Mantan Terindah

Mantan Terindah
89. Meyakinkan Mama


__ADS_3

Lagi dan lagi Tiffany menunggu Roy di depan gerbang. Ia minta agar ia memberikan jawaban apakah ia mau membantu atau tidak soalnya ini sangat ganteng sekali. "Lo ngapain lagi sih ke sini ya ampun?" Senyum Roy kepada Tiffany.


"Gue mohon lo mau kan buat jadi pacar pura-pura gue Roy? Bantuin gue? Soalnya nyokap udah mau temuin gue sama dia. Ayo lah gue mohon!" Pintanya yang memohon kepada Roy agar teman SMAnya itu mau. Dengan pikiran yang singkat akhirnya Roy pun mengiyakan apa yang di pinta oleh Tiffany.


"Tapi kalau udah selesai gue gak bisa bantu lo lagi ya! Gue gak mau ikut campur dalam hubungan lo sama orang lain." Mendengar hal itu Tiffany bahagia banget dan ia mengiyakan apa yang di ucapkan oleh Roy.


"Makasih banyak ya Roy, lo emang sahabat paling balik. Ya udah kalau gitu gue balik dulu ya soalnya gue tadi bilangnya cuma bentaran doang!" Roy mengangguk dan membiarkan Tiffany untuk pergi meninggalkannya.


***


Biasanya jam segini sudah ada di bawah bahkan mereka sering makan bareng dan cerita-cerita bareng. "Mbak kak Roy mana kok nggak kelihatan dari tadi?"


"Ada di kamarnya lagi siap-siap." Sahutnya yang mengejutkan kedua mata Rival terbelalak. Emangnya kakak mau ke mana? Biasanya kalau di hari libur mereka tuh suka jalan atau janjian buat bareng ke kondangan.


"Hah siap-siap? Emangnya mau ke mana emang hari ini kita ada jadwal kondangan?"


Rival pun naik ke atas dan melihat langsung di kamar Roy. "Lo mau kemana nih? Kok tumben banget? Kerja kelompok ya kak?"


"Gue mau ke rumah Tiffany."


"Hah ke rumah Tiffany? Ngapain lo ke sana tuh ngapain? Mau jalan?"


"Ya gue pengen aja, ada hal penting juga."


"Soal yang jadi pacar pura-pura dia gitu?"


Roy mengangguk, ia memasangkan jam tangan berwarna cokelat ke bagian pergelangam tangan kirinya.


"Kok lo mau sih? Kalau misalnya orang tua dia pengen lo jadi suami dia gimana? Bisa aja kan?"


"Gue cuma sebatas bantuin doang kok gak lebih, dan gue juga tau gimana cara ngambil sikap." Roy turun ke bawah meninggalkan Rival yang masih di kamarnya.

__ADS_1


Ia duduk di ruang tamu karna sebentar lagi Tiffany akan datang ke rumahnya.


Tok.. Tok..


"Hei. Ya udah yuk."


Tiffany sengaja ke rumah Roy terlebih dahulu untuk menyusun rencana yang tepat untuk mereka berdua. "Hei lo udah siap?"


"Udah. Gak papa kan penampilan gue kayak begini?"


"Ya gak papa kok santai aja. Ya udah yuk langsung aja gimana? Nyokap gue udah nungguin nih di rumah." Roy mengambil kunci mobil dan mereka masuk ke dalam mobil.


"Ini kali pertama lo ke rumah gue kan?"


"Iya. Tapi nyokap lo gak papa nih gue ke sini?"


"Gak papa, anggap aja kita pacaran ya. Jadi jangan canggung atau apa."


"Ya udah kalau gue bisa jawab ya gue jawab, tapi kalau enggak ya enggak." Angguk Roy dan di sepakati oleh Tiffany.


"Sumpah gue tegang banget semoga aja berhasil ya jangan gagal pokoknya."


