Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA PATRICK END - THE COLD DADDY


__ADS_3

Hujan turun dengan deras dan lebat. Langit hitam penuh kekelaman. Petir pun menyambar saling bersautan seakan akan ikut marah dengan apa yang terjadi. Dokter pendamping keluar dengan wajah menunduk. Patrick di sana masih menatap dinding dan Dior yang menghampiri sang dokter.


"Maaf Tuan Prime, adik anda tidak bisa kami selamatkan!" Kata sang dokter. Dior hanya tertunduk. Viena makin menangis di pelukan suaminya yang juga menitikan air matanya dan Zefanya tersungkur terlepas dari pelukan suaminya. Sementara Patrick menolehkan pandangannya ke dokter dan menatap tajam. Dia memukul dinding dan menghampiri sang dokter.


"Bicaramu yang benar, kau ini seorang dokter!!!!" Kata Patrick hendak meraih kerah baju sang dokter namun Eden menahanya.


"Maafkan kami Tuan Muda Kwan. Daging tumbuh itu sangat melekat berdampingan dengan struktur jaringan tubuh lain dan rahim sehingga pendarahan terjadi sangat banyak, Nyonya Zhavia yang tidak bisa menahan semua kondisinya dan tiba tiba menurun drastis!" kata dokter menjelaskan dengan terbata dan menormalkan nada suaranya.


"Kau bilang istriku lemah, iya? Kau ini tahu apa tentang istriku?! Lebih baik sekarang kau ke dalam dan lakukan tindakan lagi, aku sudah membayar semua fasilitas terbaik di rumah sakit ini! Cepppaaaattt!!!!" Patrick meledak. Dia tidak menerima kepergian istrinya.


"Patrick, aku sudah merelakannya. Dia anakku. Darah dagingku. Kau juga harus merelakannya," Dion mencoba berkata kata menenangkan istri dan menantunya. Hatinya pun sudah tersayat parah karena kehilangan anak ketiganya.


"Tidak Dad! Anakmu masih hidup, kau tenang saja, aku sudah berjanji padanya akan membuatnya sembuh dan kembali ke mansion kita!" Patrick mencengkram lengan Dion.


"Patrick, Zhavia sudah meninggal. Kau harus merelakannya. Dia sudah sembuh!" Eden memegang bahu Patrick.


"TIDAK EDEN! Kau jangan mengatakan zhavia ku meninggal, jangan!" Patrick menunjuk nunjuk Eden dan melambai lambaikan tangannya di depan wajah sahabatnya itu.


Zefanya mendengar kata kata Patrick lalu bangkit dan menatap tajam Patrick. Dia menghampiri Patrick dan membalikan tubuh pria malang itu ke hadapannya.


PAK!


Zefanya menampar keras Patrick.


"Kau sangat tidak tahu diri! Kau yang menyebabkannya sakit, dia adikku, kembaranku, ragaku Patrick!! Kau hanya apa nya? Kau bukan siapa siapa nya dan sekarang dia sudah tenang sudah sembuh kau malah tidak melepasnya, kau memang suami yang tak berguna!" Bentak Zefanya dengan lelehan air matanya.


Patrick terdiam mendengar kemarahan Zefanya. Zefanya sungguh benar. Patrick sangatlah tidak berguna.


Patrick lalu mamasuki ruang oprasi itu. Dia membuka pintunya dan melihat di sana Zhavia sudah sepenuhnya tertutup kain putih. Oprasinya gagal. Dia sudah mengusahakan semuanya. Membawa Zhavia kemanapun sampai akhirnya kembali ke Honolulu untuk pengangkatan rahim namun kondisinya sudah sangat melemah. Ternyata cerita Hoshi kemarin tidak salah. kondisi Zhavia membaik untuk meminta ijin kepada semua yang datang. Pantas saja, wanita itu meminta Patrick menyuruh semua keluarganya untuk datang.


Semua dokter dan tenaga medis mundur memberikan jalan pada Patrick. Patrick membuka kain putih itu. Zhavia terbaring disana dengan wajah yang sangat putih namun dengan mulut tersenyum tipis. Matanya terpejam seperti tertidur.


"Zhavia, kapan kau bangun? Aku membutuhkan roti lapis isi smokebeef! Mengapa kau tidak membuatkannya sekarang? Zhavia, sayangku, aku lapar!" Patrick menangis menggenggam tangan istrinya. Dia menangis di sana menyesali yang terjadi. Dia gagal. Dia pun tidak menepati janji. Istrinya telah tiada. Patrick masih di sana mengecupi seluruh wajah Zhavia dan menangis di sisi wajah Zhavia.


