
Penantian panjang tak mengurangi perasaan Zhavia pada suami dan anak pertamanya. Setiap hari dia memandangi bulan terang di malam gelap. Dia berharap suatu saat Patrick menemukannya sebelum ia melahirkan anak keduanya.
Setiap pagi dia menghirup udara sejuk dan menyaksikan derasnya embun di setiap helai daun. Beberapa kali dia tersiksa karena sepertinya tubuh Zhavia tidak bisa menerima obat obatan tradisional yang diberikan Angel. Zhavia akan merasa baikan jika meminum jus buah buahan satu jenis buah saja. Selain itu Zhavia juga akan membaik jika meminum obat anti nyeri yang aman bagi siapapun milik Jessie. Jessie juga memiliki alergi obat. Jadi dia harus mengkonsumsi obat yang benar benar aman bagi siapapun.
Namun, Zhavia tidak pernah mengatakan pada Angel. Dia sudah sangat berterimakasih karena adik dari Paman Leon itu sudah merawatnya. Dia hanya mengatakan pada Jessie. Mereka menjadi sangat dekat.
"Zhavia, kau di sini? Ayo masuk? Setelah hujan, hawanya menjadi dingin, demam mu belum sembuh benar," kata Jessie mengingatkan Zhavia yang sedang duduk di pekarangan depan rumah.
"Ya kak Jessie, terimakasih, aku berhutang banyak padamu," saut Zhavia meraih tangan Jessie yang mengulur padanya. Jessie sangat paham di mana keberadaannya.
"Jangan begitu, kau seperti Allegra ku!" Balas Jessie.
"Kak, kemarin, pria bernama Harry itu kemari lagi dan menanyaimu," kata Zhavia tiba tiba memberi tahu Jessie.
"Hem, kau ingin menggodaku," balas Jessie tersenyum tipis.
"Aku serius, dia menitipkan padaku banyak sekali Bungan dandelion katanya biar tidak banyak yang terbang jadi dia memberimu banyak sekali. Kau lihat kan? Aku curiga dia mencuri dari kebun bunga mu!" Celetuk Zhavia. Kemarin siang Harry memang datang hendak bertemu Jessie tapi saat itu Jessie sedang ke rumah kaca bersama Angel jadi dia menitipkan sebuket besar bunga dandelion.
"Hahaha, kau bisa saja. Semalam kami sudah bertemu. Apa dia tampan Zhavia?" Tanya Jessie jadi antusias. Sebelumnya Allegra sudah mengatakan padanya tapi Jessie kurang yakin.
"Ya, tapi lebih tampan Patrick!" Jawab Zhavia bergurau.
"Hem, aku jadi penasaran. Semoga aku dapat menemuinya di mimpi," ujar Jessie hendak berjalan ke dalam rumah.
"Aku merasa kau akan segera melihat kak," saut Zhavia menghibur.
"Amin, semoga itu bisa terjadi. Ayo masuk, mommy ku sudah membuatkanmu sup asparagus,"
"Aku jadi semakin merindukan Patrick. Apa dia masih mencariku kak?"
"Apa pun yang terjadi, pikirkan anakmu dulu, ibunya lemah begini,"
"Ya, aku paham. Sekali lagi terimakasih kak," ucap Zhavia menyandarkan kepalanya ke pundak Jessie.
Jessie mengangguk dan mengelus punggung tangan zhavia. Mereka menuju ke ruang makan.
...
Empat bulan setelah Zhavia pergi, Patrick benar benar menyesali perbuatannya. Dia sangat sangat salah. Entah bagaimana lagi dia membayar semua ini. Tidak ada yang tahu keberadaan Zhavia. Semua keluarga Zhavia juga sudah panik dane cari wanita malang itu kemanapun. Bukan hanya itu sejak Zhavia pergi, Zena pun sudah masuk rumah sakit sebanyak dua kali karena terlalu merindukan ibunya.
