Mantan Terindah

Mantan Terindah
60. Penasaran Part 2


__ADS_3

"Franda gue pengen ngomong sama lo, wah aku gak bisa kak Rival udah nungguin aku didepan maaf ya kak." Tolaknya yang pergi gitu aja.


"Tunggu."


"Ini soal hubungan lo berdua, gue pengen ngomong ini sama lo penting banget!" Lanjut Roy yang tidak kunjung henti.


"Soal keseriusan lo sama adik gue, gue gak mau adik gue tersakiti cuma gara-gara perempuan. Gue harap bukan lo!" Roy mendekat dan menatap kedua bola mata Franda, itu bukan tatapan yang sudah-sudah atau sebelumnya tapi ini tatapan yang oenuh penasaran.


"Gue butuh ngobrol berdua sama lo!"


"Tapi kak?" Roy hanya diam dan menatap sebentar.


"Ya udah." Ia pun mengiyakan permintaan Roy dan memberitahukan kalau ia tidak jadi pulang bareng Rival, dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu. Pasti Rival marah dan bingung kenapa Franda menyuruhnya untuk duluan. Tapi entahlah..


Tapi ponselnya terus saja berdering mungkin itu dari Rival, tidak ada hentinya. "Lo angkat bentar, atau lo ketemu dan bilang sama dia kalau lo gak bisa balik sama dia." Roy malah menyuruhnya seperti itu.


Rival sudah menunggu didepan dengan santai dan memainkan ponselnya. "Val."


"Lo ngajakkin gue bercanda ya? Ya udah yuk masuk." Ketika tangan Rival menyuruhnya masuk kedalam mobil ia langsung saja menahannya untuk tidak masuk kedalam.


"Gak bisa deh kayaknya hari ini, kamu duluan aja kali ya. Aku ada urusan bentar jadi gak bisa ditinggal."


"Urusan apa?"


"Ada deh pokoknya, penting soal perempuan sih sebenarnya. Jadi maaf."


"Ah gimana sih, gue udah nunggu!" Tapi ia teringat kembali dengan ucapan mamanya tempo lalu yang bilang wanita itu tidak suka dikekang atau hal lain, dan didalam hati Franda ia yakin sebentar lagi Rival akan marah.


"Ya udah deh, gue balik dulu. Hati-hati ya kalau ada apa-apa kasih tau aja jangan sungkan atau apa.. Gue balik dulu." Rival mengacak puncak kepala Franda singkat lalu melempar senyum.


Memang aneh, disaat orang lain menyangkanya kalau dirinya akan marah maka ia tidak ada marahnya sama sekali dan begitu pun sebaliknya. Franda menunggu Rival sampai keluar dari pintu gerbang. Sebenarnya ia tidak enak hati untuk berbohong tapi harus apa, ia pun juga  penasaran dengan Roy.


***

__ADS_1


"Apa bener lo cuma permainin adik gue Rival?" Deg. Pertanyaan macam apa ini, ia pun hanya diam dan terkejut sekali dengan ucapan Roy.


Apa maksudnya?


"Maksud kakak apa?"


"Gue cuma pengen nanya aja sih. Bener?" Tanyanya kembali.


"Emmmm" Apa kak Roy sudah mengetahuinya? Apa Chiko yang memberitahukan hal ini?


"Jujur aja kali fran, lo serius gak sama Rival. Soalnya Chiko bilang ini ke gue sendiri kalau lo gak serius sama Rival? Jadi bener?" Lanjutnya kembali.


"Kak Roy percaya?"


"Enggak sih, tapi kan kita gak bisa tau perasaan orang lain tuh kayak gimana jadi ya gue cuma bisa tanya aja sama lo. Jadi gimana lo beneran gak serius sama Rival?"


"Eeee. Gimana ya?"


"Eee, sebenernya aku juga gak mau sih kak sama semua ini. Aku tuh bingung mau ngapain lagi soalnya kalau aku diposisi Rubi pasti juga bakalan sedih sama orang yang oaling kita sayang sama orang lain." Ucapannya masih membingungkan.


"Rubi? Apa hubungannya dengan Rubi?"


