
"Jadi kamu mau kita langsung menikah? Oke, siapa takut. Kalau gitu kita sekalian fitting baju untuk nikahan kita. Aku kabarin Mami dulu buat persiapan pernikahan kita ya," dengan semangat Vin segera merogoh ponsel di dashboard mobil.
"Bu-bukan itu maksudku. Haih! Udah ah, yuk kita pergi aja dari sini," dengan memasang senyum manis Vannya berharap Vin mengiyakan ajakannya, meski rasanya malu sekali harus merengek seperti anak kecil di depan calon tunangannya.
"Iya, Sayang!" dengan lembut tangannya membelai rambut Vannya.
Dua anak manusia yang sebentar lagi akan resmi bertunangan kini telah melaju meninggalkan Perusahaan. Di sepanjang jalan keduanya saling melempar senyum, alunan musik romantis terdengar begitu merdu mengiringi suasana yang hening.
Tanpa sungkan, tangan Vin telah meraih tangan ka na Vannya dan menggenggamnya untuk waktu yang lebih lama. Vin sengaja mengurangi kecepatan laju mobilnya, supaya ia bisa lebih lama berduaan dengan Vannya.
"Kak, fokus ke jalan. Jangan lihat aku terus," Celetuk Vannya yang sadar sejak tadi Vin meliriknya.
"Ah, iya Sayang! Aku fokus kok, ini juga pelan-pelan bawa mobilnya. Kamu cantik," setengah beribisik membuat aliran darah di seluruh tubuhnya berdesir dengan begitu cepat.
"Kak, sudah ya. Jangan gombali aku terus,"
"Maaf, habisnya kamu cantik banget sih. Mana bisa aku tahan untuk tidak menatapmu," ujarnya dengan tulus.
"Dasar bucin!"
"Bucin ke calon tunangan sendiri apa salahnya,"
"Haih! Serah," akhirnya Vannya mengalah daripada harus berdebat lebih lama dengan Vin.
Sesampainya di sebuah parkiran yang tak terlalu luas, tapi terkesan rapih dan bersih. Mereka segera turun dari mobil, Vin segera menggandeng tangan Vannya mengajaknya masuk menemui designer yang ia percayakan untuk mengurus pakaian tunangan untuk nanti sore.
Biasanya mereka harus meminta janji temu 3 hari sebelumnya, tapi itu tidak berlaku untuk Vin. Melihat kedatangan Vin, semua pekerja di bootique menghentikan aktivitasnya sejenak untuk menganggukan kepala menyambut kedatangannya.
"Selamat Siang, Mas Vin!" Ucap seseorang dengan setelah seragam seperti yang lainnya.
"Siang, Mbak Nur! Tante Ane ada?"
"Ada, Mas. Mari saya antar," meski Vin sudah beberapa kali datang ke bootique, dan hafal dimana ruang kerja Tante Ane. Mereka selalu memperlakukan Vin dengan sangat baik, karena keluarga Randy sejak dulu sudah menjadi langganan mereka.
Ruang kerja Tante Ane berada di lantai dua, di sepanjang dinding terpasang beberapa foto klien dengan gown hasil tangan Tante Ane. Beberapa foto tak asing untuk Vannya, ada Mami Kinan, Tante Sofi, Mamah Maya, dan Kak Alina disana.
"Sebentar lagi fotomu juga akan dipasang disana, Sayang!" bisik Vin saat melihat Vannya sedang sibuk mengamati beberapa foto wanita dengan gown yang menjuntai panjang dan terkesan sangat elegan.
"Hmm, mereka terlihat sangat cantik ya Kak! Ternyata aku juga akan memakai gown dari designer yang sama seperti mereka," Celetuk Vannya dengan polosnya.
"Ya, dan nanti kamu akan terlihat lebih cantik lagi dari mereka," Ujarnya.
"Silakan masu, Mas Vin!" suara Mba Nur membuat keduanya gugup karena tak menyadari ternyata kini sudah berada di depan ruang kerja Tante Ane.
"Oh, terimakasih Mba Nur!"
Setelah mengantar Vin dan Vannya, Mba Nur kembali meninggalkan mereka menuju lantai 1 melanjutkan pekerjaannya.
Tok tok tok!
