Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR GRACIA PART 33


__ADS_3

Tidak ada yang mustahil jika keyakinan bisa mengalahkan sebuah prediksi. Ini hanya masalah waktu dan nasib. Selanjutnya hanya yang kuasa yang mampu menentukan semuanya. Gracia terkejut dengan hasil pemeriksaan dokter tentang masalah kehamilan, bagaimana dia menyikapinya dan berbicara pada Dior? Dan bagaimana Dior meresponinya?


...


Suara gemuruh petir di luar sana juga seperti gemuruh dalam hati Gracia ketika melihat hasil yang di perlihatkan sang dokter. Zhavia pun ikut melebarkan matanya. Dia sedikit merasakan kekecewaan Gracia di dalam dirinya. Diri dari seorang Gracia yang dilihat dari luar begitu sempurna namun tidak menyadari apa yang menjadi ketakutannya sekarang.


Hujan diluar mengguyur kota Legacy. Membuat langit langit gelap sama seperti hati Gracia yang tampaknya mulai gelap dengan rasa putus asa. Perasaan sedikit menyesal yang telah menyanjung nyanjung apa yang menjadi keahliannya nyatanya membuat dia kini terpuruk. Mematahkan kepercayaan dirinya menjadi istri seorang direktur Hotel Prime.


"Jadi, dari hasil pemeriksaan, anda Nyonya Prime mengalami cedera pada sisi sisi daerah daerah keintimann anda sampai ke leher rahim. Ini merupakan cedera ringan, terdapat sebuah memar. Jadi sepertinya sulit untuk anda bisa mengandung.


Gracia hanya menunduk. Dia masih membaca hasil dan melihat gambar hasil USG perut dan transvaginall yang tadi ia lakukan.


"Mengapa ini bisa terjadi dok? Em, saya belum begitu mengerti, tapi apa benar benar tidak bisa mengandung?" Tanya Zhavia yang sudah merasakan kesedihan dan ke naasan kakak iparnya.


"Apa Nyonya bekerja? Apa pekerjaan Nyonya?" Tanya Dokter mencoba membuka alasan di balik Gracia tidak bisa mengandung.


"Sa, sa, saya penari." Jawab Gracia terbata. Gracia agak curiga dengan pekerjaannya yang sepertinya menganggu sistem reproduksinya.


"Ya, dia penari, kami baru saja mendirikan sebuah sekolah vocal and ballet." Tambah Zhavia merangkul bahu Gracia. Zhavia begitu tahu ketika ada sesuatu yang salah pada Gracia, dia pasti akan merasa terpojoki.


"Nyonya Prime, apa ketika berhubungan anda agak merasa nyeri atau sakit?" selidik dokter lagi.


"Sedikit Dok, tapi aku tidak begitu merasakannya." jawab Gracia sedikit melirik sang dokter.


"Ya aku mengerti, tetapi rasa sakit itu karna ada seperti memar. Mungkin waktu menari, anda melakukan gerakan yang membuat daerah keintimann anda tepat terjatuh atau anda pernah terjatuh??" dokter semakin mengorek apa yang sebelum nya terjadi pada Gracia karna hal ini sangat mempengaruhi.


"Sesekali seorang pernari akan terjatuh jika sedang latihan. Waktu itu memang pernah aku terjatuh dan ketika itu aku berdarah, kupikir aku sedang datang bulan, aku tidak berpikir terlalu banyak dan memang besoknya aku tidak mengeluarkan darah lagi." Jawab Gracia yang rasanya telah runtuh dunia pernikahannya sedikit demi sedikit .


"Baiklah, kurasa Nyonya dan Nona Prime sudah paham apa yang ku maksud. Aku hanya bisa memberikan obat dari dalam untuk menyembuhkan peradangan yang mungkin akan terjadi pada cedera anda dan dari luar bisa menggunakan gel khusus pereda sakit. Ini hanya gel pereda sakit bukan penyembuh. Gunakan dengan mengulurkan jari telunjuk pada daerah kewanitaann anda. Kemungkinan anda hamil kecil Nyonya tetapi tetap berdoa dan percaya mukjizat Tuhan lebih dari segalanya. Aku hanya dokter yang melihat apa yang terjadi, selanjutnya Tuhan yang bekerja." kata Dokter memberi saran, memberi tindakan yang terbaik dan tentu sebuah pesan untuk menguatkan Gracia.


