
Om Laskar melangkah mendekati keempat pria yang berani menyakiti seseorang yang dititipkan kepadanya. Dengan penuh amarah, pria paruh baya itu pun mendekati mereka, lalu menampar satu persatu pria yang berani berurusan dengannya.
"Bawa mereka, jebloskan mereka ke penjara. Jangan berikan ampun sedikitpun pada pria-pria bodoh ini. Kalo perlu pertemukan mereka dengan bos bodoh itu. Biar dia tahu, biar mereka sadar, bahwa mereka salah pilih lawan." Laskar menatap penuh amarah pada pria-pria yang sudah babak belur di hajar anak buah Laskar itu.
Tak banyak bicara, anak buah Laskar pun langsung membawa ke empat pria itu.
Sedangkan Laskar sendiri langsung mendekati wanita yang disinyalir sebagai istri Victor atau lebih tepat mantan istri pria itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Laskar pada wanita yang saat ini sedang menggendong putra semata wayangnya.
"Baik, Pak. Terima kasih," ucap wanita itu. Menatap Laskar dan beberapa anak buahnya yang masih tersisa dengan tatapan ketakutan.
"Jangan sungkan! Jangan takut! Aku ke sini membawa kabar baik untukmu. Di mobil itu ada Vita dan juga suaminya. Sebaiknya kamu temui mereka!" pinta Laskar.
Wanita itu masih menatap takut. Bagaimana tidak? Hatinya bergejolak, bergejolak takut ditipu lagi. Sama seperti pria-pria yang datang pertama kali.
"Jangan takut, kami tidak akan meyakiti mu. Percayalah! Semua akan baik-baik saja. Mereka orang baik. Mereka datang ke sini untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting padamu," ucap Laskar lagi, masih berusaha memberikan pengertian pada mantan istri Victor ini.
Wanita itu masih menatap ragu. Namun ia mencoba percaya.
"Ba-baik! Saya akan ikut mobil itu!" ucap wanita itu seraya melangkah mendekati mobil berwarna putih itu.
"Ya, pergilah. Jika mereka menyakitimu, maka aku sendiri yang akan mengahajar mereka. Jangan takut lagi!" ucap Laskar seraya mengantarkan wanita itu ke mobil yang di tumpangi oleh Vita dan Bima.
__ADS_1
Melihat wanita itu melangkah mendekati mobilnya, Bima langsung turun dari mobil untuk membukakan pintu.
"Silakan masuk, Kak!" ucap Bima.
Wanita itu sama sekali tidak tersenyum, terlihat jelas bahwa dia takut. Terlihat jelas bahwa dia sangat takut.
"Jangan takut, Kak! Kami nggak akan nyakiti kamu dan putramu. Percayalah!" ucap Bima, mencoba memberikan ketenangan pada wanita itu.
"Ba-baik," jawab wanita itu. Dengan perasaan bercampur aduk, ia pun masuk ke dalam mobil tersebut. Di mana, di dalam mobil tersebut sudah ada Vita.
"Masuk, Kak. Nggak pa-pa, jangan takut!" sapa Vita, dengan senyuman khasnya.
"Iya, terima kasih," jawab wanita itu.
Masih dengan perasaan campur aduk, wanita ini mencoba menyamankan posisinya. Duduk tenang sambil memangku buah hatinya.
"Jangan takut, Kak. Kami nggak akan nyakitin kamu," ucap Vita.
Wanita itu pun mengangguk. Bima masuk ke dalam mobil, lalu sopir yang mengemudikan mobil tersebut langsung menginjak pedal gasnya. Tak lama, mobil pun meninggalkan pekarangan rumah wanita itu.
"Saya minta maaf, sudah merepot kan!" ucap wanita itu.
"Tidak, Kak. Jangan sungkan. Kalo bukan karena kakak, kami semua nggak akan pernah tahu rahasia besar ini. Harusnya Kakak datang saat Luis masih ada. Buat dia tahu, kalo sebenarnya dia punya seorang abang," ucap Vita sembari menggenggam tangan wanita itu.
__ADS_1
"Aku sudah coba membujuk ayahnya mantan suamiku, tapi dia tetap kekeh nggak mau." wanita itu menatap nanar pada Vita.
"Tapi kenapa, Kak. Luis kan adiknya," jawab Vita.
"Ya ... dia pun tahu, hanya saja, gengsi dan harga dirinya terlalu tinggi. Dia nggak mau dikatain mengemis. Dia ingin mendapatkan haknya dengan caranya. Jujur, saya malah bingung dengan caranya ini. Apa bagusnya cara ini, dibanding dia menghadap langsung dengan adik nya?" ucap wanita itu.
"Entahlah, Kak. Setiap manusia punya pemikiran sendiri. Kita nggak bisa nyalahin siapapun. Mungkin bang Victor punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah yang ada di dalam hatinya." jawab Vita, bijak.
"Saya minta maaf atas namanya, tolong maafkan lah dia. Sebenarnya dia pria yang hangat. Meskipun kami sudah bercerai namun ia sama sekali tidak melupakan kewajibannya sebagai ayah bagi putra kami. Dan jujur, saya sangat kaget dengan kasus yang menjeratnya kali ini. Entalah, rasanya nggak masuk akal saja. Seorang Victor masuk penjara karena alasan yang sangat memalukan." wanita itu menunduk malu.
"Sudah kami bilang, Kak. Bahwa setiap manusia itu memiliki pemikiran sendiri. Kita nggak akan pernah bisa memaksa. Kita nggak akan pernah bisa menebak. Entah itu benar atau tidak hanya bang Victor lah yang tahu. Kami sebagai adik, kami sudah memaafkan. Tetapi kami tidak bisa menjamin beliau bisa terlepas dari hukum, Kak. Kami minta maaf soal itu," ucap Bima, tegas.
Wanita itu menatap Bima sekilas. Namun Bima tahu, bahwa wanita itu pasti kecewa dengan ucapannya.
"Saya minta maaf, sekali lagi saya minta maaf, atas namanya. Namun jika maaf itu belum cukup, mau gimana lagi!" ucap wanita itu lemah.
"Kami sudah memaafkan, Kak. Percayalah. Bahkan kami siap menjaga kakak dan putra kakak, selama beliau mempertanggung jawabkan perbuatannya." Bima mencoba teguh dengan pendiriannya.
Wanita itu menundukkan kepalanya. Seperti tak sanggup berucap. Pikirannya bercampur aduk. Antara sedih dan takut. Antara kecewa dan menerima. Namun, sekali lagi, apa yang diucapkan Bima adalah benar.
Victor harus dididik lebih dewasanya. Dididik untuk lebih dewasa. Berani berbuat maka harus berani bertanggung jawab. Bukankah itu yang dia pelajari selama sekolah Hukum.
Hanya saja, dari pihak wanita yang sampai sekarang masih mencintai pria itu, jujur tidak rela jika Victor di penjara.
__ADS_1
Bersambung...