Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 20 - IT'S DONE!


__ADS_3


Udara mendingin meliputi rumah sakit pusat kota Honolulu. Pagi subuh tadi hujan kembali mengguyur daerah ibu kota dan sekitarnya. Zhavia masih terjaga dalam pelukan suaminya pagi itu. Patrick tidak membiarkan istrinya tertidur sendirian apalagi kondisinya semakin mengkhawatirkan. Zhavia juga menolak dirawat di ruang ICU. Dia ingin dianggap seperti pasien normal yang tidak memiliki masalah penyakit separah ini.


"Good morning!" Suara seorang wanita memasuki kamar s-vip itu dengan nada riang. Ternyata dia tidak sendiri. Dia datang bersama anak tertuanya.


"Ups, Wilson, baginilah adik dan iparmu tidur. Aku jadi ingat sewaktu muda dulu," kata wanita itu lagi memegang dadanya merasa terharu. Bisa dikatakan wanita ini bersama seluruh keluarganya, suaminya yang merupakan paman dari Zhavia adalah saksi hubungan cintanya dan Patrick.


"Wow mommy, aku jadi merindukan Yuri, padahal baru saja dia mengantarku pergi," saut anak tertuanya.


"Sebentar lagi mereka berdua akan terbangun,"


"Sepertinya Zhavia bukan membutuhkan operasi pengangkatan janin tetapi Patrick saja biarkan terus memeluknya. Wajahnya tampak bersinar dan membaik," katanya lagi.


"That's right! The power of love!"


Dan tak lama kemudian, Patrick pun terbangun. Dia beranjak dan menoleh ke asal suara bibi mertua dan kakak iparnya.


"Oh Aunty Clau, Kak Wilson, good morning, i'm sorry, tadi malam Zhavia kembali demam dan dia meriang kedinginan," kata patrick merasa tidak enak.


"It's oke, Pat! Mommy ku sudah terbiasa katanya," celetuk Wilson bergurau.


"Kau!" Sela Claudia melirik tajam anaknya.


"Em, biarkan aku melihat keponakanku. Kata ibunya, nanti siang mereka akan tiba menemani Zhavia," kata Claudia lagi.


"Ya, terimakasih Aunty, aku juga sudah mengatakan pada Mom Vien agar bisa datang, tapi entah mengapa aku tidak rela dengan operasi besok," ujar Patrick kemudian masih duduk di sisi tempat tidur Zhavia.


"Tidak rela karna Zhavia tidak akan mengandung lagi," Wilson hanya memastikan.


"Bukan! Aku tidak peduli dengan itu kak. Zena saja sudah cukup bagiku. Aku hanya memikirkan kondisi Zhavia. Namun, jika tidak diangkat, dia akan terus menderita, aku takut kak, aunty!" balas Patrick mengusap wajahnya kasar.


"Tenang saja, serahkan semua pada yang di atas. Zhavia pasti baik baik saja," kata Wilson menepuk pelan pundak Patrick.


"Ya, aku sangat berharap. Em, aku akan membersihkan diriku dan ke kapel bawah sebentar, aku harus mempersembahkan doa untuk operasi besok. Kata dokter, hari ada kunjungan pendeta," ujar Patrick.


"Ya kau benar Pat, pergilah, aku akan menjaga istrimu,"


"Terimakasih aunty," ucap Patrick dan dia mengecup dahi Zhavia sebelum keluar dari ruang perawatan.


Wilson pun memperhatikan Zhavia dan Claudia menghampiri keponakannya itu. Dia menyampingkan rambut rambut halus Zhavia yang menutupi dahinya.


"Tubuhnya masih lemah, nak," tutur Claudia sendu.


"Entah mengapa aku juga sedih dengan semua ini, tapi biar bagaimanapun Patrick sudah menebus semuanya, mom," balas Wilson memandang kasihan saudara sepupunya.