"Selain minum obat, apa yang harus kulakukan dok? Apa aku dan suamiku tidak bisa mendapatkan program hamil?" tanya Gracia mencoba mencari cara lain.


"Selama anda masih sakit ketika berhubungan sangat sulit melakukan program hamil karna percuma. Saran saya konsumsi dulu obat ini dan gunakan gel nya. Satu bulan lagi silahkan anda datang lagi pada saya. Untuk sementara anda tetap bisa berhubungan dua sampai tiga hari sekali." hanya ini yang dapat dikatakan dokter karna seeprtinya memarnya juga karna terinfeksi virus. namun dokter masih memprediksi.


"Baiklah, aku mengerti." Balas Gracia dengan sangat lunglai.


Dia memikirkan kelalaiannya. Mengapa dia tidak bisa hati hati. Sekarang karna apa yang ia bisa malah menjadi kan dirinya seorang wanita yang tak ada harganya sedikitpun. Dia merasa sudah tidak bisa memberikan keturunan bagi suaminya. Sekarang dia pun bingung bagaimana menghadapi ibu mertuannya dan suaminya. Ibu mertuannya sudah sangat yakin kalau dirinya hamil. Pernikahannya sudah menginjak satu tahun tapi dirinya belum juga kunjung hamil karna ini.


Zhavia menggiringnya keluar ruangan sang dokter. Gracia menangis dan memeluk Zhavia. Dia tak kuasa menerima hasil ini. Zhavia juga mendekap sahabat yang kini menjadi kakak iparnya. Dia seorang wanita jadi dia sangat mengerti apa yang dirasakan Gracia. Zhavia mengerti semua orang yang menikah pasti hendak memiliki keturunan.


Zhavia mendudukan Gracia di samping kursi penunggu dulu sebelum mereka menebus obat Gracia. Gracia masih memeluk Zhavia. Dia seperti memeluk suaminya karna Zhavia adik kandung Dior dan Zhavia yang mengetahui segala keterpurukannya saat ini.


"Gracia, sudaah jangan menangis, aku yakin kau pasti hamil suatu saat nanti, percaya padaku." Zhavia berusaha terus menenangkan saudara iparnya.


"Bagaimana kalau tidak Zhavia? Kakak mu anak laki laki satu satunya dan akulah harapan dia, mom Vien dan dad Dion." keluh Gracia masih dalam sesenggukan nya.


"Iya aku mengerti, tetapi mau bagaimana? Aku yakin kak Dior tidak akan mempermasalahkan ini ayolah. Diamlah dan kita pulang ya?" Zhavia mengelus lembut punggung Gracia.


"Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa pulang? Pulang lah Zhavia. Aku butuh waktu sendiri." Gracia menarik dirinya dan masih memegang hasil pemeriksaannya.


"Gracia, kau jangan seperti ini, kalau seperti ini akan membuat semua orang cemas. Kita harus bicara baik baik. Semua akan ada masa penyelesaiannya." Zhavia berusaha memberi semangat pada Gracia.


Gracia diam saja dan masih menghapus sisa sisa air matanya. Zhavia pun kembali menggiringnya ke depan farmasi. Gracia duduk di kursi penunggu.

__ADS_1


"Biar aku yang tebus obatnya ya?" Zhavia menawarkan diri menebus obat Gracia dan dia menyuruh Gracia untuk menunggu.


Namun, Gracia agak frustasi. Dia belum siap bertemu dengan mertuanya. Viena pasti menanyakan hasilnya . Hasil yang ia harapkan kalau Gracia akan hamil, namun kenyataannya Gracia malah sulit mengandung karna pekerjaannya. Pekerjaannya yang sangat ia banggakan yang merupakan keahliannya kini malah menterjerumuskannya. Dia pun pergi meninggalkan Zhavia. Dia butuh waktu sendiri dan dia harus mencari cara bagaimana mengatakannya pada semua orang yang mengharapkannya. Walau sepertinya Zhavia yang akan mengatakannya.


...


