Mantan Terindah

Mantan Terindah
Tak Tahu Harus Berkata Apa


__ADS_3

Vita menatap dengan hati remuk redam. Bagaimana tidak? Sekali lagi ia melihat, menyaksikan dan membaca sendiri sebuah tulisan yang mengisyaratkan ketulusan hati seorang perempuan. Ketulusan seorang wanita mencintai seorang pria. Keikhlasan hati seorang wanita menerima, sang suami meninggalkannya demi kebahagiaan yang diinginkan oleh pria yang begitu ia kasihi.


Sungguh, melihat hati Vita tersayat perih, mendapati kenyataan yang Vita sendiri belum pernah mengalami.


Rasanya, kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa yang dia alami, seperti tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang dialami oleh ibu kandung Victor.


Pantas, jika Victor semarah itu kepada ayah kandungnya. Marah kepada keluarga besar ayahnya. Ternyata sang ibu dicampakkan ketika pria itu berhasil dalam bisnisnya. Pria itu berselingkuh dan menikah lagi dengan sekertaris pribadinya.


Ibu kandung Victor terisih. Dibuang tanpa diberi apapun. Bahkan tidak diizinkan membawa apapun.


"Aku tidak tahu harus berucap apa, Kak. Tapi semua ini aku rasa adalah hak abang. Abang tidak salah jika dia memang kekeh memperjuangkan haknya. Karena pada dasarnya, ibunya lah yang berjuang mengumpulkan ini semua. Ibunya lah yang memulai bisnis ini. Kalaupun sekarang berkembang, harusnya perusahaan membayarkan royalti pada wanita itu. Sebab tanpanya, perusahaan ini tidak akan pernah berdiri. Bukankah begitu?" ucap Vita.


Wanita itu tersenyum, lalu ia pun berkata, "Bukankah di situ, mommy sudah berkata, bahwa dia sudah mengikhlaskan segalanya dan beliau juga meminta agar Victor ikhlas. Mommy sangat marah jika Victor keras kepala. Bukankah mommy juga menulis, tanpa harta itu, Victor masih bisa makan dengan keahliannya. Benarkan?" jawab wanita cantik yang berprofesi sebagai chef di salah satu restoran ternama itu.


"Dalamnya hati siapa yang tahu, Kak. Kita nggak bisa nyalahin abang jika beliau menginginkan haknya. Namun, sekali lagi aku sebagai seseorang yang diamanahi oleh Luis untuk menjaga apa yang ada, tidak bisa menyerahkan semuanya. Sebab, di dalam harta yang saat ini aku kelola, ada hak-hak anak-anak yatim piatu, kamu duafa, para janda dan juga para tuna netra di dalamnya Kalo pun abang mau semua, mohon maaf aku nggak bisa berikan semua. Aku hanya bisa memberikan separonya. Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas apa yang sudah Luis amanah kan kepadaku," ucap Vita, tegas.

__ADS_1


"Masalah itu aku nggak mau ikut campur, Vit. Di sini tugasku hanya mengingatkan Victor. Selebihnya aku nggak ada urusan. Jadi, percuma kamu bicarakan hal ini padaku. Toh aku dan dia sudah nggak ada ikatan. Yang artinya aku nggak ada hak untuk ikut campur urusan pribadinya." wanita itu tersenyum sekilas.


Vita menatap wanita itu dengan tatapan kasihan. Entah mengapa? Vita merasa bahwa wanita yang kini ada di hadapannya sedang merasakan patah hati. Semacam cinta bertepuk sebelah tangan. Sepertinya tidak diinginkan.


"Kakak sama abang, apakah dijodohkan?" tanya Vita, penasaran.


"Nggak. Kami nggak dijodohkan kok. Kami suka sama suka. Cuma aku baru sadar, kalo ternyata dia deketin aku atas dorongan dari mommynya. Jadi cerita ya gitu deh! Sesuatu yang didasari dengan pamrih, pasti nggak akan berjalan dengan baik, Vit. Dan aku percaya itu." wanita itu tersenyum kecut. Semakin membuat Vita yakin, bahwa wanita di depannya ini memang patah hati.


"Sabar ya, Kak. Tapi aku rasa, bang Victor akan sangat menyesal, melepaskan wanita sebaik kakak," ucap Vita.


"Vita yakin, Kak. Putramu pasti akan menjadi pria sholeh, sebab ibunya juga baik hati dan mempunyai keikhlasan yang luar biasa." Vita tersenyum.


"Terima kasih, Vit. Maafkan mantan suamiku, ya. Tolong bantu doa. Semoga dia bisa kembali ke jalan yang benar. Bisa ikhlas. Bahwa apa yang sebenarnya dia kejar, bukanlah sesuatu yang bisa membuatnya bahagia. Aku sangat berharap, dia bisa luluh dengan membaca tulisan mommy nya ini," ucap wanita itu.


"Aamiin, Kak. Tapi ngomong-ngomong kakak udah berapa lama kenal ibunya bang Victor. Sepertinya kalian dekat sekali?" tanya Vita penasaran.

__ADS_1


"Sebelum aku kenal papanya Dilan, justru aku kenal ibunya dulu. Mommy itu salah satu langganan di restoran aku. Dia suka sekali pesan makanan dari tempat aku kerja. Buat dibagi-bagi sama orang-orang yang kurang beruntung. Kami sering ngobrol. Beliau sering curhat. Dan awalnya aku juga nggak tahu kalo Victor itu anak dari wanita yang sudah aku anggap seperti ibu. Jadi pas dia deketin aku sampai lamaran, barulah aku tahu kalo dia itu ibunya Victor," jawabnya.


"Owalah, alurnya seperti direncanakan." Vita tertawa.


"Kamu bener, kan tadi aku dah bilang, kalo dia sebenarnya deketin aku tu gara-gara disuruh sama ibunya. Kalo nggak kan, mana mungkin." wanita cantik itu ikutan tertawa.


Mereka berdua sama-sama tertawa. Namun tawa lepas itu sepertinya mengandung kesedihan dan kesedihan itu hanya mereka yang tahu.


***


Di sisi lain, senyum bahagia mengembang sempurna di bibir sepasang calon pengantin ini.


Restu sudah mereka kantongi dan terhitung dari detik ini, maka mereka tidak boleh bertemu, tidak boleh berkomunikasi, tidak boleh bertukar kabar. Yang artinya mereka sedang dipingit. Membuat mereka berdua kelimpungan tak karuan.


Memendam rindu, ternyata tidak semudah bayangan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2