
Semua ikatan cinta kasih tidak akan sia sia jika ada niat, hati yang terbuka serta menerima kekurangan sesama. Pengorbanan dan perjuangan akan membuahkan hasil yang manis walau ada sedikit batu krikil yang agak menyakitkan. Masih seputar cara Morgan memberikan bukti bukti perasaannya pada Allegra juga cara Zefanya dan Ezekhiel dalam usahanya memiliki momongan. Namun, Zefanya dan Ezekhiel ingin semuanya mengalir saja. Tidak mau terbeban dan menyerahkan semua pada yang kuasa. Bagaimana mereka melewati ini?
...
Allegra terbangun di pagi hari dan tidak menemukan Morgan. Dia duduk sesaat di atas tempat tidur dan melilitkan tangannya melingkari leher dan sekujur tubuhnya. Mengingat kehangatan yang Morgan berikan malam tadi. Di tengah malam jari jari Morgan menerobos masuk memeluk pinggang dan punggungnya. Kepalanya berdiam di depan leher Allegra menyapukan bibirnya di sana. Mengecupi Allegra perlahan lalu beralih ke dagu dan akhirnya mereka bertatapan. Pandangan yang mesra dan penuh kerinduan. Allegra sampai menunduk karena tersipu malu, gugup dan salah tingkah.
Satu tangan Morgan meraih dagu Allegra untuk kembali memandangnya. Satu tangannya lagi membuat Allegra semakin dekat padanya. Beberapa kecupan Morgan tinggalkan di sisi pipi Allegra. Dia tersenyum dan kembali merendahkan tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukan wanitanya.
"Tidurlah Allegra, aku hanya ingin merasakan pelukanmu! Peluk aku sayang, aku sungguh merindukan kehangatan tubuhmu!" Tutur Morgan pelan dan sangat mendesir di telinga Allegra.
Semua perlakuan dan kata kata Morgan terus menjelajahi pikirannya sampai pagi ini. Wanita itu sesungguhnya menyadari kalau dirinya memang tidak pernah bisa jauh dari sosok pria itu. Kini dia bertanya tanya apakah dirinya sangat keterlaluan? Dia menyadari kalau semua sikapnya pada Morgan seperti anak anak. Namun, dia tidak bisa menutupi hatinya yang kala itu takut dan trauma. Morgan yang begitu baik juga Rosie yang menurutnya sempurna.
Allegra menggelengkan kepalanya. Mencoba menormalkan diri dan hendak melihat apa lagi yang akan Morgan lakukan untuknya. Ketika Allegra beranjak dari tempat tidurnya, dia menerima panggilan dari ponselnya. Nomornya terlihat seperti nomor Rosie karena dia belum menyimpan nomor Rosie.
"Halo, apa ini Rosie?" tanya Allegra mengangkat panggilan ponselnya.
"Benar Allegra, maafkan aku baru berani menghubungimu," saut Rosie di seberang sana.
"Jangan begitu Rosie, seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Aku sudah salah paham tapi aku sudah terlanjur meminta berakhir dengan Morgan," keluh Allegra yang mulai menyesali apa yang sudah ia perbuat karena perlakuan Morgan semalam.
"Apa dia belum menemuimu?" selidik Allegra.
"Sudah, semalam dia menginap di apartemenku tapi sekarang sudah pergi lagi," sungut Allegra yang kembali merasa kesepian.
"Dia tidak akan jauh. Jadi, Allegra apa kau sudah memaafkan kami? Ah maksudku aku dan Morgan karena kesalah pahaman ini. Jangan sia siakan dia Allegra. Dia cinta mati padamu. Jangan sampai ada sebuah ketraumaan di antara kalian," tutur Rosie memperingati.
"Aku akan berusaha mencairkan hatiku, Rosie. Aku berterimakasih padamu. Ternyata kau sangat baik. Pantas saja dulu Morgan sulit melupakanmu. Hal ini yang sebenarnya membuatku takut dan marah waktu itu. Aku minta maaf," ucap Allegra yang dalam hatinya ingin bersahabat dengan Rosie.
"Sama sama Allegra, aku juga bersalah pada Morgan, aku hanya ingin kebahagiaan untuknya sebagai penebusan rasa bersalahku. Dan kebahagiaannya ada padamu jadi tetap hargai apa saja yang ia lakukan untukmu," kata Rosie lagi mengingatkan Allegra.
"Baiklah Rosie, aku mengerti maksudku, aku akan melihat kesungguhannya," balas Allegra memegang dadanya.
"Semangat Allegra dan selamat pagi, selamat beraktifitas, Tuhan memberkati," ujar Rosie bersahabat.