Tak lama Patrick berpikir sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa menyelamatkan Zhavia namun tetap dipakai oleh tenaga medis disini. Dia menjadi sangat kesal mengetahui bahkan mengingatnya . Dia lalu beranjak. Dia keluar dari ruang operasi dan mereka pikir Patrick hanya ingin menenangkan diri.


Patrick menuju ke ruang penyimpanan alat alat medis operasi dan penanganan. Di sana dia menghancurkan semua stok alat alat medis, perlengkapan operasi sampai peralatan laboratorium. Perawat sangat terkejut dan menjadi panik. Seorang perawat berteriak keluar dari ruang penyimpanan tersebut dan terdengar Eden dan yang lainnya.


"Seseorang mengamuk di ruang penyimpanan alat medis. Seseorang tolong kami tenangkan dia!" pekik perawat tersebut.


"Patrick!" Eden hanya mengingat sahabatnya. Eden lalu menuju ke ruangan itu diikuti oleh Dior.


"Patrick, tenang Patrick tenang! Kau tidak bisa seperti ini!" teriak Eden mencoba menenangkan sahabatnya di sana seperti orang tidak punya jati diri dan linglung.


"Lalu aku harus seperti apa? Semua alat alat ini nyatanya tidak bisa membuat zhavia ku sembuh dan bersamaku lagi! Untuk apa benda benda ini ada disini?! Lebih baik kuhancurkan semua!!! argghh!!!" balas Patrick terus membuat semuanya berantakan.


"Patrick kau jangan seperti anak kecil, semua sudah kehendak Tuhan!" kata Eden lagi.


"Tidak! Kalau alat alat ini canggih dan tenaga medis bisa menggunakannya dengan baik, zhavia tidak akan meninggal!" bantah Patrick tidak peduli dengan kata kata sahabatnya.


Prang prang!


Patrick membanting perlengkapan operasi dengan sangat kasar. Eden berusaha menahan Patrick.


"Diamlah Eden!"


Pierre yang baru tiba langsung menyusul Patrick dan ikut menahan Patrick.


"Diam disitu Pierre diam!!! Kalian tidak mengerti diriku! Separuh jiwaku hilang, tidak separuh, semua! Semua jiwaku, jantungku, hatiku pergi, sementara kalian, separuh jiwa kalian ada kan? Ya kalian pasti sangat bahagia, sedangkannaku?! Zhaviaaa!!!!! " Patrick sangat kacau. Dia kembali menendang kardus kardus yang sudah berserakan.


"Patrick, Zhavia sudah tenang. Aku pun merelakannya. Kau tenanglah. Lebih baik kita berdoa. Ayo Patrick kita kembali!" Dior yang sebenarnya kesal dan sedih juga mencoba menenangkan adik ipar nya itu.


"Tidak! Aku mau bersama adikmu kak!Kemanapun dia pergi aku mau bersamanya!" saut Patrick mengabaikan kata kata Dior.


Ketika Patrick menunduk, dia melihat kilatan pisau operasi di sudut ruangan. Tanpa banyak berpikir, dia pun mengambilnya.


"Lihat semuanya, aku akan menyusul Zhavia! kalian tidak usah menghalangiku! kalian pasti senang jika aku juga tidak ada! aku akan mengejar Zhavia dan menjemputnya!" kata Patrick menatap tajam pisau yang sudah ia ambil.


"Kau gila Patrick jangan!" Eden nekat kembali menghampirinya.


"Jangan mendekat Eden jangaaaann!! Kalian semua tidak usah mengurusiku dan Zhavia. Aku yang berkorban untuknya. Kami berdua yang selalu menjalankan semuanya hanya berdua . Jadi untuk apa aku di sini! kalau ingin berdampingan harus satu ditambah satu, jika satu ya tidak ada, bagaimana aku berjalan?! AKU INGIN ZHAVIA!!" kata Patrick menodongkan pisau itu pada Eden agar tidak mendekatinya.


"Jangan Patrick, jatuhkan pisau itu!" Pekik Pierre.


"Patrick kita bisa membantumu menenangkan diri!" Eden masih berusaha.


"Tidak! Tidak ada gunanya, selamat tinggal!" Patrick sudah mengangkat tangannya hendak menancapkan pisau kecil itu ke nadinya namun.


