Mantan Terindah

Mantan Terindah
Satu Persatu Fakta Terungkap


__ADS_3

Di sebuah hotel yang cukup mewah di Surabaya, Nadia masih setia menunggu Gani selesai meeting.


Ia duduk manis di sebuah kamar yang Gani sengaja booking untuknya.


Nadia tidak mengeluh sedikit pun. Namun Gani nampak khawatir. Beberapa kali ia mengirim pesan teks pada gadis tersebut agar sabar menunggunya. Rapat yang ia hadiri masih berlangsung. Belum ada titik temu.


"Ya, kamu tenang. I am fine," balas Nadia dalam pesan teks yang dikirim Gani untuknya.


"Bagus! Aku dah pesenin makan. Dimakan ya, diabisin, biar nggak kerempeng!" tulis Gani lagi.


"Ya!" balas Nadia.


"Dih... iya doang. Makasihnya nggak ada?" Gani memberikan emoji cemberut.


"Makasih, Bapak Gani! Puas!" Nadia membalas dengan emoji senyum.


Di ruang meeting itu, terlihat Gani tersenyum. "Jangan nangis, Abang bentar lagi turun."


"Dih, abang? Siapa juga yang mau manggil situ abang! Mimpi!"


"Kali aja kamu mau jadi adikku?" tulis Gani lagi.


"Ogah!" Nadia mulai kesal.


"Eh, lupa... maunya jadi istri kedua kan ya?" tulis Gani, disertai emoji tertawa.


"Tidak akan pernah!" Nadia menyertakan emoji marah.


"Benarkah?"


"Yes!"


"Heeemm! Makanannya udah datang belum?" tanya Gani.


"Belum!"


"Aku dah kelar meeting nih, tungguin makannya ya! Jangan kamu makan ndiri," pinta Gani.


"Oke!" balas Nadia.


"Maaciw Nandiut Zeyenk," balas Gani lagi.


Nadia tersenyum, Gani mulai kocak.


"Dasar! Aku kasih tahu pacarmu, tau rasa," ancam Nadia.


"Kasih tahu aja, dia sebuk belajar. Jangan macam-macam!" balas Gani.


"Biarin! Biar kamu nggak nakal. Godain cewek lain." tulis Nadia lagi.


"Biarin... Nandiut Zeyenk! si pesek, tukang ngambek!" tulis Gani lagi.

__ADS_1


Nadia enggan membalas pesan teks terakhir Gani. Karena jujur, dia takut, hatinya tak mampu menahan perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi. Nadia takut tak mampu mengikhlaskan Gani untuk wanita lain.


Nadia meletakkan ponselnya. Hatinya serasa teremas mengingat beberapa jam lagi perpisahan antara dirinya dan juga Gani akan segera terjadi.


Gani akan kembali ke Batam. Sedangkan dirinya harus berjuang melupakan pria itu sendirian. Di kota kelahirannya.


"Ya Tuhan! Kuatkan aku. Tolong cepat pulihkan kakinya. Tolong izinkan aku kembali menata hati dan hidupku," ucap Nadia diselingi dengan air mata yang mulai mengalir dari pelupuk matanya.


Hatinya terlanjur nyaman dengan ini. Hatinya suka berteman dengan Gani. Namun, kebahagiaan itu terpaksa harus ia hempaskan karena pada dasarnya, seorang pria yang sudah menikah, tidak boleh terlalu dekat dengan wanita lain. Pun sebaliknya.


Nadia hanya ingin menjaga hati wanita lain. Itu saja.


Sepuluh menit berlalu, makanan yang di oesan Gani lewat gofood akhirnya sampai juga di kamar hotel di mana Nadia berada.


Tak lama berselang, Gani pun datang.


"Hay, Baby!" sapa Gani dengan candaan kocaknya seperti biasa.


"Lu kenapa sih, Gan. Kesambet setan di meeting lu ya? Dari tadi godain mulu. Ntar ketahuan bini lu, berabe kita," jawab Nadia sedikit kesal.


"Dih, ngomongnya lu gue.. anak Jakarta kau rupanya." Gani terkekeh.


Nadia melirik kesal.


"Dih, lirikannya... kesal ya hem hemm." Gani mengacak sayang rambut sang sahabat, lagi-lagi Nadia marah. Ia pun memukul kesal tangan Gani.


"Galak juga kamu rupanya. Suka deh ada cewek galak gini. Emmmm... jadi pengen ku itu... " goda Gani.


"Dih... ngeres... ngeres... dah ahhh, marah mulu. Aku laper, mau makan. Dasar gadis tukang marah. Digodain dikit aja langsung nyakar. Gimana mau dapet cowok kalo galak begini," ucap Gani.


Nadia tak menjawab. Ia memilih beringsut menjauh. Dalam hati, lebih baik ia menghindar dari pada apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan.


