Mantan Terindah

Mantan Terindah
54. Dilema


__ADS_3

"Eh gue balik dulu ya." Semenjak Franda dan Rival jadian kini mereka lebih menghabiskan waktu berdua mereka. Biasa kalau pulang sekolah terutama Rival ia suka nongkrong dulu di kelas. Melihat hubungan Rival dan Franda sebagai sahabat mereka sangat mendukung sekali ditambah pula yang membuat mereka bangga bahwa Rival sudah menurunkan rasa gengsinya itu. Ya sebuah gengsi yang sulit untuk dipecahkan.


"Traktiran jangan lupa." Rival hanya tersenyum saja. Sementara itu Cerry masih sibuk mencatat tulisan yang ada di papan tulis karna ia tadi ketiduran bentar jadi tertinggal.


"Cer, lo ngapain dari tadi sibuk sendiri." Tanya Albert.


"Nulis itu. Bentar lagi selesai."


"Oh gitu." Sahutnya yang menganggap berlalu begitu saja.


Cerry memasukkan buku yang sudah ia catat tadi, "Eh gue duluan ya."


Ia pun berjalan dengan santainya keluar dari kelas. Semua siswa ataupun siswi sudah berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Biasa aja sih kalau pulang sendirian karna gak bakalan ngaruh juga. Dan langkahnya terhenti ketika ia ingin ke parkiran sekolah.


Jeng...


Jeng...


Baru aja kemarin bareng sama Roy kini Cerry dibuat galau lagi melihat langsung kalau Roy dan Manda lagi balik bareng bahkan boncengan cewek mana yang gak galau liat orang yang ia taksir malah sama orang lain. Ia menyunggingkan kedua bibirnya Manda memang pantas untuk disukai. Ia berjalan kembali sampai motor Roy keluar dari gerbang.


Lalu ia masuk kedalam mobil dengan wajah yang berubah sekali 180 derajat.


"Ah kenapa gue baper kemarin, toh cuma sekedar baik doang gak lebih. Ah." Kesalnya.


***


Perbincangan mereka selama perjalanan ternyata berfaedah juga ya bikin lucu. Diteriknya matahari yang membuat itu semua seakan lebih santai. awan kali ini begitu indah dan bersahaja sekali ya. "Pegangan dong."


"Gak lo pikir kita apa? Tunggu kita halal aja ya."


"Emang lo mau gue jadi suami lo hah? Gue kasar tau."


"Kasar tapi baik, dari pada pura-pura baik kan?"


Diam! Ya Rival kayak baper gitu wkwk. "Mampir bentar ya gue pengen beli air gitu, haus banget soalnya." Franda hanya mengangguk saja.


Melipir sebentar ia pun turun dari mobil membeli ke supermarket yang ada diseberang, Rival membuka pintu supermarket yang ada disana mengambil minuman dingin karna pas banget tenggorokan yang kering,. Lalu membayar ke kasir ia sudah sering sih beli dipinggiran gitu tapi ya gak masalah sama sekali.


"Nih buat lo."


"Bisa buka gak?" Lalu Rival mengambil paksa dan membukakannya.


"Gini aja gak bisa. Payah lo."


"Makasih."


"Huh segernya ya... Entar dibayar tuh minuman."


"Berapa harganya?" Dengan polosnya seperti itu,


"5000 aja kok gak mahal dan karna gue yang beliin maka lo bayar dua kali lipat."


"Ya udah besok." Dan Franda pasrahnya menjawab seperti itu.


"Hahaha becanda kali serius amat."


"Amat gak serius juga sih." Lanjut Rival kembali yang geli sendiri dengan apa yang ia ucapkan itu.


^^^Karna ku selow,^^^


^^^.^^^


^^^sungguh selow,^^^


^^^sangat selow,^^^


^^^tetap selow,^^^


^^^santai, santai jodoh gak akan kemana,^^^


Rival memberikan ke pengamen yang mengamen disamping mobilnya, biasanya setiap lampu merah pasti ada saja yang menghibur dengan lagu-lagu yang hitz.


"Ah, kok tiba - tiba aja sakit ya perut gue?"


"Ya udah kalau gitu aku aja deh yang nyetir deh ya."


"Emang lo bisa nyetir?"


Sontak Franda menggelengkan kepalanya dengan begitu polosnya. "Hahaha ya udah gue gak kenapa-napa kok, gue anterin lo balik aja kali ya."


"Gak usah balik sendiri aja, kamu langsung balik trus bikin teh hangat atau mau minum obat?"

__ADS_1


"Gak papa kok, gak papa perhatian banget sih." Ia hanya bisa tersenyum tipis.


...•••...


Franda


"Gimana udah gak sakit kan perutnya."


^^^Rival^^^


^^^"Udah mendingan, kamu lagi apa?"^^^


Franda


"Santai sambil liat bintang diatas."


