Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 16


__ADS_3

STANLEYπŸ’¬


Gracia kau jangan memarahi Pat ya, aku meminta nomor mu darinya. Jadi bagaimana? Kau sudah berbaikan dengan Tuan muda Prime mu?


GRACIAπŸ’¬


Bukan urusanmu!


Gracia melempar ponselnya ke tempat tidur juga bersama dirinya. Dia masih hanyut dalam bayang bayang Dior. Bukan hanya bayang bayangnya saja namun sikap nya yang berlebihan padanya. Mengapa sampai hati pria nya itu berbuat seperti itu padanya? Katanya untuk melindunginya. Gracia berpikir seribu kali untuk mencoba mengerti. Apa dirinya juga agak berlebihan. Namun ya, sebaiknya dirinya dan Dior berjaga jarak untuk sementara waktu.


Kata kata Zefanya yang menyindirnya masih terngiang di telinganya. Juga sejak kehadiran Stanley, Dior menjadi agak posesif dan selalu ingin bersama Gracia. Tadinya Gracia hanya merasa Dior menjadi seorang kekasih yang bisa berbagi, namun nampaknya malah membuat seperti menyusahkan. Gracia menghela napas dan kembali meraih ponselnya. Dia hendak mengirim pesan pada kekasihnya itu namun terus ia urungkan. Hatinya tak menentu karna hari ini mereka tak berkata kata dengan baik dan kekasihnya itu belum memberikan kata kata indah untuknya.


"Sudahlah, aku harus menenangkan diri terlebih dahulu, begitu juga dengan dirinya." Gracia kembali merebahkan dirinya dan beristirahat.


Sementara Dior memasuki rumahnya dengan wajah diam dan dinginnya. Dia bingung harus seperti apa terhadap Gracia. Mungkin Gracia risih atas usahanya melindungi kekasihnya itu. Atau menurutnya Gracia sedang menikmati masa mas kuliahnya yang penuh warna.


"Ada apa? Mengapa menekuk wajah sampai tak berselera begitu?" Suara seorang wanita yang sedang menyiapkan makan malam.


"Malam mom, mengapa kau sendiri? Dimana momxa?" tanya Dior kembali sambil mendekati meja makan dan duduk di sana.


"Di rumahnya bersama Paman Leon. Biarkan mereka sekali sekali beristirahat di rumah nya." jawab Viena sambil memperhatikan mimik anaknya.


"Ya benar." saut Dior singkat.


"Kau kenapa?" tanya Viena masih sibuk menyiapkan piring piring.


"Masalah kecil dengan Gracia." jawab Dior menautkan tangannya.


"Masih seputar Gracia?" Viena kembali memastikan.


"Ya mom, dia mengetahui kalau aku menyuruh Robert untuk mengawasi. Buah tidak jauh dari pohonnya. Robert melakukannya dengan baik seperti kinerja Rick, kakaknya padaku. Aku tidak tahu kalau Gracia datang ke kantor dan membuka semua email dari Robert berisi semua video tentangnya. Dia merasa aku tidak percaya padanya padahal aku hanya mencoba menjaganya." Dior menjelaskannya singkat.


"Hem, aku mengerti maksudmu. Yasudah untuk sementara asingkan dirimu darinya tapi tetap kirim pesan atau menghubunginya. Meminta maaf dan terus berikan dia perhatian selayaknya saja. Seperti kau melihat adik adik mu. Jangan lagi ada pengawasan dan tetap dukung dia dalam setiap kondisi apapun. Bagaimana saranku? Kau mengerti?" Viena memberi saran.


"Kau yang terbaik mom. Baiklah biarkan aku memakan masakan mu yang harum ini mam." pinta Dior akhirnya pada ibunya. dia agak sedikit tenang mendengar pesan ibunya.


Dan Viena menyiapkan makanan untuk anak sulungnya itu. Viena berusaha bertindak adil. Dia pun tidak boleh menyalahkan Gracia yang usianya cukup terpaut jauh dengan anaknya. Biar bagaimana pun sahabatnya telah menitipkan padanya. Dia pun juga harus membuka pemikiran anaknya agar lebih mengerti dan tidak terlalu mengekang. Viena juga mengerti, ini merupakan kali pertama anaknya mempunyai hubungan khusus. Viena hanya menginginkan hubungan ini terus berakhir pada pelaminan sesuai yang mereka harapkan.


Dior pun mengerti maksud dari ibunya. Dia memang lebih dekat dengan ibunya. Ibunya selalu memberi saran bijaksana yang terbaik baginya. Yang tidak juga membelanya atau menyalahkannya.


Malam itu Dior dalam diam dan memegang ponselnya. Dia melihat lihat gambar dirinya bersama Gracia nya. Dia tersenyum tipis.


