Mantan Terindah

Mantan Terindah
79. Belajar Merelakan


__ADS_3

Jadilah hal yang berharga walau sedikit, jangan berharap menjadi kecil kalau bisa mencapai sesuatu yang lebih baik. Bukan langkah ataupun kesalahan tapi egomu yang membuatnya menjadi sesuatu yang rumit.


Langkah mereka menjadi nyata ketika Rival dan Franda bersamaan, Roy hanya bisa melihat dari kejauhan ternyata kebahagiaan seorang adik itu harus menjadi prioritas bukan menjadi dominan langkahnya untuk mendapatkan hati Franda. Karna yang ditahu ia juga mencintai Franda secara diam. Memang itu sulit apalagi kalau berurusan dengan hati sangatlah sulit.


Belajar untuk membuka hati lagi, Ia tahu kalau Rival adalah pria yang pantas ia cintai dan pantas untuk bahagia dan dibahagiakan satu sama lain.


"Kak."


"Hei, lagi nunggu Rival ya?" Franda mengangguk saja, sumpah ia benar-benar tidak enak hati bersama Roy, sedangkan ia masih jatuh cinta.


Cinta yang sama, tapi cinta itu dilarang oleh ego mereka masing-masing.


"Mau ngomong sesuatu?"


"Eee iya kak." Ragu dan canggung, itulah yang ia rasakan saat ini.


"Kakak mau lanjut kuliah dimana nih rencananya?"


"Gak tau sih gue, Tapi kayaknya di makanan gitu jadi chef sih insya Allah."


Memang bakat Roy sudah terlihat ketika ia ikut-ikut dalam lomba dan beberapa ada yang juara.


Rival melintas seakan tanpa perduli siapa yang sedang asik mengobrol. "Val."


"Kenapa?"


"Kayaknya gue pamit dulu deh ya, gue pengen ambil sesuatu dulu di kelas." Tanpa mau ikut campur Roy malah pergi meninggalkan Rival dan Franda. Bukan urusannya juga meskipun seorang kakak kandung dari Rival.


"Kak Roy."


"Sorry gue gak liat, gue buru-buru." Sampai-sampai menabrak Albert yang Bima yang ada didepannya. Langkah mundur yang membuat Roy tidak melihat. Albert dan Bima bingung, naluri lelaki itu tidak bisa dipungkiri apalagi tentang perasaan dan hati mereka sama-sama bisa tau kalau ada yang sedang berbeda yaitu jatuh cinta.


"Kak Roy tuh jatuh cinta bukan sih sama Franda?"


"Hm, sepertinya." Menerka apa yang ingin dikatakan oleh Franda ke Rival. Albert memilih untuk fokus kedepan mendengarkan apa saja obrolan mereka. Melangkahkan kakinya maju, dan lebih fokus. Tidak memperdulikan ucapan dari Bima.


"Rud, Albert nyeselin ya."


"Diem lo! Hahaha." Sahut Rudy, mencengir santai.


Ketika Franda sudah pergi mereka pun menghampiri Rival yang mematung tetap diposisinya.


"Hei, melamun aja. Ketua kelas kita sering banget ya senyam-senyum sendiri."


"Biasa masih puber."


"Emang lo udah berhenti pubernya? Kenapa masih sekolah?" Alis Rudy menukik dengan pertanyaan Bima si badan gendut satu itu.

__ADS_1


"Apaan sih hahaha. Ya masih lah. Val, lo kenapa?"


Rival tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa diam masih mengingat posisi Franda tadi. Sungguh membuatnya terkejut sekaligus bahagia.


***


"Lo kenapa Roy?"


"Tugas udah selesai belum ya? Bu Surti mana? Kok gue gak liat? Eh buka gue ada di lo ya?"


Terheran.


"Lo kenapa?"


"Lo sakit?" Mengalihkan sesuatu perhatian.


Sorot mata Manda kearah sana, perempuan cantik ini lebih memilih untuk bertahan di cinta bertepuk sebelah tangan. Tanpa harus tau betapa sakitnya diperlakukan seperti ini, bukan sepertinya saja tapi memang benar adanya.


Menarik nafas lebih dalam seperti adalah hal yang biasa kalau dekat dengan Roy.


Dan.


Lagi-lagi belajar membuka hati, Roy tersenyum melihat Rival dekat kembali dengan Franda. "Udahlah Roy, lo pasti bahagia kok." Ucap seseorang yang membuat Roy memalingkan tubuhnya kebelakang.


"Hei."


"Hehe iya nih."


"Gue balik dulu ya man.." Roy memilih untuk meninggalkan Manda yang masih ingin mengobrol dengannya tapi apa? Roy menutup akses untuk itu.


"Mau ngomong soal apa?"


Takut memulainya dari mana.