"Hem, benar, mereka berdua hanya korban. Wilson, sebaiknya kau kabari Willy dan Elena agar dia kembali besok. Aku akan mengatakan pada autny Vien mu untuk mengadakan acara syukur setelah selesai operasi Zhavia," suruh Claudia.


"Ah, baiklah mom," tanggap Wilson keluar dari ruangan perawatan Zhavia dan menghubungi adiknya. Claudia masih menunggui Zhavia dan sesekali mengompres keningnya sambil menunggu Patrick kembali.


Ketika sore hari, keluarga Zhavia dari Legacy mulai berdatangan. Viena dan Dion, orang tua dari Zhavia datang bersama Gracia dan Dior lalu tak lama kemudian Zefanya dan Ezekhiel. Mereka meninggalkan anak anak mereka bersama Lexa, Leon, Rosie dan Theo. Lexa dan Leon akan datang menjenguk Zhavia setelah operasi. Ella dan Pierre juga datang. Mereka merindukan Zena. Mereka juga membawa Javier.


Namun, maksud dari semuanya karena hendak menjenguk Zhavia. Mereka cukup senang kalau ternyata tiba tiba dokter mengatakan kalau kondisi Zhavia tiba tiba membaik. Hal ini sangat baik agar besok bisa menjalani operasi dengan lancar. Meski begitu, tetap saja ada beberapa kecemasan di antara hati Viena, Dion, Zefanya, Dior, Egnor dan khususnya Patrick.


Viena dan Dion tidak lepas mendampingi Zhavia seperti sekarang Viena menyuapi Zhavia dan Dion mengajak bicara putri ketiganya itu. Sementara Zefanya dan Dior tak henti hentinya memandang protektif pada Zhavia dan menatap sinis Patrick. Rasanya Patrick akan menghadapi masalah besar. Sementara Egnor juga merasa tidak nyaman berlama lama di sekita rumah sakit. Egnor tidak tega melihat senyum Zhavia yang seperti menahan sakit. Sementara Patrick, suami Zhavia, pria yang selama ini menjadi penyebab Zhavia seperti ini dan dia juga mengakui terus memperhatikan Zhavia. Dia duduk di sofa bersama Eden dan Hoshi memandangi istrinya yang sedang bersama orang tuanya.


"Semua sudah membaik, Pat!" Kata Eden.


"Aku ragu, Eden. Dulu ibuku juga seperti ini, membaik satu hari sebelum pergi ..." saut Hoshi.


Puk!

__ADS_1


Eden memukul paha Hoshi yang berkata seenaknya.


"Kau diam!" bentak Eden melirik tajam Hoshi.


Patrick sudah menatap tajam sahabatnya itu.


"Kau jangan dengarkan Hoshi, kau tidak tahu siapa dia saja! Lebih baik ayo kita beli minum dulu!" ajak Eden kemudian.


"Kau saja, aku mau di sini!" balas Patrick kembali melihat Zhavia.


Akhirnya Eden membawa Hoshi keluar dari ruang kamar itu. Patrick takut. Dia benar benar bingung, gelisah dan kepalanya terasa ingin pecah. Kalau saja dia punya kekuatan, dia ingin menukarnya. Terserah semua orang bersedih atau merasa kehilangan, dia hanya ingin Zhavia bertahan dan kembali sehat seperti semula.


Malam pun tiba. Semua kerabat telah kembali ke penginapan untuk beristirahat dan pihak rumah sakit tidak memperkenankan banyak yang menjaga Zhavia karena untuk ketenangan dan kenyamanan pasien. Zhavia pun harus mempersiapkan dirinya besok. Hanya Viena dan Dion yang tetap tinggal juga bersama Patrick. Tidak ada yang bisa menyuruh Patrick kembali bahkan untuk melihat Zena. Dia sudah bertemu sore tadi. Ella yang membawa Zena kemari. Patrick memberi pengertian pada anaknya kalau ibunya membutuhkannya.


