Mantan Terindah

Mantan Terindah
11. Tugas


__ADS_3

Keanehan ketika Rival berjalan bersama ketiga sahabatnya di koridor sekolah dekat dengan mading ada hal yang sangat mencolok. Ia melihat banyak sekali bergerombol didepan mading. Dari kejauhan rasa penasaran itu muncul dipikiran mereka berempat. Ia mencegat salah satu diantara mereka yang kembali ke kelas "Ada apa sih?" Tanya Rival dengan bingung. Ia hanya tersenyum melihat Rival bertanya.


"Eh lo kenapa malah gini? Gue nanya gak nyuruh lo buat ketawa? Lo nyolot?" Rival menarik kerahnya tapi di tahan oleh Albert.


"Udah val mending kita kesana aja. Percuma kalau cuma marah-marah disini lo mau dihukum lagi? Eh lo mending cabut dari sini." Ucapnya. Ia mengangguk.


Rival membuka baris yang bergerombol itu dengan berteriak. "Ada apa sih? Gue pengen liat." Ucapnya dengan lantang.


Foto-foto sudah terpampang nyata didepan matanya. Foto-foto ketika dirinya dengan Lusi untuk menonton konser. Rival mengambilnya dan menariknya dari mading yang tertempel itu. Ia menggumpal dan mennginjaknya di bagian bawah sepatu. Dengan gigi yang bergerutu.


Ia terpikir dipikirannya saat ini adalah Lusi siapa lagi kalau bukan perempuan itu ini kali kedua dirinya mempermalukan Rival. Pertama waktu instastory milik Lusi dan kedua foto itu ditaruh di mading.


Langkah cepat menuju kearah kantin ia sempat tadi melihat Lusi di kantin bersama Milka. Rival menggebrak meja dan marah sekali tanpa ampun semua yang didepan Rival seakan menjauh dan menonton sambil berbisik.


"Mau lo apaan sih? Lo mah bikin malu gue? Lo pikir lo siapa?" Mata Rival memerah dan sungguh ia marah kali ini.


"Aaaaa---pa maksud lo?" Lusi juga terbawa suasana dengan geprakan Rival kali ini. Kenapa orang yang ia tahu tidak pernah marah kepadanya malah tiba-tiba tidak ada angin malah marah apalagi didepan orang banyak.


"Lo kan yang nempel foto-foto itu?" Tunjuknya yang tidak jauh dari mading. Lusi tersenyum lalu ia mendekat.


"Oh soal itu? Iya keren kan waktu konser waktu itu. Ya udah yuk duduk." Dengan gampang Lusi menyuruh Rival untuk duduk disampingnya dengan menggandeng tangan Rival.


Rival menepis secara spontan "Lo pikir itu lucu? Dan pantes?"


"Apa sih salahnya ya kan?" Milka ikut nimbrung agar suasana sesantai biasanya.


"Kalau bikin kayak gitu lagi gue gak bakalan segan-segan bikin perhitungan sama lo. Ngerti lo?" Rival dan ketiga temannya langsung meninggalkan mereka berdua.


Lusi menarik napas dengan lega dan mengatur agar tidak mengeluarkan air mata yang hampir saja keluar.


"Val, lo kok kasar banget sama cewek? Kasihan tau? Hampir nangis gitu." Rudy selalu cowok playboy yang selalu memperlakukan perempuan lebih lemah lembut karna ia tidak merasakan kehangatan seorang ibu sejak kecil ia tinggal dengan sang tante walaupun begitu tetap saja rasa itu berbeda.


"Gue gak perduli enak banget nempel. Emang dia siapa gue?" Kesal Rival yang tersenyum miring. Ia melaju menuju kelas.


Ketiga sahabatnya Rival sudah terbiasa dengan kelakuannya itu. Tidak heran lagi selain itu Rival termasuk orang yang ambisius dan suka sekali membuat apapun yang tidak ia suka atau apapun yang ia suka maka Rival adalah orang yang termasuk kedalam katagori ambisius atau orang yang berambisi untuk mendapatkan segala sesuatu agar ia bisa menggapainya.


Milka menyuruh Lusi untuk duduk agar tidak terbawa perasaan dengan ucapan Rival tadi.