"Maaf ya, kalau selama ini aku salah. Hubungan kita bukan hubungan yang baik. Bahkan aneh, terkesan menyakiti perasaan seseorang."


"Seseorang siapa?"


"Kamu, maaf banget udah bikin semua seakan runyam, aku bukan yang terbaik tapi aku terus berusaha yang lebih baik. Maaf kalau selama ini bikin salah. Semua akan berubah menjadi lebih baik. Aku cuma pengen meminta maaf yang sedalam-dalamnya sama kamu, aku juga minta maaf tentang perasaan yang ternyata tulus dari kamu. Aku juga tau semua seakan runyam, lebih baik seperti ini. Tentang Rubi, selalu aku posisikan seperti dia agar aku tau kalau ternyata kehilangan itu membuat sakit, dan aku mulai merasakan sakit. Val, maaf kalau aku salah. Aku kepengen berdamai dengan diriku yang terlalu bodoh soal cinta, dan aku juga pengen berdamai sama orang-orang yang pernah atau sedang aku sakiti. Sekali lagi maaf, semoga tidak ada permusuhan diantara kita." Menjulurkan tangan terlebih dahulu.


Rival terdiam saja. Ini nih yang buat Rival susah buat meninggalkan Franda, perempuan yang kerasa kepala yang hanya memikirkan hati yang lain tanpa memikirkan hati yang tersakiti.


"Ya udah cuma mau ngomong itu."


"Dan jangan marah sama kak Roy, dia juga baik orangnya."


"Terserah mau maafin atau enggak yang terpenting kamu orang baik. Dan aku juga baru tau sekarang kalau kamu memang tulus dari Albert. Dia yang sering kasih tau aku gak boleh sakitin cowok sebaik kamu walau agak brutal sih. Tapi aku mulai sayang."

__ADS_1


Perlahan Franda pergi.


Kerutan senyum tergambar dari bibir Rival, ketika ia mendengar kata sayang. Membiarkan Franda tetap pergi, dan berdamai dengan hati ini.


***


Seharian ini.


Hati seakan berbunga, sekedar kalimat saja padahal tapi bisa membuat pikiran Rival bahagia dari kemarin. Terkesan biasa tapi menjadi luar biasa bagi orang-orang yang disayang.


"Kak."


Disela itu Rival mendekat dan merangkul Roy, Ucapan kalimat yang menggelitik "Kak Roy sorry ya gue selama ini salah sangka sama lo. Makasih banget udah baik banget dan makasih juga udah jadi seorang kakak yang baik juga."


"Tumben val?"


"Gak kak, selama ini gue ada salah nih banyak banget, thanks banget." Senyum Rival yang membawa aura yang positif. Roy pun juga sudah mengerti, ia pun merespon sikap Rival yang positif.


Tiffany bingung dengan dua orang cowok yang saling rangkul, karna gak biasa banget. Ia mendekat dan mendengar percakapan mereka.


"Makasih ya kak."


"Hei, kalian pada ngapain?"


"Gue dan Rival lagi rangkulan, sini deh tif." Tiffany berubah posisi dan kini berada di tengah-tengah mereka berdua.


"Udah diem aja deh."


"Tif, gue pengen ngikutin jejak lo sama Hito. Dan gue pengen akur sama kalian berdua, sorry kalau ada salah dan ada hal yang sangat tidak enak." Kedua bola mata Tiffany memberikan kode ke Roy sebagai tanda bingung.


"Maksud lo apa val?"


"Gue pengen lebih baik lagi, Franda yang merubah gue seperti ini. Gue pengen hubungan yang serius juga."


Sempat ada rasa sakit, karna walau dekat dengan Franda bukan sebagai kekasih atau sahabat tapi bisa jadi sebagai adik ipar dan ini demi kebahagiaan adiknya yaitu Rival. Roy tersenyum tipis mendukung apapun itu selama hal baik. Jika ia lebih dulu mengungkapkan rasa itu mungkin ia bisa bahagia dengan Franda orang yang ia suka lebih dulu ketimbang Rival.


"Serius?"


"Hm. Lo sama Manda kapan?"


"Manda lagi, Manda lagi Huft." Bukan Manda val tapi cinta terlarang gue yaitu Franda orang yang udah buat lo bahagia. - Roy.


"Dia baik dan sekaligus cantik, gak kalah sama yang lain."


"Serah lu dah."


"Tapi menurut lo gue cocok gak sama Franda?"

__ADS_1


"Cocok bingitttt, cocok banget dong! Sukses dan bahagiakan dia jangan buat dia sakit atau berpaling." Ucapan dan hati berbeda sekali tidak akan pernah menyatu tapi harus saling menghargai. Bertentangan tapi harus mengerti biarkan sakit untuk diri sendiri demi bahagianya orang lain.


__ADS_2