Sudah sampai petang Gracia belum kembali. Zhavia masih menunggunya di depan pintu gerbangnya. Dia mengetahui Gracia dan dia tahu Gracia sepertinya ada di mana. Kalau sudah begini, hanya kakaknya yang akan bisa menenangkan. Dia belum memberitahu ibunya. Dia hanya berkata kalau Gracia pergi mencari kostum menari untuk sekolah nya yang akan di gelar satu bulan lagi. Namun, dalam hati Zhavia, dia mencemaskan kakak iparnya itu. Maunya dia bertanya pada Pammy atau Revo, tapi Zhavia takut kalau ternyata Gracia tidak ada di sana. Malah akan menjadi runyam. Sebaiknya Zhavia hanya bisa menunggu dan sesekali menghubungi Gracia.


Gracia tidak mengangkat panggilannya sampai kakaknya akhirnya pulang. Kakaknya bersama Rick karna mereka baru saja pergi ke pinggiran Summer. Ada juga ayah dan paman Leonnya yang menaiki mobil berbeda. Zhavia telah memberi salam pada ayah dan paman Leonnya. Dia hanya mengatakan hendak menikmati pemandangan sore.


"Hem, sejak Patrick pindah, mengapa kau jadi syahduh begini anakku?" Leon menggoda Zhavia.


"Syahduh apa? Jadi maksud paman, Patrick pindah karna diriku?!" dengus Zhavia menatap tajam pamannya.


"Kurasa! dia mencintaimu tapi kau tidak!" Leon menaikan alisnya.


"Mencintaiku apa? Dia bahkan terus menggodaku!" Zhavia terus mendengus.


"Kau tidak tahu isi hati seorang pria, paman mu ini pakarnya." Leon tersenyum dan menunjukan mata lancipnya yang masih terlihat jelas jika sedang menyeringai.


"Argh, sudah paman masuklah, aku memang ingin menikmati pemandangan sore. Kau tidak lihat langitnya begitu oranye?" Zhavia mencoba mengalih ngalihkan agar tidak sebal dengan pamannya. sampai saat ini, Leon tidak pernah berubah selalu usil dan riang.


"Ya ya, terserahmu saja, hati sesama pujangga cinta tidak pernah salah!" Leon mencolek dagu keponakannya dan tersenyum meninggalkan Zhavia. Zhavia hanya berdecih dan menekuk nekuk bibirnya.


"Awas saja kau Patrick! Kalau aku ketemu denganmu, aku akan mencabik cabik hatimu karna telah menipuku! Heng!" Sungut Zhavia memendam dendam pada sahabatnya yang pergi seperti ditelan bumi. Tidak ada kabar berita tiba tiba pindah bersama kakaknya. Aneh, pikirnya.


"Ada apa? Pasti kau menungguku. Di mana Gracia? Apa kata dokter?" tanya Dior tersenyum melihat Leon menggoda adiknya.


"Em kak, aku menunggumu dan Gracia." Bisik Zhavia di samping kakaknya. Dia tidak mau berkata kata biasa karna kalau ada yang dengar pasti akan memberitahu ibunya.


"Di mana Gracia, Via?" Dior menghilangkan senyum dalam bibirnya.


"Di sekolah menari kita. Dia pasti menari sepanjang hari karna kekecewaannya." jawab Zhavia melipat tangan di depan dadanya.


"Maksudmu?"


"Istrimu tidak hamil kak, dia mengalami cedera, dia sulit untuk hamil." jawab Zhavia to the poin karna tidak ada yang harus ditutupi lebih dalam.


Dan ketika itu bersamaan Zefanya pulang. Dia memarkirkan mobilnya dan turun dari sana. Zefanya menatap tajam dan sinis kedua saudaranya.


"Hay Anya, how are you?" Sapa Zhavia sementara Dior masih tidak mengerti perkataan salah satu adik kembarnya.


Zefanya tidak mempedulikan sapaan Zhavia tetapi malah menatap kakaknya yang tampak bingung. Tak lama Zefanya masuk ke dalam.


"Haiz kak, lama lama aku seram dengan Anya. Sepertinya aku yang harusnya frustasi argh! Patrick pindah tak ada kabar, Zefanya dengan diamnya yang semakin menjadi jadi. Dia seperti tidak menganggap aku ini ada. Sementara istrimu kak, dia juga frustasi melihat hasil pemeriksaan kalau dia sulit untuk hamil. Nah dia frustasi dia pergi meninggalkan ku di rumah sakit. Aku tahu dia pasti kembali menari. Sudah tahu gara gara menari dia jadi tidak bisa hamil malah tetap menari." Kata Zhavia lagi. Dia yang hampir tidak waras namun mencoba menormalkan dirinya karna Zefanya membutuhkannya dan kini Gracia juga pasti membutuhkannya.


