Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 6


__ADS_3

"Dari mana saja kalian berdua? Kau ini istri macam apa Pammy?! Meninggalkan suamimu hanya karna anak yang bukan anak kandungmu! Dan kau Morgan? Untuk apa lagi kau memohon mohon pada anak tidak tahu diri itu? Dia lebih memilih keluarga baru ketimbang kita yang sudah memberikannya tempat tinggal, sudah memberikan dia makan. Sifat macam apa seperti itu? Sangat tidak tahu malu!" Decak Marcel dengan berbagai umpatan yang menyerang istri dan anaknya.


Namun, seketika ..


Pak!


Pammy yang sudah ada di depan Marcel menampar suaminya itu. Morgan duduk di kursi makan di dekat mereka dan sudah memijit mijit tulang hidungnya. Dia tidak tahu harus seperti apa pada ayahnya yang keras kepala itu.


Pammy menatap geram bercampur kecewa pada suaminya. Sementara Marcel dengan memegang wajahnya melotot ke arah istrinya.


"Ada apa denganmu? Mengapa kau menamparku? Sekesal kesal nya diriku, aku tidak pernah menampar dirimu! Bahkan memukul mu! Kau sudah gila ya?!" Decak Marcel masih tak senang dan tidak merenungi kesalahan yang sebenarnya tidak ia sadari selama ini.


"Diam kau! Kalau sampai terjadi apa apa pada Gracia, entah apapun termasuk jika emosi dan jiwanya terganggu, aku orang pertama yang akan menuntutmu! Keras kepala! Tidak bisa membedakan mana orang lain mana keponakan sendiri. Bahkan sudah dianggap anak perempuan. Kau lupa, aku tidak bisa hamil lagi, karna kau yang menyebabkan daerah keintimanku rusak, kau mabuk dan menyerangku dengan sangat keterlaluan! Aku menerima dan apa kau bilang? Kita bisa menganggap Gracia sebagai anak perempuan kita. Tapi apa yang kau lakukan dengannya? Bahkan kau seperti tidak tahu dia siapa!! Kau keterlaluan! Aku tidak peduli kau suamiku! Aku akan menyewa keponakan Viena untuk menjebloskan mu ke penjara karna kau yang menyebabkan Gracia terserempet mobil! Suami tidak tahu diri!" Decak Pammy mengeluarkan semua rasa kecewa dan sedih yang ada di hatinya. Dia lalu pergi menuju kamarnya.


Dia tidak pernah merasa sekecewa ini dengan suaminya. Tidak pernah semarah dan sekesal ini pada Marcel. Dia sama seperti Gracia, selalu mencintai Marcel dengan setulus hati tanpa mengharapkan apapun. Sejak dulu, sejak masa sekolah. Sudah beberapa kali Marcel menyelingkuhinya tapi tak sedikitpun ada rencana Pammy meninggalkannya. Dan kejadian malam itu, Pammy benar benar tidak menyangka hanya 1 malam Marcel menganiyayanya sehingga membuat perubahan pada kehidupannya. Dokter mengatakan dia tidak bisa lagi hamil karna kerusakan fatal pada daerah keintimannya. Pammy memaafkannya dan sama sekali tidak mau membahasnya lagi. Apalagi kata kata indah yang Marcel katakan untuk menyemangatinya.


Dan, Hanya kali ini dia meminta agar suaminya mendengarkannya, agar suaminya meluluhkan hatinya karna kata katanya. Biarkan semua orang tidak ia dengarkan, tapi biarkan dirinya, sebagai istrinya yang selalu ada untuknya, sekali ini saja tolong didengarkan. Namun, kenyataannya dia lebih mencintai keegoan dalam dirinya ketimbang istrinya.