Patrick telah menangkap Daniel. Daniel sudah menceritakan semua kelicikan yang ia buat. Patrick sudah memberinya pelajaran sampai Daniel mengalami cedera dan dia kini diasingkan ke Indian. Patrick sudah memenjarakannya dengan kuasa kantor pengacara Eg. Tadinya Egnor sangat marah padanya tapi Patrick bersujud dan meminta maaf berkali kali. Patrick tahu dia sudah sangat salah. Dia lebih percaya dengan kata kata orang lain ketimbang istrinya.
Kini tidak ada apa lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada kata kata dalam bibir pria itu. Dia hanya mau berbicara dengan Zena. Kebahagiaannya hilang karena ulahnya sendiri.
Satu bulan kemudian,
"Hebat! Hebat! HEBAAAATT! Begini pria yang sangat disanjung sanjung seorang Zhavia. Kau di sini malah berpangku tangan seperti menunggu bulan jatuh ke bumi! Seperti menunggu seekor anj*ng berdiri layaknya manusia! Kemustahilan yang tidak akan terjadi!" Teriak Xelino yang sudah datang langsung menerobos menuju ruang kerja Patrick. Dia membuka semua ruangan atas dan harus menemui si komposer itu.
Patrick yang duduk di kursi putarnya hanya melirik dan kembali menatap foto Zhavia yang selalu ia taruh di sakunya.
"Untuk apa kau melihat foto itu kalau kau tidak mencintainya?!" bentak Xelino lagi.
Patrick kembali melirik dengan tajam.
"Kau keterlaluan! Begini saja, waktumu hanya 6 jam dari sekarang untuk menjemput Zhavia di Desa Serena Springfield!" kata Xelino memberi peringatan keras.
Patrick langsung beranjak berdiri ketika mendengar Xelino mengatakan keberadaan Zhavia.
"Di mana dia? Kau jangan bergurau!"
Buak!
Xelino sudah tampak kesal dan kini sudah saat nya memberi satu pukulan pada Patrick. Dia tersungkur di dekat meja kerjanya. Bersamaan dengan itu Eden yang hendak menengok Patrick sudah datang.
"Tu tu tuan Janson? Kapan anda datang?!" pekik Eden sangat terkejut.
"Sekarang! Lalu kapan?!" saut Xelino sudah menolak pinggangnya.
__ADS_1
Eden mengubah pandangannya ke arah Patrick yang sudah tersungkur.
"Ada apa ini? Patrick bangunlah!" selidik Eden menghampiri Patrick .
"Temanmu pantas menerimanya. Kuberitahu pada kalian kalau Zhavia kini ada di Desa Serena Springfield bersama bibiku. Kandungannya sudah mencapai lima bulan dan terakhir kabar yang kuterima dia kembali demam. Bagaimana bisa seorang wanita mengandung tanpa suami yang tidak mau bertanggung jawab mengurus dirinya sendiri?!!! Ya bibiku selalu merawatnya tapi sesuatu terbesar yang paling ia harapkan adalah suaminya! Oh god Patrick! Aku kecewa padamu! Secepatnya kau minta maaf pada nya! 6 jam! Kau ingat ya?! Hanya 6 jam! Lewat dari itu aku yang akan merawatnya! Aku akan mencarikan pria yang lebih hebat tapi percaya padanya! Kau tidak usah sok sok frustasi!!" Decak Xelino memberitahu.
"Zhavia ada di sana? Baiklah, kami akan menjemputnya tuan!" saut Eden.
"Katakan yang jelas lagi pada temanmu agar dia percaya kata kataku! Demi Zhavia akhirnya aku membawa istriku juga yang sedang mengandung menemuimu, keparat!" Umpat Xelino lagi melangkah pergi. Carolyn memang ikut bersamanya. Dia ada di dalam mobil menunggu Xelino.
Sementara Patrick kembali menangis dan membentur benturkan kepalanya ke sisi meja. Eden sontak menahannya.
