Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 15


__ADS_3

Gracia masih terpaku melihat kepergian belahan jiwanya dengan melajukan mobilnya penuh penekanan. Dia meneteskan air matanya berharap Dior membalikan mobilnya dan membawanya bekerja saja. Hatinya sesak dengan keadaan seperti ini.


Stanley masih di sana. Dia agak merasa bersalah tapi dia malah menghampiri Gracia.


"Gracia! Tuan Dior tidak apa apa aku yakin!" Stanley mencoba menghibur.


"Iya Gracie! Kak Dior hanya terburu buru!" Tambah zhavia.


"Ayo Gracia! Tuan Dior pasti akan menjemputmu lagi atau kau pulang bersamaku, haha!" Stanley mencoba memecah kesedihan Gracia namun nampaknya Gracia hanya menginginkan Dior.


"Tau apa kau tentang priaku! Jangan dekati aku!" Decak Gracia yang merasa semua ini salah Stanley. Dia berjalan cepat walau agak terpincang.


"Sudah kubilang aku saja, kau keras kepala!" Gumam Zhavia.


"Aku hanya ingin berteman Zhavia ." Kata Stanley


"Ya bertemanlah dengan benar jangan asal pegang pegang . Kau ini!" Decak Zhavia meninggalkan Stanley.


Stanley terdiam dengan wajah tertekuk. Dia tahu hubungan Gracia dan Dior. Dia tidak masalah karna memang ingin menambah teman dan membangun chemistry. Stanley menghela napas dan masih terdiam di depan kampus sampai sebuah tangan menepuk bahunya.


"Ada apa?" Tanya si pemilik tangan yang menepuk bahu Stanley.


"Patrick?" Stanley menoleh.


"Kenapa kau? Apa kau melihat Zhavia?" Patrick malah juga bertanya Zhavia.


"Baru saja dia masuk. Em kau berpacaran dengan Zhavia atau hanya teman?" Stanley ingin memastikan sesuatu.


"Haha, teman! Jangan anggap serius kalau pernah kubilang dia kekasihku haha." Patrick kembali memukul pelan bahu Sahabatnya itu.


"Bagaimana caramu berteman dengannya?" Tanya Stanley yang melihat Patrick dan Zhavia tampak akrab tanpa adanya batas.


"Tunjukan keahlianmu dan ajari dia. Mudah saja! Kenapa kau bingung! Seperti tidak pernah berpacaran saja kau! Ayo masuk!" Patrick merangkul temannya untuk masuk ke kampus.


Di dalam kelas Gracia tampak diam dan tidak mendengarkan Mr. Ralph. Hari ini Melinda tidak datang. Entah apa yang sedang terjadi. Sepertinya Leon sudah melakukan tindakan ketika Dion menanyakan tentang keluarga Soarez dari asistennya itu.


Mr. Ralph sudah memberitahu tiga lagu yang akan diperankan oleh pemeran inti dan tiga lagu akan diperankan pemeran inti juga dengan pemeran pendukung.


Tiga lagu yang menjadi pusat perhatian Mr. Ralph untuk pertunjukan Stanley dan Gracia berjudul :


247 - Seventeen


Without you - Seventeen


XO - Beyonce


Ketiga lagu di atas menari dengan gaya menari balet kontemporer.


Sedangkan dua lagu bersama pemeran pendukung seperti lagu riang dan seperti modern dance.


Namun, Gracia tidak mengindahkan kata kata Mr. Ralph. Dia benar benar memikirkan Dior. Dia menggenggam ponselnya hendak memberi pesan namun dia ragu.


"Gracia, jadi kau sudah paham kan?" Mr. Ralph memastikan. Gracia masih terdiam di sana. Pikirannya terpusat dengan nama pria yang sudah memberikan dunia padanya. Bukan hanya dunia melainkan kasih sayang dan sebuah pengertian. Pria itu juga bahkan masih menghormatinya. Tidak pernah meminta apapun. Hanya sebuah kejujuran dan pengakuan kalau dirinya adalah orang terpenting dalam hidupnya.