"Bagaimana dengan Zena Patrick?" Tiba tiba Ella datang. dia masuk ke ruangan tersebut dan menarik tangan Zena masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Daddy? Mengapa kau bermain pisau? Mom bilang tidak boleh bermain pisau!" Kata Zena melihat ayahnya memegang pisau.


Patrick langsung menoleh menatap Zena.


Jantungnya melemah. Napasnya seperti berhenti dan matanya kembali sayu. Rambut di dahinya sudah berkeringat dan hanyut lah hatinya. Dia seperti melihat Zhavia di sana.


"Daddy.." panggil Zena lagi.


"Kau sangat egois! Kau tidak melihat anakmu semata wayang ini. Dia ini Zhavia kau tahu!" Decak Ella kesal.


Patrick pun lunglai. Dia berlutut melepaskan pisau tersebut.


"Peluk daddy mu!" Perintah Ella berbisik pada Zena dan Zena berlari pada ayahnya.


"Daddy!" Panggil Zena dan memeluk ayahnya. Patrick juga memeluk Zena dan menangis tersedu.


"Zena, maafkan daddy! Mommy sudah pergi, semua salah daddy!" Ucap Patrick sambil mengecupi Zena yang menepuk nepuk kecil punggung ayahnya.


...


Keesokan harinya,


Ketika sudah saatnya Zhavia harus disemayamkan, Patrick malah mengamuk lagi di sana. Dia benar benar belum menerima. Dia pun sampai memukul Dior, Eden, Pierre dan Ezekhiel yang mencoba untuk menghentikannya.


"Kalian semua apa hah? Ini istriku, dia belum mati!! Dia tidak boleh diapa apakan, aku akan membawanya pulang ke mansion kita. bukan rumah duka ini! Jangan ada yang mendekat!!!" Patrick mengancam semua yang mendekatinya.


Viena terus menangis di pelukan Dion. Viena juga merasakan kehilangan anak terakhirnya itu. Anak yang selalu membuat hatinya tenang dengan semua suara merdunya. Zefanya sudah sangat geram. Dia juga menangis namun tangannya mengepal. Semua yang ada disitu hanyut dalam kehilangan Patrick. Alex ayahnya yang sudah di duduk di kursi roda karna penyakit jantungnya sudah menundukan kepalanya. Dia merasakan patah hati Patrick sama seperti dia kehilangan ibunya. Namun, ini lebih dari segalanya. Alex merasa sebentar lagi Patrick akan merasakan keterpurukannya. bahkan Sandra juga sudah menangis di belakang suaminya.


Wanita yang sekarang sedang Patrick tatap adalah seluruh jiwanya. Wanita yang ia nikahkan di depan altar, memberikan semua yang dia inginkan dan melahirkan anak semata wayangnya.


"Zhavia, aku tidak akan membiarkan tubuhmu tersakiti dan merasakan panas oleh bara bara api itu. Tidak boleh sayang. Aku akan membawamu pulang. Kita tidur di rumah, dan melakukan apa yang kita sukai di dalam kamar. Hanya berdua. Aku akan menggendongmu, kau diamlah ya??" Patrick mengelus elus dahi Zhavia. Dia masih menyangka Zhavia hanya tertidur.


"Patrick, kau benar benar sudah gila! Zhavia harus segera di kremasi!!" Kata Zefanya di belakang Patrick. Patrick lalu menoleh kebelakang dan menatap Zefanya tajam.


"Kau yang gila! Kau dengan rela menyerahkan dia ke tungku api itu?! Kau tidak lihat dia siapamu? Dia duplikasimu! Sama saja kau menghancurkan dirimu sendiri!" Kata Patrick membuat Zefanya semakin geram dan menghampirinya. Dia menarik baju Patrick.


"Aku akan membunuhmu Patrick! Karna kau yang menyebabkan Zhavia MATIIII!!!!!" Zefanya yang juga sudah sangat marah dengan Patrick memukul Patrick dengan sedikit membabi buta sampai suaminya datang dan mencoba melerai.


"Lepaskan! Kau jaga baik baik istrimu Tuan Ezekhiel, agar tidak merana sepertiku!" Patrick menarik tangan Zhavia dari bajunya.


