
Keyakinan terbesar itu ketika sudah tahu apa yang ingin dilakukan dan mengetahui tujuan akhirnya. Gracia ingin sepenuhnya menjadi milik Dior begitu juga dengan Dior. Mungkin kesalah pahaman sering terjadi namun jika ada keterbukaan mungkin akan menjadi kebiasaan yang membawa kepada kebahagiaan.
...
Scarlett memang menatap Gracia dengan sangat seksama. Walau dia merasa Gracia adalah gadis yang agak pendek ketimbang dirinya namun dia mengakui kalau tubuh Gracia langsing dan memiliki ukuran dada yang lumayan. Scarlett mengangguk angguk menilai type wanita yang ternyata di sukai Dior. Ya, Dior memang pendiam dan tidak pernah menanggapi wanita yang mendekatinya termasuk Scarlett. Sepertinya Dior memang cocok dengan kepiawaian Gracia yang lembut.
"Scarlett, kenapa kau diam?" Tanya Dior.
"Eh, tidak apa apa. Ternyata kau sudah bertunangan? Tidak disangka sekali." Jawab Scarlett menaikan bahunya.
"Ya, tapi kami baru bertunangan karna Gracia masih kuliah. Dia kuliah bersama Zefanya dan Zhavia." Dior menjelaskan dengan menatap lembut Gracia.
"Oohh ya? Kau ternyata menyukai yang muda ya Dior, haha!" Gumam Scarlett menggoda. Gracia menundukan kepalanya sedikit malu.
"Sebenarnya kami sudah pernah bersama namun terpisah." Kata Dior membuat Gracia kembali percaya diri.
"Oh begitu? Pantas saja kau tidak pernah dekat dengan wanita, karna gadis cantik ini?" Scarlett mengarahkan matanya ke arah Gracia.
"Begitulah." Dior menatap Gracia dan tersenyum, sementara Gracia sudah tersipu malu. Wajahnya memerah melebihi wajah Allegra yang sedang demam di sana.
"Sayang, kau di sini? Aku sudah mencari kemana mana. Kau jangan terlalu jauh, kau kan sedang hamil." Tiba tiba seorang pria menghampiri Scarlett dari belakang. Dia merengkuh pinggang Scarlett dengan sangat protektif karna ternyata Scarlett sedang hamil. Gracia terkejut. Dia jadi merasa bersalah telah berpikiran negatif mengenai Scarlett.
"Kau sudah menikah?" Tanya Dior dengan semua ilmu yang sepantasnya terjadi. Bisa saja Scarlett belum menikah.
"Ya Dior. Aku sampai lupa mengatakannya. Perkenalkan ini Max. Max ini Dior, teman kuliah dan satu kelas ku ketika di Legacy." Scarlett mengenalkan pria tersebut adalah suami dan calon ayah anak yang sedang ia kandung.
"Oohh Hay Dior, nice to meet you!" Kata Max mengulurkan tangannya. Max dan Dior berjabat tangan.
"Tidak ada kabar berita tiba tiba kau sudah menikah dan sedang mengandung." Dior terkekeh.
"Ya, sebenarnya aku sudah tinggal di Springfield sudah satu tahun melanjutkan usaha ibuku Dior. Ah, dan kau juga tidak pernah dekat dengan wanita dan berpacaran tiba tiba sudah tunangan. Jadi, kau haru mengundangku jika sudah menikah nanti. Bagaimana, Gracia, kau mau mengundangku kan?" Pinta Scarlett.
"Tentu Nona Scarlett dan maafkan aku. Tadi aku sempat mencurigaimu." Kata Gracia polos .
"Hahaha, wajar saja. Kau memang harus menjaga kekasihmu. Begitulah resiko memiliki pria pria tampan seperti kita." Scarlett terkikik. Suaminya sudah merangkulannya. Begitu juga dengan Dior yang sudah memeluk Gracia. Sebenarnya Dior sempat khawatir ketika Scarlett mengecup pipinya, Gracia melihatnya. Ya, mungkin Gracia melihatnya makanya menghampiri dirinya. Tetapi Dior mengakui kalau Gracia merupakan wanita yang kuat. Dia menunjukan siapa dirinya dan mendekati Dior. Dior semakin mencintai wanita nya itu.