Nadia hanya menatap Gani menyiapkan makan untuknya. Lalu ia pun menyantap hidangannya sendiri.


"Emmm, enak!" ucap Gani.


Nadia masih diam.


"Loh ayo dimakan! Nggak mau? Aku habisin ya," ucap Gani.


"Ma... mau... tapi malam ini kita nggak sekamar kan?" tanya Nadia, takut.


"Emmm.... kayaknya sekamar deh. Aku cuma pesan satu," jawab Gani.


"Nggak kalo gitu, aku nggak jadi makan. mana ponselku, biar adikku jemput aja," ucap Nadia sembari mencari ponsel miliknya.


Gani tersenyum melihat tingkah aneh Nadia. Gadis unik dengan segala ketakutannya yang tidak berdasar.


"Emang kamu pikir aku nafsu lihat bodimu yang krempeng itu? Dada rata, kulit hitam, jelek, nggak pernah make up. Hilih, apa yang menarik dari kamu? Nggak ada!" ucap Gani, meremehkan.


Spontan Nadia pun menutup dadanya. "Biarin, yang penting aku cewek!" Nadia memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Udah makan, nanti kalo tiba-tiba aku khilaf, kamu bisa nglawan," goda Gani lagi.


"Kamu jangan gila ya, Gan. Sumpah kamu bikin aku takut!"


Gani terkekeh, lalu ia pun kembali berucap, "Iya, aku jaga diri. Udah makan. Orang cuma becanda doang sih." Gani kembali memasukkan sesendok makanan ke mulutnya. Sedangkan Nadia mulai berani mengambil kotak makanan yang memang Gani sediakan untuknya.


Tak ada perbincangan lagi. Mereka makan dengan hikmat. Sesekali Nadia menawari Gani lauk miliknya. Gani pun demikian. Ia juga memberikan lauknya pada Nadia. Mereka terlihat seperti kakak adik yang saling menyayangi.


Di menit berikutnya, acara makan pun selesai. Nadia merapikan bekas makan mereka. Sedangkan Gani menuangkan air untuk mereka berdua.


Di tengah-tengah aktivitas mereka bersantai, ponsel Gani berdering. Namun hanya sekali.


Gani pun mengambil ponsel itu dan mengeceknya.


Sebuah panggilan telepon dari seseorang yang ia tugasi untuk mencari tahu aktivitas Mariska, yang tak lain adalah calon istri Gani.


Orang kepercayaan tersebut mengirimkan sebuah Video yang sukses membuat Gani tercengang.


Gani menonton Video itu dengan ekpresi yang sukar di artikan. Matanya menatap nanar pada ponsel yang ada dalam genggamannya.


Jari-jarinya meremas menahan amarah.


Gani emosi, ia pun membanting ponsel miliknya. Membuat Nadia terkejut.


Bersambung...


Rekomendasi karya keren untuk kalian🥰🥰🥰


Rekomendasi hari ini ya gaes🥰🥰 Karya my bestie😘😘😘 Dijamin oke punya😍😍😍


Cekidot😘😘😘


Judul : Makmum Pilihan Micheal Emerson


Penulis : SkySal


Cuplikan...


"Lora Micheal, jika Om boleh bertanya, apakah kamu memang ingin meminang Zenwa sejak dulu?" tanya Abi Hamka kemudian karena ia pun ingin tahu perasaan Micheal yang sebenarnya.


"Bukankah Rasulullah bersabda 'Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.' (HR Bukhari Nomor 5090, Muslim 1466). Aku melihat Zenwa memiliki ke 4 kriteria itu, jadi aku yakin dengan pilihanku dan itu sesuai ajaran Rasulullah." jawaban Micheal tak bisa lagi membuat Abi Hamka berkata-kata, sebagai seorang ayah, ia pun ingin pasangan yang baik untuk putrinya dan Micheal pun memiliki ke empat kriteria yang sesuai dengan anjuran Rasulullah.


"In Shaa Allah, Nak. Semoga Zenwa bisa menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak," tukas Abi Hamka yang membuat Micheal hanya bisa tersenyum tipis.


Sementara Zenwa, ia sudah bersiap menemui Micheal dan ia pun mendengar jawaban Micheal atas pertanyaan ayahnya, namun entah kenapa Zenwa tetap tidak puas dengan jawaban itu. Zenwa pun melangkah pelan mendekati sang ayah dan kemudian ia duduk di samping ayahnya.


Walaupun Zenwa sempat kesal karena Micheal tadi, Zenwa tetap merasa malu saat berhadapan langsung dengan Micheal dan ia pun menunduk dalam. Pakaian Zenwa pun sudah berganti, ia mengenakan gamis syar'i berwarna biru dengan hijab lebar yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Assalamualaikum, Zenwa." Micheal berucap dengan suara yang terasa berat.


"Waalaikum salam," jawab Zenwa dengan suara tegas namun tetap rendah.

__ADS_1



__ADS_2