Mantan Terindah

Mantan Terindah
45. Ucapan Rival


__ADS_3

"Val lo beneran udah move on sama Rubi? Gue liat lo udah bahagia banget sekarang." Kedua mata Rival melirik kearah Cerry dan Franda yang sebentar lagi ingin keluar dari kelas. Kedua kakinya yang tidak mau diam dari tadi ia ingin cepat-cepat memberikan sesuatu ke seseorang.


"Yuk cer." Dan tibalah saatnya mereka melintas dihadapan mereka.


1


2


3


"Gue duluan ya guys." Rival keluar begitu saja ketika Franda dan Cerry keluar dari kelas. Sedangkan ketika sahabatnya malah sudah mulai terbiasa dengan sikap Rival yang semakin aneh saja.


"Bert menurut lo Franda sama Rival bakalan jadian gak?."


"Iya banget udah keliatan kok."


"Gue sih juga yakin." Ucap Bima yang memasukkan tangan ke kedua kantung celana seragamnya.


"Udah ah gue balik dulu ya bim, bert." Sahut Rudy.


Nomor tak di kenal


Rival hari ini bakalan nungguin lo didepan gerbang, dan dia bakalan ngajakin lo balik. Bunga dan cokelat.


Baru saja memasukkan ponsel kedalam saku baju seragamnya tiba-tiba berselang itu Rival sudah ada dihadapannya mengajaknya untuk pulang bareng. "Lo kenapa fran?."


"Cer, temen lo kenapa?." Ucap Rival menanyakan Franda yang menatap ia sangat tajam dan tidak ada kedipan sama sekali.


"Eee, boleh kan temen lo bareng gue?."


"Oh bo---boleh kok. Dan lo nyariin kak Roy ada tuh di kelas." Tunjuk Rival. Cerey masih belum sembuh luka hatinya ketika melihat Roy bersama Amanda atau Manda yang sering dipanggil itu.


"Gue duluan aja ya fran."


"Loh kok malah ninggalin gue cer, Cer kita kan?." Padahal Franda sangat malas sekali untuk pulang bareng lagi dengan Rival. Tqpi bagaimana kali ini Cerry tidak bersahabat.


"Ya udah naik." Sahutnya Rival mendorong bahu Franda untuk masuk kedalam mobil.


"Temenin gue ke tempat yang sering gue nongkrong ya."


"Lama gak?."


"Gak kok, entar kalau lo dimarahin gue bakalan yang tanggung jawab." Sahutnya dengan sesantai itu.


"Besok gue anterin ya sekolah biar gak naik angkutan umum lagi,."


"Eh?."


"Mau kan? Kan gratis juga lagi."


Tangan kiri Rival mengambil sesuatu di bangku belakang depan mereka. "Nih buat lo."


Bunga? Cokelat?


Kalimat itu sudah Franda ketahui sebelumnya. "Bagus gak? Gue beliin ini buat lo doang loh. Terima dong."


"Makasih val, makasih ya."


"Hm, bilang apa kek." Cengirnya.


"Bilang kata romantis kek apaan sih." Ini kenapa si Rival aneh gitu.


"Kok kasih bunga sama cokelat? Dalam rangka apa?."


"Gak apa-apa kok."


...•••...


Rival memesan pesanan ke pelayan restoran. Dari kalangan anak sekolahan Rival termasuk royal apalagi ke orang yang membuatnya senang dan suka. "Gimana enak gak? Sorry gue bohong kali ini, eg gue ralat bukan bohong sih mereka emang gak bisa datang aja. Udah gitu aja.,"


"Eh gue males ketemu sama mereka." Rival mengangguk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


"Kok gue kebelet ya? Ya udah ya gue ke sana dulu." Rival menuju ke ke toilet.


Rubi? Ya Franda bertemu dengan Rubi pertemuan yang tidak disengaja. Ia melemparkan senyum untuk Franda dan menariknya sebentar. "Lo bareng Rival?." Franda hanya mengangguk saja ia merasa serba salah.


"Lo udah ngelakuin itu semua? Biar deket lagi sama gue? Dia udah jatuh cinta belum?." Belum sempat Franda menjawab beberapa pertanyaan Rubi.

__ADS_1


Rival merangkul Franda tiba-tiba didepan Rubi disela obrolan mereka, didalam hati Franda ia sangat yakin kalau Rival mendekatinya untuk hanya sekedar memanas-manasi Rubi semata buktinya saja ketika Rubi melihat mereka Rival bersikap seolah-olah mereka dekat. "Lo mau apa, eh bentar deh." Rival merapikan rambut Franda dengan lembut lagi dan lagi didepan Rubi. Hingga ia berhasil membuat Rubi mengepal tangannya dan tersenyum singkat karna ia yakin sekali kalau Franda sudah mulai berhasil melakukan misinya.


"Rub, lo bareng Chiko?."


"Iya val, ba----reng Chiko."


Kedua mata Franda melihat sorot mata Rubi, sebagai sebagai perempuan ia juga dapat merasakan apa yang Rubi rasakan. Gimana kalau ini diposisi Franda, perempuan mana yang pernah mengisi hatinya tiba-tiba sudah bersama yang lain? Biasakah? Jawabannya adalah tidak sama sekali. Tidak!!