Sementara Morgan dan Allegra yang melihatnya menaikan bahu mereka.
"Hem, semoga mereka awet seperti menggunakan obat pengawet sampai kakek dan nenek. Ya cinta sejati. Kau percaya cinta sejati Morgan?" Tanya Allegra kemudian melirik ke arah orang yang sebelumnya menjadi rival nya.
"Hem, ya seperti mereka mungkin!" Jawab Morgan menaikan alisnya.
Allegra mengangguk angguk setuju dengan wajahnua yang masih tidak enak. Morgan memandangnya. Allegra terlihat jauh lebih manis jika diam dan sedang sakit seperti ini.
"Kau masih tidak enak?" Tanya Morgan merasakan dahi Allegra dengan tangannya.
"Tidak apa apa hanya kecapean!" Allegra menghempaskan tangan Morgan tetapi Morgan sudah merasa kalau suhu tubuh Allegra tidak normal.
"Kau demam Allegra, mau kembali ke kamar?" kata Morgan menyarankan.
"Sepertinya itu jauh lebih baik. Aku sudah sarapan!" saut Allegra sudah mulai berdiri.
__ADS_1
"Biar kuantar!" Morgan juga ikut berdiri.
"Kenapa hari ini kau sangat baik?" Allegra agak menarik diri ke belakang dan memperhatikan sikap Morgan yang lebih lembut.
"Karna kau menggunakan jas ku, aku hanya memastikan jas ku tidak rusak!" decak Morgan menarik tangan Allegra yang terlalu banyak bicara pikirknya.
"Alibi!" Umpat Allegra menyerah dan membiarkan apa yang menjadi alasan Morgan.
...
Gracia sudah duduk di sisi tempat tidur bergaya kayu dengan kasur putih dan bedcover berwarna senada. Dia menautkan kedua tangannya menunggu kekasihnya yang sedang ke kamar kecil. Hati Gracia masih berkecamuk. Dia masih sedikit tak suka dengan kejadian tadi meskipun Scarlett sudah memiliki suami sekalipun. Entah mengapa hati Gracia tetap terasa sesak melihat wanita lain mengecup pipi kekasihnya.
Dior pun keluar dari kamar kecil dan mendapatkan Gracia tampak muram. Walau sedang menunduk, Dior hafal betul bagaimana sikap sikap kekasihnya. Dior yakin kalau Gracia masih mempermasalahkan kejadian pertemuan dengan Scarlett. Dior tersenyum kecil dan mendekati kekasihnya itu. Dior duduk di samping Gracia dan setengah menoleh mencari cari wajah Gracia. Dia lalu merangkul dengan lembut dan meraih pundak Gracia.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan." ujar Dior.
"Mengapa kau membiarkan Nona Scarlett mengecup pipimu, kak?" Gracia mulai mengintrogasi.
"Dia melakukannya dengan cepat. Aku benar benar tidak siap. Jadi, kau ingin apa untuk menggantikan rasa sedihmu? Aku mau melakukan apapun demi senyum darimu Grcaia." jawab Dior ikut menundukan kepalanya.
"Tidak perlu. Tapi aku sangat sedih kau menerima begitu saja kecupan itu kak." keluh Gracia hendak menangis namun ia menahannya karna alasan Dior juga masuk akal.
"Semua terjadi dengan cepat dan aku tidak tahu kalau dia akan datang. Aku berani bersumpah. Gracia ??"
Dior terus mencari cari wajah Gracia sampai dia sendiri yang membuat wajah tunangannya itu melihat dirinya.
