Mantan Terindah

Mantan Terindah
Bimbang


__ADS_3

Gani membantu Nadia turun dari mobil. Ini adalah pertama kalinya ia kembali mengantar Nadia, setalah ia tahu bahwa ternyata sang gadis memedam rasa padanya.


"Makasih Gani, kamu baik sekali," ucap Nadia seraya, melangkah masuk ke dalam tempat tinggalnya.


Gani tersenyum, lalu ia pun mengikuti dari belakang. Membawakan makanan yang mereka beli di jalan tadi. Gani juga membawakan tas tangan serta laporan kesehatan milik Nadia.


"Hati-hati, Nad. Jangan terlalu cepat jalannya. Tongkatmu pegang yang bener. Licin," ucap Gani memperingatkan.


"Iya, ni. Habis hujan." Nadia tersenyum.


Gani membukakan pintu untuk Nadia.


Nadia pun masuk.


"Makasih!"


"Hemm, sama-sama," jawab Gani. Tersenyum tipis.


Nadia dan Gani sama-sama duduk di sofa ruang tamu kontrakan itu. Suasana menjadi hening. Hanya sesekali melempar senyum. Bergelut dengan pikiran masing-masing.


"Emmm, Nad. Soal kamu mau balik kampung, kamu udah pikirin itu masak-masak? Kamu belum sembuh benar lo, Nad." tanya Gani


"He em, sepertinya begitu. Adikku yang gede mau kakaknya ini pulang. Sebentar lagi dia ujian. Dia butuh konsentrasi penuh. Jadi harus ada yang antar jemput adikku yang kecil," ucap Nadia, alasan.


"Emangnya kamu bisa antar jemput, kakimu kan masih sakit?" tanya Gani, merasa aneh.


Ooo... Nadia, kenapa kamu bodoh sekali nyari alasannya.

__ADS_1


"Iya, nggak pa-pa... kata dokter juga udah oke kan. Tinggal rajin-rajin terapi, berlatih, minum obat, nanti juga sembuh hehe," jawab Nadia, tersipu malu.


Gani diam sejenak. Lalu mengehela napas dalam. Ia tahu jika Nadia hanya alasan. Ia tahu jika gadis ini ingin menghindarinya. Tetapi, ia pun tak punya pilihan lain. Ia tak mungkin mengorbankan hubungannya dengan sang Kekasih hanya karena mempertahankan gadis ini di sampingnya.


"Baiklah, jika ini keputusan terbaik menurutmu. Aku nggak bisa cegah kamu. Tapi jangan ganti nomer ya, aku tetap bakal kirim kamu biaya buat kamu berobat," ucap Gani.


"Oh, ndak... ndak usah. Kalo di kampung biaya berobat tidak semahal ini. Untuk berobat aku masih ada uang, Gan. Tenang aja. Ditabung uangnya buat biaya nikah. Tapi sorry, aku nggak bisa dateng. Gresik-Batam jauh, Gan. Eman ongkosnya. Aku do'ain dari sana aja ya, semoga langgeng, awet sampek kakek nenek," jawab Nadia dengan senyum cerianya seperti biasa.


"Makasih, Nad. Untukmu juga. Semoga dapat pendamping seperti yang kamu inginkan." Gani tersenyum sekilas.


Pendamping yang aku inginkan sudah keduluan orang, Gan. Gimana dong?


Nadia ikut tersenyum, meskipun jujur, hatinya sangat terluka karena itu.


"Baiklah kalo begitu, kamu mau terbang kapan. Nanti aku carikan tiket, sekalian aku anter kalo aku bisa," ucap Gani.


"Hah... kok kamu nggak ngomong dulu ke aku. Kan kamu ke sini yang bawa aku, Nad. Kok kamu begitu?" tanya Gani sedikit marah.


"Emmm, bukan begitu maksudku, Gan. Kamu kan sibuk. Terus hubungan kita juga lagi nggak baik," jawab Nadia.


