
Ada persamaan pasti ada perbedaan. Persamaan itu tidak hanya dikatakan akan menimbulkan kenyamanan. Ya kenyamanan bagi mereka yang tidak merasakan apapun, namun jika mereka merasakan sedikit perasaan cinta saja, persamaan yang ada akan menjadi kegelisahan. Pikirkan jika kita bersama dengan orang yang kita suka, kita memiliki kesamaan dengannya, seketika jantung menjadi berdebar dan menjadi tak nyaman di dekatnya. Kita jadi salah tingkah dan melakukan tingkah tingkah yang aneh. Tapi tidak menutup kemungkinan jika kita merasa senang bisa bersama dengannya.
Lalu bagaimana dengan perbedaan? Perbedaan yang malah menjadi kita bersatu. Maksud nya disini adalah menutupi kekurangan dari dari mereka yang tidak sama dengan kita. Kita bisa begini tetapi dia tidak bisa itu adalah perbedaan dia dengan kita. Namun, ketika cinta bersemi dan semua perbedaan itu tiada artinya akan menjadi sebuah makna tak bersyarat.
Dior sangat mengerti bagaimana keinginan dan kesukaan Gracia namun sebenarnya tak sejalan dengan hati nya. Terkadang Dior masih sering cemburu walau Gracia terkadang sulit membedakan. Gracia tidak mau Dior menganggapnya gadis yang banyak aturan. Namun apalah arti semuanya jika mereka telah saling mencintai. Mereka mencoba mencari cara agar tetap bersama dan bersatu. Meruntuhkan perbedaan menjadi persamaan. Namun, bagaimana dengan kedua orang ini, Allegra dan Morgan. Berkepribadian keras dan dipertemukan di saat yang tidak mendukung.
Namun, apalah Morgan hanya seorang pria yang masih memiliki kepekaan apalagi masalah seorang wanita yang mengalami kesulitan. Bukan baru sekali Morgan mengurusi masalah wanita. Seperti yang pernah Gracia katakan kalau teman wanita Morgan banyak dan banyak juga yang mendekatinya namun wanita seperti apa yang menjadi kriterianya Gracia belum banyak memahaminya. Morgan selalu menutup diri dan Gracia sendiri sibuk mengurusi kesukaannya. Apalagi sejak kembali ke Legacy, Gracia agak jauh dengan Morgan yang sibuk mengurusi perusahaan mereka.
Dan Allegra? Allegra sosok gadis yang sama dengan Gracia. Baru menginjak keremajaan menuju kedewasaan. Dia belum pernah berpacaran. Kata Dior dan Zhavia hanya pernah dekat dengan pria namun tidak sampai jadi kekasih. Katanya pria tersebut menyukai kakaknya tetapi kakaknya tidak paham dengan semua itu. Allegra agak trauma dengan dekat mendekati dan didekati pria karna menemukan pria yang ia sukai itu hampir melecehkan kakaknya. Sejak saat itu Allegra tidak pernah mau dekat dengan pria apalagi mengenali dengan keluarganya. Ya memang bisa dikatakan kakaknya lebih cantik dan sangat dewasa meski memiliki kekurangan.
Kini Allegra masih menatap jari dengan lilitan kain bagian bawah dress nya itu. Gracia dan Dior pun menghampiri dirinya.
"Allegra, kau baik baik saja? Kakak ku hanya ingin menghentikan darahmu saja, tidak ada maksud lain, tadi darahmu keluar dengan cukup banyak." Kata Gracia menjelaskan maksud perbuatan kakak sepupunya. Allegra masih mematung di sana.
"Allegra? Apa perlu di periksa lagi?" Dior juga memastikan. Allegra pun tersadar.
"Ah iya, tidak kak, tidak apa apa. Sudah tidak sakit lagi. Hem, maaf Gracie, aku hanya terkejut dia dengan tiba tiba mengoyakan dress ku . Hanya itu. Aku juga tidak sadar akan luka ku ini." Kata Allegra menjelaskan maksud hatinya.
"Iya Allegra, lain kali kau harus berhati hati." Tambah Gracia.
"Ini semua karna pegawai pegawai ini yang tidak menjemputku sehingga aku sendiri yang mengantar semua bunga ini kesini!" Decak kesal Allegra dan langsung menatap tajam para pegawainya yang sudah menunduk.
"Memang tadinya kau mau kemana?" Tanya Dior.
