Mantan Terindah

Mantan Terindah
Tentang Gani


__ADS_3

Nadia memegang tangan wanita yang Gani kenal sebagai ibu kandungnya itu. Wanita itu menangis sesegukan di depan Nadia. Tak kuasa menahan haru biru ketika mengingat bagaimana ia menemukan Gani dan ibu kandung pemuda tampan itu, di tengah hujan badai yang melanda kota Malang tiga puluh tahun silam.


"Apa kamu tahu? dia... dia... dia sangat kedinginan waktu itu. Bibirnya pucat, tubuhnya mengigil dan ibunya juga sudah tak mampu berdiri karena kelaparan dan dehidrasi." Bu Lani tak sanggup lagi menahan kesedihan ketika mengingat bagaimana perjuangannya membawa ibu dan anak tersebut ke rumah sakit.


Nadia hanya bisa mendengarkan dan menenangkan wanita paruh baya itu. Memegang erat telapak tangan wanita itu agar kuat mengingat kejadian yang mungkin sangat menyakitkan baginya.


"Kalo Bude nggak kuat cerita sekarang, Nadia akan tunggu Bude siap. Sudah jangan dipaksa," ucap Nadia berusaha mengerti.


"Tidak, sudah sampai sini. Kita tuntaskan saja," jawab Bu Lani yakin.


"Baiklah, Bude. Nadia siap mendengarkan, kapanpun Bude siap bercerita," jawab Nadia, sembari tersenyum menenangkan.


"Waktu Bude sama suami pulang dari toko, Bude melihat ibu dan anak ini duduk di sudut sebuah ruko. Sang ibu meringkuk mendekap seorang bayi. Pas kami tanya, dia nggak bisa jawab. Seperti ketakutan. Setelah kami bujuk, dia pun akhirnya mau ikut pulang bersama kami. Bude bawa mereka ke rumah sakit, sayangnya, ibu kandung Gani tidak bisa diselamatkan. Bude sangat menyesal dengan itu. Sebab Bude gagal menyelamatkan ibu kandung bocah itu, Nad. Sungguh!" ucap Ibu Lani, tak kuasa lagi membendung tangisnya.


"Ini bukan salah Bude. Kan Bude sudah berusaha yang terbaik. Setidaknya Bude sudah menjaga Gani dengan sangat baik sampai detik ini. Bude juga sudah memberi Gani kasih sayang tanpa membedakannya dengan anak-anak kandung ibu. Dan Gani beruntung karena memiliki ibu sehebat Bude kan. Bude adalah malaikat tak bersayap milik Gani,' ucap Nadia dengan senyuman teikhlas miliknya.


"Benarkah? Mungkinkah Gani tidak akan menyalahka ibu atas kematian ibu kandungnya?" tanya Ibu Lani, takut.


"Nadia rasa tidak, Bud. Justru Nadia rasa, Gani akan berterima kasih karena Bude sudah berbaik hati mau merawatnya sendiri. Tidak memberikannya pada orang lain atau menitipkannya ke panti, mungkin? Iya kan?"


"Tidak? Bude sudah berjanji pada ayah Gani. Kalo ibu akan menjaganya sampai kapanpun. Karena Gani adalah anak terbaik ibu. Dia begitu tampan dan cerdas. Bahkan ketika Bude sakit, dia yang paling peduli. Dia begitu telaten merawat Bude dibanding anak-anak kandung Bude. Bukan bermaksud membedakan, tetapi itulah kenyataannya," ucap Ibu Lani lagi.


"Bude adalah ibu paling hebat. Sekarang tugas Bude adalah memberi tahu kenyataan ini pada Gani, Bu. Karena Gani berhak tahu siapa dirinya yang sebenarnya," ucap Nadia mengingatkan.

__ADS_1


"Kalo boleh jujur, bukan Bude nggak mau, Nad, tetapi Bude takut Gani akan minta pulang ke Korea, pulang ke rumah ayah kandungnya. Bude takut kehilangan Gani. Bude masih belum rela berpisah dari Gani," jawab Bu Lani lagi.


Nadia sangat paham bagaimana perasaan Bu lani. Namun begitu, Gani tetap memiiki hak untuk tahu keluarga kandungnya.