Stanley yang ada di sampingnya menyenggol Gracia. Gracia saja sampai tidak menyadari kalau Stanley sudah duduk di sampingnya.


"Gracia! Ada apa denganmu?!" Bentak Mr. Ralph kemudian. Dia sangat tidak suka jika ada yang tidak memasang telinga untuk mendengarkannya.


Gracia hanya mendongak dan memandang Mr. Ralph.


"Apa?" Tanya Gracia masih tanpa sadar.


"Gracia! Mr. Ralph bertanya padamu sejak tadi!!" Bisik Stanley.


"Oh Mr. Ralph! Oh God! I'm so sorry Mister! " Gracia beranjak dan menunduk nundukan kepalanya.


"Kau kenapa? Kau harus menjaga perhatianmu karna waktunya sudah sangat dekat!! " Mr. Ralph memberi peringatan.


"Baik Mr. Ralph. Aku akan berlatih dengan baik."


"Sebagai hukuman agar kau lebih perhatian, kau harus mencari gerakan untuk lagu 247 bersama Stanley! Besok sudah jadi! Sekarang semua cepat berdiri kita pemanasan dan memulai gerakan lagu yang pertama!" Perintah Mr. Ralph yang sudah siap menunjukan keahliannya.


Gracia menarik napas. Beginilah profesionalitas yang harus dia jalankan. Setelah mata kuliah ini, dia harus berlatih dengan Stanley mencari kooreografi dan semoga tidak menimbulkan kecurigaan siapapun.


"Jangan khawatir Gracia, aku akan membantumu! Kau tidak usah menekuk wajah begitu, sangat menggemaskan!" Tutur Stanley menyunggingkan senyumnya lalu bergabung para barisan yang sudah dibuat oleh teman temannya. Gracia sedikit menaikan alisnya sebal dengan Stanley yang menggodanya dan menyusulnya.


Setelah mata kuliah khusus menari Mr. Ralph selesai, Zhavia nampaknya sudah ada di daun pintu untuk pergi makan siang bersama Gracia.

__ADS_1


"Nanti saja Zhavia, aku harus berlatih menari bersama Stanley." Kata Gracia melewati Zhavia dan menuju ke ruang tari yang memiliki kaca kaca selain di kelas Mr. Ralph. Zhavia terheran. Dia pun menyusul Gracia yang juga diikuti oleh Stanley.


"Gracia, kau baik baik saja?" Selidik Zhavia.


Gracia hanya mengangguk.


"Kau masih memikirkan Kak Dior?


Gracia kembali mengangguk.


"Sabarlah, nanti kau bisa menghubunginya."


"Iya Zhavia. Aku tidak apa apa. Aku harus mencari gerakan bersama Stanley."


"Baiklah, kalian jangan bertengkar. Aku akan ke kantin sendiri." Zhavia mengalah dan tidak mau menganggu sahabatnya itu.


Zhavia pun berjalan ke kantin sendiri namun menghubungi Dior memberitahukan kondisi emosi Gracia yang nampaknya sangat tidak baik.


"Gracia, apa benar kau dapat berlatih? Aku melihat kakimu masih lemah tadi." Stanley memastikan ketika sudah di dalam kelas tari.


"Benar Stanley. Bisakah kau saja yang mencari gerakan? Kau bilang mau membantuku!" Pinta Gracia sedikit menekuk wajahnya.


"Oke, kau tenang saja."


Stanley mulai menyalakan lagunya. Dia berusaha menikmati lagunya dan mendengarkan liriknya sehingga ia dapat mencari gerakan yang sesuai. Sementara Gracia mencoba menghubungi Dior. Dia melakukan panggilan untuk kekasihnya itu namun Dior tidak menjawabnya. Akhirnya Gracia memberikan pesan pada Dior.