"Aku mau mengantar Kak Jessie dan mommy berobat kak! Katanya Kak Jessie mendapat donor mata yang tepat jadi aku ingin melihatnya. Kami berdampingan dari desa dengan truk berisi bunga itu. Seharusnya dua orang ini menjemput kami di taman arah ke rumah sakit tapi mommy marah karna sudah terlambat. Jadi mommy bersama kak Jessie baik taxi dan aku mengantar semua bunga ini dan mereka pun tidak menunggu ku di depan! Kalian SEMUA BEDEBAH! DEWA NEPTUNE AKAN MENGUTUK KALIAN! HEM!" Allegra menyibakan rambut panjang dan coklat nya dengan kedua tangannya kesal.
Gracia tersenyum tipis begitu juga dengan Dior. Sepertinya Dior harus mengambil alih. Mengingat pekerjaannya juga mengurus hotel. Beberapa kali Dior juga sudah bertemu dan sering sharing dengan Jerry, ayahnya Allegra.
"Sudah kalian cepat urus bunga bunga itu, panggil pegawai yang lain untuk membawa semua bunga di truk itu ke tempat semestinya. Kalian tidak ingin Nyonya besar kalian memecat kalian kan?" Perintah Dior yang memancarkan kebijaksanaan dan Gracia menjadi semakin kagum dengan kekasihnya itu.
"Tidak Tuan! Kami tidak akan melakukan kesalahan lagi. Maafkan kami Nona Muda Atkinson." Kedua pegawai tersebut terus membungkuk bungkukan tubuhnya.
"Kalian selalu berkata seperti itu. Sudah cepat cepat! Kalian merusak hariku!" Decak Allegra lagi.
Kedua pegawai itu segera menjalankan perintah Dior dan Allegra.
"Jadi, apakah kau ingin ke rumah sakit Allegra?" Dior masih memastikan.
"Nanti saja lah dulu, aku lapar, aku harus memakan sesuatu dulu." Kata Allegra mengelus perutnya.
"Yasudah, ayo ikut bersama kami, Allegra? Kami ingin makan sushi!" ajak Gracia mendekati Allegra.
"Oh, sushi di samping Resort ku ya? Itu memang sushi terbaik di Springfield. Bukan hanya sushi, ada takoyaki dan okonomiyaki juga Gracie? Biar aku yang mentraktirmu ya?" Saut Allegra yang sudah merangkul Gracia berjalan ke luar resort.
"Oke." Gracia tersenyum. Dior berjalan di belakang mereka. Sepertinya Allegra melupakan kekesalannya dengan Morgan dan semoga Allegra tidak terkejut lagi melihat Morgan ada di restoran sushi itu.
...
"Kak Morgan?" Panggil Gracia memasuki restoran sushi itu dan langsung melihat Morgan yang sudah memesan macam macam sushi.
Sementara Allegra masih tidak enak dengan Morgan. Dia terdiam di daun pintu restoran itu. Dior mengetahui mengapa Allegra nenghentikan langkahnya.
"Kau bisa meminta maaf pada nya Allegra, Morgan tidak seburuk yang kau kira." kata Dior pelan .
"Ah iya kak, tapi dia pasti akan terus meledekku!" kata Allegra masam.
"Tidak, nanti aku yang memperingati. Ayo?" Dior mendorong tubuh Allegra agar memasuki restoran dan menuju ke meja makan Morgan yang juga sudah bersama Gracia.
"Morgan?" Panggil Dior. Morgan menengok ke arab Dior dan menekuk wajahnya melihat Allegra yang ikut bersama Gracia dan Dior. Allegra pun hanya menundukan kepalanya.
"Untuk apa kau mengajaknya Dior , Gracia?!" tanya Morgan melirik tajam Allegra.
"Aku lapar dan aku mau makan di sini. Memang nya tidak boleh? Memang restoran ini milik mu hah,?!" Decak Allegra tidak mau kalah dan dia yang menjawabnya.
Morgan memutar bola matanya malas dan akhirnya menerima Allegra bergabung dengan mereka. Morgan duduk bersama Dior sedangkan di depan mereka ada Allegra dan Gracia. Tentu saja di depan Dion adalah Gracia dan Allegra harus di depan Morgan. Sebelum memesan, beberapa macam sushi milik Morgan yang membuat nya tergiur. Dia juga ingin sushi yang sama seperti punya Morgan. Dia pun segera memesan dan memanggil pelayan.
"Maaf Nona, untuk porsi lengkapnya hanya tersisa nigiri set," kata sang pelayan memberitahu.
