
Nomor Tidak dikenal
Lo harus hati-hati, karna Lusi akan meneror lo sebentar lagi.
"Siapa sih yang ngirim ini kok tau terus, ah gak perduli juga." Ucap Franda yang masih mengantuk. Apalagi ini baru jam 5.00 subuh, matanya masih ngantuk sengantuk-ngantuknya. Ia melanjutnya kalapnya itu dibantal.
Bruk...
"Suara apa itu?" Dari arah jendela, Menaruh ponselnya tempat tidur, dan ia berjalan lalu membuka gorden dan melihat siapa yang ada disana.
Semua masih senyap dan sepi, langit pun masih gelap. "Ah mungkin aja kucing yang lewat." Positifnya seperti itu, Ia pun bergegas untuk mandi dan sholat subuh. Tapi sebelum itu ia merapikan tempat tidur terlebih dahulu.
"Dia siapa ya? Kok gue ngerasa ada yang gak enak, apa ini ada hubungannya sama misterius itu?"
Setiap hari ia biasanya mandi terlebih dahulu untuk menunaikan kewajibannya yaitu sholat karna dari kecil ia sudah diajarkan untuk tidak meninggalkan.
Biasanya kalau bicara sholat subuh tuh banyak banget cobaannya, walaupun hanya dua rakaat. Tapi ia tetap yakin kalau ego dan rasa malas bisa dirubah karna diinginkan.
...•••...
"Oh jadi ini kak ruang OSIS satunya lagi? Kok aku baru tau ya kalau ini ruang OSIS ada dua?" Ucap Franda, setaunya ia hanya mengetahui ruang OSIS itu ada satu dan tempat ini hanya ia lihat dari luar saja karna tidak sembarangan bagi orang yang masuk selagi tidak berkepentingan apa-apa.
"Oh bukan fran, ini tempat dimana temen-temen lagi diskusi ya kalau misalnya lo liat disana ada piano juga, jadi kita tuh gak seserius yang orang lain tau jadi kita sering nyanyi juga kalau lagi bosan atau gak ada kerjaan." Tuntasnya dengan menjawab penasaran Franda.
"Oh gitu ya kak. Gak tau aku sih maaf."
"Sekarang udah tau kan? Oh iya makasih udah mau bantuin gue buat beli kemarin."
"Astaga kak aku lupa, berapa aku harus bayar hutang aku kan kemarin itu harus ganti rugi?"
"Ah gak usah dipikirin udah lewat juga, anggap aja itu sedekah dari gue." Senyum Roy yang lebih santai.
Suara pintu terdengar dari luar ternyata ada orang yang masuk kedalam. "Eh, sorry gue ganggu."
"Gak papa masuk aja." Karna takut menganggu Franda pun mohon undur diri.
"Kalau gitu aku pamit dulu kali ya kak, takut ke ganggu."
Lalu Roni menjawab simpul, jadi Roni ini adalah sahabat karib Roy dari kelas X. Ia tau sekali apapun tentang Roy, dari ia suka cewek yang mana, tentang hobi masaknya itu bahkan tentang ketika ia dilantik sebagai ketua OSIS di sekolahnya itu. Jadi ya cerobohnya gitu Roni adalah tipe orang yang embernya kebangetan banget. Sampai-sampai mereka pernah berantem hebat karna Roni kasih tau ke yang lain kalau Roy pernah naksir salah satu diantara mereka dan membuat Roy malu banget.
__ADS_1
"Gak papa kok, kalau lo disini. Gue sering liat lo bareng Roy. Lo pacarnya Rival ya?"
"Eh iya kak." Sahut Franda. Ternyata status pacaran mereka sudah hampir diketahui oleh banyak orang.
Ia melirik ke Roy dan menyenggolnya, "Jadi i---"
"Kayaknya bentar lagi masuk deh, kita ke kelas aja yuk." Ucapnya yang begitu gugup namun sebenarnya ia gugup. Gak cuma itu aja sih Franda juga merasakan hal yang sama.
"Chiko?" Franda terkejut sekali ketika melihat Chiko yang tiba-tiba ada dibelakangnya. Chiko tersenyum, namun senyum itu membuatnya sedikit merinding dan bingung. Ketika Franda ingin melangkah kedepan Chiko mengikutinya ke kanan dan ketika ia ingin ke kiri ia pun juga mengikuti.
Ia mendekat lalu berbisik ringan "Gimana?"