"Kau mengakui dirimu merana, bagaimana denganku, bagaimana dengan mom ku, dia yang melahirkan istrimu, dia disana!!! Aku yang satu janin dengannya yang satu perut di perut ibuku kau tahu! Kau jahat Patrick! Kau jahaaatt!!!" Teriak Zefanya menjadi jadi ketika Ezekhiel terus menariknya menjauh dari Patrick.


Sampai Zena di sana yang sebenarnya sudah ditahan Ella untuk tidak mendekati ayahnya akhirnya lolos juga. Dia langsung memeluk ayahnya.


"Daddy jangan menangis daddy, daddy aku takut, jangan menangiss!" pinta Zena memeluk ayahnya. sepertinya hanya Zena yang akan bisa mengerti dirinya.


Patrick lalu menatap Zena yang sudah meneteskan air mata. Dia menghapus air mata anaknya dan tak lama Patrick tak sadarkan diri di pelukan anaknya.


Semua menatap prihatin dan akhirnya merasakan kesedihan komposer malang itu. Claudia sama seperti Viena sudah menangis di pelukan Wilson. Sementara Egnor dan Willy sedang memikirkan cara menyemayamkan Zhavia. Istri Wilson dan Willy juga ada di sana. semua berduk. Semua kerabat pun datang. Mulai dari Keluarga Janson, Keluarga Atkinson, Keluarga Naraya, Stanley, kakak, ayah dan ibunya datang. Semua berkabung atas Zhavia sampai langitpun terus gelap. Hujan terus membasahi Pusat Kota Kota Honolulu.


...


Malam harinya,


"Kita harus menunggu Patrick. Zefanya, tenangkan amarahmu, Zhavia pasti akan disemayamkan dengan layak. Zhavia adalah istri Patrick. Hanya Patrick yang bisa menentukan semuanya!" kata Egnor memutuskan apa yang seharusnya terjadi. Mereka menunggu Patrick siuman. Dokter mengatakan seluruh kondisi Patrick menurun. dia membutuhkan banyak asupan Karen asudah menjalani hari yang berat dengan serba kekurangan.


"Benar, Anya! Kau tenanglah, kita harus menunggu Patrick tenang dan memberi dia pengertian. Kau jangan egois, coba saja kalau suamimu kehilanganmu atau aku saja kalau kehilangan Elena, pasti akan seperti ini, jadi kau tenanglah!" tambah Willy membenarkan kata kata ayahnya. Egnor sudah pusing melihat adik dan istrinya menangis tanpa henti sampai sekarang.


"Aku akan menaruh Zhavia di peti kaca dan mengawetkannya. Aku akan membawanya ke mansion. Aku sudah berjanji!" kata Patrick yang sudah sadar dan ayahnya menyuruh dia menemui Egnor di ruang penunggu.


"Pat, jangan seperti ini. Aku mengerti posisimu tapi ini tidak benar," kata Wilson memegang pundak Patrick.


"Ini benar kak, aku serius! Uncle Egnor, aku mau membawa Zhavia kembali ke mansion ku!" pinta Patrick tegas.


Egnor menggeleng.


"Tidak bisa! Kau melanggar hukum Honolulu. Tidak ada pemakaman seperti itu. Sama saja kau tidak menghargai hak nya untuk mendapatkan ketenangan. Ini melanggar hak asasi manusia, Pat!" kata Willy menjelaskan hukum yang berlaku di Honolulu.


"Aku akan menaruhnya peti kaca yang layak dan mewah juga mengawetkannya, uncle!" Patrick tidak mengindahkan kata kata Willy.


"Tidak bisa! Pilihanmu hanya dua, sir, Zhavia dikremasi atau dikebumikan. Hukum yang ada tidak bisa dilanggar meski urusan cinta sekalipun!" ujar Egnor menatap tajam menantunya itu.


"Pat, menurutku lebih baik kita kebumikan saja. Kau dan Zhavia kerabat orang hukum. Tidak pantas jika kau melanggar hukum dan Daddy ku atau Willy menurutimu," sela Wilson berusaha berkata kata dengan bijak.


"Berapa harga hukum itu, aku bisa membelinya!" celetuk Patrick dengan rahang wajahnya yang menegang.


"Sudah gila, komposer tengik ini memang sudah gila!" pekik Zefanya dan sudah muak dengan patrick. dia pun keluar diikuti suaminya.


"Berapa kak Willy? Aku akan membelinya! Aku akan mengawetkan Zhavia, aku akan bersamanya, selamanya!" kata Patrick lagi mendekati Willy dan berbicara dengan nada serius.