Viena dan Dion membeli makan untuk mereka dan menantunya terlebih dulu sementara Patrick tidak lepas memegang tangan Zhavia dan menatapnya secara intens.


"Zhavia, apa kau sudah memaafkanku?" tanya Patrick lagi dan lagi memastikan.


"Mengapa begitu pertanyaanmu? Lihat wajahmu tampak lemah dan lesu begini. Apa kau belum membersihkan diri?" tanya Zhavia kembali memegang wajah Patrick dengan telapak tangannya.


"Aku terus memikirkanmu sampai aku tidak tahu lagi apa rutinitas ku. Aku terlalu mencemaskanmu. Zhavia, jangan mengalihkan pembicaraan, jawab, kau sudah memaafkanku atau belum?" kata Patrick lagi memegang punggung tangan Zhavia yang memegang wajahnya.


"Memaafkan apa? Kau tidak salah Pat, wajar seorang suami marah jika melihat gambar istrinya bersama pria lain,"


"Aku tidak mempercayaimu dan kau pergi, Zhavia maafkan aku, ingin sekali aku bertukar tempat padamu. Biar aku saja yang mengalami semua sakit ini. Aku yang bersalah dalam semua ini," Patrick menundukan kepalanya.


"Ssstt, kalau kau yang sakit, jadi kau tenang melihatku menderita karena merawat dan mengurusimu? Kita sama sama menderita sayang, sudahlah, jangan seperti ini, besok aku akan pulih, ya kan?" Zhavia memastikan dengan tersenyum tipis.


Patrick mengangguk dan air matanya telah terjatuh. Dia benar benar takut. Patrick pun beranjak lalu memeluk istrinya.


"Kau harus pulih! Besok kau harus kuat! Setelah operasi, kita langsung pulang, aku sudah berjanji padamu," kata Patrick dengan penekanan takut tapi juga ingin selalu memeluk.


"Ya, setelah mereka mengangkat rahimku, aku bisa kembali ke mansion dan hidup hanya bersamamu dan Zena," balas Zhavia mengelus punggung Patrick.


"Benar, hanya kau, aku dan Zena. Zena pasti sangat senang melihat kau kembali mengajarinya bermain piano," ujar Patrick lagi mengusap usap wajahnya pada pundak Zhavia.


"Ya, aku sudah tidak sabar Patrick! Aku ingin bersama anak nakalmu itu. Dia semakin pintar dan terkadang dia mengajariku. Dia sepertimu," kata Zhavia lagi menarik diri dan mereka berdua saling menempelkan dahi.


Patrick masih menangis dana memegang wajah istrinya.


"Sudah, kau jangan menangis, kau seperti Zena saja," goda Zhavia.


"Kau harus kuat Zhavia, kau harus bertahan, demi Zena, tidak usah pikirkan aku, pikirkan Zena," saut Patrick membelai lembut pipi istrinya.


"Tidak, kau juga penting,"


Patrick menggeleng. Dia memang tidak ingin kehilangan Zhavia. Sama sekali tidak ingin. Kesalahan yang ia perbuat. Kebodohan membuat dia semakin mencintai Zhavia. Bukan karena Zhavia sakit, ketika dia mengetahui kebenarannya, apapun keadaan Zhavia, dia ingin Zhavia. Sebelum dia mendapatkan Daniel saja, dia terus mencari Zhavia. Walau apapun kesalahan Zhavia yang semisal ada atau tidak, dia tetap ingin bersama Zhavia. Cintanya pada pandangan pertama. Baru kali ini dia lebih dulu mencintai seorang wanita yaitu Zhavia. Istrinya sekarang!


"Pat, ada apa denganmu?" Zhavia kini agak cemas dengan ketakutan suaminya. tidak ada yang tahu usia seseorang.


"Aku tidak mau kehilanganmu Zhavia, pokoknya besok aku akan membawamu ke mansion, setelah operasi, aku akan terus bersamamu Zhavia," tutur Patrick.


