Mantan Terindah

Mantan Terindah
35. Sandiwara Dimulai


__ADS_3

Rubi lebih dulu menunggu di meja kosong sendirian dengan mengaduk-ngaduk minuman yang hampir habis. "Ayo dong semangat mana Rubi yang dulu gue kenal."


"Aduh chik, jangan lebay gini napa?" Rubi merasa kalau Chiko terlalu berlebihan sekali apalagi ia dari tadi tidak henti-hentinya mengoceh.


"Gitu dong jangan sedih-sedih lagi. Bentar ya gue panggilin seseorang dulu didalam mobil."


"Loh siapa? Pacar lo?"


"Sebentar." Sahutnya.


Chiko menghampiri Franda yang sudah menunggu didalam mobil. Ia membuka pintu mobil untuk mempertemukan Rubi dan Franda untuk bertemu secara langsung dan mengobrol lebih dekat. Yang pasti Franda gugup sekali kalau misalnya Rubi akan salah sangka dalam menilainya apalagi Rubi merupakan mantan dari Rival.


Rubi terkejut sekali melihat orang yang sempat berada disamping Rival. "Loh maksudnya ini apa chik?" Dengan spontan ia langsung saja berdiri dan ingin meminta kejelasan secara langsung dari Chiko tapi Chiko berusaha untuk menyuruh Rubi duduk terlebih dahulu.


"Apa maksud lo chik?"


"Kenalin dulu rub, ini Franda." Franda menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Rubi, Rubi tersenyum sinis karna orang yang harapkan waktu itu adalah Rival dan tepat malam itu pula ada seorang perempuan ada disamping Rival dan sekarang ada dihadapannya.


"Kenalin gue Franda. Temen sekelas Rival salam kenal." Gugup Franda. Rubi hanya mengangguk saja perkenalan Franda.


"Kok kalian bisa deket? Bukannya kalian gak satu kelas kan?"


Dia aja tau kalau gue gak sekelas. Sedeket itu - batin Franda.


"Iya, lo tau kan kalau misalnya kita gak sekelas makanya gue bawa Franda kesini buat bantuin lo buat deket sama Rival. Franda bisa bantuin lo buat deket sama Rival dan lo bisa kasih tau apa aja yang dia gak tau. Maksud gue dengan Franda deket sama Rival trus mereka deket nah kalau Rival udah jatuh cinta sama Franda dia rela kan lakuin apapun ke orang yang dia sayang disaat seperti itu Franda akan nyuruh dia buat ke lo lagi. Lo ngerti kan maksud gue?"


"Trus? Gue harus kasih tau apa aja tentang Rival ke dia?" Chiko mengangguk sambil tersenyum seakan mengiyakan ucapan Rubi.


"Emang Rival suka sama dia?"


"Ya dicoba aja dulu. Gimana? Iya kan fran?"


"Eh." Franda masih tidak mengerti apa rencana Chiko yang sejauh ini.


"Oke gue ngerti, tapi apa gak ketahuan? Gue masih ragu."


"Tenang aja Franda bakalan bantuin lo. Iya kan fran?"


"I---iya." Sahutnya dengan ragu. Ia menyipitkan kedua matanya dan mengangguk paham.


Duh gimana nih, kalau ketahuan sama Rival.

__ADS_1


"Jadi Rival tuh suka yang namanya kelembutan, suka dibuatin makanan, diperhatikan, dikasih perhatian, dia gak suka diomelin apalagi dipaksa. Kesalahan gue waktu itu ya gue terlalu ngekang dia dan dia lebih mentingin basket terus jadi gue over gitu sama dia sampai akhirnya gue sendiri yang nyesel. Jadi gue pengen perbaiki itu semuanya."


"Gue mohon sama lo kalau misalnya lo mau tolongi gue, gue amat berterima kasih banget sama lo." Rubi memegang tangan Franda dengan lembut sambil tersenyum, Franda merasa serba salah dengan ucapan Rubi dan ia juga tidak nyaman kalau Rival marah.


"Eeee, Jadi lo mau kan bantuin gue?"


"Lo mau kan bantuin Rubi?"


"Eeeeee, iya deh mau." Akhirnya itulah yang keluar dari mulut Franda dengan terpaksa.


...•••...


