Mantan Terindah

Mantan Terindah
Restu


__ADS_3

Mengikhlaskan seseorang yang kita cintai untuk pergi, itu sangat tidak mudah.


Apapun bentuk alasannya.


Mau karena kerjaan, tugas atau apapun itu, tetap saja rasanya pasto berat. Terlebih untuk dua orang yang sedang di mabok asmara. Seperti Vita dan Bima.


Selepas membantu sang suami berkemas, Vita masih saja tak kuasa menahan air matanya.


Air mata itu terus mengalir. Seakan ia memang tidak rela jika sang suami pergi ke sana.


"Lohh... kok nangis lagi. Katanya kemarin udah ikhlas. Udah ridho. Kan cuma enam bulan, Sayang," ucap Bima seraya memeluk sang istri. Menghapus air mata sang istri yang setia mengalir dari pelupuk matanya.


"Entahlah, Mas. Rasanya Vita nggak bisa begini. Vita takut," jawab wanita ini jujur.


"Yang memisahkan kita hanya jarak, Sayang. Hati kita tidak. Kita akan terus berkomunikasi. Kamu boleh menelponku kapanpun kamu mau. Tidak ada yang melarangmu untuk itu." Bima kembali memeluk sang istri. Mencoba menenangkan sang istri. Berharap sang istri benar-benar ikhlas melepasnya.


Sembari terisak, Vita pun menjawab ucapan sang suami, "Tolong selalu kabari aku. Pokoknya jangan matiin hape. Selalu cari signal. Nggak boleh habis data. Nggak boleh lama-lama balas pesan. Oke! Janji." Vita menyodorkan jari kelingkingnya, memaksa sang suami untuk berjanji padanya.


"Insya Allah, Honey. Kan tau sendiri, suamimu kalo di ruang operasi suka lama. Tapi Mas janji, jika mau masuk ruang operasi, Mas pasti kasih kamu kabar. Biar kamu nggak panik nyariin, oke!" jawab Bima, dengan senyum bahagianya.


"Oke!"


"Mau ikut ke bandara?"


"Mau!"


"Tapi janji!"

__ADS_1


"Janji apa?"


"Jangan sekalipun melihat para barisan bapak-bapak berseragam doreng itu. Terus nematapku, karena di antara barisan bapak-bapak itu nggak ada satupun yang tingkat ketampanannya melebihi suamimu ini. Mengerti!" canda Bima, berharap sang istri tidak stres dan tegang melepas kepergiannya.


"Mas ini, bisa aja!" Vita sedikit menyunggingkan senyum. Namun begitu Vita tetap bersedih.


"Janji hanya emam bulan ya," pinta Vita.


"Begitu situasi di sana kondusif, pasti ada tim relawan yang nantinya akan menjemputmu dan Insya Allah kita pasti akan bareng lagi honey-ku," ucap Bima, manja.


Tak ingin kehilangan keyakinan cinta sang istri terhadapnya, Bima pun kembali memeluk wanita itu dengan cintanya. Mereka berciuman kembali. Senantiasa mengisi baterai cinta, sebab selama enam bulan ini mereka akan dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh.


***


Di lain pihak, ada Gani yang masih harus berjuang untuk menyelamatkan harga dirinya. Ia tak terima dengan fitnah yang dilontarkan oleh Mariska terhadapnya.


"Terserah ayah sama ibu, mau percaya apa nggak, yang penting Gani dan Nadia, kami sama sekali tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar aturan apapun," ucap Gani sembari meremas jari-jarinya, gugup. Atau lebih tepatnya, takut. Takut di pisahkan dengan Nadia.


"Biarkan saja dia laporin Gani ke polisi, Yah. Malah bagus! Gani nggak perlu repot-repot buat membalikkan fakta. Gani punya banyak bukti kecurangan dia," jawab Gani yakin.


"Kamu serius, Gan?" tanya Ibu Gani.


"Ya, Gani yakin, Bu. Bahkan bos Gani juga tahu kok, kalo wanita ular itu sangat berbisa. Gani biayain kuliah dia di Malaysia, nyatanya dia bukan lagi mahasiswa di Universitas tersebut. Menurut ayah sama ibu, siapa yang menipu dan ditipu di sini?" jawab Gani, yakin.


"Kamu serius, Gan?" tanya Ibu Lani, ibu dari Gani.


"Kapan sih, Bu, Gani pernah bohong. Makanya biarin aja dia mau ngelaporin Gani. Nanti tinggal kita serang balik aja dia," jawab Gani sembari tersenyum sinis.

__ADS_1


"Oke, kasus Mariska kita tutup dulu. Ibu mau nanya, itu anak gadis yang di dalam, siapanya kamu?" tanya Pak Jono, ayah Gani.


"Oh, dia namanya Nadia, Yah. Kami bertemu di Lombok, nggak sengaja, Gani nabrak tu cewek. Sampai kakinya begitu. Dia ikut ke Batam karena menjalani pengobatan. Maksud Gani, itu bentuk tanggung jawab Gani ke dia. Dan dia di Surabaya ini, sebenernya mau pulang kampung. Kampungnya ada di Gresik situ, Yah. Jadi aku sama dia nggak ada apa-apa sebenarnya," jawab Gani jujur.


"Bener kamu nggak ada apa-apa sama dia, tapi kalo ayah tangkep, rasanya kamu ada rasa sama dia?" Pak Jono melirik sang putra. Mencoba mencari kebenaran tentang apa yang ia pikirkan.


"Ah Ayah, bisa aja. Nggaklah!" Gani tersenyum malu-malu.


"Tapi kalo memang kalian ada something, ibu setuju loh," saut Bu Lani senang.


Gani melirik kedua orang tuanya, masih bertahan dengan senyum malu-malunya.


"Sepertinya dia gadis yang baik yo, Yah!" ucap Bu Lani.


"Menurut penerawangan, Ayah, sih ni gadis baik, Bu. Tapi ya terserah merekalah, kita kan orang tua. Bisanya cuma mendukung sama mendoakan," jawab Pak Jono lagi.


"Gani sih mau sama dia, Yah. Tapi dianya yang nggak mau sama Gani. Takut katanya," jawab Gani lugu.


"Oh kalo soal itu gampang, nanti ayah kasih kamu ilmu buat nahlukin cewek model begitu. Yang penting tepat di hari yang sudah kita persiapkan untukmu menikah, kamu harus menikah, setuju!" ucap Pak Jono, sebenernya ini lebih ke bujukan halus.


"Beneran, Yah. Ayah sama ibu setuju kalo Gani sama dia?" tanya Gani memastikan.


"Asalkan kamu mau, ibu sama ayah bisa apa!"


Kedua orang tua itu terkekeh. Sedangkan Gani, semakin bersemangat untuk mendukung Nadia. Restu sudah ia kantongi. Tunggu apa lagi. Benarkan?


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like komen n votenya ya.. sambil nunggu update, yuk kepoin karya terbaru emak🥰🥰🥰



__ADS_2