
Lanjutan part 13,
Eden pun membersihkan dirinya. Setelah itu mereka semua makan malam dalam keceriaan. Chloe juga ada di sana. Zhavia sudah agak lebih baik walau kepalanya masih cukup pening. Akhir akhir ini dia suka seperti ini kalau terlalu lelah dan selalu banyak berpikir. Hem, Zhavia tidak mau mencurigai apapun, dia jalani saja terlebih dulu. Mencoba sabar dan lagi lagi mengerti posisi Patrick. Entah mengapa Patrick kini suka menggunakan kata pemimpin dan dirinya adalah pemilik jadi dia harus bertanggung jawab. Kalau sudah begitu, Zhavia tidak dapat berkata kata lagi selain mengerti.
"Zhavia, seseorang mengirimi pesan seperti ini, apa kau tahu? Bukankah kau tidak mempunyai mantan kekasih? Apa ada seseorang yang menyukaimu?" Kata Patrick memberitahu isi pesan itu.
Deg!
Jantung Zhavia berdebar tak karuan. Dia tahu pria ini. Daniel memang menabuh genderang perang pada rumah tangganya.
"Tidak Pat, aku tidak tahu, dan Apa kau meragukanku?" kata Zhavia Kembali bertanya dan meyakinkan.
"Tidak sayang, tidak sama sekali, kau jamgan khawatir, kau milikku, tidak ada yang boleh mencurinya dariku! Heeemmm ..." Saut Patrick memegang wajah Zhavia dan mengecup bibirnya. Patrick pun tidak boleh beranggapan lainnya karena selama ini Zhavia sudah menjadi istri yang sangat baik.
"Kalau besok demam seperti ini, kita akan ke rumah sakit, oke? Siapa yang tahu, Zena akan memiliki adik?" Gumam Patrick lagi mengelus perut Zhavia, membuat Zhavia benar benar tidak bisa tidak mencintai dan membutuhkan pria ini. Mereka malah melakukan hubungan intim lagi lagi dan lagi.
...
Satu Minggu kemudian,
Setelah kejadian itu, Zhavia menjauh dari Daniel. namun, Daniel lagi lagi terus menungguinya di depan kelas, mengikutinya atau memperhatikan dari jauh. Zhavia selalu menghindar dengan alasan ada pekerjaan dan kelas lain atau Zhavia akhirnya bersembunyi di ruangan Amber atau ruangan Patrick, ada atau tidak ada suaminya.
Suatu hari, Daniel merasa gemas dan harus berbicara pada Zhavia. Daniel mengunci ruang kelas setelah anak murid Zhavia keluar dan Zhavia masih membereskan barang barangnya.
"Zhavia! Aku tidak bisa menjauh darimu dan jangan menjauh dariku, Zhavia!" pinta Daniel memegang pergelangan tangan Zhavia. dia sudah menyandarkan Zhavia di dinding kelas.
"Daniel! Apa apaan kau?! Lepaskan aku!" bentak Zhavia berusaha berontak.
"Tidak Zhavia! Biasanya kita bersama tapi ini kau dingin padaku, kita bisa menjadi teman seperti biasanya kan?" decak Danile menuntut sebuah hubungan yang sudah ia lecehkan sendiri.
"Kau meng-gangguku Daniel! Asal kau tahu, setiap hari kau membuatku risih tapi aku tidak pernah mengadukanmu pada Patrick!" saut Zhavia tak mau kalah. dia tidak peduli ada yang dengar dari luar, dia malah berharap seseorang menolong nya.
"Kau mau mengadukan apa? Bukankah dengan begitu Patrick mungkin juga akan membencimu dan kau lebih sendiri lagi Zhavia. Apakah kau jadi mendatangiku?" Daniel malah menantang.
"Sudah gila! Lepaskan!" Zhavia terus meronta. sementara Daniel terus menahannya sampai matanya sudah menjalar ke wajah Zhavia yang sangat ia sukai.
"Tidak! hem, sudah lama sekali aku ingin mengecup bibirmu, Zhavia!" bisik Daniel mendekati wajah Zhavia perlahan.
"Argh, lepaskan aku!!!" Pekik Zhavia mendorong tubuh Daniel sekuat tenaga dan Daniel pun terhempas mengenai meja kursi kelas. Zhavia langsung berlari dan belum saja sampai pintu kelas yang terkunci dari dalam, seseorang sudah mendobraknya dari luar. Patrick. Patrick yang melakukannya.
"Patrick?" Panggil Zhavia memegang dadanya dan langsung memeluk suaminya itu. Tubuhnya sedikit bergetar.
"Patrick, dia, dia mau menciumku! Dia , dia yang sebenarnya mengirimi pesan kaleng berkali kali pada hubungan kita, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, bawa dia menjauh dariku Pat, aku mohon!" Kata Zhavia ketakutan dan terus memeluk suaminya.
"Sudah sudah, aku sudah di sini! Amber, jaga Zhavia," kata Patrick memberikan Zhavia pada Amber sementara Patrick menghampiri Daniel.
"Selama ini kau benar menyukai istriku, Dan?" selidik Patrick mendekati Daniel.
