
Anak buah Laskar bergerak lebih cepat dari dugaan. Bahkan Juan, yang saat itu baru mendengar tentang peristiwa yang menimpa adik iparnya pun terkejut.
Bagaimana tidak? tindakan seberbahaya ini bisa luput dari perhatian para ajudan yang ditugaskan untuk menjaga mereka. Bukankah itu sesuatu yang sangat bodoh.
"Ini diluar dugaan, Bang! Aku pun nggak bisa nyalahin mereka. Kami berdualah yang lengah," ucap Bima di sela-sela panggilan telpon mereka.
"Aku hanya nggak habis pikir, Bim. Bagaimana ini bisa terjadi. Memangnya mereka ngapain? Hah, kamu benar, yang sudah terjadi memang nggak baik saling menyalahkan. Pria jahat ini memang harus dikasih pelajaran," balas Juan.
"Om Laskar sudah meringkus semuanya, tanpa terkecuali. Bahkan pria itu juga bersedia mengembalikan seluruh uang yang ia curi dari perusahan Luis. Tanpa terkecuali," ucap Bima.
"Bagus, orang-orang om Laskar memang tak bisa diremehkan. Aku mau ganti saja para ajudan itu. Bukankah sebaiknya begitu. Oiya, Bim, kamu di situ sama siapa?" tanya Juan.
"Tidak perlu seekstrim itu, Bang. Selama ini mereka bekerja cukup baik kok. Aku sudah memaafkan mereka dan mereka pun berjanji akan memperbaiki kualitas tim. Aku di sini sama Bang Rehan, kami sedang membahas langkah selanjutnya. Maaf, Bang, kalo untuk sementara saya nggak bisa ngizinin Vita kerja. Abang tahulah alasannya," ucap Bima.
"Iya, Abang paham. Semoga kamu dan Vita bisa melewati ini semua. Okelah kalo begitu, Abang nggak bisa lama-lama ngobrol sama kamu. Kamu tahu kan, untuk dua hari ke depan, Gani minta cuti. Cewek yang dia tabrak mau dibawa ke Batam," ucap Juan.
"Ohh, kenapa, Bang? Apakah korban nggak di bawa ke rumah sakit Bima saja, nanti Bima bantu ngawasin," ucap Bima.
"Sepertinya ada alasan pribadi, Bim. Aku pun tak mau banyak tanya. Biarlah itu jadi urusan mereka. Yang penting Gani tanggungjawab atas kesalahan yang ia perbuat. Oke Bim, Abang pamit dulu ya. Salam buat Vita!"
"Siap, Bang! Salam buat kak Ste sama ibu, maaf Bima sama Vita belum bisa ke sana," ucap Bima.
"Siap, nanti abang sampaikan!" jawab Juan.
Merasa tak ada lagi yang perlu diperbincangkan, akhirnya Bima dan Juan pun mengakhiri perbincangan mereka.
Bima masuk kembali ke dalam ruangan di mana Vita dan Rehan berada. Mereka tersenyum menyambut kedatangan pria yang kini menjadi belahan jiwa seorang Vita.
"Apa kata abang, Mas?" tanya Vita.
"Semua aman, Yang. Anak buah om Laskar udah meringkus mereka. Sekarang kuasa hukum kita sedang mengurus mereka. Insya Allah, mereka juga udah mencabut gugatan untuk perusahaanmu," ucap Bima.
__ADS_1
"Syukurlah... barusan, Om Laskar juga kirim pesan ke Vita dan Bang Re juga udah baca. Bersyukur kita banyak orang-orang yang mau bantu kita, Mas." Vita tersenyum.
"Kamu bener, Dek. Semoga masalah seperti ini tidak akan ada lagi. Semoga semuanya akan berjalan baik-baik saja," ucap Bima sembari memberikan kecupan di kening sang istri dan berharap, ini adalah musibah terakhir mereka.
***
Di sisi lain...
Gani dengan hati-hati membantu Nadia masuk ke dalam mobil miliknya.
"Hati-hati, Mbak!" ucap Gani.
"Terima kasih, Pak. Sekali lagi maaf, sudah merepotkan," ucap Nadia.
"Tidak masalah," jawab Gani, sembari tersenyum manis.
Selesai membantu Nadia duduk dan memasang seatbelt-nya, Gani pun langsung melangkah menuju kursi kemudi.
"Ya, begitulah!" jawab Gani, kembali tersenyum.
"Kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Nadia, basa-basi.
"Emmm, sepuluh tahunan lah. Kenapa?"
"Ahhh, enggak... cuma nanya aja."
"Nanya aja apa yang pengen kamu tanya," ucap Gani, santai.
"Seriuss!"
"Ya!"
__ADS_1
"Emmm... kamu tahu rumah orang tuanya bang Zein nggak?" tanya Nadia.
"Tau!"
"Kapan-kapan boleh nggak aku ngrepotin kamu, anterin aku ke sana," pinta Nadia, sedikit sungkan.
"Emmm, sebenarnya aku jarang sekali libur. Jadwal kerjaku sangat padat dan tidak menentu. Tapi kalo aku pas libur, boleh kok, nanti aku anter," jawab Gani.
"Emmmm, makasih. Bapak baik sekali
Eh, tapi... nggak ganggu jadwal kamu ngedate sama pacar?" tanya Nadia, hati-hati.
"Pacar aku ada di Malaysia, kok. Tenang aja. Dia jarang balik ke sini. Kami ketemu paling... tiga bulan sekali, itu pun kalo nggak bentrok jadwal," jawab Gani.
"Oooo, jadi LDRan. Oke, baiklah. Aku doakan ssmoga langgeng. Bisa sampai ke jenjang pernikahan. Bisa bareng terus sampai kakek nenek, ya" ucap Nadia.
"Aamiin, makasih doanya. Semoga kamu juga bisa dapetin yang lebih baik dari kemarin. Yang sayang dan menerimamu apa adanya." Gani tersenyum.
"Aamiin, semoga begitu. Tapi aku nggak mau buru-buru. Nggak mau menaruh terlalu banyak harap. Takut kecewa lagi."
"Ya anggap aja yang kemarin bukan jodoh. Anggap itu sebagai pengalaman hidup. Jangan di sesali ya."
"Ya, kamu benar. Aku yang terlalu bodoh dan banyak berharap. Tapi nyatanya aku malah tertipu. Yah... sudahlah, sebaiknya aku memang sabar. Menanti seorang pangeran baik hati yang mau menerimaku apa adanya," ucap Nadia.
Kemudian keduanya pun terkekeh. Namun, di dalam tawa yang telontar, tak dipungkiri bahwa apa yang mereka bicarakan mengandung harapan yang nyata. Doa-doa itu seakan memberikan seorang Nadia kekuatan. Agar mampu menjadi wanita yang kuat, yang selalu tegar menghadapi apapun yang mungkin terjadi.
Bersambung....
Jangan lupa like dan komen kalian ya.. syukur-syukur mau kasih kita vote..
Sambil nunggu update, kalian bisa banget kepoin karya temenkuš„°š„°Semoga sukakš
__ADS_1