"Futomaki nya tidak ada? Atau sashimi?" Allegra masih berharap.
"Besok baru akan ada lagi Nona. Untuk sekarang hanya tersisa nigiri set."
Allegra menekuk wajahnya masam. Dia kembali melihat futomaki yang ada di depan tangan Morgan. Betapa segar dan menggiurkan.
"Ya sudah bawakan saja yang ada di tambah nasi gulung dengan isian yang lengkap ya?" Kata Dior melanjutkan karna Allegra jadi diam saja.
"Allegra bukankah nasi gulung dengan isian di dalam sama saja seperti futomaki? Sudah jangan bersedih begitu." Kata Gracia menepuk nepuk pelan punggung Allegra. Allegra hanya mengangguk. Pandangannya masih kepada futomaki Morgan dan Morgan merasakan itu. Dia lalu mengambil futomaki miliknya dan memberikannya pada Allegra.
"Em Dior, sepertinya aku harus lebih dulu kembali ke resort dan menyiapkan berkas berkas untuk nanti bertemu dengan Xelino." kata Morgan ijin lebih dulu.
"Kau sudah selesai makan?" Dior memastikan.
"Ya lumayan."
"Tapi masih banyak tersisa kau pesan."
"Untuk kalian saja. Kalau kalian sudah selesai, beristirahatlah dan nanti kita bertemu Xelino."
"Oh baiklah."
"Ini untuk mu, habiskan!" Tiba tiba Morgan meraih futomaki miliknya dan memberikannya pada Allegra. Dia lalu berdiri dan menuju kekasir untuk menyelesaikan pembayaran. Allegra cukup terkenut melihat sikap Morgan. Morgan sangat peka akan kemauannya. Dia tidak sempat mengucapkan terimakasih karna Morgan telah pergi. Dior dan Gracia tersenyum melihatnya.
"Nah, dia yang langsung memberikan futomaki itu untukmu. Sudah makan dan habiskan, hehe!" Gracia menyenggol bahu Allegra. Tampak sudah wajah kemerahan dari sisi sisi rahang Allegra.
Sementara dari kejauhan tempat Morgan membayar, Morgan menoleh ke arah Gracia, Dior dan Allegra. Dia tersenyum tipis melihat Allegra memakan futomaki pemberiannya.
'Manis juga jika sedang diam. Cih, hati hati kau Morgan!' gumam nya dalam hati.
"Jadi semuanya tiga ratus lima puluh ribu Tuan." Kata sang kasir memberitahukan jumlah semua pesanan nya dan juga Dior.
__ADS_1
"Ini!" Morgan memberikan empat lembar seratus ribu.
"Oiya Nona, di mana tempat butik terdekat?" tanya Morgan mengingat harus mengganti dress Allegra.
"Butik pakaian wanita atau pria Tuan?"
"Wanita."
"Kebetulan di samping restoran ini ada outlet pakaian wanita Tuan. Mungkin ada yang anda cari." sang kasir memberitahu dengan menunjukan samping Restoran ini.
"Oh iya iya. Baiklah. Terimakasih."
"Sama sama Tuan. Ini kembaliannya." Kasir tersebut memberikan uang kembalian kepada Morgan dan Morgan menuju ke outlet pakaian wanita yang dikatakan sang kasir.
Kembali lagi ke Dior, Gracia dan Allegra. Mereka asik berbincang bincang khususnya Allegra yang terus membicarakan ulah Xelino yang selalu menggoda ibunya. Ibunya, Angel sering memarahi kakak sepupunya itu karna sangat usil dan mengesalkan.
"Xelino memang seperti papinya ya kak?" Gracia memastikan pada Dior. Dior mengangguk.
"Benar Gracie!" Allegra menyetujui.
"Iya Allegra, papinya saja masih suka menggoda kak Dior dan keponakan lainnya. Dia juga masih sering membuat kesal Dad Dion." tambah Gracia tersenyum.
"Hemm, sama seperti Xelino. Tapi Xelino tidak pernah mengerjai Daddy ku. Dia selalu takut padahal Daddy ku tidak pernah memarahinya. Haha." Allegra tertawa mengingat Xelino.
"Ya, karna Daddy mu baik Allegra." tambah Dior juga.
"Begitulah kak hehe."
Dan mereka terus berbincang sampai ponsel Allegra berbunyi. Panggilan dari ayahnya.
"Hai Dad! Panjang umur sekali, aku, Gracia dan kak Dior sedang membicarakanmu." kata Allegra mengangkat panggilan.