DIORπŸ’Œ


Selamat malam kekasih jiwaku. Semoga di dalam mimpi mu, kau tetap menghadirkan kehangatan cinta kita. Semangat πŸ’•


Mungkin kata kata ini cukup untuk menenangkan hubungan mereka. Dior masih terjaga sambil meletakan foto Gracia di atas dadanya. Dia berbaring di tempat tidurnya dan merasa Gracia memegang wajahnya sampai akhirnya ia mengantuk dan tertidur.


...


Keesokannya Gracia membuka matanya. Tidurnya tidak begitu tenang. Dia bermimpi sesuatu yang aneh namun dia tidak mau memikirkannya lagi. Ketika hendak memeriksa waktu pada ponselnya dia melihat pesan dari Dior dan mengembanglah senyumnya. Dia segera membalas pesan tersebut.

__ADS_1


GRACIAπŸ’Œ


Selamat pagi kak. Semoga harimu menyenangkan. Aku mencintaimu πŸ’•


Seakan sudah tidak terjadi apa apa, Gracia mencoba memposisikan dirinya seperti kekasihnya itu. Namun dia kembali menekuk wajahnya ketika pesan itu tidak terkirim.


"Mungkin sebentar lagi dan kita akan kembali seperti semula. Kak Dior memang yang terbaik!" Gumam Gracia berusaha berpikir positif dan dia segera mempersiapkan diri untuk berangkat kuliah.


Gracia sudah menunggu di depan rumahnya namun tidak ada tanda tanda kedatangan mobil Dior. Kalau sampai lima sampai sepuluh menit lagi kekasihnya tak datang, ia akan kembali terlambat.


"Dior tidak menjemputmu?" Selidik Morgan berada di samping Gracia hendak menuju ke garasi bawah mengambil mobilnya.


"Mungkin sebentar lagi kak." Gracia masih sangat berharap.


"Tidak ada sebentar lagi, sebentar lagi kelas mu akan dimulai. Biar aku saja yang mengantar, ayo!" Morgan sudah menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya.


Gracia melihat jam tangannya dan benar saja. Sepertinya kekasihnya tak akan datang karna pesan nya pun tak terkirim. Pikiran Gracia kembali berkecamuk. Akhirny dia pergi kuliah bersama kakak sepupunya itu.


"Tenanglah! Dior pasti memiliki alasannya sendiri." Morgan berusah menenangkan ketika merek telah tiba di depan gerbang kampus Gracia. Gracia mengangguk dan segera memasuki kampus.


Seperti kebetulan atau entah disengaja, dia lagi lagi bertemu dengan Stanley yang berjalan bersama Patrick dan juga Zhavia. Mata Gracia hanya tertuju pada adik dari kekasihnya. Sementara Stanley sudah menebar senyum pada Gracia.


"Kau pergi bersama kak Dior, Zhavia?" tanya Gracia to the point.


"Seharusnya kau memberikanku ucapan selamat pagi dulu Gracie! Aku tahu kau hendak menanyakan kak Dior kan? Sepertinya dia terlambat bangun dan langsung menuju ke kantor. Dia memiliki sebuah proyek baru bersama dad." Zhavia memberi tahu dengan nada datar.


"Oh begitu. Kau tidak bersamanya?" Gracia masih memastikan.


Seketika Gracia merasa memang harus menjaga jarak dan tidak melulu mengharapkan kekasihnya. Dior seorang pemimpin dan saat saat seperti ini dia harus mengerti nya. Meski begitu, Gracia agak menekuk wajahnya dan menuju ke kelas. Stanley ikut jalan berdampingan dengannya karna kelas mereka sama. Stanley terus menebarkan senyum padanya.


"Gracia, aku sudah menemukan gerakan yang tepat untuk lagu 247, bahkan untuk lagu Without you. Bagaimana, kau tenang kan?" kata Stanley mencoba memecah lamunan Gracia.


Gracia menoleh ke arah Stanley. Stanley tersenyum ramah. Gracia merasa tidak enak dan harus menanggapi pria ini. Biar bagaimana pun mereka berpasangan dalam sebuah pertunjukan.


"Terimakasih Stanley! Aku akan melatih diriku dan aku yang akan mencari gerakan untuk lagu XO nya." balas Gracia tersenyum.


Stanley cukup salah tingkah dengan tanggapan Gracia yang akhirnya bisa ramah denganya.


"Oh, ok Gracia!" Balas Stanley tersenyum. Dia lalu merogoh sesuatu dalam tasnya.


"Ini untukmu Gracia! Aku suka sekali cookies dan aku membeli dua bungkus mungkin bisa membuat hatimu tenang. Cookies coklat begitu nikmat. Ambilah!"


Stanley menyerahkan satu bungkus kue coklat itu dengan kemasan yang begitu cantik dengan pita sebagai pengikat bungkusan itu. Gracia menerimanya dan tersenyum tipis.


"Thanks again!"


Dan mereka memasuki ruang kelas mereka. Stanley tampaknya terus memperhatikan Gracia dan hanya sesekali memperhatikan mata kuliah. Sampai akhirnya kelas selesai dia masih melamun menatap Gracia.


