Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - EZEF PART 14 EKSTRA: Allegra & Morgan


__ADS_3

Ada sebuah nyanyian mengatakan kalau sebuah keajaiban datang ketika kita percaya. Walau jarak memisahkan, harapan bersama lemah dan putus harapan, ketika hanya mengandalkan sebuah kepercayaan yang dibina sebaik mungkin maka kebersamaan akan selalu ada. Tidak akan kesalahpahaman dan semuanya damai. Namun, bagaimana kepercayaan menjadi hal yang ditakuti hanya karena kita tidak berani mengungkapkannya? Seperti Morgan yang belum bisa berani mengungkapkan karena takut Allegra berpikir macam macam. Lalu, bagaimana akhir cerita cinta mereka?


...


Allegra mengangguk dan pria yang sepertinya Manager hotel tersebut mengantar ke sebuah kamar milik ayah dan ibunya.


Allegra pun memasuki kamar hotel yang cukup besar itu. Kamar tersebut merupakan kamar tempat malam pertama Lexa dan Leon juga digunakan Jerry dan Angel setiap datang ke Legacy.


Allegra meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Sebentar Allegra, aku bersama Kak Dior. Dia yang menjemputku hari ini," kata orang tersebut yang adalah Gracia.


"Baiklah Gracia, aku akan membersihkan diriku terlebih dahulu," balas Allegra.


"Baiklah, tenangkan dirimu. Semua hanya salah paham,"


"Entahlah, aku bisa menerimanya atau tidak. Aku butuh ketenangan terlebih dulu sebelum aku mengeluarkan kata kata tak beradap untuknya,"


"Kuharap kau tetap bijak, Allegra?" kata Gracia meluruskan.


"Kuusahakan, tekan bel saja jika sudah sampai,"


"Ok!"


Panggilan dimatikan dan Allegra membersihkan dirinya. Sekitar lima belas menit Allegra membersihkan dirinya dan baru saja mengenakan jubah handuk, seseorang menekan bel kamarnya. Dia menerka pasti Gracia dan dia lupa kalau Gracia akan mengajak Dior. Dia lupa karena dipikirannya hanya Morgan. Morgan yang entah mengejarnya atau tidak sementara sejak tadi kekasihnya itu tidak menghubunginya.


"Masuklah, Gracie, aku belum berpakaian," kata Allegra membuka pintu juga melihat sosok yang ia anggap Gracia tapi ternyata bukan Gracia. Allegra malah hendak menutup nya lagi namun tangan kekar itu lebih kuat.


"Dengarkan dulu penjelasanku, Allegra!" pinta pemilik tangan itu yang tak lain adalah Morgan.


"Tidak, pergi kau dari sini! Aku belum siap, pergilah!" Allegra mencoba menutupnya tapi benar benar tidak bisa. Morgan terlalu kuat bahkan untuk seukuran pria, dia terlihat kuat.


"Kapan kau siap, harus sekarang!" Decak Morgan menahan tutupan pintu dan terus mendorongnya. Allegra pun mengalah.


"Argh! Apa? Apa yang kau inginkan hah?!" Bentak Allegra menatap tajam Morgan yang sudah menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Kau jangan macam macam padaku, pergi dari sini bersama mantanmu itu! Aku tidak peduli! Aku , aku , aku sudah biasa seperti ini, PERGIII!!!!" bentak Allegra menunjuk nunjuk Morgan.


"Allegra dengarkan dulu, aku tidak berhubungan dengannya. Percayalah," pinta Morgan berusaha lembut dan mengerti kemarahan Allegra.


"Percaya kau bilang? Butuh kepercayaan sebesar apa yang harus kuberikan padamu hah?" bentak Allegra lagi.


"Aku takut kau memikirkannya Allegra, aku tidak mau menganggumu," tutur Morgan mencoba menjelaskan maksud hati mengapa dia belum mengatakannya.