__ADS_1


Buak!


Willy memang sudah mengepalkan tangannya karena tidak bisa memberikan pengertian pada Patrick dan patrick seakan akan meremehkan semuanya. Patrick sudah tersungkur dengan Wilson yang kembali menghampiri Patrick.


"Pukulan ini agar kau sadar saja! Aku maupun Daddy ku tidak akan menurutimu! Kalau kau tetap melakukan ini pada Zhavia. Kami akan memenjarakanmu dan Zhavia akan kami kebumikan!" desis Willy menunjuk kasar Patrick.


Patrick di sana malah menangis. dia memukul mukul lantai dan Wilson menyuruh Willy keluar dulu dari ruangan itu. Namun, Egnor tetap di sana. Tak lama Eden juga datang. Mereka bertiga memberi pengertian pada Patrick . Patrick sudah terdiam . Dia sudah bingung dan tak berdaya. Raganya masih di sana tapi jiwanya seperti sedang mengejar Zhavia. tak lama Patrick keluar dari ruangan itu. Egnor, Wilson dan Eden merasa nasihat mereka tidak didengar oleh Patrick. Patrick sudah tidak memiliki nyawa. Patrick menghampiri istrinya dan memegang tangannya sampai keesokannya lagi. Patrick terus duduk di sana dan akhirnya mengangguk ketika Viena yang mengatakan kata kata betapa dia menerima dan rela kalau anaknya pergi.


"Anakku sayang, aku tahu, hatimu hancur sepertiku, aku tahu, jadi tolong, kita antar Zhavia ke tempat peristirahatan yang terakhir. jika kau tidak menerima Zhavia dikremasi, baiklah, kita kebumikan saja. setiap saat kau bisa menemuinya. aku tidak akan membawanya dekat denganku di Legacy. tidak. dia akan tetap di sini bersamamu juga Zena. Patrick, aku ibu dari Zhavia. tataplah aku, nak, aku sama seperti Zhavia. kau masih mempunyai Zhavia. kau bisa melihatku kau bahkan mempunyai Zena yang senantiasa akan selalu bersamamu. Zhavia akan ada terus di hati kita semua. tolong jangan seperti ini dan baiklah kita kebumikan Zhavia," kata Viena memohon sampai wanita tua itu hendak berlutut di hadapan menantunya tapi Patrick menahan ibu mertuannya itu.


"ya, kebumikan Zhavia, mom," kata Patrick menegakan tubuh ibu mertuanya dan kembali menatap Zhavia untuk yang terakhir kalinya.


...


Seorang Patrick hancur, dunianya hilang. Hari harinya kelam dan tidak bersemangat. Patrick mengalami depresi berkepanjangan. Beberapa kali Eden, Hoshi bahkan Egnor dan sikembar menemukan Patrick hendak bunuh diri. Dia ingin menyusul Zhavia. Pernah sekali Eden kehilangan Patrick dan ternyata dia tertidur di makam Zhavia. Sesuatu yang yang sangat miris dan menyayat hati. Egnor mencoba membantu Eden dan Pierre yang akhirnya terpaksa bolak balik mengurusi adik tirinya itu. Patrick mendekam di rehabilitas kejiwaan selama satu tahun tapi tetap saja keadaannya diam membatu tidak menganggapi semua yang ada. Sesekali Zena yang bisa mencairkan hatinya tapi Zena masih kecil dan tidak bisa merawat ayahnya.


Karena hal ini , Ella dan Pierre memutuskan pindah ke Honolulu mengurus Zena dan Patrick. Semua tidak lagi menyalahkan Patrick walau semua kelurga Prime menutup diri untuk Patrick. Patrick tidak peduli karena dia saja sudah tidak peduli dengan dirinya. Setiap malam hanya bisa bermain piano dan bernyanyi lalu menyerukan nama Zhavia berkali kali. Patrick tidak menerima dengan semua ini.


Tak terasa dua tahun berlalu. Patrick sudah di mansionnya. Eden, Adeline, Pierre dan Ella yang merawatnya. Mengurusnya agar hal hal seperti bunuh diri tidak terjadi lagi. Sesekali Kelurga Jovanca juga menengok Patrick memberikan nasihat yang sepertinya sia sia.