"Kalau gitu kita kesana dulu ya rub." Ucap Rival yang memang sengaja melakukan hal itu tidak lepas dari rangkulan tadi. Franda pun terdiam dengan pertanyaan Rubi, Ia takut kalau membuat Rival benar-benar jatuh cinta dan ia pun bisa jatuh cinta pula dengan sikap-sikap yang selama ini. Tapi bukan itu yang ia takuti, yang ia takuti adalah penyesalan diakhir waktu.


Franda menurunkan tangan Rival yang merangkulnya. "Kok pindah disini lagi?."


"Gue males disana. Ya udah pesan aja gak repot kan belum pesan juga." Sesimple itu Rival menjawab.


"Udah lah rub, lo bakalan dapetin Rival kok tenang aja ya." Ucap Chiko melihat ke kedua mata Rubi yang menyorot ke Franda dan Rival. Dan gue juga bakalan dapetin Franda. -Chiko.


Rival menyuapkan makanan ke mulut Franda begitu romantis sekali diselingi senyum yang manis sekali pasti kalau fans-fans Rival pasti sudah meleleh.


Rubi keluar begitu saja dari restoran dan dibelakang ada Chiko yang mengikutinya. Rival mengangkat lekungam bibir keatas. Ia juga gak perduli sama sekali.


"Mulut lo tuh belepotan,." Kenapa jantung ini berdebar kencang sekali kedua belah pihak saling menatap satu sama lain.


"Nih cobain."


"Gimana enak kan?." Franda hanya tersenyum, ia juga merasakan jantung yang berdebar. Ia mengecek ke lajar ponselnya jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. "Kenapa? Mau balik? Gue anterin nanti."


"Tenang aja."


...•••...


Malam yang sunyi dan suasana yang dingin pun tidak membuat Rival kedinginan mungkin efek yang lagi kasmaran. Roy duduk disebelahnya pun juga merasa ada hal yang aneh kali ini. "Kenapa lo val? Senyam senyum sendiri?."


"Gak, gue lagi senang aja kak, gak boleh?."


"Kenapa emang?. Jatuh cinta?." Tebak Roy asalnya dengan raut wajah yang bahagia sekali.


"Ya kayaknya deh, kenapa ya kalau lagi jatuh cinta tuh bahagianya kebangetan banget."


"Rubi?."


"Kok Rubi lagi? Enggak lah gue udah move on kak tenang aja."


"Ada dong,. Kepo deh."


"Gue kenal gak orangnya?."


Rival tidak menjawab lagi ia lebih sibuk memainkan ponselnya mengecek macam-macam artikel tentang orang yang lagi jatuh cinta.


***


...Disaat semua itu berasa berbeda dari sebelumnya ...


Nomor tidak dikenal


Lo harus dekat terus dengan Rival karna dia sedang kritis dan butuh yang namanya dukungan.


Nomor tidak dikenal pun terus saja menghantui ponsel Franda. Milka dan Lusi menahan langkah Franda begitu saja ketika Franda membawa bekalnya kembali. Ia merampas begitu saja, membukanya dengan tanpa izin. "Eh, bawa apa lo?."


"Lus, ambil."


"Apaan ini lo bawa bekal buat siapa?."


"Paling buat Rival, sok banget ya lo berani nekat lo?."


"Hah?."


Franda mencoba untuk tidak menanggapi ucapan mereka berdua berusaha untuk mengambil bekal yang ia bawa tadi. "Nih buat lo." Dikembalikan sih iya tapi diacak-acak sampai tidak berbentuk lagi.


"Udah sana kasih sama Rival." Dorong Lusi dan Milka.


Pembullyan yang meraja lela masih saja berjalan sampai sekarang, ya itu sering sekali ia hadapi beberapa waktu belakangan ketika ia dekat dengan Rival khususnya cowok yang menjadi incaran Lusi waktu itu, dan semua berubah 180 derajat hingga akhirnya seperti ini.


Ketiga sahabat Rival menyenggol Rival yang sibuk memainkan ponselnya, Rival pun refleks dan berhenti tanpa basa basi ia mengambil begitu saja makanan yang di pegang oleh Franda. "Ini buat gue kan?."


Diam..


"Loh kok bisa acak-acakkan gini? Lo pikir gue apa?."

__ADS_1


"Ayam? Atau Kucing?. Berantakan banget!!."


"Gue gak bakalan mau." Celoteh Rival yang kecewa padahal hari ini ia sengaja tidak sarapan di rumah eh malah dibikin kecewa.


"Asal lo tau ya, gue bisa makan lebih dari apa yang lo bawa, dasar cewek kampung gak berguna!!." Kasar banget bukan? Cewek mana ataupun cowok mana yang mau dibilang gak berguna? Gak ada sama sekali. Ditambah pula Milka dan Lusi menghampir Franda yang diam berdiri didepan pintu disaksikan oleh rudy, Albert dan Bima yang juga akhirnya mematung.