"Patrick, kau tahu? Kebahagiaanku terbesar selama hidupku adalah menjadi seorang istri dan ibu. Yang paling membuatku bahagia kalau ternyata aku menjadi istrimu, istri Patrick Zayno Kwan. Lalu aku memiliki anak perempuan yang begitu cantik. Betapa aku bangga. Terimakasih sayang," ucap Zhavia tersenyum terharu.


Patrick mengangguk dan mengecupi tangan Zhavia.


"Sudah Zhavia, sekarang kau harus istirahat. Berbaringlah. Aku di sini, aku tidak akan meninggalkanmu," kata Patrick lagi membantu istrinya kembali berbaring.


"Tapi kau harus makan," pinta Zhavia pada suaminya. Eden juga yang mengatakan pada Zhavia kalau Patrick sangat menyesal dengan perbuatannya sehingga terkadang Patrick tidak makan karena memikirkannya.


"Ya, mom Vien dan Dad Dion sedang membelikannya. Aku tidak mau ke mana mana, aku mau di sini," kata Patrick.

__ADS_1


"Bernyanyi lah untukku, lagu yang baru saja kau buat untukku kemarin," pinta Zhavia tersenyum.


Patrick mengangguk dan menghapus air matanya. Dia duduk di tempat tidur di samping Zhavia dan mengelus puncak kepala Zhavia. Zhavia pun memeluk pinggang suaminya.


"Let me hear you say baby! Sayang, kau lebih manis daripada coklat, Ini kunci hatiku, bukalah. Yang kubutuhkan hanyalah dirimu dan suaramu. Let me hear you say, hear you say, let me hear you say. Aku bisa melakukan apapun demimu, sayang. Ketika sesuatu menjadi sulit dan berlebihan. Aku membutuhkanmu lebih dan lebih


Let me hear you say, hear you say, let me hear you say. Aku menghindari tatapan orang lain dan menatapmu. Saat mata kita bertatapan, pandanganmu tak bisa kujelaskan dengan kata kata. Pandanganmu menerangiku terkadang seperti matahari, terkadang seperti bulan, Jangan biarkan aku kehilangan satu hari yang cerah ini bersamamu," Patrick bernyanyi dengan pelan dan Zhavia tersenyum lebar.


"Kapan kau belajar menjadi rapper?" tanya Zhavia ketika mendengar di beberapa bait, Patrick bernyanyi dengan cepat walau tetap dengan volume suara pelan.


"Cih, kau ingat waktu kita ke rumah sakit Japanis? Ada seorang dokter bernama Dokter Erickson. Dia anak kerabat uncle egnormu! Erickson Gabriane, masa kau tidak tahu. Ternyata dia bisa bernyanyi hip hop. Dia bilang dia suka dengan karya karyaku dan beberapa artis yang gedung sekolah kita buat. Jadi sesekali ketika kau tidur, kami bercakap cakap dan dia mengajariku," cerita Patrick.


"Hem, sudah tampan, dokter dan bisa bernyanyi, seperti suamiku, lanjutkan Pat, terus bernyanyi sampai aku tertidur," kata Zhavia lagi.


Patrick tersenyum tipis dan mencoba berpikir tidak akan terjadi apa apa. Besok mereka akan kembali ke mansion mereka. Ya. Tidak ada kata kata lain selain kembali.


...


Semua sudah bertemu dengan Zhavia dan memberikan dukungan untuk operasinya. Mereka semua bertemu satu per satu dan Patrick tetap ada di dekat Zhavia. Bahkan ketika Zefanya berbicara pada Zhavia, Patrick tetap di sana.


"Zefanya, katakan pada Zena kalau aku mencintainya. Jaga dia untukku!" pinta Zhavia satu jam sebelum menjalankan operasi


"Kau bisa mengatakannya sendiri nanti setelah operasi, aneh!" balas Zefanya tak suka dengan kata kata Zhavia. seperti ingin pergi saja.