"Aku lihat Rubi nangis-nangis dan dia masih cinta banget sama Rival. Dan Chiko kan kak Roy tau sendiri kalau dia sahabat terbaik Rubi dia minta tolong buat deketin Rubi sama Rival lagi. Dengan cara aku yang harus bikin Rival jatuh cinta, trus ketika Rival sudah jatuh cinta sama aku dan dia cinta banget aku pengen bikin Rival putusin aku dan balik sama Rubi. Gitu kak? Tapi aku gak tega giniin Rival." Franda bergetar mengatakan hal ini ke Roy. Ia bingung apa ini suatu yang salah atau yang benar.


"Kakak boleh marah sama aku, atau kakak kasih tau aku langsung Rival biar dia benci banget sama aku. Boleh kok kak." Lanjutnya air mata itu mengalir gitu aja.


"Kak Roy kenapa diam aja, buruan kak telfon Rival suruh dia kesini biar dia maki-maki aku, aku siap kok kak. Aku siap! Atau kak Roy yang aja yang marah sama aku boleh banget aku gak bakalan marah."


Roy memeluk tubuh mungil itu dengan hangat, entah apa yang ada dipikiran Roy sekarang, disatu sisi ia juga bingung harus seperti apa, namun disisi lain ia juga tidak mau menyakiti perempuan yang sudah ia suka dari lama. Dua orang yang benar-benar tidak bisa memilih. Ia merasakan sekali suara sesegukan dari Franda. Ia mengelus puncak kepala Franda, agar perempuan itu tidak menangis lagi.


"Gue cuma nanya aja, jangan nangis atau apa. Gue emang kakak kandung Rival tapi yang tau keputusan dan konsekuensi itu ya kalian berdua dalam mengambil keputusan gue. Hak gue sebagai kakak adalah mendukung apapun keputusan itu. Udah ya gak usah nangis lagi." Sebijaksana itu Roy mengatakan, tidak ada kata marah atau membentak. Tapi sadar, ia sedang kecewa.


"Kakak kenapa gak marah? Aku gak enak sama kak Roy, Kakak baik banget sih jadi orang. Aku jadi sayang banget sama kak Roy nih."

__ADS_1


"Gue juga sayang sama lo." Ucapnya. Tapi didalam hatinya ia bilang melebihi orang yang gue sayang tapi sayangnya lo belum tau kalau gue udah suka sama lo fran. Gue emang bisa pegang raga lo tapi gue gak bisa miliki hati lo!"


"Trus gimana kak?"


"Gue yakin sama lo, kalau lo pasti bisa dan lo harus yakin kalau lo adalah sosok yang bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Kalau misalnya Rival balik sama Rubi lo siap kehilangan? Lo gak kangen sama omelan dia?"


"Eeee, gak tau kak. Aku masih ragu sama Rival. Rasa itu awalnya gak ada sama sekali ada rasa suka sedikitpun walau pernah tertarik. Tapi sekarang pun juga bingung karna rasa itu masih untuk orang lain."


"Siapa?"


"Adalah seseorang."


"Kamu kak, kamu." Gumam Franda yang tidak mau menatap Roy kali ini.


"Trus kak Roy nati bakalan kasih tau sama Rival di rumah?"


"Enggak tenang aja, biarkan semua mengalir dengan alami tanpa gue yang ikut campur didalamnya ya. Jangan gitu dong semangat!"


"Makasih ya kak."


"Sama-sama."


...•••...


"Lo lagi ngapain bert? Kok dari tadi ngetik mulu. Lo udah punya cewek kali ya ayo ngaku lo."


"Wah ternyata lo ya bert kayak gitu sama kita gak kasih tau segala." Ucap Rudy yang penasaran, sedangkan Albert menyembunyikan langsung ponselnya sebelum ia tutup paksa.


"Apa sih, udah deh buruan pesen minumannya, Rival mana sih kok gak datang-datang gini nih kalau udah punya pacar lupa sama sahabatnya sendiri. Pasti sama Franda ye kan?" Bima tidak sabar lagi menyantap makanan dan minuman dimana tempat ini menjadi tempat tongkrongan mereka kalau lagi gak sibuk.


"Sorry ya guys kita lama banget datangnya. Dia nih dandannya lama pake banget." Ia hanya diam saja. Franda masih kepikiran kalau Roy sudah mengatakan tentang hal itu, tapi ia yakin kalau Roy bisa dipercaya.


"Ya udah pesan aja."

__ADS_1


__ADS_2