"Apa tentang ketampanan Daddy?" Jerry bergurau.
"Ah kau ini Dad, mengapa kau jadi narsis seperti Xelino? Kalau hal yang buruk jangan diikuti dad!" Allegra memperingati dan membuat Gracia dan Dior tersenyum.
"Hahaha kau ini! Tiada habisnya meledek kakak sepupumu. Oiya, ku dengan Dior dan Gracie ada di sini. Jadi, lebih baik kau di san saja. Temani mereka. Urusan mommy dan Jessie biar aku yang menjemput, oke?" kata Jerry menyuruh Allegra. Leon sudah mengatakannya padanya pagi tadi.
"Aku tidak perlu ke desa dulu?" Allegra memastikan.
"Ya, tidak perlu. Mommy mu juga yang mengatakan padaku. Sekarang dia dan Jessie sedang konsultasi di dalam." ujar Jerry.
"Daddy di rumah sakit?"
"Ya."
"Jadi aku di sini saja dulu?" kembali Allegra memastikan.
"Ya, temani mereka dan tunjukan tempat tempat yang bagus untuk mereka setelah menyelesaikan urusannya dengan Xelino." kata Jerry lagi.
"Baiklah Dad dengan senang hati!"
"Bye!"
Allegra mematikan panggilan. Allegra masih menunduk dan menyadari sesuatu. Kata kata yang dia ucapkan pada ayahnya sepertinya ada yang tidak benar dalam dirinya.
'dengan senang hati, mengapa kalimat ini membuatku ganjal ya? .... Oh Lordness!! Dengan begitu aku juga harus menemani Morgan? Bagaimana ini?!!! Hem, aku mungkin harus mencari cara untuk tidak usah menemani mereka, ya benar!!'
"Ada apa Allegra?" Selidir Dior.
"Ah iya kak, ini Daddy, katanya dia yang akan menjemput mommy dan Kak Jessie sementara, karna aku libur kuliah, jadi aku disuru di sini memantau resort dan motel. Menggantikan tugas sebulan sekali mommy." sebenarnya Allegra sedang mengarahkan kalau dirinya tidak bisa menamani Gracia dan Dior.
"Oohh iya benar benar. Lalu bagaimana kondisi Jessie? Apa dia baik baik saja?" tanya Dior pada Jessie.
"Kata Daddy masih konsultasi kak! Tenang saja, ada atau tidak ada penglihatan dia yang nomor satu kak! Dia dapat membuat buket bunga lebih indah dan cantik dariku. Sensor meraba dan tangannya yang cekatan membuat dia malah mengagumkan ketimbang kita yang bisa melihat kak." jawab Allgera juga memuji keahlian kakaknya.
"Ya Tuhan memang adil Allegra. Ketika Dia memberikan kekurangan tetapi juga terselip suatu kelebihan. Kalau nanti ada waktu, kami akan mengunjungi kalian di desa." Kata Dior yang juga dititip pesankan oleh Mom Xa nya.
"Boleh boleh kak! Em tapi kak .." Allegra ingin membicarakan kalau dirinya tidak bisa menemani mereka lebih lama lagi.
"Jadi Allegra, kau akan menetap di sini beberapa hari?" Tiba tiba Gracia memotong.
"Iya Gracie!"
"Good! Kau temani aku saja mengantar Kak Dior dan kak Morgan membicarakan bisnis dengan Xelino. Aku sendirian dan pasti sangat bosan." kata Gracia lagi.
"Tapi Gracia..."
"Tidak ada tapi tapi, kami sangat jarang pergi kesini, bukan begitu kak?" pinta Gracia dan menanyakan pada Dior.
Dior mengangguk setuju. Allegra menarik napas dan sepertinya dia memang tidak bisa menolak. Mereka pun segera menghabiskan makan mereka dan kembali ke resort. Allegra dan keluarganya memiliki satu ruangan kamar pribadi khusus jika mereka sedang berkunjung, jadi Allegra menempati kamar tersebut. Letaknya tidak jauh dari kamar Morgan dan Dior. Karna Dior memesan kamar kelas atas jadi sejajar dengan kamar keluarga Atkinson.
"Di mana kamar kalian?" Tanya Allegra.
"Di sini Allegra." Gracia menunjukan kamarnya.
"Ya cukup dekat dengan kamarku, baiklah beristirahatlah." kata Allegra.
"Ya Allegra, kau juga ya karna nanti malam kita akan bertemu dengan Xelino." Gracia mengingatkan.