"Stanley! Kalau kau terus melihatku seperti ini, aku tidak mau menjadi pasangan menarik!" Ancam Gracia karna mereka harus berlatih. Gracia langsung keluar kelas dan menuju ke ruang tari. Stanley terkesiap dan mengikuti Gracia.


Mereka pun memulai latihan mereka setelah melakukan pemanasan ringan.

__ADS_1


"Kita harus melakukannya dengan cepat karna makan siang nanti Zhavia pasti akan menjemputku!" Gracia memperingati.


"Baiklah!!"


Stanley pun mulai memberitahu gerakan yang harus mereka lakukan bersamaan dan ada juga gerakan mereka yang mana harus saling berpelukan. Terkadang ada gerakan yang agak sensual sehingga dapat memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Ada gerakan seperti hendak mencium namun Gracia memalingkan wajahnya. Mereka saling merengkuh tubuh mereka dengan nada yang mengalun lembut dan sedikit hentakan serta perpaduan vokalitas yang tinggi. Lagu ini yang nantikan akan diiringi oleh kelas alat musik dan tarik suara.


Baru sebentar saja, Gracia sudah mengerti gerakan yang dimaksudkan oleh Stanley. Stanley menikmati dapat merasakan aura Gracia yang begitu feminim tapi juga menangkap setiap gerakan dengan cepat. Dengan tubuhnya yang lentur membuat Stanley tidak sulit mengikuti kemana gerakan yang Gracia capai. Sementara Gracia malah menganggap Stanley adalah Dior sehingga ketika dia sudah mengetahui gerakannya, dia memejamkan matanya dan membayangkan tangan tangan Dior yang menjalar di tubuhnya.


...


Sementara Dior di tempat yang lain pikirannya bercabang. Dia hanya mendengarkan apa yang dikatakan pamannya tentang pembangunan hotel kali ini. Dia tidak memberi saran karna pikirannya hanya tertuju bagaimana keadaan Gracia. Karna bangun terlambat dia lupa membawa ponselnya. Dia pun belum sempat melihat ponselnya. Kini dia ingin sekali bertemu dengan Gracia. Namun, ketika ayahnya sudah memandangnya lagi dan tersenyum, dia menjadi mengingat tugasnya sebagai direktur hotel turun temurun keluarganya.


Ketika jam makan siang Dior hanya makan tanpa bersua. Mereka makan di tempat proyek. Dion ayahnya pun tidak mau menganggu rasa gundah anaknya. Anaknya butuh sendiri untuk memikirkan langkah yang tepat untuk masa depannya.


'Gracia, semoga kau baik baik saja. Aku merindukanmu sayang, apa kau juga merindukanku?' gumam Dior di sela sela santap siangnya. Sesekali dia menatap matahari teriak siang ini. Begitu menyilaukan seperti perasaannya yang sepertinya tidak pernah pudar untuk wanita nya. Entah sudah keberapa kalinya Dior menghela napas. Dia harus bersabar.


Sore menjelang, dia harus kembali ke rumahnya bersama Dion dan Leon. Dia mencari ponselnya yang telah padam karna tidak terisi energi. Dia mengisinya dan meninggalkannya sesaat. Dior membersihkan dirinya dan langsung berhambur pada tempat tidurnya. Sesaat tercium aroma tubuh Gracia yang masih melekat pada selimut tebal nya. Sejak terakhir Gracia mendatanginya, belum lagi wanitanya itu memeluknya di tempat tidur ini. Aroma tubuhnya tidak terlalu menyengat namun menurutnya hal tersebut menjadi kenangannya. Mungkin ketika selesai drama musikal nanti dan Dior telah menyelesaikan proyek itu, mereka bisa menikmati kebersamaan mereka lagi. Mengapa ini menjadi sangat memiliki jarak yang begitu besar. Bagaimana hubungan Ezekhiel dengan Zefanya yang selalu bisa mengerti satu sama lain. Hem semua pikiran ini sangat membuat Dior lelah dan dia pun tertidur. Dalam mimpinya hanya ada dirinya menaiki bianglala itu bersama Gracia.


...


...


...


...


...


apakah ada yang merasakan kegundahan seperti yang kurasakan? kenapa jadi sesek bener yak? hehe 😭😭


.


next part 17


akankah cepat berakhir semua kegalauan dan kesalah pahaman ini?


bagaimana respon Dior melihat penampilan Stanley dan Gracia nanti?


.


tar malem lagi ya aku pergi dulu wkwkwkk


.


Jangan lupa bubuhkan jempol kalian pada logo LIKE dan kasih KOMEN kalian .. apapun sangat membantu mood vii dan smangat luar dalam haha .. kalau boleh kasih RATE nya bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟


Dan VOTE nya yaa di depan profil novel 😍😍


.


Happy reading, thanks for read and love you somuch all πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2