Mantan Terindah

Mantan Terindah
Rindu Terbalut Gengsi


__ADS_3

Banyak yang mendoakan kesadaran Victor, agar dia bisa kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Menyadari bahwa kesehatan jiwa seorang anak juga sangat penting. Tidak mementingkan egony dan hatinya kembali terbuka, bisa kembali pada sang mantan istri setidaknya demi putra semata wayang mereka.


Tanpa di sadari banyak orang tua yang memilih bercerai karena menuruti ego, anaklah di sini yang merasakan penderitaan yang sesungguhnya.


Tanpa terkecuali Vita. Wanita ayu ini begitu kasihan melihat bocah kecil itu. Keinginannya untuk tetap hidup bersama sekaligus merasakan kasih sayang kedua orang tua adalah dambaan setiap anak. Tanpa terkecuali untuk Dilan.


Vita, yang pernah merasakan hidup di dalam suasana rumah yang tidak nyaman, seperti ikut merasakan apa yang dirasakan oleh bocah yang berusia empat tahun itu.


"Kenapa nglamun?" tanya Bima, ketika melihat sang istri hanya berdiam diri. Duduk sembari melamun. Bersadar di sisi ranjang.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya kasihan melihat Dilan," jawab Vita jujur.


"Dilan ya. Emang kenapa dengan Dilan?" tanya Bima sembari merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


"Entahlah, Mas. Vita hanya nggak tega, sepertinya dia nggak mau jauh dari ayahnya. Begitu pun bang Victor. Sepertinya dia juga nggak bisa kehilangan sang putra." Vita menatap sang suami. Penuh cinta.


"Ya, Mas tahu itu. Tapi, Dilan bocah yang kuat. Dia pasti bisa memahami keadaan orang tuanya." Bima membalas tatapan itu, lalu mengelus pipi sang istri, manja.


"Menurut, Mas. Kak Rani masih cinta nggak sih sama mantan suaminya?" tanya Vita, mulai kepo.


"Kamu ini, mau sampai kapan jadi wanita polos. Ya masih lah, orang merem juga tahu kalo di antara mereka berdua masih ada cinta. Hanya saja masih sama-sama gengsi. Victor malu mengakui kalo dia sebenarnya cinta sama mantan istrinya, karena mungkin ucapannya di masa lalu yang membuatnya seperti itu. Tapi kalo dari pihak Rani nya sendiri, sepertinya takut kalo mau memulai. Karena seperti yang kamu bilang, dia pernah ditolak. Mungkin dia takut patah lagi," jawab Bima, sesuai kata hatinya.


"Mas bener, Vita rasa juga begitu. Emmm, gimana kalo kita comblangin mereka, Mas. Kita bikin bang Victor ngakuin kalo dia sebenarnya sudah jatuh cinta sama ketulusan kak Rani. Begitupun sebaliknya. Siapa tahu, dengan keberanian mereka untuk berkata jujur, mereka bisa saling terbuka dan mau memulai kembali hubungan mereka. Bukan hanya sebagai co parents untuk Dilan. Tapi juga sepasang kekasih yang saling mencintai dan membutuhkan!" ajak Vita.


"Boleh juga tu! Caranya?" ucap Bima, antusias.


"Pak Dokter bisanya cerdas, banyak ide, banyak tipu daya. Kenapa nggak bapak aja yang pikirin?" balas Vita.


"Emmmm, gimana ya? Coba deh, nanti aku pikirkan. Sekarang aku mau manja-manja sama kamu. Sama calon babyku. Sama kalian. Emmm, sini aku peluk!" Bima meraih pinggang sang istri, lalu memaksa wanita yang ia cintai itu untuk menyambut bibirnya.


Beberapa detik kemudian, mereka pun saling berciuman. Melepaskan sesuatu yang mengganjal seharian di dalam lebih hati masing-masing.


"Massss... nakal!" ucap Vita manja.


"Aku nakal gara-gara kamu. Aku rindu, Honey!" Bima tersenyum manja.


"Emmm, boleh nggak malam ini libur. Vita pengen istirahat. Pengen bobo manis." Vita memainkan hidung sang suami, lalu mengecupnya manja.

__ADS_1


"Pengen bobo manis, tapi godain Mas. Apa maksudnya itu?" Bima menatap nakal ke mata sang istri. Sedangkan Vita hanya tersenyum. Sebab pikiran dan bibir yang tidak singkron itu telah terciduk oleh pria yang kini mendekap nya ini.


"Mau ya," bujuk Bima.


"Mas maaa... " Vita menyambut manja.