^^^Rival^^^


^^^"Gue kira ada apa? soalnya gue baru tau bintang ada diatas gue kira ada di mata lo soalnya ngeliat tiap hari."^^^


Franda


"Apa sih genit gitu."


^^^Rival^^^


^^^"Ya kali gue genit, tapi sayang kan?"^^^


Franda


"Ya kali wkwk."


^^^Rival^^^


^^^"Kalau tau gue yang sebenarnya gue itu tulus dan apa adanya gak ada kata gak serius karna lo liat dari apa yang lo liat buka yang lo ketahui sebenarnya."^^^


Franda


"Iya, gue bercanda. Percaya kok percaya."


^^^Rival^^^


Franda


Love.


***


...Dilema akan situasi, situasi membuat rasa dan semoga tidak ada yang sakit hati...


Sudah jam 7 lewat tidak ada tanda-tanda Rival menjemput Franda, sedangkan ia sudah siap dari tadi. "Mah, kayaknya Franda berangkat duluan kali ya."


"Ya sudah, hati-hati ya." Sahutnya yang memegangi puncak kepala Franda lalu menciumnya. Sedangkan papahnya Franda sudah siap untuk mengantarkan ke sekolah.


"Pakai dulu helmnya." Dengan kekuatan super motor butut pun mengendara dengan cepat dan kencang, Franda memeluk papahnya dengan erat sekali karna rambut yang sudah terbang kemana-mana.


"Pegangan yang erat fran papah udah kayak superman nih hahaha." Angin yang terdengar dari kanan dan kiri karna saking kencangnya.


"Hah? gak kedengeran pah hahaha." Teriak Franda yang ketutupan helm. Apalagi macet yang melalang buana setiap hari kalau sudah saatnya berangkat sekolah. Ia terus saja yakin kalau gak telat sama sekali masuk ke sekolah.


Astaga!


Lampu merah. Untungnya motornya ada didepan garis dan siap untuk meluncur.


Dan tepat sekali entah itu disengaja atau apa pak satpam sudah hampir menutup pintu gerbang sekolah. Franda langsung turun dan membuka helm, memberikan ke papah. "Pah Franda masuk dulu ya, assalamualaikum papah hati-hati ya. Pak tungguin saya." Franda tidak sempat lagi berbicara lebih santai ia lebih tergesa-gesa untuk bisa masuk ke mata pelajaran pertama.


Ia berlari menuju ke kelas tanpa panjang lebar, semua siswa dan siswi tidak ada lagi diluaran kelas ya pasti sudah bel berbunyi 8 detik ketika ia berpamitan tadi.


Huh untungnya kelas masih ramai dengan obrolan anak remaja biasanya. Mereka terheran dengan penampilan Franda yang lebih kucel rambut yang sudah gak rapi lagi, bahkan keringat yang sudah kemana-mana.


"Lo kok baru datang untung aja gak telah ibu Rahma lo tau kan fran."


Ia mengatur nafasnya lebih stabil, melihat ada air minum disamping tas Cerry tanpa basa basi ia mengambil langsung dan meneguk satu kali tegukan. "Huh. Makasih ya cer sorry gue minum sekarang gue haus bener." Cerry hanya geleng-geleng dengan sikap Franda.


Suara langkah kaki terdengar dari dalam pasti itu ibu Rahma. "Lo kenapa bisa telat?"


"Gue nungguin Rival jemput tapi dia gak jemput-jemput makanya gue telat gini." Bicara soal Rival, sorot mata Franda melihat bangku Rival tampak kosong tampaknya anak itu tidak masuk ke sekolah pantesan aja. Tapi ia tidak kasih kabar kalau gak masuk, kan bisa datang lebih awal. - pikirnya.


"Tadi Albert bawa surat, gue kira surat apaan eh ternyata surat Rival sakit."


"What sakit apa?"

__ADS_1


"Demam sama sakit perut." Bisik Cerry, Dan keburu bu Rahma datang obrolan mereka terhenti.


Pelajaran pun siap untuk dimulai, semua sibuk mengeluarkan peralatan belajar ditambah pula bu Rahma lagi yang suer killer beres deh kali ini.


...•••...


Art rumah Rival sudah menyiapkan makanan dan minuman beserta obat yang ada diatas meja. Rival terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya agar lebih hangat. Biasanya kalau jam seperti ini langsung keluyuran atau gak akhir-akhir ini bareng Franda. "Den dimakan dulu makanannya, den kan belum minum obat kan?"


"Hm, bentar lagi." Ia menutup tubuhnya kembali dan merubah posisinya kearah kanan menghadap kearah jendela. Art itu hanya mengikuti kemauan Rival ia pun permisi untuk keluar dari kamar, dan menutup sebagian pintu kamar Rival.


