
"Aku rasa kakak iparku pasti kuat, Kin. Dia wanita yang kuat," ucap Luna yakin.
"Emm ... Semoga begitu dan aku juga berharap demikian. Untuk lebih jelasnya sebaiknya kita bawa dia ke dokter kandungan. Tapi Kinan yakin sih, kalo kamu mau punya keponakan. Akan ada anggota baru di keluarga kamu. Bima Junior, hehehe," ucap Kinan, antusias.
"Alhamdulillah jika benar. Aku sangat menantikan itu," ucap Luna. Kemudian mereka berdua pun tersenyum dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
"Ada apa, Lun? Apakah kakakmu menderita penyakit serius?" tanya Bu Lastri.
"Nggak, Ma. Tapi kabar ini, Luna harap tidak membuat kakak semakin depresi. Luna harap kabar ini bisa menjadi obat untuk kakak, agar lebih semangat lagi menjalani hidup," ucap Luna, penuh harap.
Lastri menatap penuh tanya pada kedua gadis yang senantiasa terus menatapnya.
"Tunggu, Mama bingung! Sebenarnya ini ada apa to?"
"Eeemmm, gini Tan. Ini hanya prediksi awal Kinan, tapi selama ini prediksi Kinan jarang meleset. Kinan rasa, istri mas Bima, hamil deh!" ucap Kinan, serius.
Lastri terkejut, begitupun Sera yang saat ini datang membawa gelas kosong yang akan ia isi air untuk Vita.
"Apa, apakah Tante nggak salah denger?" tanya Sera tiba-tiba.
"Emmm, Insya Allah nggak, Tan. Tapi untuk lebih jelasnya sebaiknya kita bawa mbak Vita ke dokter kandungan saja," jawab Kinan lagi.
"Masya Allah, ini kabar menggembirakan. Semoga Vita senang. Semoga putriku lebih bersemangat lagi ngejalani hidupnya. Demi calon banyinya," ucap Sera antusias, namun tidak dengan Lastri. Wanita paruh baya ini malah diam. Seperti ketakutan.
"Mbak, kok malah diam? Kenapa?" tanya Sera.
__ADS_1
"Aku takut, Ra!" Lastri menatap Sera.
"Kenapa, Mbak?" Sera menarik tangan sepupunya itu, lalu mengajaknya berdiskusi di meja makan.
"Kabar ini sangat membahagiakan untuk kita, Mbak? Tapi bagaimana dengan Vita? Apakah dia sanggup menerima kabar ini? Mengingat belahan jiwanya, seseorang yang seharusnya menemaninya dalam masa-masa ini malah telah berpulang. Aku takut Vita nggak sanggup menerima ini semua, Mbak!" ucap Bu Lastri, sesuai dengan apa yang ia pikirkan.
"Aku rasa ketakutanmu itu berlebihan, Mbak. Vita itu wanita yang kuat. Justru aku rasa, kabar bahagia ini akan membuatnya bersemangat. Karena ada Bima junior yang akan menemin sisa-sisa hidupnya," ucap Sera, semangat.
"Baiklah, jika kalian yakin. Aku juga punya harapan sama seperti kalian. Menginginkan kebahagiaan Vita. Semoga kabar ini memang membuatnya bahagia dan bersemangat," ucap Bu Lastri senang.
***
Di tengah kabar kebahagiaan yang diterina oleh keluarga Vita dan Bima, keluarga Gani juga ikut merasakan kebahagiaan. Gani sudah sadar dan kini dalam perawatan intensif.
"Baik, Pak Bos. Di mana pak Bima? Bagaimana dengan beliau?" tanya Gani, meringis, merasakan tak nyaman pada kepalanya.
"Jangan pikirkan dia dulu, Gan. Dia baik kok." Juan menatap Gani, namun Gani merasa tatapan itu lain. Seperti mengartikan kesedihan. Sehingga ia pun tetap mendesak P
"Baguslah kalo baik." Gani diam, Juan pun diam. Mereka sama-sama diam. Namun, hati Gani tak tenang jika tidak menanyakan ini.
"Eemmmm, Tapi maaf, Bos, pak Bima tidak dibawa sama kelompok itu kan?" tanya Gani, langsung pada pokok yang membuatnya tak nyaman.
"Kelompok? Kelompok apa?" tanya Juan, spontan.
Tak ingin sesuatu yang ia pikirkan terjadi, Gani pun langsung bercerita pada sang atasan. "Saat mobil terbalik sekali, saya menendang Pak Bima agar bisa keluar dari mobil. Lalu, mobil terguling lagi, baru saya meloncat. Tak lama setelah mobil berhenti, datang satu mobil membakar mobil kami. Saya takut, pak Bima di bawa oleh mereka. Setelah itu pandangan saya gelap. Saya tak tau apa-apa lagi, Pak. Tapi jika beliau selamat dan baik-baik saja, saya sangat bersyukur," ucap Gani, sedikit terbata.
__ADS_1
Mendengar cerita Gani, tentu saja Juan langsung teringat ucapan Vita, B yang selalu mengatakan bahwa jenazah yang mereka kebumikan itu bukanlah jenazah suaminya.
"Kamu yakin dengan ceritamu, Gani?" tanya Juan memastikan.
"Ya! Saya serius, Pak. Bahkan dalam tidur pun aku ingat ada empat orang yang turun dari mobil itu!" ucap Gani lagi.
Sekarang tak ada alasan lagi bagi Juan untuk tidak percaya pada asisten pribadinya ini. "Kamu ingat warna mobil itu, atau jenis mobil?" tanya Juan.
"Panter warna biru, Pak. Nomernya saya tak ingat!" jawab Gani.
"Terima kasih, Gani. Info darimu sangat bermanfaat buat kita. Maafkan aku karena berbohong padamu. Bima dinyatakan meninggal dalam kecelakaan itu." Juan menatap Gani, memerhatikan ekpresi Gani.
"Nggak, nggak, Bapak pasti salah. Aku rasa, pak Bima hanya babak belur, paling parah dia patah tulang. Kalo mati, aku rasa nggak. Pak Bos pasto bohong sama saya. Pak Bima keluar duluan dari pada saya. Jarak antara mobil dan Pak Bima pun jauh. Tak mungkin dia terkena ledakan itu. Kalo pun kena, itu saya, Pak Bukan pak Bima. Kalo pun mati itu pun saya, bukan pak Bima," terang Gani yakin.
"Tapi Gan, baju, cincin kawin, dan semua yang menempel di tubuh itu mengindikasikan itu adalah Bima," bantah Juan.
"Semua itu bisa dimanipulasi, Bos. Kita jangan tertipu!" ucap Gani kekeh.
"Oke, jika kamu yakin. Aku pun tak akan tinggal diam. Karena, Vita juga kekeh sepetimu. Ia kekeh bahwa itu bukan jenazah suaminya. Awalnya kami menganggap bahwa Vita depresi dan belum bisa menerima kepergian suaminya. Tapi mendengar ceritamu, aku jadi kepikiran ucapan Vita. Mungkin saja, Bima memang masih hidup. Mungkin Bima di bawa oleh kawanan penjahat itu. Sebaiknya kita segera bergerak, Gani. Sebelum semua terlambat!" ucap Juan semangat.
"Iya, Bos. Saya setuju!" ucap Gani, semangat.
Tak ingin terlambat bergerak, Juan pun langsung menghubungi Laskar yang saat ini sedang ada di Jakarta. Karena pria paruh baya itu menawarkan diri untuk menghajar pria yang dicurigai sebagai dalang masalah ini.
Bersambung....
__ADS_1