Marcel terpaku di sana. Jantungnya berdegup kuat. Gracia terserempet mobil setelah keluar dari rumahnya. Apa karna ribut ribut tadi? Dia lalu menatap Morgan yang sudah menatapnya tajam. Morgan berdiri. Dia baru saja mengetahui tentang masa kelam ibunya. Ternyata ini alasannya, mengapa dirinya tidak bisa memiliki adik yang pernah ia tanyakan pada ibunya. Ternyata ayah yang juga selalu ia hormati yang melakukan perlakuan keji pada ibunya.


"Kau benar benar bukan seorang ayah, dad! MENGAPA KAU MELAKUKAN MOM SEPERTI ITU DAD?! Kali ini aku kecewa terhadapmu. Sebisa mungkin, aku tidak mau membantahnya. Sebisa mungkin, aku tidak mau membuatnya sedih. Setiap kata kata yang keluar dari mulut nya adalah doa bagi ku! Aku berusaha menerimanya meskipun tidak sejalan. Dan juga karna apa? Dia adalah wanitamu, tapi nyatanya kau tidak bisa menghargai derajat seorang wanita! Aku kecewa dad! Terserah kau mau apa sekarang! Gracia sedang terbujur lemah di rumah sakit. Setelah kata kata hina mu keluar untuk nya, emosinya tidak stabil. Dia berjalan tidak melihat ada mobil yang akan melintas. Dia terserempet. Kakinya terlilir dan nampaknya dia tidak bisa dulu menari. Hem, kau puas kan? KAU PASTI PUAS MEMBUATNYA MENDERITA! DENDAM MU TERBALASKAN! SEMUA BERSEDIH DAN KAU SENANG!" Decak Morgan dengan semua rentetan yang hendak ia umpatkan pada ayahnya.


Entahlah bagaimana isi hati Morgan sekarang. Ayahnya sendiri yang dengan tega menganiyaya ibunya. Wanita yang melahirkan dirinya. Morgan sebenarnya menyesal mengetahui hal ini karna dia mungkin akan membenci ayahnya. Morgan memasuki kemarnya. Dia seperti hendak mengemas beberapa pakaiannya. Dia hendak menghindari dulu ayahnya agar tidak mengingat kata kata ibunya.


Sementara Marcel. Marcel masih terpaku di sana. Semua kekecewaan orang orang terhadapnya sudah terungkap. Kini dia hanya seperti pecundang yang tidak bisa melakukan apa apa. Dan malah kata kata yang sudah kaluar dari mulutnya berbalik semua kepadanya. Ya, dirinya sekarang sangat hina. Hanya karna kedengkian dan jati dirinya yang ia perhatahankan, dia mungkin bisa menghancurkan banyak keluarga. Dia tidak melakukan apa apa saja keluarganya bisa saling kecewa seperti ini.


Marcel akhirnya hendak menghampiri istrinya karna dia merasa harus lebih dulu meminta maaf pada istrinya, namun dia mendapat anak semata wayangnya menuruni tangga dan membawa koper kecil.


"Morgan? Kau mau kemana?" Tanya Marcek dengan nadanya yang kini melemah.


"Kemana pun toh kau tidak akan peduli padaku! Jangankan diriku, Gracia saja yang selalu kau sayang lebih dari padaku kau biarkan pergi. Bagaimana denganku? Sebaiknya kau minta maaf pada mom dan Gracia sebelum semuanya hancur terpecah belah!" Jawab Morgan acuh dan dia hendak menuju ke pintu utama, lalu ..


"Morgan? Mom ikut! Untuk apa mom disini jika aku mempunyai pria yang tidak mau mendengarkanku!" Tiba tiba Pammy juga keluar dengan koper kecilnya hendak pergi. Mereka tidak sama sekali janjian. Pammy memang sudah merasa inilah saatnya memperikan Marcel pelajaran hidup. Bagaimana dirinya sendiri tanpa orang orang yang selalu tulus padanya?!


"Pammy? Mengapa kau seperti ini? Jangan tinggalkan aku!" Kata Marcel frontal memegang pergelangan tangan istrinya.