"Apa gue harus ngelakuin itu semua? Gue takut ngecewain Rival kalau dia tau." Ia memeluk kedua buku yang tepat didepan dadanya.


"Hei, Nih punya lo makasih ya udah kasih nasi goreng."


"Enak gak?"


"Ya enak, makasih. Lain kali sediain juga buat sahabat-sahabat gue terutama buat Bima ya. Soalnya dia suka makan soalnya." Franda menyipitkan kedua matanya. Ia hanya bisa mematung memandangi Rival yang tidak ada kata jelek dalam hidupnya.


"Eh, val." Langkah Rival langsung terhenti.


"Kenapa?" Sahutnya. Tatapannya itu loh yang kadang bikin Franda harus menahan karna begitu tajam. Tenang ini bukan karna terpesona tapi Franda merasa deg-deggan kalau ada seseorang yang menatapnya tajam apalagi terhenti dalam beberapa detik.


"Kok tumben? Lo mulai suka sama gue?" Semakin dekat lagi.


"Enggak kok, kalau gak boleh juga gak papa."


"Lo itu ya suka banget menyimpulkan semuanya tanpa tau jawaban gue. Iya boleh tapi yang enak." Lalu Rival meninggalkan Franda dengan kedua tangan didalam kantung celana sekolah. Ia tersenyum singkat.


"Baper kan gue."


...•••...


"Kenapa lo senyam-senyum gitu?" Tiffany dan Roy bingung melihat Rival tampak diam dan senyum-senyum gak jelas dibalik kaca mobil menatap keluar.


"Mah, pah coba deh Rival kayak harus masuk rumah sakit deh soalnya rada-rada gimana gitu."


"Hus, gak boleh ah ngomong kayak gitu." Sahut mama yang gak mau membela satu sama lain.


"Roy sebentar lagi bakalan sampai kan?"

__ADS_1


"Iya pah, siap alamatnya yang papah kasih itu kan?"


"Emang kita mau kemana sih?" Sahut Rival yang baru kembali dari lamunannya. Tiffany dan roy kompak menggeleng.


"Lo kenape baru sadar? Udah sadar? dari tadi senyam-senyum gak jelas." Cengir Tiffany. Rival mematung dengan ucapan itu apakah benar? Masa iya seorang Rival seaneh itu?


Ia berfikir sejenak apa ia masih kepikiran dengan bekal Franda?


Kini sampailah mereka ke tempat yang dituju, Roy dan Tiffany lebih dulu turun dari mobil beserta kedua orang tua mereka.


Acara macam apa ini? 


Ini kondangan? Astaga!


Dari dulu emang Rival gak suka yang namanya kondangan itupun kalau bukan sahabat, keluarga saja ini orang lain.


"Val, buruan kok masih berdiri disana?"


Rival menyipitkan kedua matanya karna seorang wanita yang seumuran dengan mamanya yang merupakan sahabat dari mamanya sejak Rival kecil dulu mereka suka saling mengenal. Namanya juga kondangan pasti ramai dan banyak orang-orang datang dari berbagai kalangan.


Roy dan Tiffany sudah terbiasa ikut ke kondangan karna mereka hobinya makan gratis dan gratis.


"Itu Rival ya?"


"Eh Rival." Rival melirik kearah mereka yang berbisik namun suara-suara itu terdengar jelas walaupun sedikit samar.


Ia mendekat dan mengajak Rival untuk mengobrol. "Gimana,. Apa kabar val?"


"Ba---baik."


Sok Kenal.


"Rival emang suka gitu, kalian udah lama datangnya?" Roy emang ramah sama siapapun, bahkan ia tau siapa saja sahabat dari Tiffany beda dengan Rival yang lebih terkesan cuek dan bodo amat.


Acara ini nih yang paling tidak disukai oleh Rival, ramai, berisik dan bikin gabut. "Tif, kok gitu banget sih Rival. Padahal gue udah deketin dia tadi dia cuek gitu. Emang dia udah punya pacar ya?"


"Eeee, Sorry gue juga gak tau sih. Tapi dia emang gitu kok rada jutek."


"Oh tapi dia gak kalah gantengnya ya sama kak Roy."


"Iya dong mereka mah ganteng-ganteng dan gue juga cantik kan?"

__ADS_1


"Ah elah lo."


__ADS_2