
Albert dan Rudy sengaja menyekap Franda yang sedang berjalan dengan Cerry sontak mereka berdua terkejut sekali dan panik, awalnya Cerry ingin teriak sekenceng-kencengnya karna takut ads hal yang tidak diinginkan tapi Bima berhasil menutup mulut Cerry dan membawanya kepinggiran sekolah. "Lo diem, gue Bima. Lo percaya kan?" Shock ia masih terkejut sekali apa coba ya maksud mereka yang tiba-tiba bersikap seperti itu.
"Hah seriusan? Maksudnya?" Cerry membenahi helaian rambutnya kebelakang daun telinga ia masih tidak mengerti sama sekali maksud Bima.
"Rival mau nembak Franda makanya lo sebagai sahabatnya Franda mending lo bantuin kita lo sekarang di tim Rival oke."
"Nembak?"
"Udah deh lo gak usah banyak bacot mending lo diem aja dan kita bakalan lihat layar bioskop yang gratis."
Diruang yang gelap dan kotor Rival dan Franda didorong oleh orang yang tidak dikenal.
Nomor tidak dikenal
"Please Rival lagi butuh perhatian dan dia sakit."
Pesan yang menjadi teror terus menerus yang membuat Franda bingung dan semakin penasaran dengan sosok itu siapa sih sebenarnya?
"Woy apa salah gue, gue gak ada musuh ya tolong bantuin gue. Woy." Keringat dingin begitu saja keluar dari bagian area wajah.
"Loh kok ada lo disini? Lo jebak gue?" Ucap Rival yang terkejut sekali ada Franda secara tiba-tiba.
"Gue yang harusnya nanya sama lo val, kenapa ada lo disini? Maksud lo apa?" Franda membuka pintu gudang dengan paksa tapi tidak bisa, tadi sebelum itu ada yang mendorong untuk masuk kedalam entah atas dasar apaan.
"Ih gue di--" Ia berfikir kembali ketika waktu tadi pagi hal yang janggal antara Rudy, Bima dan Albert yang seakan menyembunyikan dan merencanakan sesuatu oh jadi ini maksud kita. Rival mengambil ponselnya dan langsung ngechat Albert.
Rival
"Gue tau maksud lo! Lo jebak gue sama Franda kan?"
^^^Albert^^^
^^^"Udah saat lo ungkapin rasa suka lo sama Franda karna ini adalah kesempatan lo berdua buat saling ngomong."^^^
"Eh kok lo malah main enak-enakkan mainin hp sih bukannya bukain pintu." Walaupun ia sudah mengenal Rival tapi ia takut Rival akan melakukan hal yang aneh. Semakin mendekat dan mendekat, "Mau apa lo?" Celetuk Franda.
Ia hanya diam dan mendekat kearah Franda. "Kenapa lo takut?"
"Lo gak jahat val, lo bukan orang jahat dan gue yakin itu." Kakinya mundur sedikit demi sedikit.
"Aw."
"Lo kenapa?" Ia mengambil langsung tangan Franda, melihat setetes darah yang masih segar.
"Siapa sih yang taruh pecahan kaca. Lo gak papa kan?"
"Duh kenapa dia gitu, kan gue jadi deg-deggan gitu." Ucap Franda dalam hati.
"Kenapa lo?" Tanyanya yang melihat Franda hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Rival sama sekali.
"Lo gak sakit kan?" Pertanyaan itu sukar untuk dilontarkan ia takut kalau Rival menanyakan balik dengan ketus.
"Iya gue sakit!. Emang lo perduli?"
Kedua mata Franda terbelalak dan benar ucapan itu dari sms yang tidak dikenal. Ia mendekatkan diri lagi dan melihat dari atas sampai kaki Rival. Ia baik-baik saja tidak terlihat dari fisik. Lantas apa yang sakit?
"Gue perduli kok, emang sakit apa?"
"Kalau lo perduli gak mungkin lo ke rumah gue tanpa kasih tau gue dulu sebelumnya hah? Itu yang dibilang perduli hah?"
Diam!
"Ya udah." Sahut Franda ia tidak mau lagi berdebat yang penting sekarang ia harus keluar dari gudang yang pengap itu.
"Tunggu!!" Tarik Rival sebelum Franda melangkah kedepan pintu.
"Gue gak suka lo deket-deket sama kak Roy!"
"Hah?"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ya karna gue gak suka aja." Rival membalikkan badannya dan melepaskan lengan Franda, karna ia tau sekali kalau Franda tidak akan pernah mengerti apa yang ia ucapkan atau ungkapkan.
"Cemburu?"
"Kalau iya kenapa?"
"Ya..... kan kita bukan pacaran. Jadi ngapain cemburu."
"Oh gitu, ya udah mulai sekarang lo pacar gue. Gak usah lagi sok ganjen sama kak Roy atau Chiko, norak tau gak."
"Hah? Enggak ah, masa pacaran maksa gak sopan juga ngomongnya, masa gitu."