"Apa yang kau lakukan?! Ayo cepat bersiap temui Zhavia, Patrick!" teriak Eden.
"Apa dia akan menerimaku, Eden?!" ujar Patrick masih menyesalkan dirinya.
"Kau ini bodoh atau apa? Kau masih memikirkan itu?!! Kau tidak mah bersama Zhavia? Iya? Kalau begitu yasudah kau begini saja terus!" bentak Eden hendak beranjak tapi Patrick menahan sisi bawah bajunya.
"Tidak! Aku ingin Zhavia!" kata Patrick dengan matanya yang sudah memerah.
"Lalu?!"
Patrick lalu bangkit dan menuju kamarnya. Dia mengemasi barang barangnya asal dan menghubungi Egnor. Dia hendak meminjam pesawat jet Egnor. Kebetulan Willy sedang ada di kantor jadi dia bisa segera mempersiapkan nya. Eden tentu ikut bersama Patrick. Sementara Patrick sudah berpesan padanya agar menginap di tempat Adeline.
"Daddy, mommy!" ujar Zena memeluk ayahnya yang hendak pergi.
"Yes, Daddy akan membawa mommy, kau tenang saja! Aku tidak akan memisahkan kalian lagi," kata Patrick membelai wajah anak perempuannya.
Zena mengangguk dan memeluk ayahnya. Patrick bersemangat karena akan bertemu dengan pasangan hidupnya lagi. Entah bagaimana dia mengungkapkannya nanti. Meski Zhavia marah padanya dia akan tetap di sana sampai Zhavia ikut dengannya kembali menemui Zena.
Sekitar 3 jam penerbangan pesawat dan Patrick sudah menyuruh Eden menyewa tour guide yang mengantarnya ke desa Serena. Sebelumnya dia sudah menghubungi Lexa. Patrick hanya berani menghubungi Lexa atau Leon yang menjadi penengah keluarga Viena dan Dion. Bukan Viena tidak mau membantu, dia hanya agak kecewa karena Patrick tidak bisa mempertahankan Zhavia untuk tetap di sampingnya. Sementara Dion hanya bisa menenangkan Viena dan juga tak bisa banyak bicara lagi pada Patrick.
Sedangkan Zefanya? Dia malah sudah membuat dinding tinggi dan tebak agar Patrick tidak terus bertanya atau memohon. Zefanya sudah muak dengan prilakunya. Dior pun sama seperti Viena yang menutup diri karena kecewa. Mereka hanya mencoba terus mencari dan mencari. Zhavia memang bersembunyi dengan sangat baik di sana.
Namun, Lexa ikut senang kalau ternyata Zhavia ada di sana. Lexa sudah mengirimkan gambar lokasi tempat kesiapannya mertuannya itu pada Patrick. Lexa juga sudah memberitahu yang lainnya kalau ternyata Zhavia ada di rumah Leon. Zefanya sampai ingin mendatanginya dan membawanya kembali. Dia tidak mau kembarannya itu bersama Patrick lagi tapi Ezekhiel menahannya.
"Itu bukan urusanmu! Itu rumah tangga Zhavia dan Patrick, biarkan mereka yang menyelesaikannya!" Kata Ezekhiel mengingatkan.
Baru saja satu jam perjalanan menuju ke desa Serena entah mengapa seperti pertanda sesuatu yang buruk. Eden malah menabrakan mobil yang ia sewa ke tebing yang mengitari jalan menuju ke desa ketika dia hendak berbelok ke tikungan yang cukup tajam
"Eden! Kau baik baik saja?" Kata Patrick memastikan. Eden mengangguk dengan wajah panik.
Tak lama ponsel Patrick berbunyi panggilan dari Xelino. Patrick segera mengangkatnya.
"Kau di mana? Kau belum tiba?!" tanya Xelino dengan nada kesal.
"Ada apa?!" tanya Patrick agak cemas.