"Ya, mungkin aku masih tidak bisa bertemu dengannya. Berjanjilah saja! Kau ini!" Zhavia tetap memaksa.


"Ya ya baiklah, kau dan si bodoh itu yang harus tetap menjaga Zena!" kata Zefanya.


Patrick tidak mau menanggapi semua umpatan Zefanya. Dia tahu dia sudah bodoh dan bersalah. Patrick terus menatap Zhavia saja.


"Hari ini Anya! Kau ini tidak bisa lembut sedikit padaku! Aku sedang sakit!" manja Zhavia.


"Aku akan lembut jika kau sehat dan meminta apapun padaku, aku akan memberikan semua yang kupunya kecuali anak dan suamiku. Selain itu aku rela berbagi atau memberi padamu Zhavia! Jadi kau harus sembuh! Mungkin aku akan membawamu ke legacy terlebih dahulu! Supaya kau lebih tenang dan tidak tertekan!" tutur Zefanya kemudian.


Patrick hanya bisa menunduk mendengar semua sindiran itu. Zefanya memang sesaat melirik tajam Patrick.


"Ya ya, kau memang saudara kembar terbaik, doakan aku!" saut Zhavia.


Dan saatnya pun tiba. Zhavia memasuki ruang operasi. Patrick sudah takut sekali apalagi melihat Zhavia memeluk Viena dengan sangat erat dan Patrick tidak salah. Zhavia meneteskan air matanya di pundak ibunya. Ibu mertuannya saja sekarang masih menangis di pelukan ayah mertuanya.


"Pat, Zhavia pasti keluar dari ruang operasi itu dan kembali ke mansion," kata Eden menyemangati.


Patrick hanya menarik napas dan menunggu. Dia terus memandang lampu penanda yang ada di depan pintu ruang operasi yang menandakan baik baik saja atau genting. Patrick terus menyebut warna hijau di dalam hatinya.


Namun, kita manusia hanya bisa berencana. Dan bagaimana jika raga memang telah lelah, telah letih apalagi tidak menerima kalau bagian terpentingnya akan direnggut. Rasanya memang ingin mati saja. Sebenarnya hal itu yang Zhavia rasakan.


Pada akhirnya, Tuhan yang berkehendak. Viena sudah menangis jengkar dan Patrick berdiri menatap dinding sambil memberi pukulan pukulan ketika melihat lampu ruang operasi berwarna merah dan berkedip menandakan keadaan bahaya. Eden terus menenangkan Patrick tapi sangat sulit.


Zefanya sudah memeluk suaminya tidak mau melihat. Gracia sudah menutup wajahnya di dalam rangkulan Dior yang hanya bisa menunduk. Egnor sudah menautkan tangannya duduk di sofa dan Claudia mengusap punggungnya. Claudia pun meneteskan air matanya melihat ketegangan wajah suaminya. Dia tahu sesuatu akan terjadi sesaat lagi.


Sementara di ruang operasi, mata Zhavia masih terbuka melihat pada dokter memastikan kondisinya berjalan baik tapi tak lama dia tersenyum setelah rahimnya telah terangkat dan dokter hendak membereskan semuanya.


"Hem, sudah selesai. Dokter, siapapun, katakan pada suamiku, aku mencintainya. Terimakasih ..." Kata Zhavia masih tersenyum dan dia memejamkan matanya.


Mesin pendeteksi detak jantung bernada datar dan lurus. Semua dokter panik dan dengan segera melakukan tindakan pemacu jantung sementara dokter bedah pun masih melakukan prosedur. Bukan hanya itu, darah yang keluar semakin banyak dan kondisi Zhavia sudah turun drastis tidak bisa terselamatkan.


Semua dokter menundukan kepalanya.


...


nocomment

__ADS_1


lanjut di bawah hari ini vii tuntaskan oke 😇


#RIPzhavia we laf you,💕


__ADS_2