Mantan Terindah

Mantan Terindah
10. Genggam Tangan


__ADS_3

Ketika matahari tidak begitu gelap namun sedikit cerah tapi tenang mereka sudah berada didalam kelas jadi aman untuk cuaca di luar sana. Rival yang sedang mengobrol dengan santainya dengan ketiga sahabatnya yang asik sendiri.


Bima, cowok yang suka makan hingga badannya kini sudah melebihi kapasitas yang tak kunjung berhenti untuk makan terus menerus.


Rudy, cowok playboy yang tak kunjung henti memainkan ponselnya untuk hanya sekedar membalas pesan-pesan cewek-cewek yang ia kirimkan sebelumnya.


Albert, si kutu buku yang tidak henti membaca buku yang ia beli setiap minggunya. Walaupun mereka terkadang berempat suka ngumpul tapi pada akhirnya mereka sibuk dengan jalan pikiran mereka sendiri.


"Gue baru ketemu mantan tadi malam pas gue beli ketoprak. Sumpah dia tambah cantik sekarang. Tapi gue kok bisa ya putusin dia waktu itu. Nyesel gue mutusin dia." Rival mengingat kejadian tadi malam ketika ia bertemu dengan Rubi dengan pertemuan yang tidak sengaja itu disana. Penampilan Rubi terkesan berbeda berbadan langsing dan lebih bagus ketimbang kemarin-kemarin ketika Rival masih menjadi pacarnya. Rambut hitam legam membuat Rubi menjadi mempesona.


"Kalau ingat sama mantan percuma, kalau lo gak bisa balikan." Ucap Albert sambil membaca buku yang ada diatas meja. Dengan lirikan sedikit membuat Rival tersenyum singkat "Lo udah punya pacar belum?"


"Ah, gue sih gampang gue pengen belajar aja dulu. Setidaknya bisa maju dibidang akademis." Santainya Albert menggelengkan kepalanya dengan sahutan Rival. Ia melanjutkan bacaannya dengan fokus.


Langkah kaki Franda dengan santainya masuk kedalam kelas dengan pandangan kearah lain dan langsung duduk ditempatnya menaruh tas yang menempel di punggungnya. Rival menyindir sebentar "Lo udah save belum nomor gue? Gue pake tenaga tuh ngetiknya?"


Franda mengangguk kecil tanpa menengok.


"Heh lo denger gue ngomong gak sih?" Teriaknya dengan kesal karna tidak di jawab.


"Iya udah." Sahutnya dengan berdehem ringan.


"Oh iya temanya tentang apaan? Gue gak mau ya cuma tema dari sepihak."


"Tentang lingkungan."


"Apa lingkungan? Serius? Tapi lo aja deh yang ngerjain karna gue gak terlalu pintar banget."


"Eh jangan gitu dong val. Namanya juga kerja kelompok tuh harus dikerjain sama-sama masa sendirian." Sahut Albert yang membela Franda.


"Tau nih Rival kasihan kali Franda."


"Iya iya deh.  Gue ikutan." Memanyunkan bibirnya.


Suasana kelas makin ramai dengan kedatangan siswa dan siswi yang sudah mulai lengkap. Mereka asik dengan obrolan mereka masing-masing. Ada yang sedang bermain games, bercerita, dan hal - hal yang lain sambil menunggu yang akan sebentar lagi memulai pelajaran.


Pelajaran berlangsung dan berjalan dengan lancar tanpa kendala karna hari ini adalah pelajaran Bahasa Indonesia karna guru yang mengajar sedikit lebih killer dan disiplin dalam mendidik siapapun yang melanggar peraturan maka beliau tidak segan-segan untuk menghukumnya dengan hukuman yang tidak lazim alias aneh.


Suasana kelas yang awalnya sepi kini berubah menjadi ramai. Bel istirahat pun berbunyi dengan telah tiba. Mereka bertebaran keluar dari kelas mereka masing-masing ada yang keluar untuk menuju ke kantin, ke perpus dan yang hanya sekedar mengicaukan kalau mereka sedang istirahat.


...•••...


"Hah? Kok kesini? Mau ngapain?" Franda yang masih dengan baju piyamanya keluar dari kamarnya melihat Rival sudah ada didepan rumah dengan motor yang ia pakai kali ini tidak membawa mobil.


"Lah kan gue udah bilang sama lo kalau pengen kerja tugas kelompok di kafe kan? Trus lo mau apa lagi? Udah ganti baju sana." Suruhnya yang membuat Franda masuk kedalam rumah untuk mengganti baju piyamanya.

__ADS_1


Setelah mengganti baju piyama yang ia pakai Franda berpamitan kepada mamah dan papahnya yang duduk didepan ruang tamu.


"Mah, pah Franda berangkat dulu ya." Franda mencium tangan kedua orang tuanya dengan santun.


"Ya udah tapi jangan terlalu larut ya."


"I----ya mah." Sahutnya. Lalu sang ibu mengantarkan ke depan rumah dan mengetahui siapa yang telah menjemput Franda kerja kelompok.


"Hallo tante. Salam kenal saya Rival." Rival tersenyum lebar mencium tangan sang ibu Franda. Lantas membuat Franda dengan kepribadian Rival yang berubah secara tiba-tiba.


"Ya sudah kalian pergi jangan lama-lama ya Ri----" Baru saja Rival memperkenalkan diri ia suka lupa siapa nama Rival tadi.


"Rival tante." Lanjut Rival yang menyambungnya.