"Zhavia pingsan. Demamnya semakin tinggi! Cepat kau sampai! Aku masih di Honolulu dan Paman Jerry ada di kota!" kata Xelino.
"Apaa?!! Sebentar lagi aku akan tiba!"
Panggilan dimatikan. Eden masih sedikit terkejut bersama tour guide yang mereka sewa.
"Hey sir, masih jauh tidak?!" tanya Patrick tak sabar.
"Seharusnya jalan setapak ini akan tiba di rumah kediaman Janson!" jawab si pemandu.
"Eden, biar aku yang membawa!" Kata Patrick dan mereka berpindah posisi. Eden duduk di belakang sedangkan Patrick yang mengemudi mobil tersebut.
Patrick melajukan mobil dengan cepat sementara sang tour guide memberitahu dengan cepat. Patrick sudah sangat panik dan kalau sampai terjadi apa apa pada Zhavia , dia benar benar akan merasa sangat bersalah.
Akhirnya Patrick tiba di sana. Dia mengetuk pintu dan mendapatkan Angel yang membuka pintu rumahnya.
"Kau?! Kau suami Zhavia kan?!" selidik Angel dengan tatapan tajamnya.
"Aku harus bertemu dengan Zhavia!" kata Patrick to the point.
Pak!
Angel menampar Patrick dengan sangat keras. Eden hanya bis menunduk karena dia tahu kesalahan terbesar sahabatnya itu.
__ADS_1
"Aku mewakili Nyonya Viena dan Tuan Dion yang sebenarnya ingin menghabisimu! Aku tidak peduli siapa ayahmu, apa jabatanmu di Honolulu dan seberapa pentingnya dirimu di negaa besar itu, aku tidak takut! Kau telah melecehkan istrimu sendiri! Kau menghamilinya tapi kau tidak bisa bertanggung jawab selayaknya suami! Mengapa kau tidak mencarinya kemari? Kau tidak berpikir sampai ke sini kan? Karena kau hanya mengedepankan egomu!" bentak Angel dengan segala umpatan yang tercurahkan.
"Maaf," ucap Patrick.
"Dan ujung ujungnya kau hanya mengatakan itu!" tambah Angel lagi menunjuk nunjuk patrick.
"Mom! Zhavia mengigau lagi memanggil nama suami dan anaknya," kata Jessie tiba tiba keluar.
"Bi, biarkan aku masuk, aku akan membawanya ke rumah sakit pusat kota," saut Patrick membungkuk bungkukan tubuhnya.
"Patrick? Kau Patrick?" selidik Jessie.
"Iya kak, aku harus bertemu Zhavia," pinta Patrick dengan nada suaranya yang sangat frustasi.
"Mom, biarkan mom, kondisi Zhavia tidak stabil!" kata Jessie.
Angel tak berkata lagi. Dia langsung ke dalam juga diikuti Patrick dan Eden. Jessie juga mengikuti mereka.
Kondisi Zhavia terbaring lemah dengan keringat dingin di dahinya. Patrick dengan segera menghampiri Zhavia tanpa memedulikan Angel yang ada di depannya.
"Patrick!" Seru Zhavia sebelum Patrick memanggil wanita lemah itu. Patrick benar benar tersentuh. Sampai saat ini Zhavia tidak marah padanya malah mengingatnya.
"Zhavia, maafkan aku sayang! Bangunlah, aku sudah di sini," saut Patrick membangunkan Zhavia dan memeluknya. Zhavia masih tak sadarkan diri tapi dia terus mengigau menyebut nama Patrick dan Zena secara bergantian.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit, Eden cepat siapkan mobil cepat! Bibi, Kak Jessie ikutlah bersama kami ke kota aku mohon!" kata Patrick memutuskan.
Angel masih menatap Patrick dengan sangat tajam dan sinis sementara Jessie menarik narik tangan ibunya untuk mengikuti Patrick karena mereka yang mengetahui kondisi Zhavia.
