidak pernah salah," sahut Aura.
"Stop ...! Aku malas mendengar celotehanmu. Habiskan makan malammu," ucapnya seraya pergi meninggalkan meja makan.
"Ibu tidak makan?" tanya Aura dengan lembut.
"Sudah," jawabnya dengan ketus.
"Huhh! Sabar Ra, cepat atau lambat Ibu akan luluh kok," batinnya berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Meski begitu air mata tak mampu di bendung lagi, wajahnya sembab, isaknya yang tadinya tak terdengar berhasil memenuhi suasana ruang makan yang sepi karena tidak ada orang disana kecuali dirinya.
"Jangan nangis Ra. Kamu harus kuat, ingat kata Ayah dulu. Gak boleh nangis apapun yang terjadi. Mungkin Ibu masih canggung setelah hampir 5 tahun aku tidak tinggal dengannya lebih dari sehari," ujarnya segera menghapus air matanya yang sudah mengucur dengan deras membasahi wajahnya.
Dengan susah payah Aura berusaha menelan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Padahal sudah dengan sayur, tetap saja susah di telan.
Di Ruang yang lain ...
Sekembalinya dari ruang makan, ia segera masuk ke kamarnya. Berdiam diri depan cermin, seraya menatap dirinya sendiri yang saatbini hanya bisa duduk di atas kursi roda.
Di tangan kanannya terdapat selembar kertas yang baru saja di dapatkannya dari Aura.
"Sebentar lagi aku akan berhasil membuat perhitungan pada mereka. Cepat atau lambat mereka akan kehilangan Perusahaan yang selama ini selalu mereka banggakan,"
"Tapi ... sepertinya Perusahaan tidak cukup. Hmm, baiklah cara selanjutnya akan segera aku pikirkan. Tertawalah sebelum kesedihan membuat kalian lupa akan artinya tertawa bahkan tersenyum sekalipun," ujarnya berbicara dengan dirinya sendiri.
______
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, sayup-sayup terdengar suara kumandang adzan dari masjid di perumahan. Vannya sudah bangun sejak 5 menit yang lalu. Namun dirinya masih enggan untuk beranjak turum dari atas kasur.
Ia memilih untuk berdiam diri memandangi wajah suaminya yang masih terlelap. Namun tiba-tiba suara dering ponsel mengagetkannya, dan sontak ia langsung meraih ponsel di atas meja kecil samping kasur.
Sebuah nomor tak di kenal mengirimkan sebuah pesan melalui aplikasi berwarna hijau. Vannya segera membukanya dan terkejut saat melihat siapa pemilik nomor tersebut.
"Oh, Astaga ...!" ujarnya segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
*Hai ...! T**erimakasih yang sudah mampir. Btw, sudah like dua kali kan hari ini? 😘😘🥰*
__ADS_1