Suatu hari, Patrick masih terjaga sore itu. Dia tertidur setelah menghabiskan sebotol wine dan mengunci dirinya di kamar tepat hari ini adalah ulang tahun Zhavia. Namun, seketika, rasanya dia mendengar suara suara yang menyejukkan pikiran khususnya hatinya. Dia masih memejamkan matanya mencoba tidak berhalusinasi.


"Sayang! Patrick! BANGUN!!!! Cepat buka matamu dan lanjutkan harimu! Jangan seperti ini! Kau melupakan janjimu! Kau melupakan kalau aku masih ada di dalam diri Zena! Ayo cepat bangun! Sekarang, Patrick , BANGUN!!!!!"


"Zhavia ..." Panggil Patrick menyerukan nama istrinya dan melihat sekitar. Dia mencari cari keberadaan istrinya. Tampaklah sebuah cahaya berkilau membuat Patrick akhirnya di masa masa kelamnya menyunggingkan senyumnya lagi.


...


TAMAT!


...


SEBELUM VII CUAP CUAP TOLONG DIBACA DENGAN BAIK DAN BENAR KATA KATA VII DI BAWAH INI YAA DAN JANGAN SAMPE ADA PERTANYAAN KENAPA GA DILANJUT DI SINI! SEMUA KEPUTUSAN ADA DI TANGANKU!


Oke semuanyaaaa ...


Jadi inilah sebabnya kenapa waktu acara ulang tahun anak Zefanya ke lima, Zhavia dan Patrick ga Dateng hanya Zena. Zhavia meninggal dan Patrick mendekam di pusat rehabilitasi kejiwaan ...


So, bagaimana kehidupan Patrick selanjutnya?


bagaimana sikap dan prilakunya?


Apa Zhavia menyertainya?


Apa Patrick bisa menemukan pengganti Zhavia?


Bagaimana kehidupan dan nasib Zena?


Semuanya terangkum di novel vii selanjutnya dengan judul THE COLD DADDY yang tidak ada di aplikasi ini! Hanya ada eksklusif di aplikasi INNOVEL ATAU DRE@ME !!



Kenapa ga di sini vii?


Maaf vii uda ga nyaman dengan peraturan yang ada di aplikasi ini!!


Tolong kalian menghargai keputusan vii


Intinya VII ada masalah sama kontrak aplikasi ini, yg kepo chat aja, vii ga bs umbar di sini 😇


Bisa wa tanya nomor di chat dan DM ig hanya di @viiyovii PASTI VII BALES!!


...


Oke jadi Novel MANTAN TERINDAH UDA TAMAT yaaa ... Terima ga terima endingnya, inilah yang seharusnya terjadi hehe yang penting vii sudah membuat alur ini menjadi seperti ini ...


Dari cerita ini kita diingatkan kalau di dalam sebuah hubungan harus menekankan kepercayaan dan berbicara secara terbuka apa yang dirasakan sebenarnya. Jangan sampai nila setitik rusak susu sebelangga. Patrick juga tidak bisa disalahkan karena siapa yang tidak marah jika pasangan kita bersanding dengan orang lain. Dan mungkin kalau saja zhavia pun bertahan tetap bersama patrick, tidak akan seperti ini. Namun, balik lagi, vii menceritakan selayaknya manusia biasa yang memiliki ketakutan, rasa percaya diri, marah, kecewa, cinta, pengorbanan semua menjadi satu. Dan bagaimana jika seorang manusia memang sudah tidak bisa menanggung segala kesakitan. Ini memang cerita fiksi tapi jangan sampai benar benar seperti fiksi hehe ... Baiklah jadi sekian yang bisa vii jelaskan 😁


Pesan vii yang uda berumah tangga : usahakan bertengkar jangan sampai berganti hari. berbaikanlah dan meminta maaf lah lebih dulu sebelum pukul 12 malam. mengalah bukan berarti kalah ges . ini berlaku juga bagi yang masih hubungan pacaran yaa . begitulah vii dengan si tuan dion prime itu wakakak 😜😜


Kisah Patrick dan Zena masih berlanjut silahkan kunjungi di aplikasi INNOVEL atau DRE@ME yaa 😇😇 sudah ada sampai bab 5 di sana 😇


Cuap cuap lainnya untuk memperingati tamatnya novel ku ini next lembaran baru aja ya 😇😇


Oke jadi vii mengucapkan banyak terimakasih


Jangan lupa TINGGALKAN LIKE DAN KOMENNYA 😍😍


see youuu ... 💕💕

__ADS_1


God Bless you all 🙏😇


__ADS_2