"Ooh, itulah, itulah yang kau bilang percaya? Kau saja tidak percaya padaku aku akan menerimanya atau tidak, lalu bagaimana denganku? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kau berpelukan dengannya, butuh perkataan apa lagi? Sudah Morgan, aku ingin sendiri, pergilah!" pinta Allegra memalingkan wajahnya .


"Kau tidak merindukanku? Kau kesini untukku kan?" tanya Morgan melemah.


"Ya untuk mengantarkan kado itu setelah itu sudah, AKU TIDAK AKAN MENGANGGUMU BERSAMA MANTANMU, sekarang kau pergi!!" Decak Allegra dan mendoro Morgan sampai ke pintu. Morgan memegang pergelangan tangan Allegra.


"Aku merindukanmu Allegra, aku hanya mencintaimu,"


"Bullshit! Lepas tanganku dan pergi!"


"Aku benar benar hanya mencintaimu, percayalah!" Bentak Morgan menarik Allegra dekat dengannya. Merengkuh belakang pinggangnya untuk semakin dekat padanya.


"Jangan bicara percaya, aku percaya, percayalah, semua itu tidak ada artinya kalau aku tahu dengan sendirinya!" decak Allegra masih penuh dengan emosi.


"Allegra, plis tenanglah, dengarkan penjelasanku. Setelah itu kau suruh aku pergi, aku akan pergi!" kata Morgan memberi pilihan agar Allegra mendengarnya dulu.


"Cepat jelaskan!"


"Kau menginginkan aku pergi?"


"Iya cepat jelaskan!"


"Ok! Dia bekerja sebagai sekretaris Zefanya. Dia mengurus iklan yang ku buat pada perusahaan Zefanya. Awalnya aku tidak tahu sampai aku bertemu di kantor Zefanya. Dia sudah menjelaskan semuanya padaku, mengapa dia meninggalkanku," kata Morgan tanpa melepas tangan Allegra.

__ADS_1


"Oh bukankah itu semakin bagus tuan Andez? Tidak ada lagi kesalah pahaman diantara kalian dan kalian bisa bersatu. Rosie bahkan lebih cantik dariku. Sudah, aku sudah mendengar penjelasanmu dan sekarang kau lepaskan semua pelukanmu ini dan pergi!" Kata Allegra dengan wajahnya yang sangat penuh emosi.


Morgan masih menatap Allegra. Dia tahu kemarahan dan kekecewaan kekasihnya. Dia yang salah, dia sangat tahu.


"Pergi Morgan!" Kata Allegra lagi dan Morgan malah mencium bibirnya. Dia mencium bibir Allegra yang membuat Allegra sangat terkejut. Sejujurnya, Allegra merindukan saat saat ini. Ciuman Morgan, dekapan tubuh Morgan dan terlebih sentuhan tangannya. dia sangat merindukannya tapi kali ini hatinya benar benar terlukai. Allegra tahu ini salah paham, tapi mengapa Morgan tidak mau mengatakannya?!


Allegra pun berusaha melepas tapi Morgan malah memeluk nya lebih erat lagi.


"Aku merindukanmu, Allegera, aku ingin di sini bersamamu!" kata Morgan masih menempelkan dahinya pada dahi Allegra.


"Kau jahat Morgan, kau jahat!" Allegra memukul dada prianya itu.


"Maafkan aku, cium aku, aku mohon!" tutur Morgan sangat menyesal.


"Tidak!"


Namun bibir Morgan terus mengecup bibir Allegra dan dia menggiring kekasihnya itu ke tempat tidur.


"Morgan, aku tidak mau, kau memaksaku!" decak Allegra masih berusaha menjauh tetapi semakin sulit.


Tak lama Morgan malah menggendongnya. Dia membawa Allegra ke tempat tidur. Di sana Morgan membaringkan Allegra dan membuka kemeja hitam yang ia kenakan.


"Kau mau apa Morgan! Aku benci padamu!" Teriak Allegra melempar bantal yang ada di sekitarnya. Morgan tetap menghampiri Allegra.