Gracia


Kak, apa kau sibuk? Apa nanti malam kita bisa makan bersama?


Satu menit, lima menit, sepuluh menit, Dior tidak membalasnya. Sangat tidak biasa. Biasanya Dior bahkan menghubunginya melalui panggilan jika dirinya mengabarinya. Stanley sudah bergerak kian kemari di sana. Gracia sangat tidak selera namun dia malah menikmati lagu yang mengalun. Dentuman musiknya sangat menjiwai sedangkan liriknya terdengar sangat sederhana namun meyentuh. Akhirnya Gracia melirik Stanley menari. Ya, Stanley memang tak diragukan. Dia sangat berpengalaman. Namun tak lama ponsel Stanley berbunyi. Dia menghentikan gerakannya dan meraih ponselnya.


"Ya kak -- ya kak, aku sedang berlatih -- ya, kau tenang saja, aku akan mendapatkan predikat nya -- ya nanti kita bahas lagi ..." Dan hanya itu yang Gracia dengar . Selanjutnya Stanley meninggalkan ruangan.


"Predikat? Apa maksudnya? Sudahlah, lagu ini lumayan membuatku berselera. Biar aku juga mencobanya." Gumam gracia.


Gracia lalu beranjak dari duduknya di pinggir ruangan. Dia sudah menggunakan kembali sepatunya dan sudah mengikat kuat kakinya yang terkilir kemarin. Kata dokter dia bisa kembali menari namun harus melilitkan perban di pergelangan kakinya itu.


Gracia mulai mengambil ancang ancang. Dia merasa kakinya agak bergetar ketika dia hendak melakukan pointe. Dia mencoba mengabaikan dan terus berusaha agar terbiasa melawan sakitnya. Tubuh Gracia memang selentur karet. Dia mampu menekuk tubuhnya dan berlenggok layaknya penari profesional. Namun, memang karna kakinya masih terasa sakit, dia tidak selincah seperti biasanya dan sesekali nyaris jatuh.


"Shit! Aku tidak boleh lemah! Mana bisa aku membiarkan Stanley yang mencari semua gerakan!" Gracia mencoba menguatkan dirinya.


~kau kenapa? Oh kenapa


Tak bisakah kau melihatku yang kesepian?


Kenapa oh kenapa?


Mengapa kau tak tahu isi hatiku?


Di hatiku hanya ada kamu~


"Kak Dior .." pekik Gracia dan dia akhirnya terjatuh. Bersamaan dengan itu Stanley telah menyelesaikan panggilannya. Dia lalu mendekati Gracia panik. Gracia masih menunduk dengan napasnya yanh agak tersenggal.


"Gracia, kau baik baik saja?" Tanya Stanley memegang lengan Gracia.


"Kak Dior?" Gracia mendongakan kepalanya dan malah memanggil Dior pada Stanley. Seketika hati Stanley perih dan sepertinya memang dia hanya bisa menjadi teman untuk Gracia. Stanley tersenyum tipis.


"Aku Stanley, Gracia." Jawab Stanley.


"Oh, maafkan aku! Aku benar benar tidak bisa melanjutkannya, maafkan aku!" Gracia memegang dahinya dan beranjak. Dia sepertinya harus menemui Dior di hotel Prime.


Sementara Stanley masih memperhatikan gadis yang sebenarnya ia sukai itu menjauh dan meninggalkannya sendiri.


"Hem Gracia, kau begitu tulus mencintai priamu. Andai itu diriku." Gumam Stanley. Akhirnya Stanley kembali mencari gerakan yang akan ia tunjukan pada Gracia besok.


