Mantan Terindah

Mantan Terindah
94. Dia?


__ADS_3

"Kenapa kok muka lo kayak senang banget kenapa?" Tanya Roy yang menatap begitu tajam kedua mata Tiffany. Ada apa ini?


"Enggak kok nggak ada apa-apa cuman seneng aja emang gak boleh kalau misalkan senang? Dan gue pengen banget kalau misalkan... sebenarnya ada sesuatu yang pengen gue omongin sih sama lo boleh nggak kalau enggak keberatan?"


"Omongin soal apa? Gue nggak mau ya kalau misalkan sesuatu hal yang berat-berat dan itu bakalan bikin gue yang rugi nantinya gue disini ngomong blak-blakan aja nggak mau ada sesuatu hal yang bikin gak enak di kemudian hari." Tegas Roy mengatakan demikian kepada Tiffany.


"Pokoknya nanti aja deh gue ngajakin lo boleh kan?"


"Emang mau kemana sih kenapa nggak bisa ngomong sekarang aja?"


"Ya nanti aja kalau gitu gue pulang duluan ya gue cuma ngomong itu doang kok." Roy pun mengangguk dengan ucapan Tiffany, sepertinya Tiffany sedikit berubah dari SMA dan kuliah karena ketika kuliah sifatnya berubah menjadi sedikit agresif dan lebih aktif.


Roy pun berjalan ke arah keluar kampus. Rival menghampirinya dan di sampingnya pun ada Franda dan Cerry. "Tadi ngobrol sama siapa?"


"Gue tadi ngobrol sama Tiffany. Kenapa?" Kedua mata Rival dan Franda langsung menatap satu sama lain dan di sampingnya kebutuhan banget tadi Cerry seakan-akan canggung dan bingung.


"Kenapa? Kok kalian tegang banget sih mukanya kenapa nih ada apa?"


Untuk merilekskan keadaan Rival pun menepuk bahu Roy dengan cepat ia tertawa lepas untuk menstabilkan apa yang ia rasakan agar tidak terlalu kentara. "Fran gue pulang duluan ya tadi nyokap gue bilang gue harus pulang duluan dan kita mau jalan-jalan. Permisi semua duluan ya!" Angguknya seperti itu. Cerry tak mau kesedihan yang bertambah ketika melihat kedua mata Roy seakan dia yakin Roy dan Tiffany terus berhubungan.


Rupanya Roy peka dengan keadaan hari ini. Ia langsung saja melontarkan pertanyaan kepada mereka berdua ya mungkin aja mereka tahu apa penyebabnya Cerry seperti itu. "Dia Kenapa sih kok kayak menghindar gitu emang salah gue apa?"


"Gue juga nggak tahu coba deh lo tanya langsung sama dia kali aja kalau ditanya sama lo dia mau jawab jujur." Rival menyambungkan bibirnya sedikit naik ke atas.

__ADS_1


"Iya kak coba deh kakak nanya sama dia soalnya dia tuh orangnya agak tertutup kak kalau misalkan udah ngambek jadi harus ditanya-tanya dan panjang-panjang dulu supaya ngambek nya itu bisa mereda aku dulu juga pernah kayak gitu sama dia setelah aku tanya baik-baik baru deh dia ngaku ada apa." Franda menambahkan fakta tentang Cerry kalau sedang ngambek tuh kayak gimana menanganinya.


"Ya udah deh kalau gitu entar gue minta maaf sama dia kalau misalkan gue dia salah kali aja gitu ada ucapan atau perbuatan yang bikin dia nggak suka sama apa yang gue lakuin." Mereka berdua pun mengangguk dengan ucapan itu.


"Duh kenapa jadi ceritanya begini sih susah banget buat ngedeketin mereka berdua."


***


Obrolan di penghujung telefon.


"Bayu kamu ikutin aja, tante khawatir sama dia."


Alasan yang sebenarnya masuk akal sekali.


"Mah aku berangkat dulu ya mah aku nggak enak sama temen-temen aku nanti di kampus kalau aku telat datangnya soalnya udah kesiangan kalinya."


"Kamu ngapain sih ke sini segala ngikutin aku?"


"Aku di amanatkan sama mama kamu supaya aku ngikutin kamu karena kalau misalkan kamu kenapa-napa ntar mama kamu khawatir sama kamu cuma itu doang. Dan dia siapa?" Tunjuknya ke arah Roy. Dengan cepat menurunkan tangannya menunjuk itu ke arah Roy dia mengajak langsung untuk pergi dan meninggalkan tempat ini agar dia tak mengikutinya lagi.


"Mama kenapa sih maksudnya buat gue sama Bayu? Gue risih banget kalau dia deket-deket gue terus gimana gue nanti ketemuan sama Roy?"


Ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Roy apakah ia sudah sampai di sana.

__ADS_1


Tiffany


"Lo dimana gue sebentar lagi sampai di sana."


Roy


"Iya bentar lagi gue juga sampai kok."


Bayu masih ada di sampingnya. Seakan-akan seperti mandur atau asisten. "Kamu kok bisa-bisanya ya mau disuruh mama kayak gini? Apa kami gak mau buat menolak kemauan mama aku? Gimana sih kamu?"


"Aku sih anaknya penurut banget, jadi gak papa dong? Kasihan juga aku sama kamu kalau misalkan kamu sendirian pergi." Jawabnya yang sama sekali tak marah dengan ucapan dari Tiffany yang sedikit ketus.


"Astaga. Kamu itu ganteng gak usah deket-deket sama aku kamu tahu kan kalau misalkan aku tuh udah punya janjian sama orang jadi kamu nggak usah ikut-ikut sama aku." Kesalnya Bayu hanya tersenyum dan tetap saja mengikuti Tiffany ke mana pun berada sesuai dengan suruhan dari mamanya Tiffany.


Tiffany pun menaiki motornya lalu meninggalkan Bayu yang masih di depan rumahnya. Tak kalah juga Bayu pun mengikuti dari belakang dengan mobilnya dengan sedikit ia pelankan kecepatan antara mobil dan sepeda motor itu berbeda sekali. Dari kaca spion ternyata Tiffany terus memantau orang yang ada di belakangnya ia sedikit kesal dan ia menaikkan kecepatannya untuk bisa lolos dari Bayu. "Kamu kenapa sih kayak menghindar gini? Kamu pikir aku bosen apa buat gak ngikuti kamu? Ya enggak sama sekali lah." Batin Bayu yang tak pantang menyerah untuk terus mengejar Tiffany sampai dapat. Walaupun sama sekali Tiffany tidak menggubrisnya dari dulu dan sampai sekarang pun.


Akhirnya sampailah mereka di suatu tempat. Bayu tidak keluar dari mobil dan ia pun tetap mengikuti gerak-gerik dari Tiffany. Tiffany melepas helmnya lalu lo masuk ke dalam menemui seorang cowok. "Dia siapa ya kok ada cowok?" Batinnya.


"Apa dia pacarnya?" Paniknya dari kejauhan. Tak terdengar obrolan mereka pastinya.


"Ya udah di sini aja mantau."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2