Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - EZEKHIEL & ZEFANYA PART 18


__ADS_3

Pengoreksian diri sangat dibutuhkan ketika rasa ingin menang sendiri menghantui setiap insan yang tadinya terus bercengkrama tiada henti. Ketika sebuah pertikaian menyebabkan kesunyian, kenangan indah nyatanya dapat membantu. Bukan hanya itu, sikap sesungguhnya dan alasan terbesar karena perselisihan itulah yang bisa menyelamatkannya. Zefanya dan Zhavia adalh saudara kembar yang selalu melengkapi satu sama lain. Karena hal sensitif di dalam sebuah keluarga mereka masing masing, mereka berpisah, tapi sanggupkah mereka saling mengeraskan ego dan tidak mau berbaikan? Bagaimana peran Ezekhiel dan Patrick sebagai penengah? Apakah bisa berhasil?



Karena kedatangan Egnor dan Claudia yang tak diduga oleh Zhavia dan Patrick, jadi mereka menunda untuk pergi ke apartemen Hoshi, sahabat Patrick. Egnor pun sudah bicara Patrick mengenai perselisihan antara Zhavia dan Zefanya. Patrick sudah menjelaskan maksud dan tujuan Zhavia. Awalnya Patrick juga sudah memperingati Zhavia tapi Zhavia tetap bersih keras ingin menutupinya sampai ia pikir tidak usah diberitahu saja dan membiarkan Zefanya tahu ketika dia melahirkan. Zhavia yakin kalau Zefanya tidak akan marah ketika melihat keponakannya telah lahir ke dunia.


"Zhavia, apa kau sudah meminum vitaminmu? Mengapa aku masih melihatnya di meja pantry?" Tanya Patrick ketika keesokan paginya.


Tampaknya Zhavia sedang duduk di sisi tempat tidur dan memegang foto kebersamannya dengan Zefanya.


Zhavia masih terdiam tidak menanggapi pertanyaan suaminya.


"Sayang, why you?" Tanya Patrick lagi kini sudah duduk di samping Zhavia. Patrick pun melihat apa yang Zhavia sedang pegang. Patrick tersenyum dan berpikir kalau istrinya pasti sedang memikirkan Zefanya. Patrick tahu kalau mungkin hampir setiap hari mereka hampir bertukar pesan.


Memang kemarin sungguh aneh karena tidak melihat Zhavia memegang ponsel berlama lama untuk melakukan chatting dengan Zefanya. Zhavia lebih senang menemaninya atau memasak dan makan bersama suaminya. Patrick ingat kalau istrinya mengatakan mungkin Zefanya sedang sibuk sehingga belum sekedar mengomentari status pada aplikasi chatting nya.


"Zhavia, kau merindukan Zefanya kan?" Kata Patrick lagi merangkul pinggang Zhavia. Dia tidak menyerah membuat istrinya bercerita bahkan berkata kata mengenai isi hatinya.


Zhavia menoleh ke arah Patrick dan tersenyum tipis. Zhavia lalu menggeleng.


"Kenapa menggeleng, Via? Aku yakin kau merindukan saudara kembarmu kan?" Tanya Patrick lagi.


"Aku hanya tidak mengerti dengan semua ini Patrick. Aku tahu aku tidak menceritakannya, tapi ada perlu Zefanya sampai mengatakan tidak ada lagi persaudaraan di antara kita? Aku dan dia dalam satu kandungan dan lahir di waktu yang sama. Ya, dia lebih dulu keluar lalu selang tiga puluh menit baru diriku. Bagaimana jika mom mengetahui hal ini? Dia pasti akan bersedih," gumam Zhavia menarik napasnya.


"Kau merindukan Zefanya, sayang," saut Patrick mengecupi pundak Zhavia.


"Entahlah, aku takut dia tidak mengerti maksudku. Kalau begini aku jadi tahu kan bagaimana responnya jika pertama kali aku memberitahunya. Dia pasti akan merasa merendah dan mungkin malah membenciku," kata Zhavia bernada sedih.


"Tidak sayang, tidak ada rasa benci di antara kalian berdua. Ini hanya salah paham saja," ujar Patrick terus berusaha menjadi penengah.


"Aahhh sudahlah, tidak usah dipikirkan. Ini hari Minggu, apa yang akan kita lakukan, Pat?" tanya Zhavia menatap suaminya.


