Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - EZEKHIEL & ZEFANYA PART 26


__ADS_3

Begitulah kalimat yang sering terdengar. Kesabaran akan berbuah manis. Apalagi kesabaran didukung dengan doa dan usaha. Walau harus bertahan dalam tangis tapi sebelum air mata habis, kebahagiaan dan kemenangan mulai menaungi. Dengan bergandengan bersama, tak peduli akan yang terjadi esok hari, yang ada di pikiran mereka, mereka tidak akan berpisah untuk selamanya. Sudah cukup dua tahun berpisah dengan anggapan sudah berada di dunia yang berbeda, kini mereka harus bertahan apapun yang terjadi. Dan, semua nya pun terbayar. Zefanya akhirnya berhasil mengandung. Tidak ada yang bisa melukiskan rasa gembira dan sumringah seorang Ezekhiel. Di saat mereka tidak mau mengharapkannya lagi, Tuhan malah membuat mukjizat itu bernaung pada perut Zefanya. Bagaimana keadaan Zefanya selanjutnya? Mengapa diketahui ketika dirinya tak sadarkan diri?



Zefanya Adonia Prime


cast Zefanya : Yoon Eun-hye


------------------------------


Ezekhiel masih memegangi tangan istrinya. Zefanya belum sadarkan diri. Tubuhnya menghangat, bahkan ke arah demam. Ezekhiel sudah memeluk istrinya tapi Zefanya belum kunjung bangun. Ezekhiel sedikit panik karena dokter mengatakan ada sesuatu yang harus diperiksa lebih lanjut dari kandungan Zefanya.


"Mengapa istriku belum sadar dok?" Tanya Ezekhiel ketika dokter Lilian yang kini memeriksa Zefanya.


"Kita harus melakukan pemeriksaan lagi tuan, kalau dilihat dari siklus dan kondisinya, Nyonya Zefanya hamil. Aku curiga kalian akan memiliki lebih dari satu," jawab Dokter Lilian menjelaskan prediksinya.


"Oh God! Kau serius, dokter?" Ujar Ezekhiel sedikit melebarkan matanya.


"Benar! Memang waktu bulan lalu kalian melakukan program bagaimana? Kata saudara kembar ku, kalian tidak datang datang lagi keesokan harinya," saut Dokter Lilian ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kembarannya tidak enak dengannya.


"Ya, karena saudara kembarmu merujuk kami pada dokter Thomas," celetuk Ezekhiel sedikit kesal mengingat kejadian waktu itu.


"Oh iya? Dia dokter spesialis kandungan termuda pria satu satunya di Nederland tuan Ezekhiel. Dia sangat pintar dan bisa memprediksi pembuahan dengan tepat. Mungkin karena itu saudara kembarku merujuk kalian padanya," kata Dokter Lilian menjelaskan sedikit mengenai Thomas.


"Tapi apa kau tahu siapa dokter Thomas bagi istriku?" balas Ezekhiel melirik tajam Dokter Lilian.


"Ada apa tuan?" selidik Dokter Lilian agak curiga.


"Dia mantan kekasih istriku dan aku tidak rela dia memanfaatkan profesinya untuk mendekati istriku lagi karena dia terus menggodanya. Jadi apa kau sudah paham apa yang kumaksud dokter Lilian?" kata Ezekhiel singkat. dia tidak mau menjadi kesal pada akhirnya.


"Ahh aku sangat paham. Maafkan saudara kembarku tuan Ezekhiel. Aku yakin dia sama sekali tidak tahu mengenai hal ini," balas Dokter Lilian dengan sangat sopan. dia tidak mau membut pasiennya kecewa.


"Ya, aku mengerti, jadi aku memang memutuskan sepihak. Terakhir, dia hanya mengatakan kalau sel telur istriku berjumlah tiga yang siap untuk dibuahi," gumam Ezekhiel mengingat perkataan Thomas yang terakhir.


"Wah, lalu, apa kalian melakukan hubungan?" selidik Dokter Lillian menanggapi.


"Begitulah, tapi semua hanya karena aku ingin. Aku dan Zefanya tidak memikirkan apa apa. Setelah itu kami tidak ingin membahas tentang kehamilan dok. Satu bulan ini kami hanya sering lari pagi dan berenang, setelah itu berhubungan intim seperti biasa, sudah hanya begitu. Namun, kami menghindari keramaian. Zefanya tetaplah wanita menikah yang tetap mengingkan kehamilan. Dia tidak sanggup jika banyak yang bertanya apakah dirinya sudah hamil atau belum. Jadi, aku juga mengikuti apa kemauannya. Namun, beberapa hari ini memang kami tidak lari pagi lagi dan berenang karena Zefanya mengeluh lelah. Dia hendak mempersiapkan dirinya untuk menyambut kelahiran keponakannya, jadi dia hendak menjaga kondisinya agar bisa menetap beberapa Minggu di Honolulu," kata Ezekhiel kemudian menceritakan kondisi Zefanya akhir akhir ini.