Sesampai di rumah Tiffany. Mamanya Tiffany yang sedang menyirami tanaman di halaman rumah langsung terhenti.


"Mah ini kenalin pacar aku."


"Pacar?"


"Hallo tante, aku pacar Tiffany." Senyum Roy ia agak pelo dalam mengucapkan dan mengakui kalau Tiffany adalah pacarnya.


"Kalian udah berapa lama pacaran? Sepertinya saya tak asing dengan wajah kamu." Ia mencoba untuk mengingat wajah Roy yang tak asing sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa jadi tak asing tante? Jadi aku itu teman SMA Tiffany dan kita pacaran hampir dua bulan ini."


"Iya mah, aku tuh udah punya pacar jadi jangan di jodohkan sama yang aku gak suka aku sudah punya pilihan sendiri." Sahut Tiffany kepada mama menyambung ucapan dari Roy tadi.


Mama menyuruhnya untuk masuk dan duduk ke dalam rumah tepatnya duduk di ruang tamu, mempersilahkan Roy untuk duduk di sana. Seakan Roy merasa terintimidasi dengan apa yang sedang terjadi hari ini. "Aku bikinin minum dulu kali ya." Tiffany berdiri dan meninggalkan mama dan Roy berdua di ruang tamu.


"Kamu bakalan nikah sama anak saya kapan nih?" Pertanyaan macam apa ini? Kenapa tiba-tiba ke arah menikah? Kenapa? Wajah Roy memerah dan bingung harus menjawab apa.


"Menikah? Kenapa harus secepat itu tante? Kebetulan aku masih kuliah jadi aku harus fokus dulu sama kuliah. Urusan ke sana menurut aku harus butuh yang namanya persiapan yang sangat matang karna kan bukan hal yang sangat mudah sekali untuk di ambil sebuah keputusan. Iya kan tante?"


"Berarti itu tandanya kamu belum siap untuk menikah, tante sudah punya calon untuk anak tante yang siap untuk menikah. Jadi kamu harus mundur." Ucapnya dengan sangat tegas sekali.


Minuman ia sajikan di atas meja. Tiffany menatap kedua mata Roy yang begitu tegang sekali. Ia duduk di samping mama. "Sepertinya kamu harus menikah dengan orang yang mama jodohkan itu saja soalnya pacar kamu yang ini enggak mau segera soalnya. Kamu harus menikah secepatnya ya!"


"Loh kok gitu sih mah? Trus pacar aku gimana nasipnya? Masa harus di putusin aja sih?"


"Ya kali mah." Rengek Tiffany yang ternyata tidak berhasil juga membuat mama mau membatalkannya. Roy melihat sendiri sikap mama ke Tiffany kayak gimana.


"Kan mama itu pengennya kamu segera menikah, mama pengen ngeliat kamu tuh bahagia."


"Kalau mama pengen aku bahagia mama harus terima dong keputusan aku kayak gimana aku udah punya pacar?" Mama malah memilih untuk pergi dan meninggalkan mereka berdua.


"Ya udah lo turutin aja apa yang nyokap lo mau."


"Gue enggak bisa gue enggak mau!" Tiffany menunduk sepertinya ia sudah prestasi dan bingung mau melakukan apa lagi agar mamanya mau mengikuti apa yang ada di keinginannya. Bener-bener tak mau menikah dengan orang yang tidak kita cintai selama ini.


"Udah ngomong baik-baik aja dulu sama nyokap lo."


"Kalau gitu kita nikah aja yuk kan kita udah saling kenal."


"Astaga itu macam apa ini emang nurut wanita itu adalah sesuatu hal yang cepat dan instan yang besok hari kita udah nggak ngapa-ngapain biasa aja? Nggak bisa Tiffany ini semua itu pasti ada yang namanya proses dan waktu dan nggak secepat itu dalam memutuskan suatu keputusan." Roy tak emosi dengan ide dari Tiffany.

__ADS_1


__ADS_2