"Aku mau kita ke lantai bawah dan menemui Zefanya," gumam Patrick.


"Patrick ..."


"Zhavia, listen to me," kata Patrick menarik diri dan meraih satu tangan istrinya. Dia lalu mengelus wajah Zhavia terlebih dahulu.


"Zhavia, kau wanita yang baik, kau cantik bukan hanya wajahmu tapi juga hatimu, oleh sebab itu aku memilihmu untuk teman hidupku," kata Patrick memulai berbicara pada istrinya.


"Patrick, ini bukan saatnya bersyair. Aku ingin menghabiskan waktu weekend ini bersamamu. Satu Minggu ini kau sangat sibuk, kau harus memanjakanku dan anak kita," pinta Zhavia memelas.


"Aku tahu, tapi kita harus menyelesaikan permasalahanmu dengan Zefanya. Aku hanya berkata ini satu kali dan terserah padamu, kau akan mencoba memahaminya atau hanya lewat saja," kata Patrick lagi menegaskan.


"Pat ..."


Belum saja Zhavia ingin memotong, Patrick mendekatkan wajahnya untuk mencium Zhavia agar dia diam terlebih dahulu.


"Diamlah dulu, biarkan aku bicara, ini demi kebaikanmu juga," bisik Patrick di depan wajah Zhavia.


"Iya sudah jangan memandangku seperti itu dan jauhkan wajahmu, aku merinding!" balas Zhavia yang tak pernah sanggup menatap semua kesempurnaan wajah suaminya. Patrick tersenyum dan menjauh sesaat.


"Jadi sayang, aku ingin bertanya padamu siapa yang lebih dulu berniat menutupi kandunganmu dari Zefanya?" tanya Patrick memulai.


"Ya, aku yang menginginkannya," jawab Zhavia menundukan kepalanya.


"Nah, sejak awal kau yang memulainya sayang, dan hanya dia yang belum tahu kalau aku sudah menghamilimu lebih dulu. Ya sebenarnya aku yang salah, aku yang menciptakan anak kita ini. Aku yang tidak bisa menahan hasrat ku padamu Zhavia. Aku yang seharusnya meminta maaf pada Zefanya dan padamu. Jadi, aku mohon Zhavia kita datangi saudara kembaranmu, kita minta maaf padanya. Katakan apa yang menjadi tujuan kita mengapa kita tidak memberitahu mereka. Aku sedih jika kau seperti ini sayang. Bukan hanya padamu, Zefanya juga pasti memikirkanmu, aku sangat yakin," kata Patrick menjelaskan isi hatinya juga apa yang seharusnya mereka lakukan.


Zefanya terdiam dengan penuturan suaminya. Memang sejak dari awal dia yang tidak mengetahui Zefanya hanya karena takut menyakiti perasaan kembarannya yang ketika dia menikah, Zefanya sudah hampir dua tahun menikah dan belum dikaruniai anak. Zhavia juga selalu mendengarkan cerita Zefanya yang sangat menginginkan seorang anak saja. Bukan hanya Zefanya yang mencurahkan isi hatinya, tapi juga dari Gracia. Zhavia tahu betapa saudara kembarnya itu sangat mencintai Darren. Bahkan Darren sampai juga selalu dekat pada Zefanya.

__ADS_1


"Zhavia, dia kembaranmu, dia jiwa dan ragamu. Ibarat hal yang penting dalam tubuh, kalau kau adalah hatinya dan dia jantungnya lalu mom Vien adalah raga yang menjaga kalian. Jadi, kalian harus selalu bersama. Jangan saling berkeras diri. Seandainya Zefanya tetap marah, biarkan kita yang menjadi airnya. Aku yakin, Zefanya akan menerima permintaan maaf kita," tambah Patrick lagi.


Zhavia menarik napas. Dia bingung dan dia masih sedikit kesal dengan pernyataan pernyataan Zefanya.


"Sudahlah Pat, aku tidak mau membahasnya dulu, dia yang memutuskan persaudaraan kita, seharusnya dia yang meminta maaf untuk kembali menarik perkataannya," saut Zhavia masih sedikit kesal tapi juga tetap memikirkan saudara kembarnya itu.