"Lepas! Aku mau pergi! Aku sudah tidak tahan dengan prilakumu yang kekanak kanakan! Kita semua sudah dewasa, bahkan anakmu sudah juga harus mencari pasangan hidupnya! Tapi kau disini terus berkeras hati memikirkan masa lalu! Aku sudah tidak tahu lagi cara berpikirmu yang selalu ku bangga banggakan!" Decak Pammy mencoba menghempaskan pegangan tangan suaminya.


"Jangan pergi, aku mohon! Aku mencintai kalian, aku mencintai Revo, aku mencintai Gracia, bahkan aku juga mencintai Greta sebagai kakak iparku! Aku hanya termakan kebencian ketika Keluarga Prime sama sekali tidak bisa membantu kita. Aku hanya termakan iri dengki ketika Greta terus memuji keluarga Dion dan Viena. Aku benar benar telah jatuh kesana. Aku mohon Pammy, Morgan, maafkan dad! Aku akan menemui Gracia. Aku akan meminta maaf padanya dan merestui hubungan Gracia dan Dior, bahkan aku yang akan menjadi saksi pernikahan mereka. Ku mohon, beri aku kesempatan! Aku tidak mau sendiri lagi. Aku sudah tidak punya siapapun!"


Pammy dan Morgan benar benar tidak menyangka. Seorang Marcel yang selalu berbangga diri dan selalu puas dengan sedikit keberhasilan saja, sekarang ia bertekuk lutut di belakang istrinya. Morgan sampai melepaskan pegangan pada kopernya. Dia bersandar ke dinding. Sejenak dia berpikir, harus seperti ini dengan tersulut emosi dan tenaga yang cukup banyak untuk menghancurkan batu karang. Dia mengusap dahinya. Dia tidak boleh membiarkan ini. Dia menghampiri ayahnya pada akhirnya.


Pammy masih terpaku di sana dan menutup mulutnya. Akhirnya, suaminya berserah. Bukan pasrah. Bukan terpaksa. Tapi juga meminta maaf dan menyesal.


Morgan menghampiri ayahnya dan membuatbya berdiri. Dia lalu memeluk ayahnya.


"Maafkan aku dad telah membuatmu bertekuk lutut untukku! Tidak seharusnya kau ayahku, yang selalu kubanggakan! Maafkan aku!" Kata Morgan menahan air mata yang sudah membuatnya berkaca kaca.


Tak lama ia menarik dirinya dan menghadapkan ibunya dan juga ayahnya. Marcel lalu menarik Pammy ke dalam pelukannya. Marcel menangis di sana dan meminta maaf lagi pada istrinya. Pammy sudah kembali menangis karna baru kali ini Marcel benar benar merendahkan hati dan dirinya. Kini dia sangat yakin mempertahankan Marcel selama ini di hatinya.


...

__ADS_1


"Revo! Tenangkan dirimu! Marcel ke sini pasti mau menemui Gracia!" Kata Dion berusaha melepaskan cengkraman tangan Revo pada kerah baju Marcel.


"Tidak boleh! Orang ini tidak boleh bertemu anakku! Dia yang menyebabkan semua ini!" Decak Revo terus mencengkram keras kerah baju Marcel dan menatap tajam sepupunya itu.


"Re, Revo, aku .." Marcel berusaha berkata kata.


"Aku apa?! Sekarang aku tanya kepadamu, berapa harga untuk sebuah kerendahan hatimu. Sedikit saja! Berapa harganya maka aku akan membelinya asal anak ku bahagia! BERAPA?!!! KAU SUKA UANG KAN? BERAPA KATAKAN MARCEL!!!!" Kata Revo lagi sangat geram dan mendorong Marcel. Napasnya tersengal. Dia menolak pinggang dan memegang dahinya. Dia tidak habis pikir pada sepupunya ini.