"Gue tadi liat Franda sengaja mengacak-ngacak makanan buat Rival, eh lo mau bikin makanan ini bikin sakit perut hah?."Suara itu sengaja ia kencangkan nyaring agar Rival juga mendengar.


Padahal dibalik itu ada perjuangan yang tidak mereka ketahui, apalagi Lusi yang ikut campur dan menjadi biang kerok masalah.


Untungnya Franda bukan sendirian Cerry pun yang jauh lebih segalanya mampu membela Franda. "Gue udah muak sama lo ya lus, gue gak nyangka ya lo cewek yang murah banget, ngapain lo acak-acak makanan Franda hah?."


"Udah cer, udah."


"Lo udah deh gak usah sok baik sama gue. Apa lo pegang bahu gue, gue jijik sama lo." Sahut Milka yang menarik Lusi.


...•••...


"Val tunggu bentar deh." Albert menahan bahu Rival sebentar yang sudah didepan mobil. Ia padahal sudah ingin pulang.


"Apa bert lo mau nebeng?."


"Bukan, gue lihat Franda ada dilorong sendirian. Buruan lo kesana."


"Apa hubungannya sama gue?. Kan gue bu---."


"Gue yakin lo perduli, ya udah buruan kesana." Yakin Albert yang mengetahui kalau Rival perduli.


Tanpa basa basi Rival pun memutar arah dan menuju ke lorong sekolah.


Ternyata benar, Ada seseorang yang diucap oleh Albert tadi, dia sendirian dan Rival mendekat dengan bayang-bayang yang terlihat jelas.


"Kenapa diem aja?." Ketika beberapa waktu tadi, Franda merasa tertampar keras sekali dengan ucapan Lusi dan Milka. Di lorong sekolah, sendirian dan menggenggam erat besi-besi besar. Seseorang yang menghampiri Franda dan memegang bahunya dengan pelan, suara itu tidak asing lagi untuk Franda.


Ia melengkungkan senyum sebentar, "Kenapa? kok diem aja? Ya udah ah pulang." Ia merangkul kasar Franda tapi langkah itu tidak mengikutinya.


"Kalau lo mau balik, ya sudah balik aja sana gue lagi pengen disini." Sahutnya yang membalikkan badannya ketempat semula menenangkan pikirannya sebentar.


Ia pun membalikkaan tubuh Franda kearahnya mengangkat dagunya ia kedua mata mereka saling beradu. "Lo kenapa? Kok kayak beda dari biasanya?." Ia menggeleng pelan.


"Udah gue gak papa udah sana balik, gue gak kenapa-napa kok." Sahutnya dengan suara yang berat dan serak.


"Lo nangis?."


"Mana? Gak ada kok." Air mata setetes pun turun sebentar dari mata sebelah kiri.


"Cerita sama gue? Siapa yang udah bikin lo kayak gini?."


"Oh gue tau, ya udah gue minta maaf deh sama lo tentang----."


"Ini bukan salah lo kok gak perlu minta maaf val."


Lalu Rival bingung, ia berfikir kalau ini adalah salahnya"Trus siapa dong? Kan cuma gue yang jahatin lo, eh bukan jahatin sih tapi jailin lo." Ralatnya.


Rival mendekat dan mendekat menghapus air mata Franda dengan kedua jempolnya secara halus lalu ia tersenyum tipis terlihat sekali wajah tampan Rival "Udah ya, kita balik aja. Gue kan udah janji mau anterin balik lo. Jadi gue gak mau jadi orang yang ingkar." Rival menggenggam tangan kanan Franda dengan erat sekali. Franda hanya diam dan tidak mau berharap lebih dengan orang telah menggandengnya ini. Dia kadang baik, menyebalkan, nyebelin dan bahkan romantis tiba-tiba begitu saja membuat jantung Franda terkadang berdebar.


"Kalau mau cerita ya udah cerita aja sama gue, gue siap buat dengerin lo fran."


Diam dan hanya diam saja.


"Rival, lo baik sama gue tulus?."


"Hah? Lo nanya apa sih?. Gue jadi gak ngerti lo masih gak percayaan banget kalau gue udah beda. Lo mau gue buktiin? Hah perlu gue buktiin?."


Diam!!!


"Kenapa diam aja? Ya udah gue bakaan buktiin besok, oh jangan-jangan tentang Lusi sama Milka?."


Teringat sesuatu, Apa yang membuat Rival tau padahal ia tidak melihat Rival sebelumnya. "Gue dikasil Albert kalau Lusi acak-acakin makanan yang lo kasih. Lo sedih kan sama ucapan gue? Sekalian juga juga mau minta maaf." Ucapnya yang meyakinkan Franda.


Disela itu Franda teringat kembali dengan sms misterius itu, memberitahukan kalau Rival sedang kritis. Ia menatap Rival diam-diam yang sedang mengemudi mobil dengan fokus.


"Ya udah gue coba buat menjadi penyemangat Rival aja." Gumam Franda dari hati.


"Makasih kalau gitu."


"Hm. Gak sedih lagi kan?"

__ADS_1


"Ayo jawab!."


Dengan anggukan membuat Rival ikut tersenyum.


__ADS_2