
lanjutan part 1,
Sementara Patrick yang masih mengurusi proyek pembangunan sekolah musik mereka berusaha membagi diri untuk tetap bisa di samping Zhavia ketika dia dirundung kebingungan karena menghadapi kehamilan ini.
"Mengapa kau memandang ku seperti itu, Pat?" Tanya Zhavia yang akhirnya menyadari kalau suaminya terus tersenyum padanya.
Patrick menggeleng sambil mengelus pipi mulus istrinya.
"Jangan bersedih, aku ada di sampingmu," kata Patrick menyadari istrinya yang selalu kesepian karena dirinya yang terlalu sibuk dengan proyek gedung musik mereka.
"Hem, tapi akhir akhir ini kau terus ke proyek," keluh Zhavia merengutkan wajahnya.
"Kalau satu gedung belakang berakhir dua hari lagi, aku akan mengajakmu?" saut Patrick memutuskan.
"Benarkah?"
"Ya, tapi Sarah dan Molly harus ikut," tambah Patrick lagi yang sebenarnya sudah merencanakan ini semua.
"Pat, mereka ..." sela Zhavia ingin mengatakan kalau Sarah dan Molly memiliki pekerjaannya sendiri.
"Tenang saja Zhavia. Kami masih ada waktu beberapa Minggu ini sebelum Sarah menjadi asisten dosen Tuan Abraham dan aku menjadi komponis di sekolah musik Nyonya Adeline. Kami juga ingin melihat gedung sekolah spektakuler kalian," saut Molly menyetujui kesapakatan Patrick. nantinya Molly dan Sarah juga akan bekerja part time di gedung itu.
"Wah, kalian benar benar sahabatku! Give me a hug plis," pinta Zhavia merentangkan tangannya. Patrick pun beranjak berdiri di samping Eden.
Patrick ikut senang dengan keceriaan istrinya mengingat setiap malam Zhavia suka merasa sedih apalagi jika menghubungi Viena atau Zefanya.
"Pat, ada yang ingin bertemu denganmu dan Zhavia. Aku sempat lupa dia siapa, tapi ternyata dia sahabat kita dulu semasa magister. Sekarang dia menjadi pianis di Nederland. Pindah kemari karena sebuah pekerjaan tetap di gedung kesenian pusat Honolulu," bisik Eden tiba tiba pada Patrick. Patrick sedikit menerka karena ketika menyanyi tadi, dia agak melihat sosok yang dikatakan Eden.
"Oh ya? Hem, biar kutebak, Daniel Nathan Ohana?" selidik Patrick menerka.
"Aaahhh kau memang komponis berbakat, Pat! Ayo temui dia. Mana tahu dia juga berminat untuk menjadi pianis atau pemusik di gedung musik kita nanti?" kata Eden mengingatkan.
"Kau benar Eden. Pikiranmu sudah seperti si Leonard tua itu ya, kaitannya selalu pada bisnis," saut Patrick terkekeh.
"Harus! Jadi kau jangan meragukanku untuk menjadi vice president nantinya!" Eden memuji dirinya sendiri dengan sangat percaya diri.
"Hem, aku berpikir Adeline yang mendapatkan jabatan itu!" saut Patrick bergurau memijat dagunya.
"No! Lebih baik kau tidak menggunakan kami! Kau memang tidak pernah mencintai Adeline, selalu menyiksanya!" dengus Eden tak senang.
"Haha, i'm just kidding, man!" Saut Patrick memukul pelan punggung Eden.
"Ajak Zhavia, Pat! Dia menunggu di lobby. Dia benar benar ingin bertemu dengan kalian," kata Eden lagi.
Patrick mengangguk dan meminta ijin pada Sarah dan Molly untuk mengajak Zhavia keluar lobby terlebih dahulu. Sarah dan Molly tentu mengijinkan. Zhavia pun ikut bersama Patrick menuju ke lobby.
Namun, belum saja Patrick menemui sahabat lamanya itu, sebuah suara memanggil pasangan itu.
"Maaf kami terlambat, Zhavia, Patrick ..." Katanya. Zhavia, Patrick dan juga Eden tentu menoleh dan melihat di sana Ella dengan perut yang agak membuncit berusia 4 bulan dan Pierre, suaminya juga merupakan saudara tiri Patrick.
"Ella, Pierre! Aku pikir Kalian tidak jadi datang," pekik Zhavia dengan hati senang.
"Tentu kami akan datang. Kami tetap melihat pertunjukan Kalian, sangat memukau!" puji Ella memegang tangan Zhavia.
"Terimakasih Ella, bagaimana kandunganmu?" tanya Zhavia melihat ke arah perut Ella.