Bima adalah penipu ulung yang handal. Mendengar jawaban penolakan manja sang istri, pria ini pun mengartikan lain jawaban itu. Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung mengambil sesuatu yang ia inginkan.


Tak ada penolakan di sana. Dengan penuh cinta dan keikhlasan, akhirnya mereka pun menunaikan tugas mereka sebagai suami istri.


Kelelahan, akhirnya mereka pun terlelap dalam buaian mimpi yang mereka inginkan.


***


Di sisi lain, seorang pria tampan tidak bisa tidur. Di samping dia menyedali perbuatannya karena menolak dan menceraikan istri yang memberinya satu putra, ternyata ia juga tidak sanggup menghapus senyum wanita itu.


Tutur lembut wanita itu, kini juga menjadi penggoda terseksi dalam ingatannya.


Victor kini menyadari, bahwa ternyata ia juga sangat menginginkan wanita itu.


"Dasar bodoh! Aku sudah sering menyakitimu. Kenapa kamu selalu baik padaku, Ran?" gumam Victor ketika mengingat kejadian tadi siang.


Namun, tak dipungkiri bahwa kedatangan wanita itu juga memberika luka pada hatinya. Sebab kedatangan Rani, bukan untuk dia tetap stay di Jakarta. Tetapi malah untuk berpamitan. Berpamitan untuk kembali ke kampung halamannya. Untuk memulai hidup baru tanpanya.


Victor sedih.


Bersambung....


sambil nunggu mak update, kalian bisa main ke karya bestie emak😘😘Semoga sukak...


Adip terlonjak kaget, kenapa Jingga yang terlihat manis dan saat diam terasa sulit dijangkau, sekarang sangat centil dan menyebalkan. 


“Sejak kapan kamu bangun?” jawab Adip balik bertanya. 


“Selalu deh, kalau aku tanya nggak pernah dijawab dan selalu menghindar. Aku istrimu bukan sih?” tanya Jingga sewot. 


Adip memang selalu menghindari pertanyaan Jingga yang menurutnya tidak perlu dibahas. 

__ADS_1


“Ngobrolnya nanti lagi, sudah ashar, sebentar lagi petang, cepat mandi dan ambil wudzu, akan susah jika kita ke sumber air malam- malam, bahaya. Terus kalau udah wudzu usahakan jangan batal sampai Isya!” ucap Adip lagi menasehati. 


“Ish... di sini nggak ada kamar mandi, aku nggak usah mandilah!” jawab Jingga sekarang sudah mulai meninggalkan penyakit perfecsionistnya tentang kebersihan. 


“Dasar jorok! Mandi lah!” 


Mendengar kata itu, Jingga jadi ingat waktu ke pantai. 


“He... aku jorok ya?” tanya Jingga malu.


“Iya...!” jawab Adip terus terang. 


“Apa itu juga penyebab kau tak pernah mau menatapku dan dekat- dekat denganku? Aku bau kah?” tanya Jingga. 


Mendengar itu Adip menelan ludahnya, siapa bilang Adip tak pernah menatap Jingga, Adip kan justru selalu mencuri pandang ke Jingga. 


“Sudah cepat bangun! Ayo makanya mandi, bawa baju basahan dan gantimu!” jawab Adip lagi, selalu mengacuhkan pertanyaan Jingga dan mengalihkan topik.


“Apa kita akan mandi bersama di tempat terbuka?” tanya Jingga kemudian. 


“Tidak! Kau mandi tetap memakai baju dan aku kita bergantian! Cepat!” jawab Adip tegas.


"Ish!" desis Jingga manyun.


Mereka berdua kemudian ke air, bersih- bersih setelah itu sholat bersama dan masak untuk makan malam.


Meski ada bisikan dari ke Adip memberitahu bahwa Jingga istrinya, dan seharusnya Adip bisa leluasa dengan Jingga, tapi Adip selalu melawan.


Adip tetap ingin bertemu Baba Jingga dulu, melakukan pernikahan mereka sebagai mana mestinya. Pernikahan mereka masih abu- abu, terpaksa terjadi karena adat.


“Sepertinya Amer tidak pulang malam ini!” tutur Adip menyalakan lentera dari bambu yang hampir mati karena tertiup angin. 


Setelah sholat isya mereka berdua duduk di depan gubuk menikmati langit yang ditemani rembulan. Sangat indah. 


"Berarti kita hanya berdua malam ini?" tanya Jingga dengan mata berbinar dan mata centilnya.


Adip hanya menelan ludahnya mendadak keringetan, kenapa Jingga selalu menggodanya.

__ADS_1



__ADS_2