"Via, aku percaya kau pasti memahami apa yang ku maksud. Jangan sampai Mom Vien mengetahui ini semua. Tidak ada asap jika tidak ada api, sayang," kata Patrick lagi terus meyakinkan istrinya karena belum pernah Patrick melihat istrinya bertengkar dengan Zefanya sampai separah ini. Saling mengunpat bahkan memutuskan persaudaraan. bagaimana jika ibu mertuanya tahu apalagi kakak ipar dan ayah mertuannya?!


"Biar aku pikirkan. Aku ingin bermain piano, Patrick, temani aku ke sekolah musik kita. Mungkin aku akan merasa tenang di sana dan mempertimbangkan semua saranmu," ujar Zhavia beranjak dari sana dan bersiap.


Patrick tersenyum. Dia berharap Zhavia mengerti apa yang ia maksud. Dia sudah menjalankan apanyang dinasihatkan Egnor semalam. Tugasnya sekarang mungkin bertemu dengan Ezekhiel. Walau Zefanya sangat keras, tapi Patrick yakin kalau Ezekhiel akan menjadi payung teduh untuk menenangkan istrinya itu.



Ezekhiel terbangun karena mendengar sedikit keramaian di dapur. Dia merenggangkan tubuhnya hendak menuju ke dapur. Pasti istrinya sedang bereksperimen lagi memasak sesuatu karena aromanya berbeda dengan masakan masakan sebelumnya.


"Anya, apa yang kau lakukan, sweetheart?" Tanya Ezekhiel sambil duduk di kursi meja makan dekat dapur mereka.


"Aku membuat kue sayang," jawab Zefanya yang sudah membersihkan semua perlengkapan masaknya.


"Kue apa?"


"Lemon pancake. Kau bersihkan dirimu setelah itu sarapan dan antar aku menemui Aunty Claudia. Pagi tadi beliau menghubungiku. Katanya dia memasak ayam kalkun. Hari ini merupakan perayaan Thanksgiving dan mereka menginginkan kita ke sana," tutur Zefanya.


"Benarkah?"


"Benar sayang, mengapa yang begitu terkejut?" selidik Zefanya.


"Dengan begitu kau dan Zhavia bisa bertemu dan kalian pasti akan berbaikan kan?" saut Ezekhiel.


Seketika, Zefanya menghentikan kegiatannya. Dia masih mengingat perdebatan mereka kemarin. Entah mengapa terus terngiang dan sulit dilupakan. Apalagi menerima sikap Zhavia yang tidak menghargainya.


"Ehh, Zefanya mengapa begitu? Aunty Claudia sudah mengundang kita sebaiknya kita datang ke rumahnya," saut Ezekhiel sedikit menegakan tubuhnya.


"Aku belum siap bertemu Zhavia. Aku takut aku akan kembali marah dan tidak mau menerima semua ini," gumam Zefanya bernada rendah. Dia setangah menoleh dan tersenyum tipis pada suaminya.


Ezekhiel mengerti kalau ternyata Zefanya masih sangat marah pada kembarannya. Dia menarik napas dan beranjak dari duduknya. Ezekhiel menghampiri Zefanya. Dia memeluk Zefanya dari belakang dan menenggerkan kepalanya di pundak istrinya itu.


"Anya sayang, sebenarnya kau merindukannya kan? Aku bisa mengantar pancake lemon ini pada adikmu itu," kata Ezekhiel kemudian. Zefanya membelalakan matanya. Ezekhiel mengingat apa yang ia ceritakan dan apa yang ia tahu mengenai saudara kembarnya itu.


Zefanya memang mengingat Zhavia pagi tadi ketika bangun. Biasanya setiap pagi, Zhavia selalu minta dibuatkan sarapan pancake lemon pada ibunya. Zefanya juga menyukainya. Itu makanan kesukaan mereka berdua. Mereka berdua sampai berebut siapa duluan yang dapat dibuatkan oleh ibunya. Bukan hanya pancake lemon. Zhavia memang menyukai segala jenis lemon. Namun, Zefanya sedih, apakah di kehamilannya saat ini, Zhavia menyukai lemon? Setidaknya Zefanya merasakan kehadiran adik kembarnya itu selama dia berada di Honolulu. Mata Zefanya mulai berkaca kaca dan tak lama menggeleng.