"Diam! Aku tidak mau kehilangan lagi, kau harus menjadi yang terakhir Allegra!" kata kata Morgan membuat Allegra bergetar tapi dia tetap harus menunjukan ketegasannya. sudah cukup dia terus yang tersakiti dengan mantan mantannya yang lebih dulu dari Morgan.


"Tidak! Aku tidak mau bersamamu, kau memaksaku untuk percaya padamu, sementara kau tidak percaya kalau aku akan mengerti mu! aku tidak mau!" bantah Allegra terus menerus.


"ALLEGRA!" teriak Morgan akhirnya membuat Allegra bungkam. Allegra memandang Morgan dan meneteslah air matanya .


"Kau membentak ku!" Ujar Allegra dan menangislah dia. Tubuhnya sudah berkeringat karena menahan Morgan. Morgan meluluh. Dia lalu menghampiri Allegra dan memeluknya di atas tempat tidur itu. Kini Allegra tidak menjauhkan dirinya. Dia diam dalam pelukan Morgan yang telah membuka kemejanya itu. Rasa rindu yang ia rasakan tersampaikan. Tubuh Morgan begitu hangat membuatnya tidak ingin jauh meski kekasihnya kini sedang bersalah padanya.


"Maafkan aku, diam dan percayalah padaku, Allegra, aku hanya mencintaimu," pinta Morgan mendekap kepala itu sangat dalam.


"Kau jahat! Aku kemari agar bisa merayakan ulang tahunmu berdua tapi ini yang kau berikan padaku," ujar Allegra terus menangis.


Allegra menangis dan kini mau memeluk Morgan. Hatinya masih terasa sesak tapi sepertinya ini saat yang tidak tepat. Kekasihnya sedang berulang tahun. Dia harus lebih merendah.


Tak lama Morgan menarik dirinya dan meraih dagu Allegra.


"I love you!" ucap Morgan dengan sangat mesra dan penuh kelembutan


"Ha ha happy birthday, long life and wish you all the best, God bless you," ucap Allegra di tengah kesedihannya yang masih tertancap di hatinya.


Morgan tersenyum dan tak bisa menahan kalau harus mencium bibirnya lagi. Morgan mencium bibirnya, Allegra pun membalas walau air mata masih terjatuh. Merek berciuaman sampai Morgan memberanikan diri untuk menarik tali jubah handuk Allegra. Allegra terkejut dan sempat menahan tangan kekasihnya itu.


"Aku menginginkanmu Allegra!" bisik Morgan.


Allegra menggeleng.


"Aku tidak mau kau meninggalkanmu!" bisik Morgan lagi dengan sangat lembut.


Allegra masih menggelang. Morgan berhasil menarik tali jubah handuk itu dan terpampanglah tubuh indah Allegra.


"Jangan Morgan, aku mohon! Aku ingin merasakannya setelah ada ikatan, aku mohon," pinta Allegra memelas sambil memegang tangan Morgan yang sudah menyentuh pinggang di dalam jubah handuknya.


"Ikatan pernikahan denganku?" selidik Morgan mulai mengeratkan lagi jubah Allegra.


Allegra mengangguk sedikit ragu tapi hanya ini agar dia bisa lepas dari Morgan.


"Kau harus memegang janjimu!"


Allegra mengangguk lagi dan Morgan kembali mencium bibirnya. Setelah puas Morgan menyuruhnya berpakaian. Wajah Allegra masih tampak muram. Dia masih kecewa dan takut kalau nanti Morgan akan meninggalkannya. Sepertinya dia harus melakukan sesuatu sebelum hatinya semakin hancur hanya karena pria.


Setelah berpakaian Morgan kembali memeluknya dan menyuruhnya tidur di sampingnya.


"Kau tidak pulang?" Tanya Allegra.