"Sungguh proses yang sangat menyenangkan tuan. Seharusnya kau dan Nyonya Zefanya memang seperti itu. Tidak usah terlalu terbeban dan jalani apa adanya. Sekarang sudah terlihat hasilnya. Aku ikut senang. Biarkan Nyonya Zefanya beristirahat. Ketika sadar nanti, kita akan melakukan pemeriksaan sekali lagi. Bagaimana tuan?"


"Ya dok, aku akan menunggunya dan memberi kabar pada perawat jika dia sudah terbangun. Terimakasih atas dukungan dan bimbingannya," ucap Ezekhiel tetap merasa semua ini campur tangan Dokter Lilian.


"Sama sama tuan. Em, tapi tuan, aku harus mengatakan sebelumnya. Kalau memang Nyonya Zefanya hamil, sebaiknya jangan dulu berpergian beda negara atau jauh dari rumah. Awal kehamilan sangat rentan, sebaiknya kita menjaganya," tutur dokter Lilian lagi memberikan arahan.


"Aku mengerti dok. Terimakasih,"


"Baiklah aku permisi dulu,"


Dokter Lilian kembali ke ruangannya. Sementara Ezekhiel tetap menunggui istrinya. Sepertinya dia tidak usah memberitahu keluarga Zefanya dulu karena belum pasti tapi dia harus mengatakan kalau Zefanya tidak bisa ke Honolulu. Mungkin dua bulan lagi, mereka akan melihat anak Zhavia.


Ezekhiel pun meraih ponselnya dan menghubungi Dior.


"Ada apa Eze?" tanya Dior di seberang sana.


"Maafkan aku Dior, sepertinya aku dan Zefanya tidak bisa ikut ke Honolulu melihat kelahiran anak Zhavia dan Patrick," kata Ezekhiel menjelaskan.


"Ada apa? Apa masalah pekerjaan?" selidik Dior.


"Tidak tidak. Zefanya tidak enak badan. Belakangan ini tubuhnya menghangat dan hari ini dia demam," jawab Ezekhiel menjelaskan kondisi Zefanya.


"Demam? Apa dia baik baik saja? Kau sudah membawanya ke rumah sakit?" tanya Dior mulai cemas.


"Sudah Dior, aku sedang memeriksakannya. Katakan pada Mom Vien dan Dad Dion kalau kami akan datang bulan depan saja. Kalian pergi lebih dulu saja," kata Ezekhiel lagi.


"Oh baiklah Eze, kurasa Patrick dan Zhavia tidak masalah . Tolong jaga adikku dan kami akan menyampaikan salam kalian!" balas Dior.


"Thank you Dior, Tuhan memberkati,"


"God bless you too, Eze. Semoga Zefanya cepat sembuh," ujar Dior tetap memperhatikan adiknya.


"Katakan pada Mom Vien tidak Usah khawatir, Dior," pinta Ezekhiel.


"Oke, tenang saja, sampai jumpa,_

__ADS_1


Panggilan dimatikan. Ezekhiel akan memberikan pengertian pada Zefanya jika sudah tersadar nanti.


"Zefanya, sadar sayang, kau membuatku panik. Kita akan menjadi ayah dan ibu, Anya. Apa kau tidak ingin melihat anak kita? Akhirnya sayang, apa yang kita nantikan menjadi kenyataan. Aku sangat mencintaimu. Perjuangan kita tidak sia sia, Zefanya ku," tutur Ezekhiel berharap istrinya cepat tersadar sehingga mereka bisa kembali memastikan kandungannya.


Tak lama kemudian, Zefanya menggerakan tangannya dan mencoba membuka kedua matanya. Pinggangnya agak sedikit nyeri dan pandangannya kunang kunang ketika dia berhasil membukanya.


"Zefanya? Apa yang kau rasakan sayang? Sebentar aku akan memanggil pearawat," kata Ezekhiel yang senang akhirnya Zefanya sadar dari pingsannya.


Perawat pun datang lalu memeriksanya terlebih dulu sebelum Zefanya langsung di bawa ke ruang kerja dokter Lilian .