"Baiklah, cepat bawa dia ke mobil!" Kata Angel berbalik menyiapkan tas pergi nya. Jessie masih di sana.
Patrick pun membuka selimut Zhavia dan betapa terkejutnya Eden melihat di sekitar tubuh bawah Zhavia di bawah perut sudah bersimbah darah yang cukup banyak. Patrick juga sangat terkejut. Tanpa banyak berkata lagi dia menggendong istrinya menuju ke mobil. Ketika sampai di ruang tamu berpapasan dengan Angel dan Jessie yang hendak mengikuti mereka. Angel sontak terkejut dengan apa yang dialami Zhavia.
"Darah? Zhavia pendarahan? Bawa ke klinik dekat sini saja dulu, perjalanan ke pusat kota butuh waktu 2 jam lebih!" kata Angel menyarankan.
Patrick sempat berhenti tapi melangkah lagi. Dia sendiri yang memangku Zhavia di kursi belakang bersama. Angel dan Jessie menggunakan mobil mereka yang ditinggal oleh Jerry karena Jerry bersama Allegra ke kota.
"Patrick ..." Panggil Zhavia sudah sadarkan diri ketika masih perjalanan ke klinik. Zhavia tersadar karena Patrick terus memanggil namanya di atas dahinya dan sambil menangis.
"Zhavia? Kau sudah sadar?" Jawab Patrick memegang wajah Zhavia dengan sangat lembut.
"Kau, kau datang menjemputku?" Saut Zhavia masih tidak percaya.
Patrick mengangguk memeluk Zhavia dengan erat.
"Maafkan aku Zhavia! Aku benar benar bersalah! Aku akan menerima hukuman yang kau berikan padaku! Bertahanlah sebentar, kita akan ke klinik," ucap Patrick meneteskan air matanya lagi.
"Anak kita Pat, perutku, sakit sekali!" Zhavia meringis memegang perutnya.
"Anak kita, iya anak kita pasti selamat, kau tenang saja, sebentar lagi, ayo Eden cepaatt!!!" Kata Patrick lagi sudah menggenggam tangan Zhavia.
"Zena, ini adik Zena," Zhavia terus berkata kata dengan sangat lemah.
"Iya aku tahu, ini adik Zena. Maafkan aku yang sempat mengabaikannya. Tidak akan lagi Zhavia. Maafkan aku," ucap Patrick lagi dan lagi dan sudah menempelkan dahinya dibatas dahi Zhavia.
Zhavia hanya mengernyitkan dahinya merasakan sakit yang begitu luar biasa memenuhi perutnya. Dia mencengkram kerah jas Patrick agar tidak terlalu sakit tapi percuma. Dia merasa ada yang keluar sedikit demi sedikit di bawah sana.
"Maafkan aku Patrick, sepertinya aku tidak bisa mempertahankan anak kita, ini sakit sekali, aku tidak tahan!" Pekik Zhavia makin mengeratkan cengkramannya.
"Sebentar zhavia semua pasti baik baik saja," kata Patrick lagi menenangkan.
Namun apa yang Zhavia perkirakan benar. Sesampainya di klinik, zhavia dilarikan ke ruang pemeriksanaan dan ternyata air ketubannya sudah habis. Darah masih mengalir dan agak mengeluarkan seperti gumpalan daging. Setelah di periksa secara menyeluruh, Zhavia harus melakukan kuretas. Bayinya sudah berbentuk tapi tidak bisa bernapas. Zhavia segera dirujuk di rumah sakit pusat kota.
Patrick merelakan dalam penyesalan tapi dia terus memeluk Zhavia menuju ke rumah sakit pusat kota. Zhavia juga memeluk Patrick. Zhavia masih sangat mencintai pria ini. Bahkan seakan akan Zhavia yang merasa bersalah karena terlalu menanggapi pria yang menyukainya.
...
next part 18
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa
thanks for read and i love you 💕😍
__ADS_1