"Oh jadi lo mau gue romantis kayak drama kebanyakan?"
Rival membalikkan badannya kembali dan mengambil kedua tangan Franda yang menjuntai bebas dibawah dengan tarikan senyum tipis "Franda, gue pengen lo jadi pacar gue. Gue pengen bahagiain lo dan lo juga ngerasa bahagia karna gue. Gue bukan cowok yang kebanyakan seperti orang pikir gue cuma pengen cinta kita menjadi cinta yang terbaik. Gue selalu bermimpi buat jadi sosok yang baik buat lo. Jadi lo mau kan?" Ini kali pertama Franda mendengar Rival berucap semanis dan selembut itu.
Deg,... Jantung yang berdebar lebih cepat, kedua mata Franda tidak bisa berkedip sama sekali. Kali ini tidak mimpi kan? Ini Rival cowok yang bikin onar bisa bikin semua berubah. "Eeee, gimana ya."
"Hahahaha muka lo tuh merah, hahaha ngakak cuy." Tidak hentinya Rival tertawa terbahak-bahak, melepaskan kedua tangan Franda.
"Mana mungkin gue suka sama lo, dan mimpi lo wkwkw.k" Rival mengacak-ngacak puncak kepala Franda asal.
"Gak akan pernah cuy, wkwkw udah cupu pede banget lo mis-----" Seakan ditampar setampar-tamparnya. Hanya diam dan diam saja.
Aura Franda sudah berubah begitu saja. "Iya, gue emang cupu gak pernah pantas untuk lo val." Sambil mengangguk dan menyapu air mata yang jatuh. Ia merasa direndahkan oleh Rival, kalau masalah cupu okelah ia bisa menerima tapi kalau misalnya soal status materi Franda sudah tidak menerima hal itu.
Diluar sana Rudy, Albert, Bima dan Cerry pun hanya melihat gerak-gerik dari luar mereka tidak mendengar sama sekali percakapan didalam karna terhalang pohon besar dan lumayan jauh juga. "Kira-kira mereka pacaran atau enggak ya." Albert masih belum yakin dengan apa yang ia lihat.
"Udah deh kita tunggu aja."
***
Aura Franda sudah berubah begitu saja. "Iya, gue emang cupu gak pernah pantas untuk lo val." Sambil mengangguk dan menyapu air mata yang jatuh. Ia merasa direndahkan oleh Rival, kalau masalah cupu okelah ia bisa menerima tapi kalau misalnya soal status materi Franda sudah tidak menerima hal itu.
Diluar sana Rudy, Albert, Bima dan Cerry pun hanya melihat gerak-gerik dari luar mereka tidak mendengar sama sekali percakapan didalam karna terhalang pohon besar dan lumayan jauh juga. "Kira-kira mereka pacaran atau enggak ya." Albert masih belum yakin dengan apa yang ia lihat.
"Udah deh kita tunggu aja."
***
"Iya kak?"
"Kalau gitu gue duluan ya fran." Tidak banyak basa basi Cerry begitu saja meninggalkan Franda ketika Roy ada. Kedua mata Franda terbelalak melihat sikap Cerry bersikap seperti itu.
"Dia kenapa? Dia marah sama gue kok tiba-tiba pergi gitu aja?"
"Gak tau juga kak, kenapa kak?"
"Oh jadi gini gue kan dapetin kado dari lo dari tiba-tiba aja Rival marah sama gue, lo tau gak dia kenapa?" Roy mengalihkan pembicaraan karna itu tidak terlalu penting.
"Marah? Kok marah?"
"Gue kurang tau, atau dia cemburu ya?"
Mendengar kata cemburu Franda hanya diam dan tidak memberi respon karna menurutnya itu tidak penting sama sekali selain pembahasaan yang lain. "Gimana kak suka gak sama bajunya?"
"Suka, udah gue pakai buat sholat, makasih ya fran bermanfaat sekali dan terima kasih buat suratnya. Eh kok gue naruh dimana ya?" Seketika itu pula Roy bingung dan lupa menaruh dimana surat tersebut.
Franda melirik kearah Cerry yang memerhatikannya dari kejauhan ternyata ia diam-diam memerhatikan Franda dan Roy yang sedang mengobrol. "Kak, boleh minta satu pertanyaan gak?"
"Hah? Maksudnya gimana tuh?"
"Kakak pacaran ya sama kak Manda?"
"Hahaha enggak kok, kata siapa?"
"Cemburu?" Lanjutnya dengan menatap kedua bola mata Franda yang mengalihkan kearah lain.
"Duh kenapa bisa sedekat ini sih kan gue jadi gugup diliatin kak Roy." Pikir Franda. Jantungnya berpacu kencang dan membuatnya tak karuan berada di dekat Roy sensasinya itu beda.
"Lo cemburu?"
__ADS_1
Hah? Sumpah pertanyaan itu!!
"Kok kalian malah ngobrol disini? Eh, kamu kok ada disini?" Rangkul Rival yang mendadak membutakan Roy dan Franda, cowok aneh dan bikin mereka merasa aneh.