"Tekanan darah nyonya Zefanya sangat rendah tuan, demamnya juga semakin tinggi. Sebaiknya kita periksakan langsung ke dokter Lilian. Permisi Tuan, biar kami dorong saja tempat tidur ini," kata sang perawat memberitahukan kondisi Zefanya.


"Ah baiklah. Zefanya, kau kuat kan?" tanya Ezekhiel sangat cemas.


"Pinggangku nyeri tuan, kepalaku juga sangat pusing," rintih Zefanya memegang dahinya dan hendak merenggangkan pinggangnya.


"Sabar ya, dokter akan memberikan obat," kata Ezekhiel menenangkan.


Perawat lalu membawa Zefanya ke ruang Dokter Lilian. Tentu saja Ezekhiel menemaninya. Sesampainya di sana, Zefanya langsung dibantu merebahkan diri di tempat tidur alat USG. Dokter Lilian segera memeriksanya.


"Benar apa yang dikatakan dokter unit gawat darurat kalau Nyonya Zefanya hamil," kata dokter Lilian tersenyum sumringah. Zefanya sontak melebarkan matanya.


"APA?!!!" Pekik Zefanya yang belum tahu apa.


"Selamat nyonya, akhirnya kau hamil," kata Dokter Lilian lagi dengan senyum yang sangat lebar. dia ikut senang dengan kehamilan Zefanya.


"Iya sayang, kau hamil, kita berhasil," tambah Ezekhiel menatap Zefanya dengan mesra dan mata yang berbinar.


"Kau jangan bercanda dok, tuan, aku tidak mual atau muntah, tapi memang perutku tidak enak, pinggangku sakit sekali beberapa hari ini jadi aku malas sekali bangun dari tempat tidur. Dan, tadi, tadi aku mendengar kuah ramen pedas itu entah mengapa aku mual, tapi ketika itu saja. Kemarin kemarin tidak sampai begini," gumam Zefanya mengingat kondisinya.


"Gejala kehamilan setiap wanita berbeda beda, nyonya. Demam dan sakit kepala apalagi sakit pinggang itu memang kerap terjadi. Jadi, nyonya Zefanya kau harus percaya, kau hamil. Lihat kantung janin ini," kata Dokter Lilian memperlihatkan sebuah bulatan besar dan sebenarnya ada satu lagi bulatan kecil juga berwarna hitam, tapi Dokter Lilian belum berani memastikan karena bulatan itu kecil juga belum terlihat detak jantungnya.


"Apa itu anak kami dok?" Tanya Ezekhiel dengan wajah yang bercahaya.


"Ya tuan Eze," jawab Dokter Lilian tersenyum.


"Ya Tuhan, tuan Ezekhiel? Benarkah aku hamil? Itu benar anak kita?" pekik Zefanya masih tidak percaya dan terlalu senang.


"Iya nyonya, tapi maafkan aku harus mengatakan ini. Janin anda agak lemah karena lingkaran besar ini detak jantungnya juga tidak terlalu cepat. Begitu juga dengan lingakaran kecil di sampingnya yang belum ku ketahui, ini janin yang lain atau gumpalan darah. Mungkin sekitar bulan keempat kita bisa mengetahuinya," kata Dokter Lilian mengingatkan.


"Satu bulan setengah nyonya, sekitar lima atau enam Minggu, nyonya," jawab Dokter Lilian menurut perkiraannya.


"Jadi, apa yang harus kami lakukan dok agar anakku terus berkembang dan lahir ke dunia?" tanya Ezekhiel menginginkan yang terbaik bagi istri dan anaknya.


"Sebaiknya tiga hari ini nyonya Zefanya harus dirawat. Biarkan aku yang mengobservasi dan memperhatikan gizi ibu dan anak. Kalau tiga hari demam nyonya sudah hilang, nyonya boleh pulang dan beristirahat di rumah. Bagaimana tuan?" saran Dokter Lilian mengantisipasi hal hal tak terduga.


"Lakukan dok, istriku juga tidak keberatan, bukan begitu Anya?" tutur Ezekhiel pada istrinya.


"Dirawat? Tiga hari? Tapi Eze, lusa kita harus ke Honolulu, Zhavia melahirkan," balas Zefanya mengingat sesuatu.


"Nanti saja! Kau lebih memilih menjaga kehamilanku atau ke Honolulu? Zhavia sudah memiliki bayi, sekarang saatnya kita juga memilikinya, Anya! Kau juga ingin kan? Kita sudah menunggunya begitu lama, Anya!" kata Ezekhiel berusaha membuat Zefanya mengerti.