"Dan sepertinya istrimu juga!" balas Daniel memancing Patrick.
Buak!
Patrick langsung memberikan pukulan pada Daniel. Muncul percikan darah di sisi mulut Daniel.
__ADS_1
"Kau ku pecat! Aku bisa menggantikan pekerjaanmu dengan orang yang lebih profesional bukan pria tidak tahu diri sepertimu!" kata Patrick menunjuk Daniel.
Cuih! Buak!
Daniel membalas pukulannya lagi.
"Kau yang tidak tahu diri! Selama ini aku yang menemani istrimu! Kita bercanda, bercakap cakap, mencurahkan isi hati, dan aku yang menjadi pendengar nya yang baik. Dia menikmati kebersamaan kita! Asal kau tahu saja Tuan Muda Kwan miskin hati! Sebaiknya, kau berterimakasih padaku!" balas Daniel juga menunjuk nunjuk Patrick yang menundukan kepalanya.
"Bohong! Dia berbohong Patrick, kita hanya dekat ketika di sekolah, hanya makan siang dan membicarakan pelajaran, tidak lebih, dia berbohong Patrick! Dia hendak menghancurkan rumah tangga kita! Percayalah padaku!" bantah Zhavia berteriak sambil menangis.
"Cih, akui saja Zhavia, kau selalu sedih dengan si tuan komponis ini yang selalu membuatmu sendiri dan kesepian kan? Kau membutuhkan aku, Zhavia sayang!" Daniel malah makin memperkeruh suasana hati Patrick.
"Sial!" umpat Patrick kesal dengan ocehan kotor Daniel.
Buak! Buak! Buak!
Patrick menghempaskan Daniel sampai ke dinding dan memberinya pukulan lagi dan lagi. Sampai Hoshi dan Eden pun datang karena mendengar Patrick mendatangi ruang kelas Zhavia dengan tergesa gesa dan panik.
"Pat Pat Pat sudah! Daniel sudah tersungkur," kata Hoshi menarik lengan Patrick.
"Biar saja, aku bahkan ingin membunuhnya!" saut Patrick merasa diremehkan.
"Cih, bunuh saja, kau bisa menghancurkan orang orang sepertiku tapi kau tidak bisa menghancurkan sakit hati Zhavia yang dirasakan padamu. Aku yang membuatnya tenang dan bahagia!" pekik Daniel terus memanasi Patrick.
"Diam kau keparat!!!" umpat Patrick lagi belum puas menghajar Daniel.
"Pat Pat, PATRICK STOP! Daniel, keluar kau dari sini!" Teriak Eden menahan Patrick dan juga membentak Daniel yang memang tidak tahu diri.
"Keluar! Keluar kau dari sini! Pecat dia Hoshi, aku tidak mau melihat wajahnya, pria tidak tahu diri, pecundang! Bawa dia keluar! Zhavia, kemari! Amber bawa Zhavia kemari!" perintah Patrick kemudian.
Daniel menahan Hoshi untuk bisa melihat Zhavia untuk terakhir kalinya.
"Zhavia, kau akan menyesal," desis Daniel menghempaskan tangan Hoshi dan hendak berjalan keluar sendiri.
"Daniel, apa maksudmu?!" Bentak Hoshi bertanya karena juga mendengar desisan itu.
"Pat, dia!" Kata Hoshi lagi.
Patrick sudah memeluk Zhavia.
"Daniel!" Panggil Patrick. Daniel setengah menoleh dan melihat Patrick malah mencium Zhavia dengan sangat menghayati dan cukup mendominasi sampai Eden, Hoshi dan Amber menunduk tak enak.
Daniel menatap mereka semua dengan bengis khususnya Patrick.
'Kau harus membayar apa yang kau tunjukan padaku, Tuan Kwan! Lihat saja!' desis Daniel dalam hati dan meninggalkan mereka semua.
...
Patrick memeluk Zhavia terus menerus di ruangannya dalam diam. Zhavia malah tertidur. Sungguh sebuah hari yang melelahkan. Zhavia baru saja selesai mengajar dan menahan semua ketidak enakan dalam dirinya.
Pagi tadi perutnya mual dan begah. Kepalanya pening tapi dia harus mengajar karena ada pengambilan nilai suara falsetto dan hari ini Zhavia harus memberi pengarahan pagi penyanyi group pria yang baru saja Eden bentuk untuk dibagi bagian per suaranya. Zhavia harus profesional. Dia tidak boleh memanjakan dirinya. Dia hanya lelah, tidak ada yang lain.
Patrick bergeming dan tidak bertanya apapun pada Zhavia. Daniel memang menyukai istrinya sejak pertama bertemu. Patrick tentu saja cemburu tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Zhavia. Zhavia membutuhkan teman. Patrick harus menguasai diri. Semoga dengan keputusannya memecat Daniel. Hubungan mereka kembali berjalan baik tanpa kesalah pahaman.
__ADS_1
Selama satu Minggu ini Patrick mencari siapa yang menghubunginya tak ayal dia juga suka mencurigai Zhavia. Namun, dia mencoba sabar. Apalagi sekarang dia melihat Zhavia langsung tertidur.