"Oke!" Ujar Allegra tersenyum.
Allegra segera menuju ke kamarnya yang ternyata tepat sekali di samping Kamar Morgan. Ketika Allegra hendak menggesek kartu kuncinya, ia mendengar langkah kaki seseorang di belakangnya. Dia lalu berbalik dan seseorang itu juga melihat Allegra sambil memegang ponsel juga sebuah papar bag berisi dress.
"Kau? Kau mengikuti ku ya?!" tuduh Allegra menunjuk nunjuk Morgan.
"Cih!" Morgan berdecih sambil memaling wajahnya melihat ke arah lain.
"Untuk apa kau di belakangku?!"
__ADS_1
Morgan terus berjalan dan tidak menanggapi Allegra. Ya, sebenarnya Morgan tye pria yang tidak banyak bicara jika baru saja mengenal seseorang apalagi orang tersebut selalu membuatnya kesal.
"Hey hey, mengapa kau mendekati ku?! Diam di sana! Ini resortku, kau jangan macam macam ya?!" Kata Allegra mengangkat kedua tangannya. Mengarahkan telapak nya ke arah Morgan. Morgan terus berjalan maju memandang tajam Allegra sampai Allegra ikut mundur sampai mengenai pintu kamarnya.
Dan akhirnya sampailah Morgan di depan Allegra. Morgan memperhatikan wajah Allegra yang benar benar tersudut takut. Morgan menyeringai.
"Ini dress mu, aku sudah menggantinya! Seharusnya kau yang banyak mengucap terimakasih padaku!" Kata Morgan memberikan paper bag itu pada Allegra. Allegra tanpa sadar meraihnya. Morgan menyeringai dan berjalan ke kamarnya. Allegra sangat malu karna ternyata kamar Morgan ada di samping kamarnya. Allegra pun cepat cepat membuka pintu kamarnya dan memasukinya. Dia berdiri di balik pintu. Entah mengapa ketika tatapan matanya bersatu dengan tatapan mata Morgan, jantungnya sangat berdetak hebat. Seperti takut tapi juga kesal tapi sedikit terperangah. Allegra mendekatkan paper bag itu di depan dadanya.
"Tidak tidak Allegra! Pria itu hanya ingin membuatmu takut saja! Hem, sepertinya aku memang harus berterima kasih padanya agar dia tidak mengerjaiku terus!! Nanti lah!" Gumam Allegra.
Allegra pun mengistirahat kan dirinya. Perjalanan dari desa ke kota cukup melelahkan. Apalagi mereka berangkat pagi pagi sekali agar tidak terlambat menemui dokter.
Sementara Gracia dan Dior pun juga tertidur bersama karna tadi Morgan mengajak berendam pagi pagi sekali. Gracia sendiri yang langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya. Dior tersenyum dan bergabung di sampingnya.
"Tidurlah agar nanti malam tidak mengantuk mendengarkan pembicaraan bisnis itu." kata Dior menoleh ke arah Gracia.
"Aku memang tidak mengerti kak, Allegra sepertinya masih akan tahu karna dia sekolah bisnis sepertimu." Gracia juga menatap Dior.
"Tidak apa, nanti ajak saja Allegra berkeliling restoran. Restoran yang dipesan Xelino cukup luas dan memiliki banyak fasilitas."
"Ya kak!" Kata Gracia dan sudah memejamkan matanya lagi. Dior memiringkan tubuhnya juga tertidur sambil memeluk Gracia.
Allegra telah dia dengan dirinya dan kebetulan sekali dia tidak membawa dress ganti karna tidak ada rencana menginap. Namun dia ingat dia menyimpan beberapa pakaian dalamnya di kamar ini. Sebenarnya yang sering menginap di sini Allegra karna dia harus ber sekolah bisnis di kota.
Allegra mengenakan dress pemberian Morgan yang ternyata sangat pas di tubuhnya. Dress dengan warna hitam dengan garis potong yang elegan. Bagian atas fit body tanpa lengan yang menutupi seluruh dadanya sampai ke leher sedangka bawahnya agak lebar. Dengan bahan yang tebal percis di atas lutut membuat Allegra tampak manis juga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang berisi namun semampai.
