Mantan Terindah

Mantan Terindah
Kenapa Bisa Begitu Ya?


__ADS_3

Suara tawa masih menggema di ruang tamu rumah Juan. Terutama suara Juan dan Bima, kedua pria itu sangat senang dengan permainan ini. Sedangkan Gani hanya menggeleng-gelengkan kepala. Heran saja dengan keluguan istri bosnya.


Dan Vita, terlihat wanita itu, ia jadi bingung dengan keadaan ini. Di samping kasihan dengan Gani. Hatinya juga bertanya-tanya, di mana letak kesalahan sang kakak. Bukankah wajar jika dia protes, agar Gani tidak terlalu rapat mengatur jadwal bosnya.


"Memangnya ada yang salah? Kenapa kalian tertawa?" tanya Vita.


Spontan kedua pria itu pun berhenti tertawa. Sedangkan Gani, langsung menatap kedua pria yang menertawakan dirinya penuh tanya. Speechless aja. Sebab pertanyaan Vita, tak ada bedanya dengan keluguan Stella, yang mudah terhasut oleh keisengan suaminya.


Gani jadi penasaran, pengen tahu, kira-kira jawaban apa yang akan mereka berikan pada wanita yang saat ini sedang bingung dengan kejadian ini.


"Nggak, nggak ada apa-apa, semua aman!" jawab Juan, sebab pria tampan ini tahu. Bahwa Vita dan Stella memiliki tingkat keoonan hampir sama. Sama-sama oon tingkat nasional. Percuma dijelaskan, mereka sangat lambat berpikir.


"Ada apa sih, Mas? Kenapa kamu sama abang ngetawain Gani? Memangnya Gani harus gitu di ketawain sampai seperti itu? Lagian, wajar kan kalo Kakak protes sama Gani, emang salah kah, seorang istri minta suaminya nggak kerja terus? Keluarga juga butuh kali, waktunya. Salahnya di mana?" tanya Vita, dengan tatapan super lugunya.


Juan dan Gani saling menatap heran. Mereka kehabisan kata-kata. Sedangkan Bima, Bima sendiri harus putar otak untuk menjawab pertanyaan lugu itu.


"Kakakmu nggak salah, Yang. Yang salah memang Gani. Terlalu rapat mengatur jadwal abang. Jadi abang susah liburnya. Maksud Kak Ste benar kok. Gani memang salah. Gani memang pantas dihujat. Jadi di sini, yang salah ya memang Gani. Bener kan Gan?" jawab Bima.


Gani mengusap tengkuknya. Lalu menyangga dagunya, memelas. Namun ia tak punya pilihan lain selain mengangguk. Terlanjur basah, bukankah sebaiknya mandi sekali. Sedangkan Juan tersenyum menahan tawa. Seperti seseorang yang menang dalam peperangan. Meskipun cara itu sangalah licik.


"Tu, Gani aja udah ngaku kalo dia salah. Masih bingung?" pancing Bima, dengan lirikan meledek tentunya.


Vita menggeleng. Meskipun sebenarnya ia masih bingung dengan situasi ini. Kebingungan itu juga bertambah, mana kalau ketiga pria itu menatapnya dengan tatapan aneh.


"Bener loh ya, jangan bingung lagi. Nanti di kamar ngebahas ini lagi. Mas nggak mau. Kalo mau nanya, sekalian nanya di sini. Biar clear semua," ucap Bima, sengaja mempermainkan keluguan Vita.

__ADS_1


"Tidaklah, Vita sudah paham. Ya udah Vita ke dapur dulu ya, mau bantu nyiapin makan siang. Permisi!" ucap Vita, sengaja menghindar. Karena ia tak mau semakin bingung dengan keadaan ini.


Spontan, setelah kepergian Vita, tawa pun kembali menggema di ruangan itu. Bima dan Juan sampai mengeluarkan air mata mereka. Keoonan Vita dan Stella, ternyata adalah hiburan tersendiri buat Bima dan Juan.


"Parah si Bos. Astaga! Kalo begini ceritanya, bisa-bisa kedua ibu nyonya itu bakalan benci sama saya, Bos!" ucap Gani memelas.


"Jangan marah ya, Gan! Ini salah satu pengalaman buat kamu. Di mana, wanita selalu benar dalam rumah tangga. 90% wanita itu ya begini. Ada kalanya keoonan mereka melewati batas kewajaran. Jadi jangan dilawan, iya ini aja pokoknya, meskipun sebenarnya kita nggak salah. Cari aman, Gan, cari aman. Paham kan. Mereka punya persepsi sendiri dalam menghadapi masalah. Dari pada ribut, ya kan?" ucap Bima.