Gracia pun menuju ke hotel Prime. Dia tidak mengikuti kelas bersama jurusan alat musik. Gracia memasuki ruangan Rick dan tidak menemukan siapapun. Akhirnya dia kembali dan bertanya pada ruang infomasi di lantai bawah. Ternyata Dior sedang mengikuti rapat. Gracia memutuskan untuk menunggu di ruangan Dior. Waktu menunjukan pukul 4 sore dan Dior belum kunjung kembali. Rick pun belum menampilkan batang hidunya. Rick pasti bersama Dior pikir nya.


Ketika Gracia masih menunggu di ruangan Dior, muncul seperti email pada komputer Dior yang tidak di matikan. Karna Gracia bosan menunggu dia membuka email email itu yang ternyata berisi sebuah video. Video yang dikirimkan dari Roberto dan Gracia begitu terkejut kalau ternyata video video itu adalah video dirinya ketika di sekolah. Ketika dia di bully oleh Melinda, juga ada bersama Stanley. Dan ada juga video dirinya bersama Stanley di ruangan tari yang baru saja terjadi. Gracia mengernyitkan dahinya.


"Ternyata, kak Dior memata mataiku? Kenapa begini? Apa dia tidak percaya padaku? Mengapa sampai berlebihan seperti ini?" Gumam Gracia sambil menutup mulutnya. Bersamaan dengan itu Dior muncul.


"Gracia? Kau datang? Mengapa kau tidak mengatakan padaku?" Tanya Dior menyeruak masuk ke dalam ruangan. Namun bukannya Gracia menjawab, Dior mendapatkan dia menangis di meja kerjanya.


"Gracia, kau kenapa?" Tanya Dior perlahan mendekati Gracia.


"Kenapa kau tidak percaya padaku kak?" Tanya Gracia kembali beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Mengapa kau menyuruh orang untuk memata mataiku? Seharusnya aku yang bertanya, apa maksudnya?" Bentak Gracia dengan wajah muram.


Dior agak terheran. Dia lalu berjalan cepat menghampiri Gracia yang sudah berdiri pada kursi putarnya. Dia melihat kalau Gracia membuka email emailnya.


"Gracia kau harus mendengarku!" Kata Dior kemudian. Kekasihnya hanya salah paham


"Tidak! Aku sudah tahu kau tidak percaya pada ku! Padahal kau yang sudah mengijinkanku dan kau menghargai setiap perkataanku, tapi mengapa begini? Aku, aku, maafkan aku, aku kecewa kak, permisi!" Gracia menghapus air matanya yang nyatanya masih menderai. Dia lalu hendak berlalu namun dengan sangat sigap Dior menahan tangannya.


"Aku tidak membatasi semua gerak gerik mu, aku hanya ingin menjagamu, hanya itu Gracia!" Tutur Dior.


"Menjaga bagaimana? Kau saja sudah meremehkan perasaan kita kak! Kau tidak percaya bagaimana menjaga?!" Tuduh Gracia.


"Tidak! Aku percaya padamu Gracie!" Dior berusaha meyakinkan namun nampaknya Gracia sudah emosi juga karna dia memikirkab Dior yang tidak membalas pesannya.


"Sudah kak! Sekarang aku tidak mengerti bagaimana perasaanmu. Sepertinya aku sudah sangat merepotkanmu sampai kau menyuruh orang atau bahkan kedua saudara kembarmu untuk mengawasiku. Kau juga dimarahi ayahmu kan karna terus ada untukku. Sekarang lebih baik kita mengoreksi diri kita masing masing. Kau jangan lagi mengawasi ku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Selama ini aku juga sendiri. Selama empat belas tahun kau tidak menjagaku aku sendiri dan sampai sekarang aku masih hidup. Jadi tenang saja kak. Aku pulang." Lagi lagi Gracia hendak pergi namun dior kembali menahannya. Dia menarik tangan gracia sehingga gracia ada di hadapannya. Dior lalu mencium bibir Gracia sementara Gracia dalam tangisnya tidak menanggapi kecupan Dior.


Dior memperhatikan mata Gracia. Ya, Gracia memang tampak bersedih dan kecewa. Dior tidak boleh memaksanya. Dia pun menarik dirinya.