__ADS_1
"Sehat dan dokter mengijinkan ku melakukan penerbangan dengan syarat tetap harus menjaga asupan makan," jawab Ella dengan senyumannya.
"Ah kau benar, semoga lancar sampai kelahiran,"
"Kau juga Zhavia. Ah Zefanya menutip pesan karena tidak bisa datang. Kalau kakakmu aku tidak tahu, aku masih belum berani berhubungan dengan kakakmu bahkan Gracia. Kau tahu kan selama kehamilanku, Pierre agak sensitif," bisik Ella membicarakan Dior dan Gracia mengingat masa lalu di antara mereka.
"Aku mengerti Ella. Kak Dior dan Gracia akan datang nanti malam bersama mom and dad ku. Tidak apa santai saja," saut Zhavia tersenyum.
Ella mengangguk tersenyum dan memeluk Zhavia. Mereka menjadi sangat dekat apalagi sama sama sedang hamil.
Sementara Pierre tentu berjabat tangan dengan Patrick dan Eden. Dia bangga akan keahlian adik tirinya yang semakin hebat.
"Mom and dad tidak bisa hadir, Pat, kau tahu kan bagaimana kondisi dad akhir akhir ini," kata Pierre memberitahu.
"Ya, tadi pagi aku sudah menghubunginya. Tapi semua baik kan?" kata Patrick.
"Tentu, kau tenang saja. Kandungan Ella juga semakin membaik, bagaimana Zhavia?" tanya Pierre.
"Begitulah, hormon ibu hamil sering berubah ubah, begitu juga dengan Adeline," jawab Patrick mengarahkan pandangan pada Eden.
"Oh iya Eden, selamat atas kehamilan anak kembarmu dan Adelina," ucap Pierre menoleh ke arah Eden.
"Sama sama Pierre. Aku juga senang kita semua diberikan berkat seperti ini secara bersamaan," kata Eden tersenyum.
Pierre dan Patrick tersenyum setuju dengan pernyataan Eden. Patrick dan Eden jadi lupa kalau mereka harus bertemu dengan Daniel. Namun, itu tidak berlangsung lama. Tak lama Daniel yang datang menghampiri mereka.
Daniel Nathan Ohana
-----------------------------
"Aku mengenal kalian semua. Tuan Muda Kwan senior dan junior juga Tuan Muda Basariah. Aku sangat merindukan kalian. Sudah lama sekali tidak bertemu," pekik seorang pria berjalan menghampiri mereka tangan terlentang. Pria bertubuh tinggi itu mengenakan setelan jas lengkap dan sangat elegan. Penampilannya tidak kalah formal dengna Patrick, Pierre maupun Eden.
Mereka bertiga sontak menoleh ke arah suara tersebut dan Patrick tersenyum tipis. Ternyata benar, dia Daniel. Kepintarannya sama seperti Patrick walau tidak memiliki bakat tapi Daniel tidak mau menciptakan lagu seperti Patrick. Katanya dia hanya mengringi membawa kebahagiaan bagi orang disekitarnya.
"Halo Daniel, long time no see!" Ujar Patrick, Eden dan juga Pierre. Pierre juga mengenalinya karena dulu Pierre yang menemani Patrick sekolah di sini.
Mereka saling berjabat tangan.
"Jadi, di mana tuan putrimu, Pat. Kudengar kalian semua sudah menikah ya?" Tanya Daniel menaikan alisnya.
"Oh iya, sebentar. Zhavia ..." Panggil Patrick pada Zhavia yang masih membicarakan seputar kehamilan Dengan Ella. Zhavia dan Ella sontak menoleh.
"Kemari sayang, ada yang hendak berkenalan denganmu," panggil Patrick lagi. Zhavia segera menghampiri suaminya.
"Daniel, ini Zhavia Prime. Kau tahu nama belakang itu kan?" kata Patrick memperkenalkan Zhavia pada Daniel
Daniel memandangi Zhavia dari atas sampai bawah. Rasanya tidak ada cacat sama sekali meski sedang mengandung tidak mengurangi kecantikan dan bentuk sinyal tubuhnya. Daniel sangat terpana. Dia mengulurkan tangannya begitu juga dengan Zhavia.
"Zhavia ..." Kata Zhavia dan Daniel masih belum mengatakan namanya. Dia terlalu terpikat dengan senyum dan bentuk wajah Zhavia.
"Daniel, you okey?" Bisik Eden menyenggol pelan punggung Daniel. Patrick sudah memicingkan matanya tampak aneh dengan Daniel.
"Dan?" Panggil Patrick.
"Oh iya, nice to meet you nyonya Zhavia Kwan. You are so beauty, cup!" Kata Daniel dengan berani mengecup punggung tangan Zhavia.