Dan benar, Franda langsung teringat tentang semua itu. Tentang dimana ia pernah menyetujui permintaan Chiko untuk mendekatkan Rubi dan Rival. Dengan cara berpura-pura jatuh cinta dan sebaliknya, pada akhirnya Franda harus memutuskan hubungan itu untuk menyuruh Rival untuk memilih Rubi. Perjanjian macam apa itu?
"Gue kesana dulu kali ya." Ia hanya diam dan tidak menjawab apa-apa.
"Lo ngapain disini?" Kejut Roy yang melihat Chiko yang tampak diundang kesini, walaupun ia tidak ada kaitannya sama sekali dengan tapi Roy berusaha untuk tidak lebih pro kesiapapun atau Rival.
"Gue pengen kasih tau lo kak."
"Sorry gue gak bisa, kayaknya gue sibuk."
"Maksud lo?" Roni lebih penasaran disini, ia pun memegang pundak Chiko.
"Franda gak serius sama Rival." Ucapnya dengan tegas, Roy masih belum mengerti sama sekali dengan ucapan Chiko ia hanya menjadi pendengar sebentar lalu pergi gitu aja, karna ia mengenal dua orang tersebut yaitu Franda dan Rival tidak mungkin Franda mengkhianati itu semua apalagi yang ia tau kalau Franda orang yang baik dan perempuan yang baik-baik.
"Lo yakin? Lo gak boleh asal ngomong dong kalau kayak gitu, lo bisa dihabisin kalau Rival tau semuanya tau gak." Ancam Roni.
"Gue gak lagi bercanda, tapi gue kasihan aja sama kak Roy yang terus menyimpan rasa sama Franda."
"Maksud lo?"
"Udah deh kak gue tau kalau kak Roy tuh suka sama Franda ya kan? Jangan bohong gue pun juga suka sama Franda tapi ya gue gak mau Rival sakit hati aja. Ya udah gue pergi dulu cuma pengen kasih tau kak Roy aja. Sampaiin ya." Sahutnya yang pergi gitu aja.
Langkah kaki Chiko perlahan pergi, Roni kasih mematung disana. Berfikir keras ucapan Chiko.
"Apa ya yang bikin Chiko kayak gitu, kok gue masih gak percaya sama sekali." Gumam Roy yang diam memikirkan yang diucapkan Chiko tadi.
Chiko yakin sekali kalau ucapannya itu sungguh membuat Roy berfikir keras.
__ADS_1
...•••...
"Gue ke kelas Franda dulu ya ron." Ucap Roy yang buru-buru takut Franda dan Rival keluar duluan. Manda bingung dan penasaran dengan apa yang sekilas didengarnya itu.
"Ngapain?" Gumamnya.
Seperti biasa, banyak yang terus terpesona dengan kegantengan Roy selaku ketos di sekolah yang sebentar lagi akan segera berakhir.
Dari kejauhan ia melihat Rival dan ketiga sahabatnya masih didepan kelas, ia sengaja tidak menghampirinya tapi menunggu sampai Rival keluar dan menyisakan Franda disana.
"Kak gimana udah ada persiapan?"
"Udah kok, semua berjalan lancar masih 50 persenan, doain semoga lancar ya." Sembari mengobrol ia sambil memperhatikan dari ia berdiri. Pikirannya tidak fokus dan terburu-buru.
***
"Gue duluan kalau gitu, gue tunggu di parkiran ya?"
"Ya udah deh val gak usah sok takut gitu Franda baik-baik aja kok."
"Jangan lama-lama." Franda mengangguk.
"Franda.."
"Kak Roy? Kok ada disini? Gak ke ruang OSIS?"
"Franda gue pengen ngomong sama lo, wah aku gak bisa kak Rival udah nungguin aku didepan maaf ya kak." Tolaknya yang pergi gitu aja.
"Tunggu."
"Ini soal hubungan lo berdua, gue pengen ngomong ini sama lo penting banget!" Lanjut Roy yang tidak kunjung henti.
"Soal keseriusan lo sama adik gue, gue gak mau adik gue tersakiti cuma gara-gara perempuan. Gue harap bukan lo!" Roy mendekat dan menatap kedua bola mata Franda, itu bukan tatapan yang sudah-sudah atau sebelumnya tapi ini tatapan yang penuh penasaran.
"Gue butuh ngobrol berdua sama lo."
"Tapi kak?" Roy hanya diam dan menatap sebentar.
"Ya udah." Ia pun mengiyakan permintaan Roy dan memberitahukan kalau ia tidak jadi pulang bareng Rival, dan menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu. Pasti Rival marah dan bingung kenapa Franda menyuruhnya untuk duluan. Tapi entahlah..
__ADS_1