"Oh iya, iya tuan, maafkan aku, aku hanya sudah berjanji pada Zhavia," gumam Zefanya menyadari kalau dirinya memang harus mementingkan anak yang sudah ia nanti.


"Zhavia pasti mengerti. Kalau kandunganmu sudah kuat, aku janji, kita akan ke sana melihat Lil Zen mu!" balas Ezekhiel tetap memanjakan istrinya.


"Terimakasih tuan, akhirnya kita memiliki baby, oh thanks God!"


"Aku yang seharusnya berterimakasih padamu Anya, aku sangat mencintaimu. Semua perjuangan kita tidak ada yang sia sia. Tuhan menjawab doa kita di saat kita berserah padanya," kata Ezekhiel mengelus dahi istrinya.


"Benar tuan, sudah kukatakan kan? Aku pasti bisa memberikan anak dari darah kita, dari semua penyatuan kita, tuan Ezekhielku," saut Zefanya tersenyum walau wajahnya masih sangat pucat.


"Ya, aku sudah menjadi pria paling bahagia dia dunia Anya,"


Zefanya tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada Ezekhiel yang masih memeluknya. Dokter Lilian senang merasakan kasih sayang ini. Dia juga senang karena menjadi saksi cinta sejati antara Ezekhiel dan Zefanya yang selalu mengharapkan mukjizat datang pada mereka. Akhirnya mereka bisa mengandung dan akan memiliki anak.


Zefanya pun kembali ke ruang unit gawat darurat untuk mempersiapkan selang infus untuk perawatannya 3 hari ke depan. Zefanya tidak masalah selama anaknya baik baik saja dan Ezekhiel tidak pernah meninggalkannya. Ezekhiel menemaninya sepanjang hari. Jika Rosie datang sore hari, Ezekhiel makan bersama Theo.


Ezekhiel juga sudah memberitahu Lexa dan Leon yang tidak ikut ke Honolulu.


"Kebetulan sekali, aku juga tidak ke sana dulu untuk mengawasi hotel. Aku dan Lexa akan menjenguk anak angkat ku itu Ezekhiel. Tunggu ya? MomXa mu pasti sangat cemas mendengar keadaan Zefanya," kata Leon mendengar kabar dari Ezekhiel mengenai Zefanya, anak angkatnya itu.


"Terimakasih paman, kami menunggu,"

__ADS_1


Begitulah Leon dan Lexa juga mengunjungi Zefanya ketika malam.


...


Satu bulan kemudian, lagi lagi Ezekhiel dan Zefanya kembali merasa tidak enak karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan Xelino dengan Carolyn. Kondisi Zefanya semakin mengkhawatirkan. Setiap hari dia tidak bisa makan banyak, kalau memaksa, semuanya akan keluar menjadi sebuah muntahan. Zefanya juga tidak bisa mengkonsumsi susu hamil sapi, tubuhnya akan muncul bercak merah dan kembali demam. Bukan hanya itu, Zefanya sulit sekali berjalan terlalu lama. Satu Minggu Zefanya hanya masuk dua atau tiga kali saja ke kantor, itu pun hanya setengah hari.


"Aku jadi ingat ketika aku mengandungmu dan Zhavia, Anya. Aku tidak bisa makan banyak dan manis. Aku tidak menyukai lemon cake, dan aku tidak masuk ke kantor. MomXa yang mengurus perusahaan iklan kita," kata Viena mengingat kejadian berpuluh tahun silam dengan bangga dan ceria.


"Oh mom, ini benar benar tidak nyaman, tapi aku sungguh menikmati, aku bangga aku bisa mengandung," balas Zefanya melingkarkan tangannya pada lengan Viena.


"Tentu Anya. Ya, mudah mudahan anakmu kembar atau kembar tiga? Tidak ada yang tidak mungkin kan?" ujar Viena memberi semangat lebih.


"Semoga mom, karena aku merasakan hal yang sama denganmu kan?" Zefanya melirik menggoda ibunya.


"Benar! Sabarlah sayang, sekarang memang lebih baik kau memantau pekerjaan dari rumah. Tidak usah memusingkan pernikahan Xelino dan Carolyn besok. Mereka sangat mengerti. Mom juga tidak ikut. Biarkan dad saja dan kau diwakili Zhavia. Zhavia dan Patrick akan hadir," kata Viena lagi mengenai pernikahan Xelino dan Carolyn. Zefanya agak tidak enak karena Carolyn langsung menghubunginya dan juga meminta tolong perusahaan Zefanya merancang kartu undangannya.


