
"Hmm. . dan jujur sampai sekarang, aku masih menyimpan beberapa fotonya di lantai 3 di rumahku, aku pikir aku telah mencintainya, tapi ternyata salah. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau aku mencintainya. Tapi tak bisa aku pungkiri, kata cintaku hanya karena perasaan bersalahku saja. Dan mungkin karena aku bersamanya sudah hampir 4 tahun lamanya jadi aku merasa seperti kehilangan nya. Itu saja. Aku baik-baik saja." Ucap Chandra dengan sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
"Terus, sekarang adakah wanita yang sudah membuat hatimu luluh?" Tanya Alina.
"Kamu sudah membuatku luluh, Sayang. Selama dua tahun ini hanya kamu yang yang ada di dalam hatiku. Aku bisa saja mencari yang lain dan meninggalkanmu begitu saja waktu itu, tapi hatiku tak bisa berpaling darimu."
Pandangan nya tak beralih dari sosok wanita berparas cantik di hadapannya kini. Tak ada bosannya, Chandra menatap wajah Alina hingga membuatnya salah tingkah.
"Hey, matamu hampir lepas. Jangan melihatku seperti itu, aku malu." Ucap Alina dengan wajah bersemu merah.
"Untuk apa kamu malu? Wajah mu terlalu cantik, dan sayang jika aku lewatkan begitu saja." Ucap Chandra dengan spontan.
"Hmm. . Makasih Can." Ucap Alina.
"Yang harus kau tau, aku tulus berkata demikian. Bukan karena modus." Imbuh Chandra pada Alina.
"Hmm. . Terserah mu saja Can. tapi tolong jangan terus menatapku seperti itu. Aku takut." Ucap Alina lagi.
"Maafkan aku. . " Ujar Chandra.
"Ya kau membuatku takut, aku takut jatuh cinta padamu Can. Sedangkan ingatanku masih belum pulih. Aku hanya takut akan berakhir kecewa setelah ingatanku pulih Can. Dan akhirnya kita akan sama-sama terluka karenanya."
Tokk tokk tokk. .
"Selamat Pagi, Dokter Alina, Pak Chandra. Maaf mengganggu waktunya, sarapan sudah datang." Ucap seorang perawat datang dengan troli kecil berisi dua set makanan untuk Alina dan Chandra.
"Makasih Sus." Ucap Alina dengan ramah.
Merekapun sarapan bersama, menikmati setiap sendok bubur halus yang hambar, untung saja ada kuah kaldu yang bisa sedikit menolong rasa pada makanan di hadapan mereka.
****
Waktu terus bergulir, Alina telah keluar dari Rumah Sakit seminggu yang lalu. Ia pulang ke rumah orang tuanya, dan Chandra juga pulang ke rumahnya sendiri.
Sesekali Chandra menghubungi by WhatsApp, selayaknya muda mudi yang tengah menjalin kasih namun masih hanya sebatas teman dekat. Karena Alina sendiri masih ragu dengan perasaan yang muncul dalam hatinya.
Seminggu sekali Chandra datang ke rumahnya, membawakan cokelat dan bunga. Meski terkesan lebay, tapi baginya tidak masalah. Chandra sedang berusaha untuk bisa mengambil hati isterinya.
__ADS_1
^*Apakah besok kamu ada acara?^
^Tidak, ada apa?^
^Aku ingin mengajak mu pergi ke suatu tempat. Lebih tepatnya salah satu tempat yang selalu aku datangi saat pikiranku sedang suntuk.^
^Ok. Jam berapa kau akan datang ke rumah?^
^Pukul 10 aku sudah tiba di rumahmu, aku harap kau sudah siap jadi aku tidak perlu menunggumu.^
^Akan aku usahakan. Ya sudah, ini sudah malam. Aku ingin istirahat dan sebaiknyabkaubjuga istirahat.^
^Hmm. . .Have a rest, Nana."
"Have a rest, Chan. See you*.^
Alina POV
Tokk. . Tokk . . Tokk. . .
"Kak, udah tidur?" Tanya Vin masuk ke dalam kamar Alina.