__ADS_1


"Aku ingin tidur bersamamu. Sesuatu yang sangat jarang kau kemari dan kita harus tidur bersama," kata Morgan memeluk Allegra penuh kehangatan.


"Hubungi mommy mu Morgan!"


"Sudah kuberi pesan. Sekarang tidur lah Allegra, besok aku akan mengajakmu ke perusahaanku!" kata Morgan lagi mengelus lengan Allegra.


Allegra tidak menjawab tapi dia membenamkan kepalanya di dada Morgan. Morgan tidak melepas pelukannya.


"Heemmm, Allegra, aku sangat merindukanmu! Kau benar benar hadiah terindahku tahun ini!" ujar Morgan dan terpejamlah matanya. Sebenarnya Morgan masih merasa kalau Allegra masih memendam kesedihan tapi Morgan akan memberinya waktu dan dia akan mengambil hati Allegra lagi. Dia berharap besok pagi Allegra sudah kembali seperti biasanya.


Allegra tersenyum mendengar kata kata terakhir Morgan tapi sepertinya dia tidak boleh terlalu penurut. Mungkin sebuah ujian agar cinta mereka benar benar nyata. Allegra sudah malas dengan semua kebohongan, kekecewaan. Yang dia tahu sekali seperti ini maka akan terus seperti ini. Allegra hanya menginginkan pembuktian jika Morgan benar benar mencintainya seperti yang ia katakan.


...


Keesokan paginya Morgan dibangunkan oleh panggilan ponselnya. Gracia yang menghubungi. Sebenarnya kemarin Morgan melihat Allegra menaiki taxi dan dia mengikutinya. Sempat menghilang taxi tersebut dan dia terus mencari sampai berpikir kalau Allegra pasti ke hotel ayahnya. Sesampainya di hotel ini dia berpapasan dengan Gracia yang hendak ke atas. Morgan menyuruhnya untuk memberikan waktu untuknya dan Allegra agar bisa berbicara. Dior mengerti keadaannya dan membiarkan hanya Morgan yang naik ke atas. Kini Gracia hendak menanyakan kondisi Allegra.


"Sepertinya dia membersihkan diri, aku baru bangun Gracia," kata Morgan mengangkat panggilan.


"Baiklah, kalau kalian sudah berbaikan aku ikut senang, bye kak!"


Panggilan dimatikan dan Morgan memanggil Allegra. Tidak ada jawaban. Dia menuju ke meja makan untuk minum dan melihat sebuah note putih di bawah vas bunga bening di tengah tengah meja. Morgan meraihnya dan membacanya.


*Jangan pernah mencariku dimanapun, di Legacy, di Springfield, di hotel hotel ku, di rumahku, di pikiranmu, bahkan di hatimu. Kau tidak akan menemukanku!


Sampai jumpa, maaf kita harus berakhir!


Aku berpikir, ketika sekali saja kepercayaan dipermainkan maka kepercayaan itu semakin lama akan terkikis dan hilang.


Aku takut itu terjadi di saat aku semakin mencintaimu .


Aku pernah bilang padamu kalau Aku hanya mampunyai satu hati tapi ternyata kau tidak terlalu menjaganya. Kau meremehkan hatiku.


Allegra*


Morgan reflek melempar gelas yang masih ia pegang. Dia mencengkram pesan tersebut. Dia terduduk lemas. Menyesal pun tak ada guna. Di pikirannya saat ini hanya ingin bertemu wanita itu. Dia sadar bahwa Allegra sudah mempercayainya, tapi mengapa dirinya tidak bisa membuka diri, sedikit saja.


...


...


...


...


...


Dia di Springfield, Mor, mo kemana emang dia?


dah pesen tiket sana 😝


.


next part 15


okedah apakah Allegra akan menerima Morgan dan menuju ke tingkat selanjutnya?


dan dah beneran nii ke Honolulu yuks bareng Eze n anya 😁😁


tapi ga ketemu uncle eg ya 😂😂


.


Yuhhhuuu, jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍


.

__ADS_1


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2