"Sayang, percayalah seandainya aku mengetahuinya, mungkin aku tidak ingat dan aku akan menghindarinya. Em, aku berterimakasih karna kau tiba tiba datang dan menggandeng tanganku. Terimakasih Gracia." ucap Dior tersenyum tulus sekali.
"Aku mencintaimu, Gracia." Bisik Dior lalu kembali mengecup bibir Gracia kini dengan sedikit gigitan dan lumatann terhadap bibir kecil namun tetap kenyal itu. Satu tangan Dior memegang pinggang Gracia mengelusnya sampai menjalar ke punggung. Mereka berciuman dengan lembut dan pelan sampai Gracia pun telah meraih wajah kekasihnya itu.
Dior tak kuasa hanya mengelus punggung Gracia sehingga pindah ke depan meraih salah satu bulatan kenyal Gracia bahkan menyibakan penutupnya dan mencengkramnya dengan pelan.
"Eengghh .." Cengkraman lembut itu membuat suara melenguh keluar dari mulut Gracia ditengah tengah pergulatan kecupan mereka. Seketika tubuh Dior memanas karna melihat respon Gracia yang sungguh menikmati permainan tangannya di salah satu bukit kembarnya. Sudah puas dengan satu bukit kembar itu, Dior malah membuka kaos Gracia dan gadisnya itu mengikutinya.
Dior lalu membaringkan Gracia ke tempat tidur. Dia menyibakan kedua penutup bulatan kenyal Gracia dan meraih keduanya. Sejenak dia melirik ke arah Gracia. Gracia tampak diam namun memejamkan matanya.
"Kau yang membuatku seperti ini Gracia!" Tutur Dior lalu dengan lembut mengecup dada kenyal yang cukup berisi itu. Dior pun tak menyangka kalau Gracia memiliki benda indah ini dibandingkan lainnya. Dior terus menggerayangi benda kenyal itu sampai Gracia pun memegang kepalanya membuat dirinya semakin bersemangat merasakan ujung ujung lancip benda itu. Tak ayal sesuatu di bawah sana milik Dior mulai menegang. Bukan sesuatu yang tidak normal. Ini sangat normal jika terjadi. Dior lalu menyudahi dengan kedua benda kenyal Gracia dan kembali memandang kekasihnya. Dior kembali mencium bibir Gracia yang juga dibalasnya. Sesekali tangan Dior kembali menyentuh dada Gracia lagi dan menulusup ke bawah membuka kancing celana jeans Gracia. Entah keberanian dari mana kini Dior sudah memasukan jemarinya di balik bungkusan kesucian Gracia dan mengelusnya lembut. Bibir Gracia terus bekerja melayani bibir Dior yang menyerangnya sambil juga menikmati permainan jari jari kekasihnya di bawah sana.
Sampai rasanya ada sesuatu yang hendak Gracia keluarkan. Dia membuka matanya dan menghentakkan bahu Dior. Disanalah Dior tersadar kalau Gracia rasanya meronta seperti ketakutan. Dior menarik dirinya juga tangannya di bawah sana. Dia menatap Gracia.
"Gracia?" mata Dior agak terbuka lebar.
"Kak? Aku . Aku." Gracia agak tidak nyaman. ini sangat baru baginya walau jujur dia agak menyukainya.
"Maafkan aku, maaf maaf." Kata Dior kemudian dan dia menarik dirinya lebih jauh lagi dari Gracia. Dia duduk di sisi tempat tidur. Gracia menutup kembali penutup buah dadanya dan menghampiri Dior dengan cepat.
"Kak maaf, aku." Gracia mencoba menjelaskan tanggapan dari dalam tubuhnya namun sepertinya Dior terbawa suasana.