__ADS_1
"Ehem, kau tidak perlu mengecupnya!" Saut Patrick meraih tangan istrinya. Zhavia menatap tajam Daniel. Dia akui Daniel tampan tapi tetap tidak ada yang bisa menyaingi wajah bak pangeran Romawi seperti suaminya. Dia pun agak risih dengan sahabat suaminya itu.
"Oh, sorry Pat. Aku hanya terlalu terkesima dengan kecantikan alami istrimu, maafkan aku Zhavia," ucap Daniel lagi merasa tidak enak dengan Zhavia dan Patrick.
Zhavia hanya menggeleng tersenyum tipis.
"It's oke, kecantikan hanya alasan ku yang lain menyukai, mencintai sampai menikahinya, ada sesuatu yanga hanya aku yang mengetahuinya sehingga aku tergila gila padanya!" Saut Patrick malah meraih dagu Zhavia dan memandang lekat lekat. Zhavia lagi lagi hanya bisa tersipu malu.
Daniel masih memperhatikan mereka dengan senyum.
"Baiklah Patrick, aku tidak membawa apa apa. Tapi, semoga bunga mawar merah ini bisa menjadi bentuk apresiasi ku pada pertunjukan memukau kalian. Zhavia, terimalah bunga mawar ini. Pat, kau tidak keberatan kan?" kata Daniel lagi memberikan sekuntum bunga mawar merah.
Patrick hanya mengangguk dan tersenyum. Itu hanya sekuntum bunga mawar. Dia bisa memberikan Zhavia lebih dari itu. Zhavia pun menerimanya. Daniel pun ijin pergi terlebih dahulu. Sementara Patrick, Zhavia, Eden, Pierre dan Ella segera ke belakang panggung untuk memanggil Sarah dan Molly. Mereka hendak makan siang di apartemen Eden dan Adeline. Eden dan Adeline sudah pindah di apartemen Zendaya pemberian Patrick dan Zhavia beberapa bulan lalu.
Dua hari kemudian,
Patrick memasuki apartemennya dengan wajah sedikit lelah dan bingung. Zhavia tampak sedang makan malam itu. Dia tidak tahan menunggu suaminya pulang terlebih dulu.
"Good night, darl! Kau sudah makan?" ucap Zhavia menoleh ke arah suaminya.
"Belum sayang, kau memasak?" selidik Patrick yang sebenarnya tidak memaksakan Zhavia melakukan itu.
"Aku belajar memasak online bersama Zefanya. Coba saja steak Salmond with creame sauce ini," saut Zhavia mengarahkan kepalanya pada masakannya.
"Hem, kelihatannya sedap. Biar aku mencobanya. Setelah itu ada yang ingin ku bicarakan padamu," saut Patrick mulai duduk di kursi makan.
Zhavia mengangguk dan menuangkan air pada gelas Patrick. Mereka makan malam terlebih dulu.
"Ada apa, Pat?" tanya Zhavia duduk berdampingan dengan suaminya di pinggir tempat tidur
"Hem, baca ini. Ini jadwal pembangunan proyek gedung musik kita. Ada sedikit hambatan. Dan sepertinya Minggu depan aku harus meninggalkanmu Zhavia. Jangan khawatir, Mom Sandra akan kemari menemanimu dan kau juga bisa menginap di apartemen Adeline," kata Patrick menyerahkan proposal jadwal pembangunan gedung inti.
"Mengapa begitu Pat? Kau mau kemana? Apa tidak bisa aku ikut?" selidik Zhavia yang kembali merasa kesibukan Patrick.
"Aku harus ke Nederland melihat beberapa piano dan harpa yang harus kita pesan dan sediakan untuk gedung musik kita. Eden tidak begitu mengerti. Aku juga ingin mengajak sahabat lamaku, Hoshi untuk bekerja bersamaku. Semua proyek ini akan menjadi sangat hebat Zhavia," tutur Patrick memegang tangan Zhavia.
"Tapi Pat, aku, aku tidak bisa jauh darimu," keluh Zhavia sedikit frustasi.
"Aku hanya 3 hari, tenang saja. Aku akan selalu melakukan video call padamu, oke?" kata Patrick merengkuh satu pipi Zhavia.
"Hem, yasudah lah! Kalau begitu mulai besok saja aku mengikutimu melihat proyek bersama Molly dan Sarah, ya?" pinta Zhavia pada akhirnya.
"Setuju tuan putriku! Jangan bersedih, ini semua untuk impian dan cita cita kita. Juga untuk membuat kebanggan bagi anak kita," balas Patrick merangkul pinggang Zhavia dan mengelus perut nya.
Zhavia kembali tersenyum walau dalam hati ada yang mengganjal. Rasanya dia tidak ingin jauh dari suaminya.
...
To be continued
Next part 3 yuks
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕💕
__ADS_1