"Nggak baik bagaimana maksudmu? Aku biasa aja, Nad! Kamu aja yang ngrasa begitu. Kamu tahu kan aku kerja. Aku nggak ke sini bukan sengaja, Nad. Aku sungguh sibuk. Aku pusing bagi wakt. Kamu kan bisa ngechat aku dulu. Diskusi dulu. Jujur kalo kek gini, aku ngerasa kamu nggak nganggep aku, Nad," ucap Gani lagi. Perasaannya kembali kesal.


"Maafkan aku, Gan. Aku pikir kamu udah nggak mau lagi temenan sama aku, sejak kamu tahu itu... " ucap Nadia.


"Itu hanya pemikiranmu aja, Nad. Lagian kita kan udah dewasa. Masak nggak bisa pisahin urusan hati dan profesionalisme. Tanggung jawab aku ke kamu, itu masalah lain, Nad. Aku tetap bertanggung jawab kok." Gani menatap kesal.


"Maafkan aku, Gan. Maaf kalo aku kurang ngerti kamu," ucap Nadia.

__ADS_1


"Seandainya benar bahwa aku nggak suka kamu suka sama aku, tapi nggak bisa begini. Kamu harus tetap kasih kabar ke aku. Apapun jawabanku nanti, itu urusan belakang. Yang penting kamu harus kasih tahu aku dulu. Aku berhak tahu apapun keputusan yang kamu ambil, terlebih ini soal perpindahan kamu. Kalo terjadi apa-apa sama kamu, aku mesti ngomong apa sama Pak Zein, sama Ibu Zi. Sama adik-adikku," balas Zi lagi.


"Maaf, Gan, maafkan aku!" Nadia menundukkan wajahnya, merasa bersalah.


Gani mengangkat wajahnya. Lalu menatap intens ke arah Nadia. Ada rasa tak nyaman di sana. Dan ketika mata mereka bertemu, Gani sangat sadar bahwa penolakkan-penolakkan Nadia, keberaniannya memutuskan untuk pergi adalah bentuk protes keras wanita itu agar bisa menghindar darinya.


Kamu nggak usah sok kuat, Nad. Aku tahu kamu terluka. Sekuat apapun kamu menutupi lukamu dengan senyum itu, percayalah, bahwa aku pun ikut merasakannya. Maafkan aku, Nad. Tapi kamu datang terlambat. Andia aku boleh jujur, beberapa ini aku merindukanmu, Nad. Aku rindu kepolosanmu. Aku rindu candaanmu. Aku rindu senyummu. Keceriaanmu. Apapun yang ada di dirimu. Sekali lagi maafkan aku.


Sedetik berlalu, Nadia dan Gani sadar bahwa tatapan mereka kali ini salah. Tatapan itu hanya akan meninggalkan luka yang mungkin akan terus membekas di hati mereka masing-masing.


"Eh, udah malem, Gan. Sebaiknya kamu balik," ucap Nadia.


"Heemm! Kamu hati-hati di rumah ya. Kunci semua pintu dan jendela. Oiya, kamu naik maskapai apa? Terbang jam berapa?" tanya Gani.


Nadia mengambil ponselnya dan memberikan nomer resi penerbangan pada Gani.


"Oh oke, besok aku antar," ucap Gani.


Nadia mengangguk sembari tersenyum. Ia tak bisa menolak atau menghindari soal ini. Nadia takut Gani tersingung dan marah. Cukup tadi saja ia membuat Gani tersingung.


Bersambung...


Hay hay penggemar setia Mantan Terindah... Emak ngeluarin karya baru ni🥰🥰 Yuk dukung😚😚 Lope buat kalian😘😘😘


Pernikahan karena perjodohan yang tidak didasari rasa cinta, membuat Revalina hidup seperti di neraka.


Namun, ketika sang suami mendapatkan musibah. Justru dialah orang nomer satu yang membelanya..

__ADS_1



__ADS_2