"Tidak apa apa. Pakai kembali pakaianmu aku harus ke toilet lagi." Kata Dior dan pergi meninggalkan Gracia. Dia menuju ke kamar mandi. Dia membuka seluruh pakaian nya dan melihat milik nya sudah berdiri kokoh dan mengeras membuatnya sangat sangat pening. Dior pun melakukannya sendiri. Dior mencurahkan hasratnya dengan tangannya. Benar benar sesuatu yang menantang. Hem, sebenarnya sudah sering kali Dior melakukan ini sejak dia bertemu Gracia. Bahkan untuk pertama kali ketika Gracia mengenakan pakaian balet berwarna biru muda dan putih itu. Malamnya dia membayangkan dirinya merasakan Gracia. Sungguh mimpi yang sudah seharusnya ia alami. Respon hormon sekss dalam dirinya meronta untuk dikakuarkan. Apalagi sekarang. Di mana dia di hadapkan selalu bersama Gracia. Setiap hari.
Setiap hari mereka bertemu, saling mengecup atau berciuman. Saling berpegangan tangan dan berpelukan . Dior lelaki normal yang juga tak akan jauh dari hal hal seperti itu. Tetapi prinsipnya akan terus ia jalani. Dia harus menghargai Gracia dan membuat Gracia merasakan semua itu tepat dan indah pada waktunya.
__ADS_1
Dior mensugar rambutnya ke belakang setelah apa yang menjadi kepuasannya keluar dengan lepas. Dia meraih handuk dan dililitkan di sekitar pinggangnya. Ketika Dior keluar, Gracia sudah menunggu di depan kamar mandi itu. Setelah melihat kekasihnya keluar, Gracia langsung menghambur memeluk Dior.
"Kaaakk, aku tidak apa apa, kau jangan menjauh dariku !! Aku, aku percaya kalau kau hanya mencintaiku kak dan aku tidak perlu semua pembuktian yang membawamu pada penyesalan. Aku mohon jangan menjauh dariku." kata Gracia sedikit cemas dengan tindakan Dior yang salah tingkah dan merasa bersalah.
"Gracie? Aku tidak apa apa sayang. Tenang lah!" Dior memegang ujung pundak Gracia dan menjauhkan dari dirinya perlahan. Dia menatap wajah kekasihnya itu.
"Mengapa kau takut? Aku yang seharusnya minta maaf telah membuatmu sampai ingin .." kata Dior lagi, namun ..
Gracia malah mengecup bibir Dior untuk tidak melanjutkan penyesalannya karna Gracia akui dia menikmatinya.
"Aku puas kak! Lain kali aku mau kau melanjutkannya." Kata Gracia kemudian menatap dalam dalam Dior sambil mengalungkan tangannya ke leher Dior.
Gracia sudah sangat yakin dengan Dior. Gracia tahu kalau Dior menahan semuanya untuk menghormatinya untuk menghargainya sehingga dirinya dapat merasakan saat saat indah itu ketika di waktu yang juga membawa kebahagiaan untuk mereka. Di saat pernikahan resmi mereka, semua akan menjadi yang terbaik. Tetapi Gracia juga menyadari kekasihnya yang tersiksa karna ini semua.
Dior lalu memeluk Gracia. Dia jadi merasa bersalah karna meninggalkan Gracia begitu saja.
"Maafkan aku Gracie! Aku akan lebih menahannya. Tenang saja, ini tidak akan terjadi lagi. " tetapi malah hal itu yang Dior katakan karna dia benar benar menyesalinya.
Gracia menggeleng dan tetap mendekap Dior. Dior mendekapnya dengan lebih erat lagi.
...
...
...
...
...
begitulah kalo menahan hasrat Gracior, smangat ya, aku bersamamu 😂😂
.
next part 28
hem, jadi bagaimana keputusan Dior nantinya? apa tetap bertahan atau terus terpancing? hihi 😅😅
.
Beb, rekomen Novel Baper romance dari ku nii judulnya LOVE IN FRIENDSHIP , ketika sebuah persahabatan akan dikorbankan atau cinta yang dikorbankan untuk semuanya berjalan dengan baik?? cus diintip ya 😁
.
pada akhirnya Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha
Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍
.
Thanks for read .. happy read and i love youu 💕
__ADS_1