Marcel terjatuh dan Morgan yang berada di belakangnya membantu ayahnya. Marcek hendak kembali bertekuk lutut tapi Morgan mencegahnya. Dia tidak mau harga diri ayahnya kembali seperti diinjak injak dan cerita ini tidak akan ada habisnya. Kisah balas dendam yang tak berujung yang hanya berpusat pada kesedihan dan pertikaian antar keluarga.


"Paman, satu kali ini, beri kesempatan pada dad." Kata Marcel membantu ayahnya berkata kata.


"Apa kau? Kau sekarang sudah membelanya iya?! Di mana janji mu untuk selalu menjaga Gracia, dimana? Cih! Diam lah kau anak kecil!" Umpat Revo masih dengan emosinya yang meletup letup.


"Tidak Revo, Marcel benar benar ingin minta maaf. Dia ingin meminta maaf padamu, pada Gracia, bahkan pada mendiang Greta!" Tambah Pammy juga membantu maksud baik suaminya.


Seketika mata Revo terbelalak. Dia memasang wajah geram dan mengatakan sesuatu pada istri dari sepupunya itu.


"Diam kau! Jangan sebut sebut wanitaku dengan tidak terhormat begini! Kau tahu kan, bahkan suamimu dengan otak nya yang kecil ini tidak mengucapkan bela sungkawa, hanya mengatakan turut berduka cita, tidak Pammy Tidak! Suamimu ini tidak pantas dikatakan suami maupun ayah!" Revo menunjuk nunjuk wajah Pammy. Sontak membuat Morgan geram dan tidak menerima.


Buak!


Morgan memukul pamannya. Dia agak emosi karna Revo membentak bentak ibunya bahkan mengatai ayahnya. Dia emosi karna dia tidak menyangka pamannya juga terpancing emosi ayahnya seperti ini.


"Morgan Morgan cukup!" Pammy menahan anaknya dan memeluk pinggangnya.


"Paman! Kami ingin minta maaf, kami tulus, tapi mengapa kau membentak bentak mom ku hah?" Kata Morgan tak percaya dengan ucapan pamannya tadi.


"CUKUPPP!!!" Tiba Tiba Viena membentak mereka semua.


"Kalian ini seperti apa hah? Ini rumah sakit. Semua sudah melihati kita dan kenapa mereka semua tidak menghentikan?! Karna kita orang berada yang menyewa kamar semewah ini sehingga tidak banyak pasien di lantai ini, tapi mengapa tidak bisa saling menghargai hah? Marcel mempermasalahkan bantuanku waktu itu, kau Revo membicarakan uang, kita semua sudah punya uang! Oh my! Tolong lah! Marcel, aku benar benar minta maaf kejadian waktu itu. Nyatanya, kau bisa bangkit bukan? Ini semua sudah suratan Tuhan, suratan takdir! Dan hubungan Gracia dan Dior juga sudah dijodohkan! Disini yang seharusnya marah adalah aku! Aku korban sejak awal mula kita saling mengenal Marcel. Aku, kau, Dion! Sekarang kita masih bersama bahkan menjodohkan anak anak kita, ini Takdir! Oh God! Aku lelah!" Kata kata Viena lagi berusaha meluruskan walau kondisinya tidak memungkinkan sekuat dulu. Dion lalu menahan pundak istrinya dan mendudukannya. Dion dan Lexa mendampingi Viena. Semua terdiam dipijakan masing masing. Revo juga sudah duduk dan menutup wajahnya. Dia juga menyesali semua prilakunya yang bukan dirinya sendiri.


"Marcel, jadi kesini kau mau apa? Tolong hargai istriku, anakku Dior dan khususnya Gracia!" Kata Dion kemudian dengan tegas.


"Aku, aku ingin .." kata Marcel terbata bata, tapi tak lama ..


"Paman?" Tiba tiba Gracia keluar kamar dengan kursi roda bersama Dior.


"Gracia?" Marcel melihat peri kecil itu. Dia lalu berjalan perlahan mendekati Gracia.


