
Janji adalah hutang, yang artinya siapa pun yang berhutang, wajib membayarnya. Begitupun dengan apa yang sekarang sedang Nurman lakukan.
Ia telah berjanji pada Gani. Meskipun janji itu membawa sebuah nilai barter yang kurang baik, tetap saja itu adalah hutang. Bukankah begitu?
"Mas mau ikut masuk?" tanya Nurman.
"Nggak, aku deg degan dekat mbakmu. Merinding aku!" jawab Gani jujur.
"Loh piye sih, jare seneng, jare merinding! Aneh mase iki!" gerutu Nurman, merasa aneh.
"Pokoke gitu, wis gek sana!" jawab Gani
Tak mau menunda misinya, Nurman pun langsung masuk ke dalam ruangan tanpa memedulikan Gani yang saat ini masih berusaha mengontrol kegugupannya.
Terlihat di dalam ruangan itu, Nadia sedang mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menghasilkan uang untuk menghidupi kedua adiknya itu.
"Mbak!" Nurman naik ke ranjang sang kakak. Mencoba menyamankan posisi.
"Ya."
"Lagi ngapain?"
"Lagi nyoba kirim naskah ke platform online. Kali aja rezeki. Kenapa?"
"Emmm, mau nulis lagi ya?"
"Iya, kayaknya lagi rame ni!" Nadia tersenyum.
"Mbak!"
__ADS_1
"Iya, kenapa sih? Ih, nganggu terus dah. Ada apa? Kamu mau ngomong apa?" tanya Nadia, lalu ia pun meletakkan ponselnya dan memfokuskan perhatiannya pada sang adik.
"Mas Gani kayaknya suka deh sama, Mbak," ucap Nurman. Sedangkan Nadia hanya menanggapi ucapan itu dengan senyuman.
"Kok cuma senyum doang sih, Mbak? Emang Mbak nggak pengen gimana gitu?" tanya Nurman, penasaran.
"Pengen apa gimana maksudnya?"
"Ya... namanya disukai sama orang, apa lagi lawan jenis. Harusnya direspon dong, Mbak. Bukan dicuekin!" jawab Nurman, sedikit kesal dengan kakak perempuannya ini.
"Direspon gimana? kamu itu nggak tahu apa-apa soal aku sama pria itu. Jadi nggak usah sok tahu. Mendingan kamu pikirin aja sekolah kamu, ujian kamu, belajar yang bener. Biar lulus dengan hasil yang baik. Mbak kan bisa bangga kalo begitu jadinya. Dari pada ngladein pria itu. Iya kan," jawab Nadia.
"Tapi kalo Nur lihat, Mas Gani serius cinta sama Mbak," ucap Nurman lagi, berusaha membujuk.
"Cinta? Kamu masih kelas tiga SMA, Nur. Emang cinta apaan?" pancing Nadia.
"Yeee... Mbak. Nur itu udah gede, Mbak. Jangan di anggap kecil terus. Soal cinta Nur juga udah paham. Cinta itu sebuah rasa ketertarikan antara pria dan wanita. Sebuah rasa yang.... " Nur melongo, sebab Nadia menatapnya. Menunggu dia melanjutkan ucapannya. Bukan hanya itu, Nadia juga bersiap memberinya hukuman.
"Terus menurut kamu, aku sama pria itu saling cinta? Heeemm?" tanya Nadia.
"Ya!"
"Hahahhaha... sudah-sudah, kamu bikin aku eneg. Sudah sana, mendingan kamu sana. Dari pada kamu nggak jajan!" ancam Nadia.
"Mbak, Nur mohon. Mas Gani itu orang baik kok Mbak, beneran deh!" desak Nurman lagi.
"Sudah-sudah, kalo Mbak bilang sudah, ya sudah. Mendingan kamu tidur. Ini udah malam, oke!" suruh Nadia.
"Tapi Mbak, kan Mbak belum jawab, mau terima cinta mas Gani apa nggak. Kan Nur penasaran," ucap Nurman, sedikit memaksa.
__ADS_1
"Masalah itu, kamu nggak usah ikut campur. Biar aku dan pria itu yang selesaikan. Dia yang punya tujuan. Jadi biar dia sendiri yang mencari jawaban. Ngapain kamu ikut campur. Ya kan?" ucap Nadia, tegas.
"Astaga, Mbak! Kalo begini, gimana aku bisa dapet uang jajan lebih, mbak mbak," ucap Nurman spontan.
"Apa? "
"Ah, itu, anu... bukan apa-apa, Mbak! Hehehe!" Nurman beringsut menjauhi Nadia.
"Nurman, aku tahu.. jangan coba menghindar!"
"Nggak ada apa-apa, Mbak. Bener. Tapi jangan ditolak ya, mas Ganinya," pinta Nurman memohon.
Nadia sudah bisa membaca apa yang adiknya ucapkan. Sebab Nadia sangat mengenal Nurman.
Nurman bukan bocah yang gampang di sogok dengan uang. Tetapi ketika dia mau dan menyetujui sesuatu, pasti dia sudah memilikirkan masak-masak keputusan tersebut.
Berkaca dari kegigihan Nurman mendukung hubungannya dengan Gani. Sekarang Nadia yakin, jika pria itu memang pria yang pantas untuk dipertimbangkan. Tetapi, sebelum itu, Nadia ingin memastikan terlebih dahulu, bahwa Mariska sudah tidak ada lagi di hati pria yang saat ini sedang berjuang mendapatkannya.
***
Apa yang diucapkan Gani bukanlah isapan jempol belaka.
Wanita yang telah berhasil menipunya itu malah memfitnahnya dengan mengaku pada pihak berwajib bahwa saat ini dia sedang mengandung buah cintanya dengan Gani.
Beruntung, Gani memiliki banyak bukti untuk menyangkal semua itu. Gani sudah mempersiapkan sanggahan itu dari jauh-jauh hari.
Orang-orang kepercayaan sang big bos yang cerdik, dibantu dengan kewaspadaan sang big bos itu sendiri, nyatanya sangat membantu seorang Gani.
Kini pria itu bersemangat untuk mengupas tuntas kasus ini. Tak lupa ia juga berharap, semoga Nadia percaya padanya. Serta berharap, Nadia mau menunggunya hingga kasus yang kini menjeratnya bisa segera berakhir.
__ADS_1
Bersambung...