"Patrick, jadi kau sudah percaya kalau Daniel yang memberi pesan kaleng itu kan?" Ujar Hoshi.
Patrick mengangguk sambil mengelus pelipis Zhavia yang masih tertidur.
"Karena Zhavia tidak mempunyai mantan kekasih. Masak Pierre yang menghubungimu! Pierre saja sedang berlibur ke Nederland bersama Ella dan anaknya," tambah Eden.
Patrick mengangguk lagi. Zhavia hanya mempunyai satu mantan kekasih yaitu Pierre, kakak tirinya yang sangat tidak mungkin kembali menyukai istrinya. Pierre sudah bahagia bersama Ella.
"Aku masih tidak habis pikir dengan Daniel, tapi Pat, memang Daniel yang selalu menemani Zhavia. Dia bahkan tidak mau mengikuti rapat pemusik ketika dia tahu kau harus pergi sebentar ke Oriental dan dia menemani Zhavia di sekolah seharian dan mengantar pulang. Bahkan Daniel bermain dengan Zena di mansionmu!" decak Hoshi tidak terima dengan apa yang ia ketahui tapi dia tidak sempat memberitahu Patrick.
Patrick terus menatap tajam tangan Zhavia.
"Bagus, kau sudah memecatnya! Aku juga lelah mengaturnya! Dia seperti pianis paling penting saja!" tambah Hoshi lagi.
"Sudah Hoshi, jangan terus membicarakan yang sudah tidak ada!" Eden mengingatkan.
"Aku kesal ada Don Juan keparat itu! Berani beraninya dia mau mencium Zhavia di gedung sekolah mu Pat!" decak Hoshi lagi belum puas. dia juga tadi hendak menghajar Daniel kalau saja Patrick menyuruhnya .
"Hoshi! Kau malah memanas Manasi Patrick, pergi sana periksa penyanyi grup yang kubentuk!" perintah Eden kemudian.
"Haiz, iyaa! Aku juga kesal dengan Daniel, bukan memanas Manasi!" Decak Hoshi keluar dari ruangan Patrick.
"Pat, kau harus tetap percaya pada Zhavia. Jangan terpancing apapun, jangan sampai semua berantakan! Dengarkan aku! Aku sudah memberi peringatan!" kata Eden mengingatkan.
"Kau Yang membawa Daniel kemari, Eden!" desis Patrick menatap tajam sahabatnya.
"Dia yang datang kemari sendiri, pat dan kau juga menyukai permainan pianonya kan? Sudah, semua sudah berakhir. Sekarang dia sudah pergi. Apa kau perlu aku mengirim orang tetap mengawasinya?" ujar Eden memastikan.
"Lakukan! Aku tidak mau lagi mendengar namanya berkeliaran di gedung ini. Berikan juga peringatan bagi mereka yang membicarakan masalah siang ini akan dikeluarkan dari sekolah, murid atau pun pengajar. Aku tidak mau kejadian hari ini menjadi bulan bulanan," perintah Patrick menanggapi saran Eden.
"Siap, Pat! Aku permisi! Em, kalau Zhavia tidak siap memberi pengarahan pada boy group ku, tidak apa apa, masih ada hari esok. Lebih baik kau membawanya pulang. Dia agak pucat," kata Eden lagi tidak enak dengan kondisi Zhavia.
"Ya," saut Patrick dan masih memandang Zhavia. Eden pun pergi meninggalkan ruangan.
"Apa yang kau berikan pada Daniel, Zhavia? Mengapa dia sangat terobsesi padamu? Kau tidak melakukan hal yang akan membuatku kecewa kan? Mungkin aku yang terlalu sibuk, tapi tidak perlu sampai menanamkan cinta di hati orang lain. Aku bekerja untukmu, untuk anak kita, untuk mimpi kita tapi mengapa ada seorang pria yang adalah sahabat ku sendiri sampai menyukaimu seperti ini," tutur Patrick meringis tapi tetap memberi dekapan bagi Zhavia.
Sekitar dua jam kemudian, Zhavia sudah terbangun. Dia sudah berada di mansion, di kamarnya dan sebuah tangan kecil memegang tangannya. Menghentak hentakannya dan sesekali mengecupi punggung tangannya.
"Mommy!" Suara gadis kecil itu berkumandang.
"Dessy, mommy wake up!" tutur Zena memberitahu.
Dessy yang sudah menyiapkan minuman hangat untuk majikannya menoleh ke belakang. Zhavia sudah membuka mata sambil memegang dahi nya. Dessy pun menghampirinya.
"Nyonya, kau baik baik saja? Minum ini nyonya, nyonya besar yang membuatkannya. Setelah itu beliau pergi mengantar tuan besar ke rumah sakit untuk mengambil obat nya. Belakangan tuan besar kembali mengalami nyeri dada," kata Dessy memberi tahu.
"Ya Dessy thankyou!" Ucap Zhavia mencoba duduk dan menerima minuman dari Dessy.
...
next part 14
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊😊
thanks for read and i love you 💕