Mantan Terindah

Mantan Terindah
Gagal Merayu


__ADS_3

"Bu, memangnya harus ya, hape Gani di sita-sita begitu? Kalo bos Gani telpon gimana, Bu? Kalo bosnya Gani nyariin gimana, Bu?" rengek Gani ketika mengejar sang ibu yang sedang masak di dapur.


Terlihat pria tampan ini mengikuti ke manapun sang ibu melangkah.


"Kamu jangan alasan, ibu sudah tahu kamu bakalan nyariin Nadia. Nggak ada! Sudah kamu tidur aja. Kumpulin tenaga kamu. Hapalin jawaban pertanyaan yang mungkin akan penghulu tanyakan sama kamu. Sudah sana, ngapain ngikutin ibu mulu. Ibu mau masak Gani!" ucap Bu Lani, Lama-lama kesal dan jenuh sendiri selalu di ikutin oleh Gani ke mana pun dia melangkah.


"Lima menit aja, Bu. Yakin Gani hanya mau ngecek pesan. Habis itu pasti Gani balikin!" bujuk pria tampan ini lagi.


"Nggak ada, Gani! Nggak boleh! Lagian, kalo bos kamu nyari, pasti nakalan telpon ibu. Atau nggak ayahmu. Ngapain kamu ribut." Bu Lani kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Gani masih mengikuti. Belum mau menyerah.


Gani diam sesaat. Berpikir keras. Mencari tahu apa yang di sukai sang ibu. Agar dia bisa meluluhkan wanita parih baya itu.


Merasa sudah menemukan jawaban, Gani pun melanjutkan kembali aksinya.


"Bu!"


"Hemm!? "

__ADS_1


"Ibu tahu nggak, kalo Ayah itu nggak bisa tidur tanpa ibu," ucap Gani, modus, merayu.


"Tahu, ayahmu memang begitu. Kalo mau tidur nungguin ibu dulu. Kenapa emang?" tanya Bu Lani, masih belum memahami arti dari pertanyaan itu.


"Ibu kasihan nggak kalo ayah begitu?" tanya Gani lagi.


"Ya kasihan lah, tapi ayahmu ya begitu. Itu usah kebiasaannya." Bu Lani telihat santai.


"Ibu kasihan sama ayah, tapi tidak denganku. Aku pun nggak bisa tidur kalo nggak dengar suara Nadia, Bu. Sekali aja Bu. Semenit deh, semenit!" rengek Gani.


"Nggak boleh! Dibilangin ngeyel banget. Namanya mau jadi manten itu ya gini, Gani. Harus di pingit. Biar langeng. Sudah sana. Pokoknya calon istrimu aman. Nggak udah rewel, ibu nggak mau denger lagi. Sudah sana, tidur. Dua hari lagi ketemu kan?" Bu Lani semakin tak sabar.


***


Apa yang dirasakan Gani, sebenarnya juga di rasakan oleh Nadia. Hanya saja, Nadia menyikapinya dengan tenang. Meskipun jujur, jantungnya juga berdetak sangat kencang. Sebab menahan rindu itu, ternyata tidak semudah bayangan. Nadia mondar-mandir gelisah. Sedih, rungsing, memikirkan keadaan sang calon suami.


"Masmu ada kirim kabar nggak, Nur?" tanya Nadia pada sang adik.

__ADS_1


"Nggak ada tu, Mbak. Kan kita memang nggak boleh komunikasi sama mas toh... Yang boleh ya pakde sama bude. Itupun sama kedua orang tua mas. Kalo sama masnya sendiri juga nggak boleh." Nurman melirik sang kakak yang saat itu masih terlihat gelisah.


Dalam hatinya, pemuda yang baru lulus SMA ini tersenyum, menahan tawa. Menertawakan kegelisahan sang kakak.


"Dia sehat nggak ya, Nur. Kakinya sakit nggak ya? Tadi makan dengan baik nggak ya?" tanya Nadia, gelisah.


"Ya makan lah, Mbak. Masak iya nggak makan. Kan mas sekarang di rumah emak bapaknya. Iya kali nggak dikasih makan?" tanya Nurman, sedikit meledek.


"Bukan itu maksud, Mbak, Nur. Kamu kan tahu, masmu susah makan. Biar dimasakin enak juga, kalo nggak dibujuk, makannya susah, Nur!" jawab Nadia khawatir.


"Iya, Mbak. Nur juga tahu. Pokoknya, Mbak doa aja. Semoga masnya nggak rewel. Tetap baik ngejalani puasa ketemu ini. Mbak juga jangan terlalu mikirin masnya. Nanti dia gelisah juga," jawab Nurman dewasa.


"Entahlah ... ini ritual pengantin paling menyebalkan. Dah lah, mbak tidur!" ucap Nadia ketus. Tak lupa ia juga menghentak-hentakkan kaki, pertanda ia protes dengan aturan ini. Sedangkan Nurman hanya tersenyum menahan tawa. Ternyata calon pengantin lucu juga ketika memendam rindu. Nurman senang dibuatnya.


***


Di sisi lain.. Baik Vita maupun Bima, mereka berdua tidak bisa mencegah wanita itu untuk tidak meninggalkan Jakarta. Karena mereka tahu, bahwa keputusan ini sebenarnya juga sangat sulit untuknya.

__ADS_1


Bagaimana dengan pekerjaannya jika dia tetap tinggal? Siapa yang akan menafkai putra semata wayangnya jika dia tetap berada di sini? Banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan. Terlebih pendirian wanita itu begitu teguh. Membuat Vita dan Bima tak kuasa menahannya lagi.


Bersambung...


__ADS_2