"Masuk!" terdengar suara wanita paruh baya yang sangat lembut dari dalam sana.
Cklekk!
__ADS_1
"Hai, anak tampan!" sapanya saat melihat kedatangan Vin dengan Vannya.
"Siang, Tante Ane! Kenalkan, ini Vannya calon tunanganku,"
"Hallo, sayang! Cantik sekali kamu, selamat datang di bootique kecil ini, silakan duduk Nak!" dengan ramah Tante Ane mempersilakan Vin dan Vannya untuk duduk di sofa sudut ruang kerjanya.
"Terimakasih, Tante!"
"Gimana? Ada yang bisa Tante bantu? Kapan kalian akan bertunangan?"
"Nanti sore Tan!" jawabnya tanpa merasa dosa.
"Astaga! Yang benar saja, jadi kalian datang untuk menyampaikan kabar ini? Oh, baiklah. Nanti Tante akan datang, jam berapa?"
Mars Mall
Dari kejauhan terlihat seorang wanita paruh hanya sedang memilih tas bersama anak perempuannya. Orang-orang yang melihatnya akan mengira mereka adalah Ibu dan anak. Memang benar, tapi lebih tepatnya mertua dan menantu yang lebih cocok seperti Ibu dan anak.
Mamah Iren sangat antusias melihat beberapa tas limited edision, harga tak masalah untuknya tapi bukan berarti dia bisa membelinya begitu saja. Ada beberapa yang harus mereka pertimbangkan, antara lain seberapa penting tas itu nantinya setelah di beli.
"Nak, kalau yang ini gimana?" sambil menunjukkan tas berinisal H pada Alina.
"Cantik, Mah! Terlihat manis,"
"Kalau yang ini?" menunjukkan tas yang lainnya.
"Cantik juga Mah, tapi sepertinya Mamah akan lebih sering memakai yang ini daripada yang itu," jawab Alina yang paham akan karakter mertuanya yang akan sering memakai jika suka dengan barangnya.
"Benarkah? Hmm, baiklah. Mamah ambil yang ini saja, Inikah alasan Mamah ajak kamu temani kesini. Kalau Mamah sendirian, Mamah akan lebih lama disini karena bingung memilih, Nak kamu juga harus beli ya! Jangan Mamah saja yang beli," Ucapnya dengan lembut.
" Benarkah? Oke ayo kita segera bayar, setelah ini kita cari makan, Mamah sudah lapar sekali,"
Setelah membayar beberapa barang, mereka segera keluar dari toko dan langsung menuju lantai atas. Arena food court yang menjual beberapa aneka jenis makanan disana.
Mereka memilih kebab dan juga mie ramen menjadi menu makan siang kali ini, tak lupa minuman starbucks menjadi pilihannya. Momen langka ini tak mereka sia-siakan untuk lebih lama berada di luar.
Mamah Iren merasa beruntung sekali, anak tunggalnya menemukan jodoh yang tepat bukan hanya untuknya melainkan untuk keluarga besarnya. Alina adalah sosok wanita yang selama ini Mamah Iren idam-idamkan untuk menjadi pendamping putra tunggalnya yang memiliki sifat beda dari yang lainnya.
"Coba saya, Resty kemarin ikut. Pasti kita sudah bertiga kesini,"
"Lain waktu, kita bertiga ya Mah. Mungkin sekarang Tante Resty sedang ada kesibukan yang gak bisa di tinggal,"
"Iya, Nak! Dia harus menemani suaminya yang terjun di dunia politik, kita doakan saja yang terbaik untuknya,"
"Aamiin, Tante Resty juga pasti ingin ikut bersama kita Mah! Tapi ada yang harus dia prioritaskan,"
"Sayang, kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu sakit, Nak? Kamu pasti capek karena harus menenami Mamah ya? Maaf ya Nak," rasa khawatir kini menyelimuti perasaannya saat melihat wajah menantunya yang tiba-tiba pucat.
"Aku baik-baik aja Mah, mungkin karena sudah lapar. Makanan lama sekali datangnya,"
"Kamu yakin? Ah, ya sudah Mamah carikan teh hangat untukmu ya, supaya kamu lebih enakan. Jangan kemana-kemana tanpa Mamah ya Nak," Mamah Iren segera berlalu mencarikan teh hangat untuk Alina.