Dan Marcel pun berlutut di depan keponakannya. Hanya ini yang ia punya untuk meruntuhkan semua harga dirinya yang sudah terlampau tinggi.


"Paman, kau tidak perlu seperti ini!" Kata Dior dengan sigap yang cukup terkejut dengan prilaku Marcel.


"Lepas! Ini yang harus kulakukan pada Gracia." Kata Marcel menolak bantuan Dior untuk berdiri.


"Iya paman berdirilah. Aku tidak suka pemabdangab seperti ini. Lihat kak Morgan sudah menempelkan dahinya ke dinding. Kau menghancurkan kekagumannya padamu Paman." Pinta Gracia memegang lengan Marcel.


"Maafkan aku Gracia!" Ucap Marcel dengan menunduk.


"Iya paman aku sudah memaafkanmu. Bahkan jika kau tidak melakukannya. Bangunlah, aku mohon!" Pinta Gracia lagi masih memegang lengan pamannya dan menyuruhnya berdiri.

__ADS_1


Akhirnya Dior kembali membantu Marcel berdiri. Ketika Dior hendak kembali ke belakang kursi roda Gracia, Marcel menahannya.


"Dior, aku minta maaf! Dan kini, aku merestui dirimu bersanding dengan Gracia, anak perempuanku ini! Aku benar benar menyesal telah seperti benda keras terhada kalian! Aku minta maaf!" Ucap Marcel meneteskan air matanya.


Dia sudah meraih tangan Dior dan Gracia lalu menyatukannya. Dan Marcel memegang erat kedua tangan itu dan merestuinya.


"Terimakasih paman. Hanya ini yang kami tunggu!" Kata Dior berbesar hati. Dia berusaha mencoba menjadi seperti kekasihnya Gracia. Di dalam tadi, Gracia sudah menceritakan semua perjuangan Marcel untuk menafkai dirinya dan keluarganya. Marcel juga yang sebenarnya pada akhirnya memberikan sedikit keuntungannya untuk pengobatan Greta.


Marcel pun memeluk Dior.


"Dior, dia anak perempuanku! Jaga dia untukku, jangan sakiti dia dan membuat dia jauh daripadamu. Tetap buat dia berada dalam dekapan mu!" Tutur Marcel lagi.


Dan semua yang menyaksikan ini terbuai dalam haru. Viena sudah memeluk suaminya. Sementara Pammy yang sudah menarik Morgan untuk tidak bersedih lagi dan Morgan sudah memeluk ibunya. Revo pun menatap Marcel yang memeluk Dior. Dia merasa tidak ada lagi harus diributkan. Benar kata Morgan, tidaj seharusnya dia seperti ini. Dia pun tersenyum lalu menghampiri kedua pria yang ia kasihi itu dan ikut memeluknya. Tidak ada alasan Revo untuk tidak memaafkan sepupunya. Biar bagaimanapun, hanya Marcel satu satu nya keluarganya yang akan terus berdampingan denganbnya. Dan rantai keluarga Andez hanya tersisa dirinya dan Marcel serta Morgan.


...


...


...


...


...


Beehh sukses dramamu bang marsel membuat hatiku ga karuan 😂😂


Maafkan vii ini melankolis maafkan 😩😩


.


Next part 7 yuk


Selesai sudah konflik dengan bapak marcel mari kita lanjut dengan cerita Gracia dan Dior lainnya, entah masih mengharu biru atau romantis paling kece badas? Nantikan yaa 😍😍


.


Jangan lupa kasih LIKE dan KOMENNYA


Kasih RATE dan VOTE juga di depan profil yaa 💕💕


.


Bebs, mampir ke novel baruku yuks :


-- Deja Vu : Jasmie & Chest


-- Love & Hurt


Cek di karya ya 😍😍


.

__ADS_1


Thanks for read and i love you ❤


__ADS_2