Panggilan dimatikan dan Allegra kembali menarik napas panjang. Dia memang salah sudah menilai Rosie. Sepertinya dia juga harus melakukan sesuatu pada Rosie agar tidak ada kecanggungan dari semuanya.
Allegra harus bersiap membersihkan diri tapi ketika melintasi meja makan dia melihat ada 3 kuntum mawar putih lagi di sana. Hatinya seketika bergetar. Bunga ini pasti lagi lagi dari Morgan. Dia mendekati meja makan dan meraih tiga bunga tersebut. Semakin lama ketiga bunga yang bersatu ini sangat indah. Allegra mengendusinya terlebih dulu sebelum meraih kartu ucapannya.
Tiga kuntum bunga mawar putih mencerminkan tiga kata sakral yang ingin selalu kukatakan padamu : i love you ...
__ADS_1
Mawar putih melambangkan kesucian cintaku yang saat ini hanya terdapat namamu My Alle ...
Tanpa sadar sebuah lengkungan tergurat di bibir Allegra. Dia pun mendekap tiga bunga itu dan mengendusinya lagi. Ingin langsung menghubungi pria itu tapi masih ada rasa tak enak karena sudah berkeras hati.
Allegra mengira Morgan akan kembali datang tapi nyatanya tidak. Malam ini dan esoknya Allegra hanya ditemani mawar mawar yang Morgan kirimkan. Allegra memantapkan dirinya menghubungi Morgan tapi tidak ada jawaban. Allegra bertanya pada Rosie, apa Morgan kembali ke Legacy? Tidak juga. Wanita itu bingung dan tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi. Kalau Morgan tidak di Legacy pasti juga tidak akan ada di rumahnya dan malah akan membuat ibunya cemas.
Allegra akhirnya menghubungi Xelino. Xelino juga mengatakan tidak tahu. Sudah terhitung dua hari dan hari hari berikutnya Morgan tak ada kabar tapi anehnya mawar mawar itu terus berdatangan sampai di tanggal ke 10. Morgan mengirim 10 bunga mawar putih dengan satu bunga mawar merah di tengah mawar mawar putih itu.
Alle, kalau kau masih mencintaiku, datanglah ke pinggiran Springfield membawa satu mawar merah yang kuberikan. Itulah hatiku satu satunya yang ingin ku tanamkan dalam hatimu jika kau berkenan.
Pukul 5 sore, aku menunggumu ...
Allegra mengernyitkan dahinya tidak mengerti maksud Morgan di pinggiran Springfield. Tanpa banyak tanya, pertama Tama dia menghubungi Rosie lalu malah bertolak ke apartemen sepupunya, Xelino. Allegra merasa kalau sepupunya tahu akan hal ini.
...
Sementara itu di Legacy,
Zefanya dan Ezekhiel baru saja mendarat dari penerbangan Honolulu. Mereka sudah menghabiskan waktu satu Minggu bersama sama Zhavia dan Patrick. Mengelilingi kota Honolulu, mengunjungi gedung pengacara Eg. Dan menginjungi sekolah musik yang sedang Patrick bangun. Zefanya dan Ezekhiel harus kembali ke Legacy. Biar bagaimanapun mereka adalah pemimpin dari perusahaan yang mereka jalani. Mereka tidak boleh melepas tanggung jawab dan harus kembali bekerja. Zefanya sudah puas bertemu dengan Zhavia. Karena juga mengurus Zhavia, Zefanya merasa dirinya yang tengah mengandung.
Kini, Zefanya hanya ingin berusaha dan berdoa. Mengikuti apa yang diinginkan Tuhan akannya dan suaminya. Ezekhiel juga begitu. Dia tidak mau memikirkan kekurangannya. Yang terpenting dia bisa membahagiakan Zefanya dan berjalan bersama sama sampai maut memisahkan. Kalau sampai mereka tidak memiliki anak, dia tidak peduli. Tujuannya hanya ingin membahagiakan Zefanya.
"Apa kabarmu, nak?" Tanya Dion menarik diri dari pelukan Zefanya.
"Baik dad, aku baik baik saja dan tidak masalah dengan kehamilan Zhavia yang baru kuketahui," saut Zefanya memegang lengan ayahnya yang semakin menua.
"Kau sudah tahu alasannya kan?" tanya Dion memastikan.
"Ya dad, kau tenang saja, kami hanya bersih tegang sebentar lalu berbaikan. Aku hanya terkejut dengan apa yang terjadi padanya," kata Zefanya lagi menggiring ayahnya duduk di sofa single kesukaan ayahnya itu.
"Dad yakin kau akan segera mendapatkan keturunan. Apa kalian tidak memikirkan mengenai program bayi tabung?" saut Dion sudah duduk di sofa dan Zefanya menghampiri suaminya.
