
Sesampainya di rumah sakit, Zein langsung ke kamar yang diinfokan sang istri. Pelan dan hati-hati, ia pun mengetuk pintu kamar itu.
"Assalamu'alaikum!" ucap Zein seraya membuka pelan pintu ruangan itu, melongok kan wajahnya ke dalam. Tentu saja mau mematikan bahwa pasien yang ada di ruangan tersebut adalah Nadia.
"Waalaikumsalam," jawab Seseorang yang ada di atas ranjang pasien. Terdengar lirih, namun Zein mendengar dengan jelas jawaban tersebut.
Setelah mendapat salam, yang artinya ia diizinkan masuk, Zein pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Eh, Bang Zein," sapa Nadia.
"Hay... " Zein tersenyum. Namun sedikit rikuh. Sebab di ruangan ini, mereka hanya berdua.
"Sama siapa, Bang?" tanya Nadia.
"Sendiri, Nad! Gimana ceritanya, kok kamu bisa kecelakaan?" tanya Zein, pertanyaan standart bukan?
"Entahlah, Bang. Entah apa yang ada di pikiran Nadia waktu itu. Mungkin ini teguran dari Tuhan, agar jangan terlalu mencintai seuatu yang tidak ditakdirkan untuk kita," jawab Nadia, sedikit mencurahkan isi hati.
"Jangan bilang kamu patah hati, lalu putus asa?" tanya Zein.
"Nggak tahu, Bang! Entahlah... tapi sedikitpun Nadia nggak ada pikiran mau bunuh diri. Tapi merasa dunia ini sangat kejam saja pada Nadia. Rasanya Nadia hanya di permainkan oleh waktu. Lalu Nadia nggak sadar, tiba-tiba ada mobil dari samping kanan, dan braakkk... gitu, " jawab Nadia jujur.
"Kamu masih muda, Nad. Jangan bicara begitu! Anggap saja dia bukan jodohmu." Zein menghela napas dalam-dalam, entahlah, rasanya kesal saja.
"Maafkan Nadia, Bang. Sungguh, Nadia nggak ada niat buat Abang khawatir. Oiya, kok Abang bisa tahu Nadia kecelakaan. Siapa yang kasih tahu?" tanya Nadia.
"Dari Zizi lagi, dia dapet telpon dari seseorang yang nabrak kamu. Di mana dia sekarang?" balas Zein.
"Jangan tanyakan dia lagi, Bang. Pria itu nggak mau tanggung jawab katanya," jawab Nadia jujur.
"Kok bisa? Di mana dia sekarang?" Zein menatap kesal.
"Entah!" Nadia memanyunkan bibirnya.
"Astaga! Kenapa bisa begitu? Apa kamu tahu siapa orangnya? Rumahnya? Namanya? Atau nomer telponnya?" cecar Zein.
__ADS_1
Nadia menggeleng. Namun mata cantiknya melihat koper kecil dan juga tas punggung pria itu.
"Barang-barang itu sepertinya milik orang itu, Bang. Tapi orangnya ke mana, Nadia nggak tahu," jawab Nadia, jujur.
Astaga! Gadis ini memang lugu bin oon, persis apa yang pernah Bima ceritakan. Pantas saja Bima suka sekali menggodanya. Ternyata, dia dan Zizi sebelas duabelas. Zein melirik dan menggumam kesal dalam hati.
"Oke, kita tunggu orang yang nabrak kamu kembali ke kamar ini. Abang Rasa dia nggak kabur kok. Biar nanti Abang yang urus semua ini. Kalo dia nggak mau tanggung jawab, sebaiknya kita laporkan saja kasus ini ke pihak berwajib, biar tahu rasa dia," ucap Zein, tegas.
Nadia diam, namun dalam hati, ingin rasanya dia melarang. Sebab Nadia tahu, dialah yang salah di sini. Menyebrang jalan tidak hati-hati dan juga tidak melihat kanan dan kiri terlebih dahulu.
Lima menit berlalu, terdengar seseorang membuka pintu. Yang ternyata, Gani dan dokter yang merawat Nadia.
Tentu saja, Zein langsung tercengang. Sebab ia tahu, bahwa pria berpakaian modis itu adalah pria yang ia kenal.
"Gani!" tegur Zein.
Gani pun langsung mengalihkan perhatiannya pada pria yang menegurnya.
"Ha-hay... Pak Zein! Apa kabar?" balas Gani sembari tersenyum senang. Ia segera melangkah mendekati pria yang ia ketahui sebagai sahabat bosnya.
"Apa kabar, Pak. Ya Tuhan, mohon maaf, saya sangat sibuk. Sampai nggak sempat jenguk Bapak di Amerika waktu itu," ucap Gani.
"Ahhhh... nggak pa-pa. Kok kamu tahu aku ada di Amerika?" tanya Zein.
"Sebenarnya kita satu pesawat waktu terbang ke sana, Pak. Cuma saya ngga enak, ada orang tua, Bapak. Tahu sendiri lah waktu itu," jawab Gani jujur.
"Ohh, iya... ya sudahlah, nggak usah kita bahas. Oiya, ngapain kamu di sini? Apakah?" Zein tidak meneruskan ucapannya, tetapi suasana langsung jadi tegang. Sebab Nadia memegang erat pergelangan tangannya sembari menatap Gani takut. Sedangkan Gani sendiri, juga menatap gadis yang menurutnya bodoh dan merepotkan ini.