Allegra menghela napas dan mengetuk pintu kamar Morgan. Dia harus berterima kasih dan mungkin minta maaf karna sedikit salah paham. Tak lama Morgan membukanya dan tatapannya langsung ke arah bawah Allegra perlahan memperhatikan lalu ke atas dan menyadari kalau ini adalah dress yang ia berikan tadi. Morgan berusaha normal walau hatinya mengatakan kalau Allegra cukup cantik dan manis. Morgan lalu menegakan tubuhnya. Di sana dia juga sudah mengenakan kemeja dan jas casual.
"Ada apa? Kau ke sini untuk menujukan dress yang kuberikan lebih bagus dari dress mu yang mudah ku koyakan kan?!" Kata Morgan melipat tangannya di depan dadanya dan bersandar di daun pintu. Allegra kembali agak kesal dengan pernyataan Morgan.
"Aku tidak ada dress lain jadi aku menggunakan yang kau berikan! Jangan terlalu percaya diri!
"Lalu?"
"Aku, aku.." Allegra menundukan kepalanya dan menautkan jari jarinya.
"Ada apa, kau lama sekali!" Morgan sudah mulai malas.
"Em.." Allegra mendongakan kepalanya hendak mengucapkan terimakasih namun ada dua orang anak kecil berlarian yang mendahului ayah dan ibunya. Sepertinya mereka hendak menuju kamar yang mereka sewa. Kedua anak tersebut berlarian dan menabrak Allegra, sehingga Allegra memajukan tubuhnya hendak menabrak Morgan yang di depannya.
Morgan dengan sigap menahan tubuh Allegra, namun karna ketidak siapan, Morgan juga mundur tetapi mengikuti arah pintu sehingga mereka berdua berpelukan di dalam kamar Morgan. Walau pintu terbuka mereka di dalam saling berhimpitan. Morgan dan Allegra saling berpandangan namun tak lama Allegra tersadar. Dia berusaha menegakan dirinya namun karna hak sepatunya yang tinggi hendak membuatnya kembali terjatuh. Morgan menarik tangannya dan melingkarkan tangan satunya di belakang pinggang Allegra. Mereka kembali bertatapan.
"Aarrgghh, kau mencari kesempatan memegangku! Lepaskan!" Kata Allegra dan dengan posisi Allegra memang mau terjatuh Morgan melepaskannya sehingga Allegra benar benar terjatuh.
"Ya Tuhan kau pria paling kasar, mengapa kau benar menjatuhkan ku?!!" decak Allegra memegang sisi bokongnya.
"Kau bilang lepas, ya ku lepas!" balas Morgan santai.
"Maksudnya berdirikan aku bukan dilepas sehingga aku benar terjatuh!"
"Banyak sekali maumu! Jadi kau sebenarnya mau apa?"
Allegra berusaha berdiri. Dia mengebas ngebaskan dress nya dan berdiri di depan Morgan yang duduk di kursi meja makan.
"Aku hanya mau berterimakasih padamu karna sudah menghentikan darah jariku dan sudah memberikan ku futomaki." Kata Allegra akhirnya dengan menunduk.
"Heng, ucapan terimakasih apa seperti itu? Kalau kau tidak tulus, kau tidak usah mengucapkannya!" dengus Morgan sebal.
"Aku tulus!" Allegra mendongakan kepalanya menatap Morgan. Morgan cukup tertarik dengan pandangan melotot Allegra seperti ini. Morgan lalu beranjak dan mendekati Allegra. Allegra kembali salah tingkah. Dia pun mundur perlahan dan Morgan terus maju mendekatinya sampai ke pintu.
"Kau mau apa Morgan? Aku benar benar ingin berterimakasih padamu." kata Allegra kembali takut dengan tatapan Morgan.
"Ya, sama sama! Sudah sana keluar!" Ucap Morgan dan menggiring tubuh Allegra keluar dari kamarnya lalu menutup pintu.
Brak!
Allegra tercengang dengan perlakuan Morgan. Sebentar lembut sebentar kasar sebentar membuatnya jantungan dan lagi mengesalkan hati Allegra.
"Argghh!! Pria tersombong di muka bumi ini yang pernah ku temui!!! Aku bersumpah tidak akan ada wanita yang menyukaimu!!!" Allegra mengepalkan tangannya yang di arahkan di depan kamar Morgan.
...
...
...
...
...
lalalala dududu dududu
entah lah ini perjodohan apa ngak, ngomel ngomel begitu 😂😂
.
next part 26
apakah Morgan dan Allegra bisa akur?
bagaimana kelanjutan hubungan Dior dan Gracia? apa masih dalam tahap pengujian 😁😁
.
Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha
Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍
.
__ADS_1
Thanks for read n i love youu 💕