Mantan Terindah

Mantan Terindah
Pikiran Aneh


__ADS_3

Beruntung luka yang diderita sang istri tidak begitu parah. Sehingga operasi yang di jalani pun tidak terlalu lama.


Namun begitu, rasa marah yang Bima rasakan tidak berkurang sedikitpun. Ia berjanji akan membuat pria yang tengah terobsesi dengan sang istri itu jera. Karena Bima merasa, mau terobsesi seperti apapun, menyakiti adalah tidak kejahatan.


"Jebloskan pria itu ke penjara dan minta dia untuk mencabut laporan itu, jika tidak makan aku sendiri yang akan mengejarnya!" pinta Bima pada ajudan yang selalu mengawal Vita.


"Siap, Pak!" jawab pria bertubuh tinggi tegap itu.


"Berikan tuntutan terberat untuk pria itu!" pinta Bima lagi.


"Siap, Pak. Kami akan koordinasikan dengan kuasa hukum ibu," jawab pria itu.


"Heemm, kalian boleh pergi," ucap Bima. Kemudian ia pun kembali masuk ke ruang rawat sang istri.


Apa yang dikatakan Laskar ternyata benar, bahwa kasus ini buka semata karena uang. Tetapi Vita memang pernah menolak cinta sang lawyer, sehingga tumbuh rasa dendam di hati pria tersebut.


Bima mengelus rambut sang istri yang kini berbaring tengkurap karena memang punggungnya yang terluka.


Beberapa kali, pria ini juga terlihat mencium pipi dan juga pundak sang istri yang terluka karena melindunginya.


"Sayang, maafin, Mas ya... Maafin karena gagal melindugimu. Justru kamulah yang nglindungi Mas," ucap Bima sembari mencium jari-jari sang istri yang terasa dingin.


Ada rasa perih di hati pria ini. Andai saja tadi dia pergi sendiri ke Bandara, mungkin istrinya tidak akan terluka. Seandainya dia pun terluka, ini lebih baik. Dari pada melihat wanita yang ia cintai menderita seperti ini.


***

__ADS_1


Kabar tentang apa yang menimpa Vita akhirnya sampai terlebih dahulu di telinga seorang Laskar.


Pria paruh baya yang sudah menganggap Vita adalah putrinya sendiri tentu saja langsung meledak marah.


Tak menunggu apapun lagi, pria ini pun langsung meminta asisten pribadinya untuk mencarikan tiket.


Ia ingin menghajar pria itu sendiri dengan tangannya. Laskar benar-benar marah kali ini.


"Sabar, Pa, sabar. Nanti darah tinggi Pap kumat lagi," ucap Laila memperingatkan.


"Tidak bisa, Ma. Aku sudah berbaik hati pada pria itu. Papa bilang padanya, untuk berhenti menganggu dan membuat fitnah yang akan merugikan dirinya sendiri. Tapi nyatanya dia tak jera dengan apa yang ia perbuat. Malah melakukan kesalahan super fatal begini. Papa sudah katakan, siapapun yang berani mengusik anak gadis Papa, akan berurusan dengan Papa. Kurang ajar sekali pria itu. Lihat saja nanti, akan Papa ***** setulang-tulangnya, biar tahu rasa," ucap Laskar menggebu.


Laila tak kuasa lagi menahan kemarahan sang suami. Ia hanya mau mengingatkan tetapi, nyatanya pria yang menikahinya lebih dari tiga puluh tahun itu masih memiliki ambisi untuk melindungi orang-orang yang dia sayang.


Tak banyak bicara, Laskar pun langsung menghubungi Bima dan meminta suami Vita itu agar jangan sampai meninggalkan perempuan yang sudah ia anggap sebagai anak gadisnya itu.


***


Vita terus tersenyum menahan tawa. Bagaimana tidak? Suaminya sekarang lebih posesif padanya. Makan pun tak diizinkan sendiri. Membuat Vita yang belum begitu terbiasa diperlakukan semanis ini menjadi salah tingkah.


"Aku baik-baik saja, Mas. Percayalah!" ucap Vita.


"Tidak, Sayang. Kamu tidak baik-baik saja. Kamu terluka." Bima terus menyuapi sang istri dengan telaten.


"Kata dokter lukanya nggak terlalu dalam, Mas. Kamu pasti lebih paham dari pada aku," ucap Vita.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu diam, aku tidak suka kamu bertingkah seperti itu lagi. Kalo serangan itu ditujukan padaku, ya sudah bir aku saja yang kena. Kamu jangan coba-coba menghalangi. Karena jika kamu yang sakit, aku akan lebih sakit lagi. Mengerti," ucap Bima, kesal.


Astaga, Vita... sebaiknya kamu diam. Singa di depanmu ini sedang naik darah. Bisa-bisa dia mencari pria yang terobsesi padamu dan menyuntikkan obat keras padanya. Batin Vita.


"Hii...!" Vita mengkidik ngeri.


"Hiii, kenapa hi? Kamu lagi bayangin apa?" tanya Vita.


Vita tersenyum, lalu ia pun memberanikan diri untuk bertanya. "Emmmm, apakah ada dokter kejam? Semacam psikopat begitu?"


Bima diam, menatap gemas pada wajah sang kekasih hati. Sebab ia bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya ini.


"Katakan saja apa yang kamu pikirkan. Jangan bertele-tele!" ucap Bima.


"Eemmm, itu... maksudku, apakah ada dokter tega? Seperti membunuh mungkin. Dengan suntik obat, mungkin? atau melakukan hal lain?" tanya Vita, gugup.


Bima menjawab pertanyaan bodoh sang istri dengan tawa. Tawa yang setengah meledek tentunya.


"Maksudnya semua dokter atau hanya aku?" pancing Bima.


"Emmm, ya kamu. Jangan marah ya?" Vita menatap sang suami, takut.


Lagi-lagi Bima hanya menjawab pertanyaan itu dengan tawanya. Sang istri begitu jauh memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Bahkan sedikitpun tidak pernah terlintas di dalam benak seorang Bima.


"Imajinasimu terlalu tinggi, Sayang. Sudah, jangan mikir macem-macem. Mulai besok jangan nonton drama dengan tema psikopat lagi. Otakmu jadi tercemar kan," ucap Bima sembari mengacak manja rambut sang istri. Sedangkan Vita tersenyum lega. Karena apa yang ia takutkan, ia yakin tidak akan terjadi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2