"Bener juga ya, kalo sudah ngambek, kek semua orang yang ada di depan matanya itu, salah semua. Astaga! Sabar Gani, sabar!" jawab Gani, lagi-lagi memgelus dadanya. Membuat kedua pria yang ada di depannya kembali tertawa.


"Tapi lucu kan Gan, unik kan? kok ada ya orang selugu plus aneh begitu. Kakak adik nggak ada bedanya. Astaga, nasib kita Bim," ucap Juan, di tengah-tengah tawa yang menggema.


"Bener banget, Bang. Mereka berdua luar biasa. Bisa-bisanya selugu itu. Di sini Gani kan cuma kerja, mana berani dia ngatur jadwal bosnya tanpa diacc sama atasannya, kan? Astaga! Sampai kapan kakak beradik itu bakalan paham, dunia nggak semudah yang mereka kira.Hah... dah lah, sepertinya kamu mesti ngalah Gani. Kak Ste bener dan kamu salah. Mulai sekarang, kamu jangan terlalu rapat mengatur jadwal bosmu Gani. Bisa-bisa gagal naik gaji kamu, paham!" Bima kembali terkekeh. Sedangakan Gani sendiri hanya tersenyum.


"Sepertinya memang harus begitu, Pak Bim. Saya harus sering-sering kasih bos saya libur. Untuk menghindari sidang seperti ini lagi," jawab Gani. Spontan ketiga pria itu pun kembali tertawa. Hingga mereka tak menyadari bahwa tawa mereka mengundang rasa penasaran, ketiga orang yang baru datang bertamu ke rumah mereka.


Tak ayal, tawa pun mereka hentikan. Tentu saja untuk menghargai kedatangan pria yang sangat mereka segani itu.


"Waalaikum salam, Om, Tante, masuk-masuk," jawab Juan. Sedangkan Bima dan Gani mengekor di belakang Juan, menyambut mereka.


"Baru Bima sama Vita mau main ke sana Om," ucap Bima.


"Oh, benarkah? Kami ke sini juga mau lihat keadaan kamu, udah bangun apa belum? Syukurlah kalo kamu nggak kenapa-napa?" ucap Laskar.


"Alhamdulillah, Om. Semua alat vital saya, Oke. Hanya ada beberapa memar saja di kaki dan punggung saya. Tapi sudah diobati kok," jawab Bima.

__ADS_1


"Syukurlah, lalu asisten kamu gimana, Jun? Udah sehat kah?" tanya Laskar.


"Sudah Om, la ini orangnya," jawab Juan sembari menunjuk ke arah Gani.


"Oh ini sekertaris kamu. Calon suaminya, siapa Ma, gadis lucu itu loh?" tanya Laskar.


"Nadia, Pa, Nadia. Lupa mulu dah," jawab Ibu Laila.


"Yaaa, itu... gadis itu. Kamu calon suaminya dia ya," ucap Laskar.


"Siap, Pak. Insya Allah!" jawab Gani mantap.


"Heeemm, syukurlah kalo dia udah ketemu jodoh. Jadi kapan kalian mau nikah?" tanya Laskar.


Sebelum menjawab, Juan pun membantu Laskar duduk di ruang tamu rumah tersebut.


"Makasih, Juan. Terima kasih, Hah, Om capek sekali," ucap Laskar.


"Istirahat, Om. Jangan kerja terus. Bisa kena sidang nanti," jawab Juan, menyidir dirinya sendiri sekaligus Gani yang jadi ikutan terseret kasus yang ia lakukan.


"Sidang? Maksudnya?" tanya Laskar.


"Biasa Om, kami habis kena sidang ibu-ibu, gegara keseringan kerja Om," jawab Juan sembari terkekeh.


Spontan, Laskar pun menatap sang istri. Usut punya usut, ternyata semalam dirinya juga habis kena protes.

__ADS_1


"Apakah semua wanita seperti itu?" tanya Laskar. Ibu Laila menatap tajam ke arah suaminya. Sedangkan beberapa pria muda yang ada di depannya langsung saling memberi kode. Jangan sampai mereka juga akan kena sidang ibu negara yang lebih memiliki kekuasaan paling valid ini.


Bersambung....


__ADS_2