Mantan Terindah

Mantan Terindah
Misi plus Modus


__ADS_3

Gani memulai misi pertamanya dengan mendekati adik dari gadis yang saat ini sedang ia incar.


"Kamu sekarang kelas berapa?" tanya Gani pada Nurman, adik Nadia.


"Saya kelas 3, Mas. Sekarang lagi ujian," jawab Nurman.


"Ujian! Emmm, bentar lagi lulus dong. Mau kuliah di mana?" tanya Gani.


"Kayaknya nggak kuliah, Mas. Kasihan mbak," jawab Nurman, sembari tersenyum.


"Kasihan mbak? Emang kenapa?" tanya Gani.


"Ya kan semua biaya hidup kami, mbak yang nanggung, Mas. Nur nggak mau nambah beban mbak." Nurman tersenyum kecut.


"Tapi kamu pengen nggak kuliah?"


"Ya pengen, Mas. Tapi nggak ada biaya, mau gimana lagi."


"Emm, kalo kerja, kamu mau kerja apa? Kamu bisa mengopasikan komputer?" tanya Gani.


"Bisa, Mas. Cuma belum tahu mau kerja apa." Nurman tersenyum.


"Kalau misalnya kamu merantau ke luar pulau, adikmu ada yang jaga nggak?"


"Sejak ibu sama bapak meninggal, adek sudah masuk pesantren, Mas. Jadi Insya Allah aman," jawab Nurman.


"Wah bagus kalo gitu. Ini nomer telpon Mas, nanti kalo kamu udah lulus, ikut Mas ke Batas aja. Kamu bisa kerja, syukur-syukur kalo mau sambil kuliah. Masalah tenisnya nanti Mas ajarin," jawab Gani. Kali ini Gani serius.


"Serius, Mas? Saya mau, Mas. Tapi ..." ucap Nurman semangat, namun di akhir ia terlihat ragu.

__ADS_1


"Tapi kenapa?" tanya Gani.


"Gimana dengan mbak? Apakah dia akan setuju. Nanti yang anter jemput adek dari pondok ke sekolah siapa?" tanya Nurman bimbang.


"Adik kelas berapa sekarang?"


"Kalo Nur lulus berati adek kelas 10, satu SMA, Mas," jawab Nurman.


"Ooo, jarak sekolah dari pondok jauh nggak?" tanya Dani


"Eeemmm, kira-kira 2 kiloan lah, Mas."


"Eeemmm, jadi gini aja, gimana kalo kita cari tukang ojek buat adek. Yang bisa kita percaya. Masih ada hubungan sodara kalo bisa. Biar kamu ama mbak mu tenang," ucap Gani memberi saran.


"Boleh, Mas. Nanti coba Nur ngomong sama mbak. Semoga mbak kasih ya, Mas."Nurman terlihat girang.


Suasana hening sejenak, Nurman terlihat sering tersenyum. Sebab jalannya menatap masa depan serasa terbuka lebar berkat sahabat kakaknya ini.


"Eeem, Nur... Mas boleh ngomong sesuatu nggak, ini penting Nur ? tanya Gani


"Ngomong aja, Mas. Mas mau ngomong apa?"


"Aku jatuh cinta sama mbakmu, Nur. Boleh nggak kalo misalnya aku nikahin mbakmu?" tanya Gani .


"Waduh, jadi sedari tadi masnya ngajakin Nur ngobrol ini itu, tanya ini itu, ternyata ada maksudnya to. Wahhh, masnya pinter bener. Modus, mas mas..." Nurman terkekeh.


"Jangan ketawa, Nur. Mas serius tau. Boleh nggak?" Gani menatap Nurman serius.


"Kalo soal itu Nur nggak bisa jawab, Mas. Kan yang ngejalanin mbak. Ya tanya sama mbaknya saja langsung. Nur sih asalkan mbak nyaman, ya monggo dijalani," jawab Nurman.

__ADS_1


"Tapi mbakmu nggak mau, Nur. Gimana dong?"


"Lah ... yo mboh, Mas. Nur nggak tahu!" Nurman kembali terkekeh.


"Kamu jangan ketawa terus, Nur. Belum pernah jatuh cinta ya?" Gani terlihat kesal.


"Slow, Mas, slow. Santai... deketin cewek itu pakek hati. Cari titik kelemahannya. Baru bisa trobos hatinya! Bagitu!" jawab Nurman lagi.


"Gitu ya, Nur. Kalo mbakmu ini kelemahannya apa?"


"Emm, apa ya, Mas. Nur nggak tahu!"


"Astaga! Jadi sedari tadi kita ngobrol, ke sana ke mari, tapi nggak ada titik temu. Jadi aku mesti piye?" Gani sedih.


"Jangan sedih ngono ta la, Mas. Santai... santai. Nanti Nur bantuin. Tapi ada satu syarat, nanti kalo mbak mau, dijagain yang bener ya, Mas. Mbakku itu pengganti ibuku, Mas. Walaupun tak ada yang bisa ngalahin ibu. Tapi mbakku itu, wanita yang sangat peduli padaku, pada adik. Nur nggak akan tinggal diam kalo sampai ada yang berani bikin mbak nangis, Mas." Terlihat ada sedikit air mata mengembun di pelupuk mata Nurman.


"Siap, Nur. Aku janji bakalan laki-laki sejati untuk mbakmu. Percayalah!" Gani tersenyum. Begitupun Nurman.


Nurman tak ingin egois dengan melarang seseorang mendekati kakaknya. Mau bagaimanapun harus ada seorang pria yang melindungi kakaknya. Menjadi sandaran untuk kakaknya.


***


Di sisi lain, kebahagiaan sedang menyelimuti keluarga Zein dan Zi.


Tubuh kembang bayi mereka juga membuat bahagia.


Bayi kembar berjenis laki- laki dan perempuan itu, seperti sebuah permata untuk Zein.


Pria tampan ini begitu hati-hati menjaga mereka. Zein juga selalu memberikan yang terbaik untuk mereka. Mendukung Zi untuk memberikan Asi ekslusif untuk kedua bayi mereka.

__ADS_1


Zi sendiri juga istirahat total dari dunia bisnis, meskipun usahanya kini mulai merangkak naik. Zi percayakan bisnis itu pada suaminya. Karena Bima, sebagai partnernya berbinis juga tak bisa mengurusnya. Sebab saat ini Bima dalam tugas besar yang tak bisa ditinggalkan.


Bersambung...


__ADS_2