Ia tersenyum manis melihat putri kecilnya sudah mulai beranjak remaja dan sudah besar.


Suasana diluar memang sedikit dingin untung saja Franda memakai jaket agar tidak terlalu dingin. Rival melirik kearah spion motornya melihat Franda tampak kedinginan.


"Lo kedinginan? Gak terbiasa keluar malam ya?" Tanyanya yang memang benar ia sangat jarang sekali keluar rumah apalagi malam hari yang hanya dipikirannya belajar, belajar dan belajar.


"Kalau mau peluk juga boleh." Franda sontak terkejut dengan ucapan Rival.


"Haha jangan tegang gitu. Gue juga ogah dipegang sama lo. Mending gue sama Cerry." Tuntasnya yang mengelitikkan lehernya sendiri.


Kini sampailah mereka di sebuah kafe yang terletak dipinggiran sana. Franda dengan cepat langsung turun tanpa melihat kekanan kekiri hingga akhirnya ada sebuah motor melintas begitu saja dari ujung kanan.


"Lo bisa jalan gak sih? Lo tuh bisa-bisa ketabrak. Jangan asal ketengah gitu. Disini tuh rawan." Teriak Rival dengan nada emosi. Ia sengaja berteriak dan menarik tangan Franda agar ia selamat dari motor yang berjalan kencang. Nada ngos-ngosan dari kedua diantara mereka menatap satu sama lain.


Genggaman yang hangat, dan penuh keikhlasan walau terucap dengan kematangan.


"Lo gimana sih? Lo punya mata gak sih? Kenapa lo bisa seceroboh itu? Lo pikir tadi lucu? Lo mau bunuh diri dan jadiin gue tersangka?" Ia melihat Franda hanya diam dan masih terkejut dengan kejadian tadi yang tidak disangka-sangka.


"Bu-----"


"Alah pake ngeles lo."


"Ma---af." Ucapnya dengan gugup lalu pasrah percuma saja ia berkata apa yang terjadi dengan siku yang sedikit memar karna bergesekan dengan setir gas motor yang melaju kencang tadi.


Dan,


Kenapa Rival malah memarahinya.


Ia menarik napas dengan berat "Ya udah lo ikut gue." Lalu ia menarik tangan Franda menuju kearah kafe tempat janjian mereka untuk mengerjakan tugas kelompok.


Dari tadi Franda hanya diam saja dengan tarikan Rival, ia sedikit tersenyum ternyata cowok seperti Rival ini bisa juga perduli terhadap orang sekitar.

__ADS_1


"Sorry guys tadi agak telat. Nih gara-gara cewek kayak dia."


Sorot mata mereka bukan kepada arah kedatangan mereka melainkan kearah tangan yang bergandengan tangan yang belum terlepas.


Sontak melihat arah mata itu ia langsung saja melepaskannya.


"Apaan sih lo pegang tangan gue segala." Rival mendorong bahu Franda dengan ringan.


Mereka duduk dengan buku tulis kecil untuk melakukan survei nantinya untuk tugas kelompok.


"Jadi kita pengen ngambil tema apa?" Franda membuka suara ketika tadi ia hanya diam saja.


"Gimana kalau tentang lingkungan aja? Soalnya kalau kita ambil tema lingkungan jadi materi banyak dan gampang."


"Gue setuju sih tapi kita harus bagi-bagi tugas aja biar cepat selesai."


"Iya sih, bener. Oh iya berhubung gue ketuanya jadi gue yang menentukannya."


"Gue bareng lo ya fran, kan lo pintar jadi gue ada temennya."


"Oh iya boleh." Sahut Franda dengan senang hati tidak menolak.


"Eh enak aja, karna gue ketua berarti ketua sama wakilnya dan kalian  berdua."


Karna ini Rival, maka mereka hanya diam dan tidak menjawab lagi karna kalau mereka menjawab maka mereka akan berurusan langsung dengan Rival.


"Vin, lo punya buku yang tentang tema lingkungan itu kan?"


"Iya entar gue bawa ke sekolah." Sahutnya.


"Gak usah gue kita beli yang baru aja biar dapet perkembangannya ya." Tepis Rival.


Benar, cowok ini memang cowok yang menyebalkan sekali mengatur dengan apa yang inginkan sendiri tanpa berpikir tentang pemikiran orang lain.


"Loh kok tangan lo kayak memar gitu?"


Franda menatap siku yang ia tunjuk itu "Oh ini, habis kena.... kena motor lewat ya keserempet gitu tapi gak papa sih."


"Oh iya gue selalu bawa obat merah dari rumah kemana pun dan gue bawa anti septik juga." Ia mengobati siku Franda dengan menarik bangku agar bisa membersikan dengan anti septik.


"Aw, pelan-pelan vin. Makasih." Dengan lembut ia membersihkan walau tidak ada pasir atau kotoran apapun disana. Sorot mata mereka saling tatap satu sama lain.


"Ah.. Jadi tema kita nanti fix ya tentang lingkungan dan udah bagi tugas masing-masing. Oh iya gue sama Franda tentang penelitiannya ya. Dan kalian berdua tentang penelitian juga tapi entar kalau udah jadi ya kita tarik kesimpulan juga." Rival membuat suasana agar lebih fokus.


"Oke." Sahut mereka dengan paham.

__ADS_1


"Fran, pulang bareng gue ya? Lo balik sama siapa?"


"Cewek cupu ini balik sama gue. Karna nyokap dia tau kalau gue yang jemput." Potong Rival.  Lalu ia mengangguk dengan tepisan Rival.


__ADS_2