
Sesuai rencana, Zein pun mengantarkan Vita ke Batam. Seluruh keluarga tidak mengizinkan Vita pergi sendiri. Mereka masih sangat khawatir dengan keselamatan wanita itu. Mau bagaimanapun kewaspadaan sangat diperlukan di sini. Zein dan seluruh keluarga tak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Vita.
"Kak Zi nggak marah Abang kawal Vita gini?" tanya Vita, ketika pesawat yang akan membawa mereka ke tempat tujuan mulai mengudara.
"Nggak, ngapain marah. Lagian kita kan nggak sendiri. Lihat dua ajudanmu itu. Matanya tak berkedip, menatapku terus, seperti tak percaya padaku," jawab Zein asal.
Sedangkan Vita hanya tersenyum sekilas mendengar emosi tak beralasan seorang Zein.
"Gimana kita mau lihat mereka berkedip, Bang. Kan mereka pakek kaca mata hitam. Aneh Abang ini," jawab Vita, terkekeh. Seperti mendapat sedikit hiburan.
"Iya juga sih." Zein melirik dua adujan yang terlihat selalu tegang di matanya itu.
"Abang kok bisa di Semarang? Ada masalah apa, Bang?" tanya Vita penasaran.
"Aku ada kerjaan dikit. Terus Juan kemarin telpon kalo aku mau ke Batam suruh barengin kamu sekalian. Udah gitu aja, nggak ada apa-apa sih," jawab Zein, sedikit berbohong.
"Ohhh, kirain ke Semarang emang khusus buat Vita, udah Geer duluan ini," canda Vita.
"Enak aja, jangan kepedean. Kamu sekarang udah mantan buatku, nggak akan ada lagi alur cerita untuk kira berdua. End Vit, end," jawab Zein, sembari tersenyum senang.
"Hilih, mantan konon. Mantan apaan? Emang kita pernah jadian kapan? Ngarang aja anda," balas Vita, enggan dipermalukan.
"Iya juga ya, hubungan kita aneh ya, Vit. Tapi aku tetep berterima kasih, pernah jadi seseorang yang berarti di hati kamu. Walau sebentar," ucap Zein, sedikit manja.
"Tapi kita nggak jodoh, Bang. Vita pun terima kasih banyak, Abang pernah jagain Vita. Pernah baik sama Vita. Maaf kao Vita pernah nyakitin Abang. Pernah bikin Abang patah hati," balas Vita lagi.
"Masa lalu, Vit. Baiknya memang nggak kita kenang. Duh, nggak nyangka, aku pernah terlibat denganmu dan kakakmu. Aku gila ya, Vit?"
__ADS_1
"Gila sih enggak, Bang. Cinta itu misterius, Bang. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Cinta kita dewasa, Bang. Jadi kita harus pandai menyikapinya. Bohong kalo Vita bilang seratus persen bisa nglupain abang,apa lagi Luis. Karena bagiku, kaian adalah laki-laki yang memang pernah diciptakan untukku, walaupun hanya singgah. Bener kan?" Vita menatap Zein yang kala itu duduk santai di sampingnya.
"Kamu benar, Vit. Kita memang harus dewasa menyikapi cinta. Sebab cinta itu menyesatkan kalau kita nggak pandai-pandai memilih. Apa lagi kalau cuma mau menuruti ingin. Bisa rusak semuanya. Untung dulu aku nggak terlambat. Andai Zi jadi pergi jauh, bawa anak-anakku, mungkin aku bakalan masuk rumah sakit jiwa kali Vit." Zein terkekeh.
"Lagian, jelalatan. Siapa suruh!" Vita mengumpat kesal. Sedangkan Zein hanya tersenyum.
Umpatan Vita seperti pujian baginya. Entahlah, Zein suka saja. Perjalanan cintanya ternyata sangat unik. Namun, Zein merasa sangat beruntung. Pelabuhan cinta terakhir untuknya, ternyata wanita yang begitu mengerti akan dirinya.
Namun, terlepas dari hubungan yang pernah terjalin antara dirinya dan Vita, Zein tetap menghargai perasaan yang ada di antara mereka saat ini. Zein sama sekali tidak berniat membuat wanita yang pernah ada di dalam hatinya itu sakit. Bahkan sekarang, Zein dengan suka rela mengantarkan wanita itu kepada pujaan hatinya.
Zein bangga dengan itu. Bangga dengan kelurudan hatinya saat ini. Sebab, kedewasaan dan ketulusan hatinya membawa dirinya dekat dengan seseorang yang selama ini sangat ia takut lukai hatinya. Ia takut jiwa seseorang itu terguncang oleh ego yang bersemayam di dalam hatinya.
Dialah Berliana, putri kandungnya bersama Stella, mantan istri pertamanya.
Zein tersenyum bahagia mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan bertemu dengan gadisnya itu. Entahlah, antara siap dan tidak, Zein sangat merindukan bocah cantik itu.
Di lain pihak, Nadia dan Gani sedang berbahagia. Mereka dijadwalkan fitting baju. Mengingat hari pernikahan mereka semakin dekat.
"Kamu cantik sekali, Yang," puji Gani.
"Benarkah? Aku malu. Dadaku rata, mesti diakalin biar kelihatan berisi," jawab Nadia malu-malu.
"Tenang aja, nanti aku kasih rahasia biar gede," canda Gani.
"Caranya?" Sepertinya Nadia termakan oleh pancingan Gani.
"Mau dicobain sekarang?" pancing Gani lagi.
__ADS_1
"Boleh, siapa tahu bisa gede. Terus nggak perlu pakek busa lagi," jawab Nadia lugu. Sedangkan Gani tersenyum menahan tawa.
"Iiihhh, kenapa senyumnya mesum begitu?" tanya Nadia, sedikit kesal.
"Nggap pa-pa, jadi gimana? jadi nggak?" ledek Gani.
"Jadi, gimana caranya?" Nadia menatap Gani, serius.
"Yakin? Tapi dosa kalo sekarang," ucap Gani, berbisik mesra tepat di telinga calon istrinya ini.
Spontan Nadia pun paham maksud kekasihnya ini. Gani sungguh nakal.
"Nakal! Ogah!" ucap Nadia kesal.
"Nggak pa-pa, caraku ini ampuh. Percayalah!" Gani terkekeh.
"Dasar mesum! nggak mau." Nadia beringsut menjauh.
"Sekarang boleh nolak, tapi kalo udah ijab, jangan harap kamu bisa lepas dariku!" ancam Gani.
"Dasar!" Nadia melirik kesal. Sedangkan Gani malah tertawa senang.
Kebahagiaan Gani dan Nadia ternyata tak liput dari perhatian Mariska. Wanita ini begitu geram melihat kebahagiaan mereka berdua. Sayangnya seseorang yang ia percaya bisa menghancurkan hubungan Gani dan Nadia hanya menipunya.
Selepas meniduri nya, pria itu pergi entah ke mana. Tak menjalankan perjanjian mereka. Tentu saja, keadaan ini membuat seorang Mariska murka dan berjanji akan menggagalkan pernikahan Gani dan Nadia.
Bersambung...
__ADS_1