Rasa gugup itu terus ada, ditambah rasa kesal seakan Rival melupakan semua yang terjadi menyakiti hati Franda. "Kalian pa---"
"Iya kak kita baru pacaran jadi ya lagi hangat-hangatnya gitu apalagi ditambah juga ditembaknya di gudang hahahaha. Iya kan sayang?"
Lantas wajah Franda memerah dan bingung juga, kenapa Rival selalu bikin onar saja.
"Oh, Selamat ya pokoknya langgeng." Padahal didalam hati Roy sudah bergejolak dan bersemangat sekali mendapat respon baik tentang hadiah itu tapi ternyata mereka sudah pacaran ya sudah lah mungkin sudah jalannya. Pupuslah sudah untuk mendekati Franda.
Roy pun perlahan menjauh dan meninggalkan Rival dan Franda berdua. Langkahnya kaku, mendengarnya saja sudah sakit tapi rela merelakan untuk adik sendiri itu lebih baik untuk mencapai kebahagiaannya dari pada dirinya sendiri pikirnya seperti itu.
Setelah pergi Franda menurunkan tangan Rival yang singgah di bahunya ia melotot sebentar, "Lepasin kita bukan apa-apa."
"Lo lupa kalau kita udah pacaran?"
"Lupain aja ya terjadi." Senyum Franda yang tipis tapi bermakna sekali. Tapi namanya juga Rival yang tidak punya hati, ia berusaha buat melakukan apapun yang ia mau.
"Udah ah gak usah pakai drama gue bukan pemain ya baik." Sahut Rival seperti itu.
Mereka malah melihat Rival dan Franda yang saling tarik menarik satu sama lain, bahkan mereka heran dengan sikap mereka berdua. Apalagi kalau mendengar kabar kalau mereka sudah resmi pacaran menurut Rival.
...•••...
"Lo lagi nungguin siapa val?" Sebenarnya Albert sudah yakin sekali kalau mereka berdua sudah jadian tapi ia ingin menanyakannya kembali.
"Tuh mainan baru gue."
"Siapa?" Tanya Rudy dengan serius. Mainan Baru?
"Ya udah ya guys kita balik dulu, bye doain gue..." Rival melambaikan tangan dan menggandeng tangan Franda begitu saja tanpa berharap ia mendapat respon yang baik, sama sekali tidak perduli.
Ia hanya diam dan diam saja, pesan itu lagi. Bosan sudah kalau ada pesan yang masuk.
Nomor tidak dikenal
"Rival butuh lo, tolong jadi sosok yang terbaik untuk dia."
Ia melihat ke kanan dan ke kiri, apakah ada yang sedang memata-matai dirinya padahal tidak ada sama sekali. "Kenapa?"
"Val, tangan!"
"Oke." Sahutnya.
"Eh kalian, bareng kita aja kak." Ajak Rival ke Roy yang melintas dihadapannya.
Ia menatap kearah Franda sebentar, kedua sisi yang saling tatap satu sama lain, bahkan yang membuat mereka memalingkan pandangan itu.
Kalau ditanya sakit, ya sakit. Kalau ditanya soal perasaan ya ini soal perasaan. Semua gak bisa diganggu gugat buat mendapatkan apa yang diinginkan, walau tidak sesuai dengan ekspetasinya.
"Gue duluan ya, semoga langgeng." Tepukan itu singkat namun berarti untuk Roy, dan sakit pula untuk Franda yang dibohongi oleh Rival seenaknya sekali memutuskan kehendaknya.
"Oh ya udah gue duluan ya kak."
"Oh siap pasti. Ya udah..." Dikala seperti itu saja Roy masih berharap Franda untuk dimiliki bahkan masih ada kata harap.
Kenapa disaat gue seperti ini, gue malah ngerasa sakit. Malah masih berharap orang yang sudah punya perasaan masing-masing dihati yang baru. Seharusnya gue bersyukur karna adik gue sendiri bahagia dengan kebahagiaan yang baru bukan seperti ini. Senyum gue bisa ditipu tapi sayang perasaan gue enggak. - Roy.
***
"Makasih ya udah anterin gue."
"Eh kok gue lo? Aku kamu mulai detik ini juga." Ia hanya diam saja dan tidak menjawab sama sekali wajahnya begitu datar.
"Aku balik dulu ya, nanti malam jangan lupa stay by hpnya.."
"Iya."
Mobil Rival perlahan meninggalkan rumah Franda ekspresi itu berubah menjadi 180 derajat.
__ADS_1
Akhirnya bisa jadian juga sama Franda, tidak hentinya ia terus melekukkan senyuman, merapikan rambutnya keatas tepatnya jambul tinggi andalannya, lagu yang mendukung. "Ah gue seneng banget, sorry kak kalau soal perasaan gue gak bisa ngalah karna ini soal masa depan bukan karna lo kakak gue dan gue harus ngalah."