
Namanya keinginan hati, siapa yang tahu?
Begitupun dengan apa yang terjadi pada Nadia dan Gani.
Selepas pertemuan mereka tadi sore, mereka berdua sama-sama tidak tak bisa tidur. Berpisah jarak adalah penyebab utamanya.
Nadia yang mencintai Gani, tak rela pria itu dimiliki wanita lain. Sedangkan Gani sendiri, terlanjur nyaman berteman dengan Nadia.
Sungguh Gani merasa kehilangan jika seandainya benar, Nadia memutuskan untuk meninggalkan kota Batam.
Kemungkinan besar, hidupnya hanya akan dihiasi kerja dan kerja. Tak ada lagi canda. Tak ada lagi tawa. Ledekkan Nadia. Gani pasti akan merindukan kerlingan mata gadis ayu itu. Entahlah, meskipun hanya sebuah lirikan, itu sudah cukup membuat Gani senang.
Terlebih Nadia juga suka memasak untuknya. Meskipun dengan keterbatasan yang ia miliki. Nadia sangat suka melakukan itu.
Gani yakin, ia pasti akan merindukan masakan gadis yang sudah ia anggap adik itu.
"Adik? Benarkah aku menganggapnya adik?" gumam Gani dalam lamunan.
"Tunggu dulu... aku se-happy itu sama dia, masak hanya menganggapnya adik?" Gani mencoba mengulas kembali kebersamaan dengan gadis itu.
"Rasanya tak mungkin jika aku hanya menganggapnya adik. Aaahhh... Nadia! Kamu membuatku kesal," ucap pria tampan ini.
Tak ingin dipusingkan dengan bayangan serta pemikiran tentang Nadia, Gani pun memilih membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya. Sebab besok ia berencana untuk izin tidak berangkat kerja. Gani ingin mengantarkan Nadia pulang ke kampung halamannya.
Baru sepuluh menit memfokuskan diri pada pekerjaannya. Ponselnya berdering. Sang Big Bos, menghubunginya.
"Malam, Pak!" sambut Gani.
"Malam, Gan. Emmm, besok kamu jadi ngambil cuti?" tanya Juan.
"Jadi, Pak. Dua hari ya."
"Oh, oke. Kamu terbang ke Surabaya kan?"
"Iya, Pak. Kan rumah Nadia di Gresik!"
"Ohhh, bagus deh. Sekalian kamu bawa berkas-berkas Pak Mukti. Pesawat kamu jam berapa?"
__ADS_1
"10.30, Pak!"
"Oh, kalo gitu sekalian kamu ikut meeting dengan beliau ya, Gan. Materinya kamu udah pegang kan. Bisa nggak begitu?"
"Bisa, Pak!"
"Bagus, nanti selesai meeting baru kamu anter Nadia ke kampungnya. Liburmu aku tambah sehari deh. Biar nggak buru-buru. Kamu kan bisa jalan-jalan sama dia," ucap Juan.
Gani tersenyum senang. Entah kenapa dia senang. Ya, hanya senang saja. Sepertinya Sang big bos sangat mengerti isi hatinya.
"Makasih, Pak. Makasih atas pengertiannya." Gani kembali tersenyum.
"Makasih atas pengertiannya? Maksudnya?" tanya Juan.
"Ya, nggak apa-apa, Pak. Maksudnya Bapak bisa ngerti perasaan saya," jawabnya malu-malu.
Dan di sana, Juan merasa ada yang aneh dengan asisten pribadinya ini.
"Gan, boleh aku nanya sesuatu?"
"Tentu saja, Pak. Kenapa tidak!" jawab Gani.
Gani diam sesaat. Mendengarkan dan mencoba mencerna setiap kata yang Juan ucapkan. Tak membantah sedikitpun. Karena Gani sangat tahu bagaimana bosnya itu. Juan bukanlah orang yang suka menjelekkan orang lain. Tapi dia selalu punya cara untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi.