"Lo sih pake nyuruh gue buat naruh tuh foto. Marah kan Rival gue udah duga dia gak suka buat di publik ka. Apa gue cabut aja ya?"


"Terserah lo aja deh. Dan sorry gue gak maksud juga kok. Gue kita Rival bakalan biasa aja. Lo gak papa kan?"


Lusi menggeleng.


...•••...


"Val lo gak mau bareng sama kita?" Tanya Rudy yang sering sekali nongkrong di pinggir jalan perempatan kota sambil menatap indahnya sampai sore datang.


"Tau nih Rival kayaknya pengen banget dapet nilai A. Emang otak lo masih ada val?"

__ADS_1


"Ya iyalah gue sih keturunan pintar ya. Liat aja Albert sepupu gue kutu buku banget."


Albert tersenyum kecil, entah itu sebuah cacian atau pujian.


"Ya udah. Gue duluan ya entar kontak-kontak gue aja. Oke guys." Rival melangkah pergi dan keluar dengan santainya.


Franda dan Cerry lebih dulu duduk dipinggiran sekolah menunggu jemputan mereka setiap sepulang sekolah. Rival berdiri didepan Franda.


"Buruan." Tarik Rival yang tiba-tiba saja menarik lengan Franda agar masuk kedalam mobil.


"Loh mau kemana val?" Tanya Cerry yang bingung apalagi Franda.


"Lo lupa kalau kita bakalan ngerjain tugas kelompok?" Franda mengingat kembali lalu ia mengangguk dan berpamitan dengan Cerry karna tidak bisa menemaninya sampai dijemput.


"Ya udah cer gue duluan ya. Bye." Mereka melambaikan tangan.


Roy yang melihat dari kejauhan seakan merasa Rival kasar dan tidak sopan lalu ia mendekat. "Val kalian mau kemana?" Ucapnya sambil melirik Franda yang ada disamping Rival. Perempuan itu hanya diam dan tidak ikut campur dalam perdebatan mereka berdua.


"Gue lagi kerja kelompok kak. Kebetulan banget satu kelompok sama si cewek cupu ini. Gue duluan ya." Ucap Rival yang menyuruh Franda masuk kedalam mobilnya.


Mobil berjalan mengikuti apa yang sudah dituju oleh Rival. Kali ini Franda bingung, mau dibawa kemana karna tidak ada pemberitahuan sebelumnya asal masuk saja.


"Gue ngajak lo balik bareng bukan mau anterin lo balik ya. Tapi karna gue ngerjain tugas kelompok. Trus juga poin kedua karna gue ketua dan lo wakilnya. Ngerti?" Tanyanya dan hanya dijawab anggukkan saja.


Franda mengucek-ngucek matanya yang kelilipan dari angin yang tiba-tiba masuk kedalam matanya kali ini, mata sebelah kanan tepatnya. Hingga ia hanya berkedip sebelah.


"Kenapa lo?"


Rival mengambil sesuatu yang ada disampingnya lalu memberikan secarik tisu agar bisa sedikit membantunya. "Nih kali aja debunya bisa nempel disini." Suruhnya yang langsung diambil oleh Franda.


"Makanya lo jadi cewek jangan ceroboh dan lagian percuma pake tangan lo itu. Karna banyak kuman." Ceramahnya yang sambil menyetir mobil.


Kini sampailah mereka disebuah taman untuk melakukan survei untuk tugas mereka. Rival yang lebih dulu keluar dari mobil lalu disusul oleh Franda.


"Kita gak lama disini jadi ya kita harus bener-bener mengamati." Suruhnya.


Suasana begitu terik karna ini langsung sehabis sekolah apalagi matahari yang benar panas diatas kepala. Franda menatap Rival yang melangkah maju didepan sana sambil mengamati. Didalam hatinya ia berkata "Cowok aneh." Gumamnya.


Karna tugas bertema lingkungan maka Franda mengangkat kata "Kelestarian dan kebersihan lingkungan" didalam konsep buku kecilnya itu. Biasa burung-burung mencari makan di atas pohon, berucap setiap harinya. Pepohonan yang hijau, dan kesejukkan yang masih terasa. Semua itu harus dijaga dan dilestarikan agar terik matahari dan global warning akan sedikit berkurang dengan adanya tanaman dan tumbuhan yang selalu menjadi tumbuhan utama. Apalagi sekarang ini penuh dengan pemukiman yang merajalela yang terus memangkas tanaman yang tumbuh pada tempatnya memberikan lahan untuk pemukiman.