"Kalau kau mau menjauh dariku baiklah. Namun, sampai kapanpun dan pada akhirnya kau akan kembali padaku Gracia. Suatu saat nanti kau akan tahu maksudku melakukan ini padamu. Bukan karna aku takut kehilanganmu karna seseorang. Bukan. Tapi lebih kepada memberikan perlindungan untukmu karna aku sudah berjanji dengan ibumu. Sekarang, biar ku antar pulang. Jangan menolak! Kau masih kekasih dan tunanganku!" Tutur Dior kemudian dan menggandeng tangan Gracia menuju ke basement parkir. Dia mengantar Gracia pulang ke rumah.


Gelap langit sudah menggantikan jingga nya sore. Tugasnya telah selesai untuk menerangi kehidupan insan untuk hari ini. Sepasang kekasih tetap dalam diam di bawah pergantian langit itu. Sinar sinar cahaya lampu jalan jalan kota yang terlihat nyatanya tetap membuat hati pasangan itu sendu.


Pria itu masih memikirkan cara membuat wanita nya tersenyum namun nampaknya sulit untuk saat saat sekarang. Dia lebih memilih diam dan mencoba mengerti perasaan wanitanya yang masih selembut sutra. Sang wanita pun tetap menatap jalan dengan mata matanya yang terus berkaca kaca. Bentuk kepercayaan seperti apa yang pria nya torehkan untuknya kalau pada akhirnya memasang kamera kamera pemantau untuk mengawasinya.


"Gracia." Panggil Dior ketika sampai di depan rumah Gracia. Gracia menoleh lirih.


"Pada intinya aku hanya ingin menjagamu. Tidaj ada maksud lain!" Kata Dior meyakinkan tujuannya .


"Jangan lagi kak! Aku tidak suka!" Jawab Gracia menundukan kepalanya.


"Baiklah, kalau kau merasa diriku salah besar. Lakukan sesuai keinginan mu. Aku mengalah. Turunlah! Perhatikan langkahmu, jangan lupa makan, istirahat yang cukup agar kau bisa tampil memukau ketika drama musikal nanti. Aku tidak akan mengganggumu tapi kalau membutuhkanku datanglah. Hati ini akan selalu terbuka untukmu." Kata Dior yang malah membuat Gracia meneteskan air matanya. Sepertinya mereka harus berjaga jarak dulu agar tidak saling merepotkan.


Gracia pun menuruni mobil Dior dan menuju rumahnya dalam tangis. Dior menghela napas. Dia meletakan kepalanya di atas pengemudi.


Inilah sebuah tantangan dalam berhubungan. Dia harus siap dan mencoba bersabar.


...


...


...


...


...


Kalo ga brantem ga seru bang, tenang aja kalem 😁


.


Next part 16


Ga putus kan vii?


Entah


Kan uda tunangan hehe


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Apakah Gracia malah semakin dekat dengan stanley?


Bagaimana Stanley menanggapi perubahan Gracia? Dan apa sebenarnya tujuan Stanley pindah ke Legacy?


Apa yang dilakukan dior selanjutnya sebagai sosok yang jauh lebih dewasa dari Gracia?


Apa peran si kembar? 😁😁


.


Sebelumnya vii minta maaf kalo kurang greget, vii sudah membuat krangka ceritanya dan ga bs diganggu gugat haha selama masih ada yang menikmati alurnya akan vii lanjutkan sampai selesai bagian bagiannya ya 😁😁


.


Vii akan tetap mengajak kalian untuk membubuhkan jempol kalian pada simbol LIKE dan memberi kritik dan saran pada kolom KOMEN nya .. jangan lupa RATE bintang lima hehe dan VOTE ya .. kangsahamida hehe ga bs nulisnya 😍😍

__ADS_1


.


Happy read, thx for read and i love you 😍😍


__ADS_2