"Lil Zen ikut? Dia masih sangat kecil mom," selidik Zefanya mencemaskan keponakan keduanya itu.


"ASI Zhavia tidak keluar dengan banyak jadi Lil Zen mu sudah meminum susu formula, tapi dia sangat sehat. Nyonya Sandra yang akan menjaganya bersama baby sitter mereka," kata Viena membuat Zefanya tenang.


"Bukankah Nyonya Sandra merawat anak Pierre dan Ella?"


"Untuk apa Aunty Pevi mu di sini?"


"Ah kau benar mom, aku lupa," Zefanya terkekeh.


"Baiklah, sudah waktunya kau meminum vitaminmu!"


Viena sudah tinggal di mansion Zefanya satu minggu ini bersama Dion tapi kemarin, Dion, Leon dan Lexa sudah berangkat ke Springfield juga bersama Dior dan Darren. Darren sudah mengerti jika ayahnya sudah menyiapkan koper. Gracia tidak ikut karena juga sedang hamil anak kedua. Dia tinggal bersama Amy dan satu baby sitter baru yang disewa Dior untuk membantu Amy menjaga Darren.



Ezekhiel & Zefanya


cast Ezekhiel : Ricky Kim


---------------------------


Dan sama seperti bulan kemarin, satu bulan kemudian Ezekhiel kembali harus meminta maaf pada Morgan dan Allegra. Ezekhiel tidak mau mengambil resiko karena Dokter Lilian masih melarang Zefanya untuk pergi jauh jauh. Ezekhiel dan Zefanya hanya mengirim hadiah untuk Morgan dan Allegra dan berjanji jika kandungan Zefanya sudah kuat, akan babymoon juga ke Springfield. Ezekhiel menitipkan hadiahnya melalui Theo dan Rosie.


"Sudah tiga acara kita lewatkan, sayang," keluh Zefanya tidak enak dengan semua kerabatnya itu. dan sama seperti Carolyn, bahkan Allegra juga menengoknya sambil memberikan kartu undangan pernikahannya.


"Tidak apa, mereka semua mengerti, percaya padaku! Kau harus banyak istirahat sayang, kita harus menjaga kandungan yang sudah kita nantikan ini," kata Ezekhiel menghibur istrinya.


"Benar tuan, aku tidak apa apa. Aku memang ingin menjaga anak ini," balas Zefanya mengelus perutnya yang membesar lebih cepat.


"Hem, Minggu depan saja kita hadiri pertunangan Theo dan Rosie," ujar Ezekhiel kemudian.


"Apa? Tunangan? Apa ini sebuah kejutan? Karena Rosie tidak mengatakan apapun padaku," selidik Zefanya menerka.


"Begitulah, hanya beberapa kenalan Theo, Carlos dan aku juga ibunya Theo yang tahu. Rosie belum mengetahuinya, sayang," kata Ezekhiel memberitahu apa yang ia ketahui.


"Wah, aku ingin melihat mereka akhirnya juga akan menikah Eze," saut Zefanya senang.


"Ya, mereka juga berhak bahagia bukan? Setelah susah payah Theo berhasil mencuri hati Rosie dan Rosie sudah benar benar melupakan Morgan,"


"Benar sayang, semua sudah rencana Tuhan,"


"Baiklah, sekarang minum susu kedelai ini. Amy yang mengantar tadi pagi sekalian menemani Gracia ke sekolah," kata Ezekhiel meraih satu gelas susu kedelai di atas nakas dan memberikannya pada Zefanya.


"Terimakasih sayang, aku lebih menikmati susu kacang ini ketimbang susu sapi sekalipun kau datangkan dari perternakan sapi di Springfield," saut Zefanya melirik menggoda sambil menegak perlahan susu itu.


"Kacang kedelainya juga kudatangkan dari Springfield. Aku memintanya dari ayah Carolyn dan Xelino," balas Ezekhiel ingin yang terbaik bagi gizi istri dan anaknya.


"You're the best dad to be, sweetheart," puji Zefanya memberikan gelas susu yang sudah kosong itu.


"I like you call Sweetheart, thankyou," saut Ezekhiel meletakan gelas susu kembali ke nakas dan kembali menatap istrinya.


Dan Ezekhiel meraih bibir Zefanya setelah Zefanya menegak habis susunya. Mereka berciuman dengan sangat mesra tapi Ezekhiel menahan hasratnya karena kandungan Zefanya masih sangat rentan.


...


Bersambung next part 27 yaa

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2