Tanpa banyak bertanya lagi, Dior dengan segala kepanikannya meraih kunci mobil dari tangan Rick yang baru saja keluar dari mobil. Dia langsung mengemudikan mobil itu untuk menjemput Gracia.


"Nona, kau yakin tidak akan terjadi apa apa pada Tuan dan Nyonya muda?" tanya Rick sedikit mencemaskan Dior.


"Tidak akan, ayo masuk! Mengapa kalian lama sekali pulang?"


"Banyak yang harus dibicarakan Nona."

__ADS_1


Zhavia mengangguk angguk dan dirinya masuk bersama Rick ke dalam rumah. Zhavia tidak begitu khwatir lagi karna kakaknya sudah turun tangan. Tugasnya sekarang menemui Zefanya, mengajaknya bicara seperti hari hari biasa.


...


Dior sudah memarkirkan mobilnya di depan sekolah balet dan vocal milik Gracia dan Zhavia yang akan beroperasi bulan depan. Dia memasuki ruang utama dan menuju ruangan besar serba kaca kesukaan Gracia. Kata Gracia ruangan besar itu khusus untuk para pemula agar mereka bisa dengan leluasa berlatih tanpa hambatan sedikit pun. Gracia sangat menyukai ruangan itu karna dibuat sesuai dengan keinginan dan angan angannya.


Dior mendekati nya perlahan karna hanya beberapa lampu yang dinyalakan pada lorong lorong menuju ke ruangan tersebut. Ya, hanya ruangan tersebut yang menyala dan ketika Dior melihatnya dari kaca yang terdapat pada pintu itu, Gracia memang di sana. Dia sedang menari. Namun, menari dalam tangis. Sebuah lagu Halo dari Beyonce nyatanya dapat membuat Gracia menari dalam tangis dan penyesalan. Sampai Dior pun merasakan kesedihannya. Dior malah memikirkan perasaan Gracia yang sempurna namun dapat tersapukan oleh sebuah prediksi yang akan membuatnya terpuruk. Dia seorang wanita, pasti dia menginginkan sesuatu yang berharga. Dior memahami itu. Sampai akhirnya Gracia duduk menekuk lututnya dan menangis sangat keras. Dior sudah tidak sampai hati lagi. Dia membuka pintu ruangan itu pelan pelan dan menghampiri Gracia yang masih menangis. Dia duduk di belakang Gracia dan akhirnya memeluk Gracia.


"Menangislah, aku siap mendengarnya sampai kau puas." Kata Dior membuat Gracia sebentar berhenti menangis dan merasakan kehangatan melingkupinya. Kehangatan yang seharusnya ia balas dengan sebuah hasil yang memukau bukannya malah sebuah kemandulan, pikirnya.


Gracia pun berbalik, dia tahu kalau suaminya atau Zhavia pasti menjemputnya di sini. Gracia pun memeluk Dior dari depan dan dia kembali menangis.


"Menangislah, aku menunggu." Kata Dior lagi. Dia sambil mengelus punggung istrinya. Dior merasakan deraian air mata Gracia yang merasa sangat terpuruk akan keadaannya.


"Kak, aku tidak bisa memberikanmu keturunan. Aku tidak bisa menjadi seorang ibu." Gracia menatap sedih dan merasa bersalah pada Dior. Sementara Dior hanya tersenyum.


...


...


...


...


...


hem Gracia baru gek setahun calm dawn 😁😁


.


next part 34


Gracia pasti hamil tapi kapan .. tunggu saja Yuk stay tune yaa 😁😁


akan ada satu keganjalan lagi dan menguak Dior yang sebenarnya 😎😎


Dior ga selembut dan sesabar keliatannya gaes 😁😁


.


rekomendasi novel teen teen bau bau remaja yang menyegarkan mengingatkan masa masa sekolah antara Yoora dan Michael mampir gaes dengan judul:


-- TETAPLAH BERSAMAKU --


by Bernadeth Sacitha


dijamin nostalgia abiiss 😍😍


.


Pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁


Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍

__ADS_1


.


Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤


__ADS_2