"Sebelumnya Nadia minta maaf, Bu. Tapi Bude tadi bilang kalo Bude takut Gani minta pulang ke Korea. Apakah Bude mengenal baik ayah kandung Gani?" tanya Nadia lagi.


"Tepat seminggu kepulangan ibu kandung Gani, pria itu datang ke rumah. Dia bilang, tolong titip Gani karena dia harus kembali ke Korea. Jujur sampai saat ini ibu bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Tetapi sampai detik ini, pria itu tidak pernah melupakan kewajibannya sebagai serang ayah. Dia selalu mengirimkan uang untuk putranya. Selalu menjaga putranya dengan caranya. Yang Bude takutkan adalah, pria itu akan mengambil Gani dari Bude atau Gani akan memilih pulang ke negara ayahnya berasal. Pokoknya Bude takut, Nad. Sangat takut!" jawab Lani, kembali berlinangan air mata. Tak kuasa menahan ketakutannya kehilangan Gani. Karena Gani sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.


Nadia mengerti perasaan Bu Lani. Mau bagaimanapun ia juga seorang wanita. Terlebih saat ini, di hatinya juga ada Gani. Ia pun takut jika Gani sampai kembali ke rumah orang tuanya, lalu bagaimana nasib cinta mereka.


Bersambung...


Yang nunggu update kisah Gani n Nadia, biar nggak gabut, bisa banget kepoin karya temen aku kak🄰🄰🄰


Karya: erma _roviko


Bab 7 - Pelayan dadakan


"Astaga…jangan sampai pria ini mengenaliku," batin Eve yang menelan saliva dengan susah payah. "Kau orang ke seratus yang mengatakan hal yang sama," jawabnya seraya tercengir kuda.


Samuel memperlihatkan ponsel mahalnya di hadapan gadis itu, tatapan menusuk dan tajam terus mengarah ke Eve. "Akibat ulahmu yang sangat ceroboh membuat ponsel mahalku rusak," kesalnya.


"Aku tidak sengaja melakukannya, tolong…maafkan aku!" bujuk Eve yang tersenyum simpul.

__ADS_1


"Memaafkanmu? Karena kau membuat aku rugi ratusan juta," ujar Samuel yang menahan amarah, telepon penting dengan kesepakatan menjadi gagal akibat kecerobohan gadis kecil itu.


"Saat itu aku ketakutan dan hampir putus asa, aku hanya melihatmu dan meminta pertolongan. Maaf, jika aku membuatmu rugi." jelas Eve yang memelas.


"Tidak semudah itu aku memaafkanmu."


"Aku sudah meminta maaf, sebenarnya apa kemauanmu!" ucap Eve yang meninggikan suara, membalas tatapan tajam dari pria itu dengan cara mendongakkan kepala, mengingat tingginya hanya sebatas dada pria tampan yang ada di hadapannya.


"Ck, berani sekali kau berteriak di hadapanku. Di sini kaulah yang bersalah!"


"Katakan yang sebenarnya, apa keinginanmu?" tanya Eve yang sudah pasrah.


"Aku ingin kau mengganti rugi ponsel mahal limited edition, tapi melihat penampilanmu yang sederhana membuat aku sedikit ragu." Samuel tersenyum merendahkan, berpikir jika gadis kecil itu hanya orang miskin.


"Ck, kau hanya melihat covernya saja. Berhentilah menatapku begitu!" lantang Eve, tapi seketika dia kembali berpikir. "Pria ini sungguh menjijikkan, playboy cap kapak, dia sama saja dengan kak Niki." Batinnya.


"Ya sudah kau perlihatkan saja isinya!" celetuk Samuel dengan enteng.


"Aku bukan wanita seperti itu."


"Tidak perlu basa-basi, cepat ganti rugi ponselku yang kau rusak!"


"Aku tidak punya uang," jawan Eve santai, dia tak ingin melibatkan keluarganya dengan masalahnya.

__ADS_1


"Ck, sudah kuduga ini akan terjadi. Karena aku ini termasuk pria yang sangat baik dan bermurah hati, kau bekerja di apartemen ku menjadi seorang pelayan."



__ADS_2