"Udah belum? Lama banget nulisnya.." Teriak Rival yang benar menyebalkan sekali. Mata menyipit oleh silaunya mata hari. Kenapa ia bisa satu kelompok dengan cowok seperti Rival kalau tidak satu kelompok maka Franda akan menolaknya mentah-mentah.


Rival menunjukkan coretan penuh coretan didalam buku kecilnya konsep yang hanya dirinya yang mengerti. "Gue udah penuh nih."


"Ya udah kalau gitu temenin gue buat beli minuman ya. Soalnya gue haus." Dengan gamblang ia masuk kedalam mobil dan duduk didalam alu menyuruh Franda masuk kedalam.


Keringat pun seakan menjadi pertanda kalau matahari telah membuatnya berkeringat. "Lo mending hapus keringat lo." Ia memberikan secarik tisu lagi untuk Franda yang kedua kalinya.


"Gue sekali lagi bukan perhatian sama lo tapi karna gue gak mau mobil gue bau karna keringat lo." Lalu ia menyalakan musik agar tidak terlalu hening.

__ADS_1


"Rumah lo masih yang kemarin kan?"


Pertanyaan macam apa ini "Iiii--ya." Gugupnya.


Tapi arah mobil Rival tidak menuju ke rumah Franda melainkan ketempat pinggiran jalan yang menjual minuman ringan.


"Bang pesen es jeruknya dua ya. Dibungkus aja." Ucap Rival yang tidak sopan dengan orang tua. Pikir Franda.


"Gue udah sering beli disini jadi ya gue udah kebiasaan aja. Lo tenang gue gratiskan lo hari ini tapi entar-entar bayar."


"Makasih bang." Rival memberikan uangnya. Lalu melaju begitu saja.


"Nih buat lo, gue gak mau ya anak orang mati kehausan karna gara-gara gue."


Dahaga seakan luntur dengan es jeruk yang begitu segar. "Ma----kasih ya."


"Hm,. Oh iya lo kenal sama kakak gue dimana? Bukannya kalian gak pernah satu kelas?"


"Eeee kenapa?"


"Gak sih gak papa cuma iseng nanya doang. Tapi gak penting juga." Ia mengangkat bahu seakan memang tidak penting sekedar angin lewat. 


"Nanti malam lo harus lapor sama gue tentang tugas yang lo kerjain soalnya biar gue bisa mantau. Dan jangan matiin data seluler lo biar gue tau lo ngerjain atau enggak."


Dasar cowok ribet. Yang suka ngatur pantesan aja gak punya cewek mana tahan. "Gumam Franda dalam hati yang tidak tahan dekat dengan Rival yang berbeda sekali dengan Roy yang jauh lebih santai dan asik diajak sharing bareng. Dan waktupun tidak terasa.


Franda turun dari mobil Rival yang sudah sampai mengantarkannya didepan rumah.


"Makasih ya."


"Hm, oh iya jangan lupa sama yang tadi."


"I---ya. Masuk dulu."


"Hm." Mobil melaju dan meninggalkan rumah Franda dengan melirik Franda di kaca spion miliknya lalu pergi.


"Assalamualaikum." Franda mencium kedua tangan ibu dan ayahnya yang lagi santai didepan tv.


"Dari mana kok mama liat ada mobil kemarin waktu itu?"


"Iya mah, dari cowok nyebelin itu."


"Siapa cowok kamu ya fran." Ucap papahnya yang santai membaca koran yang menjadi kebiasaannya.


"Bukan kok pah. Hahah boro-boro." Tepis Franda.


"Oh iya besok temenin mama dong ke supermarket buat beli bahan-bahan buat kue. Soalnya papah kamu pengen selametan ultah papah yang ke 50. Ya kecil-kecilnya aja."


"Iya mah. Oke deh."

__ADS_1


"Tau nih papah udah tua pake dirayain ada-ada aja. Haha."


Mereka tertawa bahagia.


__ADS_2