"Kau bisa membohongi orang lain, tapi kau tidak bisa membohongi suamimu sweetheart. Aku sudah mengenalmu lebih dari tujuh tahun, tapi sewaktu waktu kita bisa berpisah seperti waktu itu, aku hilang ingatan. Sedangkan dirimu dan Zhavia, kalian berdua bagaikan baju dan celana, roti dengan selai dan bahkan seperti pancake yang disiram oleh madu. Kau bisa saja menjadi pancake dan Zhavia yang menjadi madu yang menyirami pancake tersebut sehingga lebih nikmat untuk disantap. Jadi apapun yang terjadi, kalian harus tetap bersama," tutur Ezekhiel menjelaskan arti sebuah saudara kembar bagi istrinya. Zefanya menunduk dan meneteskan air matanya.


Ezekhiel menarik diri dan membalikan tubuh Zefanya. Dia mengajak Zefanya untuk duduk di kursi meja makan. Zefanya duduh berhadapan dengan Ezekhiel. Ezekhiel pun meraih tangan istrinya itu.


"Sweetheart, menurutku Zhavia melakukan hal yang benar. Aku belum tahu apa maksud dan tujuannya, tapi yang kuterka, dia hanya memikirkan perasaan kita. Sebelum Zhavia sekolah di Honolulu bersama Patrick, dia sudah tahu kalau kita sulit memiliki bayi. Kau terus bercerita dengannya, tak ayal Zhavia ikut merasakan apa yang kau sesakan. Zhavia ikut menangis memelukmu yang belum juga kunjung hamil. Dan jangan lupa Anya, kita berdua yang mempersatukan mereka. Kau yang terang terangan memarahi Patrick agar terus mengejar cintanya yaitu adikmu dan berhasil. Mereka pergi ke Honolulu bersama. Mereka berpacaran, Anya, dan wajar jika mereka melakukan hal itu, mereka tinggal satu rumah kau tahu kan? Dan ketika hal itu datang, aku yakin, orang yang pertama kali Zhavia ingin beritahu adalah kau!" Kata Ezekhiel dan Zefanya mendongakan kepalanya menatap Ezekhiel. Tatapannya tersirat rasa penyesalan mengingat kata kata yang ia lontarkan kemarin.


"Tapi dia tidak melakukannya karena dia mengerti dirimu Anya, mengerti, memahami dan merasakan apa jadinya jika saudaranya yang sudah menikah belum hamil sementara dirinya belum menikah tapi sudah mengandung. Aku sangat yakin Zefanya sayang, kalau Zhavia takut kau memikirkan dan membencinya. Zhavia takut kau akan kesal padanya dan merutukinya. Sementara selama ini kalian terus berkomunikasi sebelum hal ini. Sampai Zhavia juga ingin menemui bibiku kan? Aku tahu Zefanya, Zhavia mencintai dan menyayangimu! Minta maaflah padanya dan seharusnya aku juga meminta maaf padanya, karena aku, semua karena aku yang tidak bisa membuatmu mengandung. Karena kesalahan dan kekuranganku. Andai saja dari awal aku memeriksakan diriku dan tidak meremehkan kesehatan, pasti kau sudah mengandung Anya atau kau tidak menikah dengan ..."


"Sudah cukup! Kalau aku apa? Kalau aku tidak menikah denganmu? Iya? Sudah lah Eze, jangan membahasnya lagi. Mungkin Zhavia memang tidak menganggapku," kata Zefanya masih menundukan kepalanya.


"Zefanya, aku tahu kau mengerti maksud yang kukatakan padamu. Tolong kau pikirkan. Aku mau menemanimu di negara ini sampai kau berbaikan dengan Zhavia," saut Ezekhiel sangat serius ingin kembali menyatukan istrinya dan Zhavia.


"Mustahil. Sudah, cepat bersihkan dirimu, kita kerumah Aunty Clau," kata Zefanya kembali ingin ke rumah paman dan bibinya. Sudah cukup perselisihannya dengan Zhavia, jangan lagi paman atau bibinya mengatakan sesuatu pada mom nya. Kalau harus bertemu Zhavia, dia akan berusaha bersikap profesional. Zefanya pun beranjak dari kursi dan membersihkan dapur selagi menunggu suaminya.


Ezekhiel tersenyum. Dia yakin kalau istrinya akan melunak karena begitu menyayangi kembarannya. Namun, Ezekhiel berpikir ingin tetap bertemu dan bicara para Patrick. Mungkin mereka berdua bisa saling bekerjasama memperbaiki hubungan saudara yang mereka rasa sumber permasalahannya ada pada diri mereka.