"Terima kasih sarannya, Pak. Saya akan coba cari tahu," jawab Gani.
"Ya, sebaiknya begitu. Kamu nggak usah pergi sendiri, Gan. Minta orang-otang kita saja yang cari tahu. Soal bayaran nanti biar perusahaan saja yang bayar. Kamu terima beres. Yang penting apapun hasilnya nanti, kamu harus berbesar hati. Mengerti!" ucap Juan lagi.
"Siap, Pak. Terima kasih atas bantuan dan pengertiannya." Gani diam, jujur saat ini ia bertambah galau.
"Ya udah kalo begitu, besok perginya hati-hati. Oiya, Berliana pengen pie Bali. Aku ada pesan sama temen. Nanti ambil di rumahnya ya, Gan. Tolong!" Terdengar suara tawa lirih Juan.
"Siap, Pak. Apapun untuk tuan putri, selagi bisa pasti akan saya lakukan," jawab Gani. Pria tampan ini pun ikut tertawa.
"Oke, nanti kalo ada apa-apa langsung kabari aja, Gan. Kamu nginep di apartemen saja. Suruh Nadia istirahat di sana. Sebelum pulang kampung nanti," ucap Juan.
"Siap, Pak. Laksanakan!"
__ADS_1
"Dasar!" umpat Juan. Gani terkekeh. Begitupun Juan. Kemudian panggilan pun berakhir.
Gani diam seketika. Pikirannya melayang entah ke mana.
Belum usai batinnya memikirkan Nadia. Kini ada masalah baru yang jauh lebih rumit. Sebab tanggal pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Bagaimana jika kecurigaan Sang big bos benar? Bagaimana nanti ia akan menjelaskan ini kepada ke dua orang tuanya?
Ia sudah menolak perjodohan dengan wanita pilihan mereka. Lalu? Ketika ia dipercaya untuk memilih sendiri, malah begitu.
"Ya Tuhan! Semoga apa yang pak bos pikirkan nggak bener. Kalo sampai bener, awas aja kamu, Mar!" ancam Gani geram.
***
Di sisi lain, Nadia juga tak bisa memejamkan matanya. Nadia teringat peristiwa itu. Peristiwa di mana calon istri Gani datang ke rumahnya.
Memaki dan mengancamnya, agar jangan mendekati calon suaminya.
Sungguh, di samping urusan perasaannya sendiri. Perihal ini juga menjadi pertimbangan seorang Nadia.
Lagian, tak mungkin baginya untuk mengadukan masalah ini pada Gani. Ia tak ingin Gani malah menegur Mariska dan kemudian mereka bertengkar hanya gara-gara dirinya.
Itu bukan Nadia baget.
Nadia memilih jomblo seumur hidup di banding harus merebut milik wanita lain.
itu adalah prinsip hidup seorang Nadia.
"Walaupun aku gadis desa, pantang bagiku merebut pacar orang, apa lagi udah jadi calon suami orang, heh!" gerutu Nadia kesal.
Mariska dan istri mantan tunangannya tak ada beda. Mereka berdua sangat anarkis dan tak tahu ketulusannya. Itu sebabnya Nadia sangat kesal. Kesal dengan dirinya sendiri.
Mengapa selalu jadi yang kedua di antara sebuah hubungan?
"Hah, sudahlah... bukan jodoh, Nad. Sebaiknya tidur, besok kita mau jalan jauh. Sendiri pula! Nasib-nasib," ucapnya lagi.
Sedetik kemudian ia tersenyum karena menurutnya, perjalanan hidup tentang percintaannya sungguh rumit.
Dua kali jatuh cinta, dua kali pula dia dilempar manja.
__ADS_1
Nadia berusaha mengerti itu. Memahami keadaan itu. Meskipun jujur, ini sangat sulit baginya. Telebih cinta keduanya ini. Dihempas, bahkan sebelum memulai.
Bersambung....