"Mamah kenapa? Bahkan aku merasa biasa saja, tapi aku lapar. Bolehkah aku pesan dua porsi kebab? Tapi aku malu ... Ah, lebih baik malu daripada aku menyesal gak beli dua kebab,"
__ADS_1
Setelah makanan datang, Alina meminta satu porsi lagi kebab untuknya. Rasanya kurang jika hanya memakan satu porsi, apalagi tadi dia sudah keliling menemani Mamah Iren mencari tas.
" Hai, sayang! Ini teh nya, maaf ya kalau lama,"ucapnya seraya membawakan segelas teh hangat untuk Alina.
" Makasih, ya Mah! Makanan udha datang, ayo Mah makan dulu selagi masih hangat,"
Tak berapa lama kemudian, datang seorang pelayan mengantarkan satu porsi kebab. Mana Iren terlihat bingung, karena seingatnya mereka hanya pesan dua porsi. Dengan malu-malu Alina menjelaskan jika dia memesan lagi untuknya.
" Maaf, Mah! Aku yang pesan lagi, rasanya kurang kalau hanya pesan satu. Mamah juga mau lagi?" tawarnya pada Mamah Iren.
"Oh, kamu yang pesan. Gak apa-apa sayang! Mamah satu aja,"
Setelah menyantap semangkuk ramen pedas, Alina lanjut menyantap kebab yang sudah mencuri perhatiannya sejak tadi. Sudah lama dia tidak makan kebab, dan rasanya masih sama. Selalu enak di lidah, dan membuatnya ingin memakannya lagi dan lagi.
...***Sementara itu,...
...di ANNEKE BOOTIQUE***...
"Ya, selain itu ... Vin juga mau Tante Ane siapkan gown untuk kekasihku, aku maunya yang sederhana, elegan tapi terkesan cantik," Ucapnya seraya melirik Vannya hang sejak tadi diam menyimak.
"Lihat sayang, dia selalu begini. Datang sesuka hatinya, tau-tau meminta rancangan baju untuk acara beberapa jam yang akan datang,"
"Karena Tante tidak perlu di ragukan lagi, maaf Tante ini juga mendadak. Kau tidak mau menunda waktu untuk mengikat gadis cantik ini, sebelum dia sadar dan menolakku," Celetuknya.
"Kau apakan dia? Kau pelet dia? Astaga!"
Vannya hanya tersenyum menyimak gurauan Vin dan Tante Ane.
"Sayang, kemarilah. Aku ukur dulu badanmu, pas sekali kemarin aku baru menyelesaikan gown cantik. Untung lah kalian datang hari ini, memang rezeki nya kalian. Semoga sesuai dengan selera kalian ya!" ujarnya sembari tangan-tangannya dengan cekatan mengukur badan Vannya.
Setelah mengukur badan Vannya, Tante Ane menghubungi karyawannya untuk membawakan gown yang baru saja mereka selesaikan kemarin. Dan hasilnya sangat cantik, Vannya dan Vin menyukainya saat pertama kali melihat Mba Nur membawa masuk setelah yang baru selesai mereka rancang.
shoulder draped chiffon gown
"Bagaimana?" Ujar Tante Ane menanyakan pada dua sejoli yang saat ini duduk di hadapannya.
"Yah, cantik sekali! Makasih Tante, apakah ukuran sudah sesuai?" Tanya Vin.
"Ya, entah bagaimana bisa ukuran bisa sama dengannya. Hanya ada sedikit yang akan kami tambahkan supaya terlihat lebih sempurna, nanti sore akan kami antarkan gown ini ke rumah,"
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu ya! Ada yang harus kami siapkan lagi untuk nanti, terimakasih sudah mau kami repotkan,"
" Haih! Selalu saja begitu, kamu jaga baik-baik Nak Vannya ya! Dia gadis yang tepat untukmu, semoga hubungan kalian langgeng dan secepatnya maju ke jenjang yang lebih serius, tapi ingat jangan lagi-lagi datang beberapa jam sebelum acara," ujarnya dengan mengepalkan tangannya pada Vin.
" Hahaha! Terimakasih Tante,"
.
.
.
__ADS_1
Terlalu memaksakan buat up emang 🤣