...

__ADS_1


Springfield, waktu menjelang makan siang ...


Allegra memijat tulang hidungnya sambil menatap layar ponsel. Sebuah pesan dari seseorang membuatnya tidak bisa berpikir dan tidak tahu bagaimana menanggapinya. Entah ini kesalahannya atau caranya yang berlebihan menanggapi kesalah pahaman beberapa hari silam. Sampai saat ini Morgan juga tidak lagi menghubunginya. Terhitung sudah 5 hari setelah kejadian itu. Allegra jadi tidak tahu dirinya menyesal atau terlalu keras. Kenyataannya dia masih mencintai pria itu. Apalagi melihat pesan ini. Morgan dan Rosie memang sudah memiliki perasaannya masing masing. Tidak lagi bersama atau berniat kembali.


+538399***


Selamat pagi Allegra. Aku minta maaf menghubungimu lewat pesan. Aku mendapatkan nomormu dari Nyonya Gracia. Dan maaf, aku belum berani menghubungimu melalui sambungan telepon. Maafkan aku. Kata ini yang seharusnya kuutarakan ketika aku melihatmu. Percayalah Allegra, aku dan Morgan tidak ada hubungan apa apa lagi. Dia sudah memilikimu dan hatinya sepenuhnya hanya untukmu. Dia sungguh menggilai mu, sekarang saja, dia sedang memperjuangkan mu, jadi kumohon terimalah dia. Jangan sia sia kan pria sebaik Morgan. Dia hanya tidak ingin kau berpikir berlebihan. Kenyataannya dia sudah berhasil melupakan diriku dan menggantinya denganmu. Aku yakin, kau adalah wanita yang spesial dan berbeda sehingga dia bisa sangat mencintaimu. Percaya padaku Allegra. Aku Rosie yang bersalah atas semua ini. Maafkan aku. Maafkan Morgan. Morgan mencintaimu. Jangan sampai kau menyesal sama sepertiku. Kau tenang saja, aku sudah menyukai dan mungkin juga mencintai pria lain. Kuharap kita bisa menjadi teman. Aku percaya kau seorang yang baik Allegra. Salam hangat Rosie.


Allegra menarik napas. Dia masih tidak tahu apa yang harus dia balas. Akhirnya dia memutuskan untuk menundanya dulu. Keadaan hatinya sedang tidak baik.


"Nona Allegra, makan siang?" Ajak Lani, asistennya.


"Ah iya, mungkin Vanilla latte bisa menenangkan pikiranku," gumam Allegra dan keluar dari ruangannya.


Allegra dan Lani menuruni hotel pusat Atkinson dan menuju ke cafe hotel. Cafe hotel itu cukup besar karena memang khusus untuk pegawai dan pengunjung yang datang.


Ketika Allegra telah selesai memesan dan menunggu, seorang pelayan mengantarkan sebuah nampan kecil yang berisi sekuntum bunga mawar putih berpita merah dan sekotak kecil coklat putih yang juga dihiasi pita merah.



"Nona Allegra, seorang pria memberikanmu ini," kata sang pelayan menyerahkan pemberian kecil itu.


Allegra tentu saja tersentak karena tidak biasa ada yang memberikannya semua ini.


"Dari siapa?" tanya Allergra menyentuk kartu ucapan yang juga diberikan.


"Dia hanya menyuruhku nona, tapi pria itu duduk di sana," jawab sang pelayan menunjukan tempat duduk pria tersebut tapi ketika Allegra melihat, pria itu telah beranjak dan hanya terlihat punggungnya yang tegap dan bidang mengenakan setelan jas abu abu bercorak kotak kotak.


Seketika jantung Allegra berdegup. Dia tahu siapa pria itu. Dia pun membuka isi pesan yang tersangkut di sisi tangkai mawar tersebut.


Walau mawar ini berwarna putih tapi percayalah, mawar ini akan menjadi indah ketika kau tersenyum melihatnya ❤️


...


...


...


...


...


galau semua!! Zhavia, Zefanya, Allegra!! trio galau mencari cinta 😂😂


.


next part 19


apa Zefanya dan Zhavia akan kembali berbaikna karena Ezekhiel dan Patrick?


apa Allegra akan kembali menerima Morgan?


.


Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2