"Ya, apa yang Bapak pikirkan nggak salah. Gadis bodoh ini yang membawaku masuk ke dalam masalah menyebalkan ini," jawab Gani, ketus, terdengar kesal.
"Astaga! Oke-oke. Berhubung aku kenal kamu, Gan, kenal dia juga. Sebaiknya kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja," ucap Zein, berusaha menjadi penengah yang adil.
"Sebenarnya saya malas, Pak. Gadis bodoh ini mencoba bunuh diri. Dan melibatkan saya dalam aksi bodohnya itu," ucap Gani, lagi-lagi merasa kesal. Sedangkan Nadia beringsut takut. Sembunyi di belakang Zei dan masih di posisi yang sama. Memegang erat tangan Zein. Seolah meminta perlindungan.
"Tolong maafkan dia, Gan. Dia sedang labil," pinta Zein, seraya menatap Nadia yang terlihat ketakutan itu.
__ADS_1
"Ini bukan masalah maaf memaafkan, Pak. Tapi dia banyak membuang waktuku percuma. Menyebalkan sekali!" gerutu Gani.
"Oke, Oke, aku tahu... Sebaiknya kita izinkan Pak Dokter untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah itu baru kita cari jalan keluar untuk masalah kalian. Nadia... lepaskan tanganku, kamu mau dihajar kakakmu?" ucap Zein sembari bercanda.
"Eh... maaf, Bang. Maafkan saya," ucap Nadia, langsung salah tingkah. Apa lagi Gani menatapnya. Jantungnya langsung berdetak tak karuan.
Dokter yang merawat Nadia pun mereka izinkan untuk merawat gadis lugu itu. Kemudian Zein dan Gani menunggunya di belakang dokter dan perawat tersebut.
"Gimana kerjaan, Gan? Lancar?" tanya Zein.
"Alhamdulillah, Pak. Sekarang bos sedang sibuk ngurus perusahaan Ibu Vita. Jadi saya yang sekarang lari ke sana ke mari gantiin beliau," jawab Gani dengan senyum tampannya.
Di atas ranjang pasien itu, tak henti-hentinya seorang wanita terus melirik, mencuri pandang, sebab jujur, ia tak ingin kehilangan senyum kang mas Soo Hyun, pujaan hatinya. Ya, Nadia adalah fans berat aktor itu. Dan hari ini ketemu duplikatnya. Rasanya seperti melayang entah ke mana. Nadia senyam-senyum sendiri, seperti merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Sampai dokter harus menanyainya berkali-kali, baru dia mendengar dan menjawab.
"Maaf, Dok. Sepertinya kepala saya terbentur keras, sampai lambat berpikir," jawab Nadia berbohong.
Zein tersenyum karena hafal bagaimana Nadia. Sedangkan Gani menatap tajam ke arahnya. Tentu saja, tatapan itu sukses membuat seorang Nadia bertambah grogi.
Meskipun agak sedikit lambat, sang dokter masih berusaha sabar menghadapi Nadia sampai tugasnya selesai dan beliau meminta izin untuk meninggalkan ruangan.
"Pak Bima kemarin mengusulkan untuk memindahkan gadis ini ke rumah sakit beliau bekerja, Pak. Tapi saya mesti tanya keluarganya dulu. Takut salah nanti," ucap Gani.
"Sudah, pindahkan saja ke sana. Dia juga kerja di sana kok. Kamu tahu kan dia perawat?" balas Zein.
"Ya, saya tahu. Ya sudah kalo begitu. Hari ini saya urus administrasinya. Setelah itu mari kita pindahkan gadis merepotkan ini," jawab Gani seraya menatap tajam ke arah Nadia. Sedangkan Nadia hanya diam, menunduk dan sesekali mencuri pandang pada pria yang ia anggap sebagai aktor kesayangannya itu.
"Okelah kalo begitu. Tapi, sorry Gan. Aku nggak bisa nemenin kamu ke rumah sakit. Istriku belum lama ini melahirkan. Aku nggak bisa lama-lama ninggalin dia. Soalnya hanya ada mbak di rumah. Mama papa udah pulang. Adik dan iparku pun juga sudah pulang. Kamu mampir lah ke rumah nanti. Kalo ada apa-apa kamu boleh telpon aku, oke!" ucap Zein.
"Siap, terima kasih, Pak. Emmm, maaf, Pak. Bisa saya tahu keluarga ni cewek ada di mana?" tanya Gani.
"Dia yatim piatu, Gan. Adiknya masih SMA sama SMP rasaku. Pokoknya kamu kasih dia sembuh aja, nanti urusan adiknya biar aku dan istriku yang kabari, mengerti!" jawab Zein.
"Oh, sorry... saya nggak tahu. Oke deh, nanti kalo ada apa-apa saya telpon, Bapak," jawab Gani, tanpa basa-basi.
Tak ada perbincangan lagi, Zein pun memutuskan berpamitan. Namun, ketika ia hendak melangkah, ada seseorang yang membuka pintu tanpa permisi. Seorang pria. Dengan tangis kesedihan yang membara, pria itu langsung mendekati Nadia.
__ADS_1
Bersambung....