"Enggak, Kakak habis Chating sama Kak Chandra ya?" Tanya Vin yang langsung merebahkan dirinya di atas kasur Alina.
"Darimana kau tau? Kau menguping ya?" Tuduh Alina pada adiknya.
"Astaga Kak Nana, bagaimana aku akan menguping? Emang Chating bisa ada suaranya." Ujar Vin dengan mimik wajahnya yang lucu.
"Terus darimana kau tau kalau Kakak habis Chating dengan Chandra?" Tanya Alina lagi.
"Kan sekarang Kak Nana lagi dekat sama Kak Vin, aku hanya asal tebak." Ucap Vin dengan jujur.
"Hmm. . .Apakah Can termasuk orang yang dekat denganku selama dua tahun ini?Aku merasa dia seperti banyak mengenalku, tapi aku tak bisa mengingatnya. Entah sampai kapan aku harus seperti ini Vin." Ucap Alina mengembuskan nafas panjang.
"Sabar ya Kak, Vin percaya. Tuhan sudah merencanakan hal baik untuk untuk Kakak kedepannya. Kak Can pria yang baik Kak." Ucap Vin dengan senyuman di wajahnya.
"Maaf Kak, aku tidak bisa menceritakan semuanya, aku hanya tidak ingin memaksa Kakak untuk mengingat, bukan aku egois, tapi tidak baik kalau aku membuat Kakak berpikir dengan keras untuk mengingat semuanya." Batin Vin.
__ADS_1
"Hmm. . semoga ingatanku segera pulih ya Dek. Oh iya, kapan kau akan kenalkan Kakak dengan calon adik ipar Kakak?" Tanya Alina seketika ingat kalau adiknya telah memiliki wanita pujaan.
"Hmm. .dia masih sibuk kak. Kuliahnya sangat padat, dan aku sendiri sibuk dengan pekerjaanku kan. Kalau sudah waktu nya pasti aku kenalkan dengan Kakak." Janji Vin pada Kakaknya.
"Baiklah, terserah mu saja." Jawab Alina.
"Ya sudah, sebaiknya kakak tidur, selamat beristirahat Kak. Mimpi indah." Ucap Vin mengecup kening Alina dalam waktu yang cukup lama.
"Aku tau, kau menyembunyikan sesuatu dariku."
****
"Hoam. . sudah jam berapa ini?" Ujar Alina ketika terbangun dari tidurnya yang lelap.
"Pukul 7, aku harus segera mandi." Ucapnya lagi.
Alina pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Kran telah di nyalakan, beberapa tetes sabun dan wewangian lainnya telah di tambahkan ke dalam bath up yang sudah di isi air.
Alina mandi dengan sedikit berdendang, menikmati ritual demi ritual saat ia mandi. Butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit lamanya untuk Alina berendam di dalam bath up yang telah penuh dengan busa.
Setelah merasa cukup, ia pun segera turun dari bath up dan masuk ke ruang kaca untuk membilas badannya. Shower telah di nyalakan untuk mengguyur seluruh tubuhnya yang di penuhi dengan busa.
Selesai mandi, Alina memakai kimono dan pergi ke ruang ganti untuk memilih dress yang akan ia kenakan saat pergi kencan dengan Chandra.
"Haih, aku lapar. Semalam lupa tidak makan gara-gara Chandra mengajakku mojok online. Sebaiknya aku turun saja, pasti Mami dan yang lainnya sudah di meja makan sekarang." Ujar Alina yang tanpa pikir panjang langsung meninggalkan kamarnya dan turun ke bawah untuk ikut sarapan bersama keluarganya yang lain.
"Morning, Princess Papi." Sapa Randy saat mwlihat putrinya turun dari kamar.
______________________________________________________
Kok ceritanya masih muter-muter Thor?
Entahlah, sedang dalam dalam berada di titi yang jenuh se jenuh-jenuhnyaπ
Tapi akhirnya di paksa ngetik daripada ga Up (curcol)π akhirnya ku tulis saja yang ada di otak seadanya.
Maaf jika bahasanya terlalu muter-muter. π€£π€£
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Rate 5 dan juga vote seikhlasnya. πππ
Happy Reading ππ