Ia pun melanjutkan pekerjaan rumahnya,. Rumah memang tampak sepi kalau siang seperti ini biasanya Tiffany dan Roy tidak langsung pulang ke rumah karna mereka memiliki kesibukan masing-masing. Cuaca yang begitu cerah membuat bunga-bunga yang ada dipinggiran kolam terlihat lebih subur apalagi sinar matahari yang tepat sekali memancar kearahnya.


Bima, Rudy, Albert dan Franda akhirnya sampai juga di rumah Rival tampak sepi namun pintu rumah terbuka sedikit. Sebagai anggota keluarga yaitu sepupu Rival, Albert dengan santainya masuk saja melihat kearah kanan dan kiri apakah ada orang. Terlihat dari ujung sana art yang sedang menyapu pinggiran kolam ikan.


"Bi, Rivalnya ada?"


"Ada di kamar lagi istirahat." Sahutnya.


Albert mengangguk dan mengajak semua yang menjenguk Rival untuk ikut masuk ke kamar Rival saja. Ia melihat Rival sedang terbaring dan sepertinya sedang tidur. "Assalamualaikum. Val gue bareng temen-temen kesini buat jengukin lo." Suara yang agak berat membuat Albert khas sekali.


Rival hanya diam saja.


"Ya udah deh mungkin dia lagi tidur kita keluar aja kali." Sahut Franda yang tidak mau mengganggu Rival yang tidur mengarah ke jendela.


"Masa sih?" Celetuk Bima yang masih belum yakin.


"Ya udah mending kita diluar aja nunggu kak Roy datang." Franda menjawab kembali.


"Tunggu!"


"Kok kalian malah pergi?" Rengek Rival yang seakan langsung sembuh.


"Hahaha kenapa lo val?" Tepuk Albert begitu saja.


"Kagak gue kesel aja sama kalian kok malah keluar, sahabat malah sakit malah ditinggalin sih. Lo juga pacar apaan lo? Udah keberapa kalinya gue lo giniin gue sakit bukannya dikasih perhatian malah sok polos. Udah duduk sini." Tarik Rival yang menyuruh Franda untuk duduk. Memberikan kode untuk makan karna makanan yang belum ia sentuh sama sekali.


"Suapin gue tangan gue gemeter pegangin sendok."


"Ehem, kita keluar aja yuk udah ganggu pipi mimi nih hahaha."


"Bagus deh, eh pipi mimi lo bilang. Bukan pipi mimi tapi pipi lo gue mau tabok. Udah keluar sana."


"Hahaha sabar val naik daraha juga lama-lama lo." Mereka pun membiarkan Rival untuk berdua dengan Franda. Dengan canggungnya Franda memberikan suapan pertama ke Rival. Biasa cowok seperti tipe Rival begitu gak bisa diajak santai pasti bawaannya ribut aja, emosian emang anaknya.


"Kenapa kok gak kasih kabar, tadi aku ngebut tau sama papah ke sekolah hampir aja telat."


"Gue udah lemas banget, sorry tapi gak dimarahi bu Rahma kan?" Tanya Rival dengan singkat.


"Enggak kok."


"Bagus deh, kali aja. Entar gue pengen ketemu sama bokap lo mau minta maaf soalnya udah bikin dia kebut-kebutan di jalan tapi gak papa kan?"


"Enggak papa kok alhamdulillah."


"Jalannya gak papa kan?"


"Mak---maksudnya?"


"Udah lupain kerecehan gue kali ini." Tepis Rival.


"Minum dulu biar gak keselek." Dengan lembutnya ia memperlakukan Rival, memperlakukan seperti orang yang udah lama ia kenal. Rival menatap kedua bola mata Franda yang indah sekali kalau dilihat dari dekat, diam-diam jantung yang berdebar kencang.


"Fran."


"Iya?" Sahut Franda yang menatap Rival.


"Lo gak akan ada tinggalin gue kan? Lo sayangkan sama gue?" Pertanyaan itu tiba-tiba aja melayang ke Franda. Ia harus jawab apa sedangkan ia menerima Rival karna ingin mendekatkan Rival kembali ke Rubi.


"Kok lo diem aja? Lo serius jadi pacar gue kan?"


"Udah belum minum obatnya ini yang mana aja." Franda tidak mau menjawab dan mengalihkan pembicaraan kearah lain.


"Kok gak dijawab? Gue udah mulai berubah tau gak. Tapi ternyata ja---"


"Gue care sama lo val, maksud aku.. aku perduli sama kamu. Semua akan indah pada waktunya ya. Udah kamu pikirin kesehatan kamu aja, minum obat trus istirahat ya. Jangan sakit lagi karna sehat itu mahal dan segalanya."


"Dan lo segalanya." Lirih Rival.


Namun Franda hanya tersenyum simpul saja. Ia takut membuat Rival kecewa dan ia juga takut membuat semua diluar ekspetasinya.


Bimbang... Malah ia juga takut terjebak diantara rasa dan keputusan.

__ADS_1


__ADS_2