"Aku sempat memikirkan itu dad, aku akan mencari informasi rumah sakit terbaik untuk program bayi tabung ini," sela Ezekhiel yang menghargai saran ayah mertuannya.
"Jangan gegabah anakku, tetap konsultasikan pada Dokter Lilian atau Dokter Erika. Kemarin kalian ke sana kan?" tutur Viena sudah duduk di sofa sebelah Dion.
"Yes mom, aku akan bertanya pada mereka. Untuk sementara, aku dan Zefanya akan menjalani program hamil alami dan meminum obat serta vitamin terlebih dahulu," balas Ezekhiel merangkul Zefanya.
Tak lama mereka bercengkramah, Gracia datang menggendong Darren. Zefanya tentu saja beranjak dari sofa dan meraih Darren. Darren sangat senang karena sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
"Monya, miss you," celoteh Darren sedikit terbata.
"Miss you too my Dare! Satu Minggu saja tidak bertemu tapi kau sudah sangat pintar Darrenku! Sepertinya kau harus menginap di mansion ku selama beberapa hari, do you want?" kata Zefanya menimang nimang keponakannya itu.
"Want! Miss you Monya!" balas Darren terus mengulang kata yang baru ia pelajari dari ibunya.
"Oohhh, you are so cute, boy!!!" Zefanya menggesekkan ujung hidungnya ke dahi Darren yang cukup harum karena wangi khusus yang dibalur Gracia.
"Zefanya, ku dengar kau ingin mengikuti olahraga senam?" tanya Gracia ikut duduk di samping ibu mertuanya.
"Benar Gracia, apa kau ada info?" tanya Zefanya kembali masih menggendong Darren.
"Ya, Minggu depan sekolah ku sudah membuka kelas untuk senam aerobik dan zumba. Kau bisa mengikuti senam aerobik karena ada seorang pelatih yang akan mengajarkan pergerakan untuk membuat sistem reproduksi bekerja dengan baik. Apa kau ingin bergabung? Kelas dilaksanakan satu Minggu 2x pada sore hari. Kurasa tidak akan menganggu pekerjaannmu?" kata Gracia memberitahu berusaha membantu Zefanya.
Zefanya mengangguk angguk sambil menggendong Darren lalu menoleh ke arah suaminya. Suaminya belum mendapatkan forum olahraga yang cocok untuknya sekembalinya dari Honolulu.
Ezekhiel juga mengangguk angguk tersenyum setuju dengan apa yang dikatakan Gracia. Senam itu sangat bagus dan juga bermanfaat.
"Aku setuju dengan apa yang dikatakan istriku. Zefanya kau bisa mencobanya dan Ezekhiel, sebaiknya kau ikut fitnes bersamaku, Theo dan Morgan. Aku selalu bertemu Theo di tempat gym tapi dia tidak bisa mengajakmu karena kau lebih memilih pulang dan menemui adikku tercinta ini," tutur Dior yang sudah selesai membersihkan diri dan bergabung dengan mereka.
"Oh begitu? Morgan dan Theo memang sempat mengajakku, jadi Morgan dan Theo sudah sedekat itu?" saut Ezekhiel.
"Begitulah karena Rosie, Theo ingin tahu lebih banyak tentang Rosie dari Morgan . Rosie selalu mengantar Theo, seperti Gracia kadang juga menemaniku. Jadi sebaiknya kalian mencobanya. Sangat baik juga untuk kesehatan bukan hanya untuk program hamil kalian," kata Dior lagi sudah duduk di samping istrinya.
"Ah kau benar Dior. Baiklah aku akan ikut denganmu. Aku akan menyisihkan waktuku untuk olahraga ini. Dokter Lilian dan Dokter Erika memang sangat menyarankan aku dan Zefanya berolah raga," balas Ezekhiel menyetujui ajakan Dior.
"Baiklah, masalah selesai. Zefanya, kau bisa bersama Gracia dan Ezekhiel kau bisa bersama Dior, Theo dan Morgan. Jangan khawatir masih banyak cara untuk mendapatkan apa yang kalian rindukan," saut Viena yang senang melihat keharmonisan ini.
"Benar mom, terimakasi atas dukungan kalian. Kami tidak tahu jika kalian tidak ada di tengah tengah keluargaku dan Zefanya," ucap Ezekhiel tersenyum bangga.
"Jangan sungkan Eze, kita semua keluarga, jangan adalagi yang harus diperdebatkan dan jangan lagi menyakiti adikku!" balas Dior memperingati sahabat sekaligus adik iparnya itu.
...
lanjut di bawah yaa 😁😁
jangan lupa tetap kasih LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊😊
thanks for read and i love you 😍😍
__ADS_1